Berondong Manisku

Berondong Manisku
Saran Bunda oke juga


__ADS_3

Farrel mengelap bibir Metta yang sedikit membengkak itu dengan ibu jarinya. kemudian mengecup keningnya beberapa saat.


"Terus ingatkan aku jika aku tak mampu menahannya seperti barusan," bisiknya dengan suara yang berat.


Metta mengangguk, lalu menggeser tubuhnya sedikit.


"Ingatlah kedua orang tua kita jika kita sedang melakukan hal-hal diluar batas!"


Ingatan Metta kembali pada tragedi dalam kotak besi yang membuat mereka ketahuan.


Farrel mengangguk, " Aku sabar sampai nanti saatnya tiba, aku akan menghabiskannya semuanya tanpa sisa," lalu terkikik.


Metta memukul bahu Farrel dengan keras, " Bicara apa? hem...?"


Mereka kemudian tergelak bersama, lalu saling mengeratkan pelukannya.


"Jangan bersikap seperti tadi pada pria lain!" ucap Farrel saat mereka saling berpelukan melihat pemandangan malam yang menyejukkan.


"Tidak akan dan tidak mungkin," lirih Metta.


Farrel mengernyit, "Kakak hanya boleh bersikap begitu hanya padaku,"


"Sudah jangan dibahas lagi, aku malu!" menyusupkan kepalanya semakin dalam pada dada kekasihnya itu.


"Kenapa masih malu, sedangkan tadi saja tidak malu sama sekali!"


Metta terkekeh, dia tidak mungkin akan bilang semua ini atas saran dari bunda.


"Aku masih tidak percaya kakak bisa bersikap menggemaskan begitu! Seperti bukan kakak, tapi aku juga suka,"


"Sudah ku bilang tidak usah lagi membahasnya!"


Farrel tergelak, "Panggil aku sayang lagi seperti tadi!"


"Tidak mau!"


"Sayang, katakan sekali lagi aja!"


"Aku tidak mau, sudah jangan terus meledekku! lebih baik kita pulang." Ucap Metta.


"Siapa yang meledek kakak, justru aku menyukai kakak yang bersikap manja seperti tadi." Ucap nya dengan mengecup pucuk kepala Metta.


"Tapi itu seperti bukan aku." gumamnya pelan.


"Ayo lebih baik kita pulang,"


Farrel mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Kekasihnya itu, "Tunggulah sebentar lagi, aku masih ingin begini saja,"


Akhirnya Metta mengangguk, sejujurnya dia juga masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Farrel, setelah beberapa hari hubungan mereka yang buruk.


"Anak pintar semakin menurut saja," Farrel terkekeh dan meringis bersamaan karena Metta mencubit pinggang nya.


"Iya ... iya.. enggak.. sakit!" rintis Farrel.

__ADS_1


"Ternyata saran bunda oke juga!"


Malam semakin larut, udara dingin semakin menusuk kulit, namun mereka masih tetap berada disana, saling mendekap menghilangkan kerinduan.


Sementara Ayu dan Arya yang sedari tadi melihat mereka dari satu ruangan yang sengaja mereka sewa hanya untuk melihat pasangan yang tengah menyelesaikan masalahnya.


"Astaga, Bunda! sudah Ayah bilang, mereka pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri!" Ucap Arya kesal.


"Bunda hanya memastikan saja Yah!"


"Bahkan kitapun melihat anak nakal Bunda itu melakukan hal diluar dugaan!"


"Biarkan saja, seperti Ayah tidak pernah merasakannya sewaktu muda!" cibir Ayu.


"Astaga, kenapa sekarang Bunda tidak menghampiri mereka dan marah seperti tempo hari! Malah senyum-senyum seperti itu, seperti orang gila!" Arya memijit pelipisnya.


"Bunda seperti melihat adegan di Film korea kesukaan bunda, mereka sangat menggemaskan!"


Arya memutar malas matanya, "Terserah Bunda, baru tadi bunda berjanji tidak akan membuat Ayah kesal lagi! mulut masih basah itu."


Aku terkesiap, lalu berbalik menghadap suaminya,


"Ah, aku lupa yah!" tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berjejer rapi.


"Kali ini Ayah tidak akan luluh meskipun Bunda bersikap seperti tadi. Tidak akan!" kesal Arya.


"Eeeh..Ayaaaah." Ayu mendekat pada suaminya yang mulai merajuk lagi.


.


.


"Brengsek, baru kali ini aku dipermalukan dan direndahkan oleh seorang pria!" Ucap Tiwi membanting pintu kamarnya.


Kemudian dia lempar tas selempangnya keatas ranjang, berjalan melihat cermin di sudut ruangan.


Tiwi membuka kancing bajunya dengan perlahan, kemudian menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya.


Menyisakan segitiga berwarna merah menyala, dan bagian penutup 2 benda kenyal miliknya dengan warna yang senada. Memperlihatkan lekuk tubuh yang sintal.


"Aku cantik, aku menarik, aku seksi, dan aku akan gunakan semua itu untuk mendapatkanmu!" Tiwi berseringai dengan menatap pantulan dirinya di cermin.


"Lihat saja kau akan jatuh dalam pesonaku." Tiwi membuka kaca mata yang melekat pada wajahnya.


Wajah cantik yang selama ini dia sembunyikan dari orang lain, wajah lugu namun mampu membuat keluarganya porak poranda.


Tiwi melangkah menuju kamar mandi, menyalakan shower dan mengguyur seluruh tubuh dibawahnya.


Tiwi keluar dengan menggunakan bathrobe, lalu mengambil dress mini yang menggantung di lemari bajunya. Bertepatan dengan bunyi ketukan dari luar kamarnya.


"Lama banget sih, lagi apa?" seru sepupu perempuannya saat pintu terbuka.


"Mandi lah, biar cantik! memangnya kamu," ucapnya lalu Tiwi kembali memakai bajunya.

__ADS_1


"Astaga, gak tahu malu!Kau masih seperti itu, padahal ada orang di kamarmu!"


"Bagaimana kalau yang masuk itu seorang pria?" ucap sepupu perempuannya.


Tiwi berseringai, "Kalaupun seorang pria tidak masalah, aku bahkan akan membantingnya langsung kedalam ranjangku!"ucapnya kemudian membuka handuk kecil yang menutupi seluruh rambutnya.


"Dasar gila, pantas saja bibi membiarkanmu hidup terlantung- lantung begini," ucap sepupunya itu.


"Hei, jangan kurang ajar yah, kenapa kau membahas masalalu, aku sudah tidak peduli dengan keluarga ku, mereka juga tidak perduli denganku!" Ucap Tiwi mengerdikkan bahunya.


"Bagaimana mereka akan peduli, kau saja malah bermain api!"


Tiwi berbalik menghadap sepupunya yang tengah duduk ditepi ranjang, "Pria itu yang menggodaku!"


"Pria itu- pria itu ... Dia suami ibumu! Yang berarti ayahmu ...Tiwi! sentak sepupunya dengan menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, gak usah so jadi malaikat, kau hanya beruntung, ibumu menikahi pria bule yang kaya raya," Tiwi memoleskan serum to night di wajahnya.


"Sedangkan ibuku terlalu naif hingga menikahi pria hidung belang itu setelah ayah mati!" wajahnya lesu seketika.


"Astaga, ucapanmu itu Tiwi!"


"Dan aku tidak akan bodoh seperti ibuku, aku akan menghancurkan pria yang menyepelekanku!" Tiwi kembali berseringai.


"Tiwi - Tiwi kau tidak berubah!"


"Sudahlah Tafasya kirani Feremundo! jika kamu datang kesini hanya untuk berceramah tiada guna, lebih baik kau pulang sana!"


"So suci, bahkan kau tidak lebih baik dari ku!" Ucap Tiwi lagi.


Tiwi berlenggang menuju ruangan yang menyimpan sepatu dan kembali dengan menenteng high hills di tangannya.


"Setidaknya aku ingin berubah lebih baik Tiwi! dan aku berharap kamu juga begitu,"


Tiwi memasang sepatu, "Sudahlah, lebih baik kamu pergi dari sini! aku tidak akan pulang malam ini."


Tiwi meninggalkan sepupunya yang masih terduduk di ranjang miliknya, "Tinggalkan saja kuncinya ditempat biasa!" lalu dia melenggang pergi begitu saja.


"Tiwi, kenapa belum berubah juga!" Ucapnya kemudian berlalu, meninggalkan kunci rumah Tiwi yang dia selipkan di tempat yang Tiwi katakan.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi, karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini


Selamat hari senin selamat beraktifitas, selamat menghalu. hehe


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2