
Mac menuruti perintah bosnya, dia menghentikan mobilnya ditepi jalan.
"Turunlah Don," ucap Farrel tanpa menoleh.
Doni terhenyak, kenapa dia yang harus turun.
"Ta- pi ..."
Tiwi tersenyum, dia merasa diatas angin. Menyingkirkan Doni dengan begitu mudahnya.
"Turunlah, bukakan pintu untuk perempuan ini!" Ucap Farrel kembali.
Tiwi yang kini terhenyak, "Ta- tapi Pak, harusnya ..." Tiwi beralih pada Doni yang kini berseringai. Lalu keluar untuk membukakan pintu untuknya.
"Kau dengar perintah Bos? keluarlah sekarang," Ucap Doni saat pintu terbuka.
Tiwi berdecak, menyorot tajam pada Doni, lalu keluar dari mobil dengan menghentakan kakinya keras. Doni kemudian masuk kedalam mobil menggantikan posisi Tiwi yang duduk disebelah Mac.
"Kukira kau mengusirku tadi," ucapnya menoleh pada Farrel yang tengah membaca berkas di tangannya.
"Aku tidak suka orang yang menjelek-jelekkan Kekasih ku seperti itu! Kau fikir aku akan diam saja?" ucapnya tanpa melihat lawan bicaranya.
"Lantas kenapa masih begitu egois," Doni kembali membenarkan posisi duduknya.
"Jalan Mac, kau seperti robot!" ledek Doni yang dibalas tatapan tajam dari Mac.
Mac kemudian kembali melajukan mobilnya.
.
.
"Kau tahu sekarang, kenapa Tiwi berada disana?" tanya Doni pada Metta yang kini semakin menekuk wajahnya.
Metta tertunduk, Farrel masih membelanya meskipun dalam keadaan marah, dan tidak membiarkan orang lain berfikiran buruk tentangnya. Sementara dia masih mementingkan egonya ketimbang memberikan penjelasan yang dapat dimengerti Farrel.
"Dia bahkan memikirkan semua hal untukmu, hal-hal kecil sekalipun," ucap Doni kembali.
"Aku bukan ingin membelanya karena aku sahabatnya, tapi ini kali pertama dia memperlakukan seorang perempuan sespecial ini, tidakkah kau paham juga?"
"Kau bahkan lebih tua darinya! tapi kenapa lebih kekanak-kanakan hanya karena hal yang seharusnya bisa dibicarakan." ucap Doni lalu menghela nafas.
Metta hanya terdiam mendengar semua penuturan Doni, rasa bersalah semakin mencuat dalam dirinya. Memang benar, harusnya dia pun bisa mengerti.
Semua hal dapat dibicarakan, mencari penyelesaian tanpa saling menyakiti, Metta meraup wajahnya. Sekarang dia tidak tahu Farrel dimana.
"Aku terlalu emosi." gumamnya.
Doni masih dapat mendengar gumamannya, "Memang iya."
.
.
Farrel menemui Alan dikantor polisi, karena Alan yang melaporkan Faiz tempo lalu.
"Kau yakin El ?" Farrel mengangguk.
" Ya sudah, ayo kita masuk."
Mereka berdua masuk kedalam kantor polisi, menemui penyidik yang tengah memegang kasusnya dengan Faiz.
"Kita tunggu pengacara dari pihak saudara Faiz, berhubung dia masih dalam perawatan pihak rumah sakit, jadi dia tidak bisa kita hadirkan." ucap penyidik tersebut.
Mereka kini duduk bersama disebuah ruangan, menunggu pengacara Faiz yang belum datang juga.
__ADS_1
"Selamat siang," ucap pengacara yang baru saja datang.
Mereka kemudian saling menyalami, lalu kembali duduk.
"Jadi begini Pak, berhubung keadaan saudara Faiz yang harus menerima perawatan lebih karena kondisinya, maka kami akan mencabut gugatan yang menjeratnya," ucap pengacara dari pihak perusahaan.
Pengacara itu terlihat menganggukkan kepalanya, "Itu artinya kalian memberikan kesempatan pada saudara Faiz?"
Pengacara perusahaan mengangguk, "Benar, pihak kami sudah melayangkan surat pencabutan gugatan kasus ini, namun kita masih harus menunggu prosesnya berjalan."
"Terima kasih Pak Alan, akan saya sampaikan pada beliau. Semoga dengan ini dapat membantu kondisinya membaik,"
"Saya hanya menjalankan tugas, berterima kasih lah pada Pak Farrel, dia yang ingin mencabut kasusnya dan memilih berdamai,"
Pengacara itu beralih pada Farrel yang terlihat begitu santai, "Ah, maaf saya fikir anda bukan Pak Farrel."
Farrel hanya mengangguk, "Tidak masalah ..." ucapnya datar.
Lalu mereka menyempatkan diri melihat Faiz, yang kini duduk termenung di sebuah kursi.
"Dokter mengatakan kondisinya mulai membaik, namun masih sering mengamuk jika mendengar sesuatu yang tidak ingin dia dengar," ucap pengacara Faiz.
"Tidak ada satupun pihak keluarganya yang datang menjenguknya sampai saat ini," pengacara itu menarik kursi lalu mendudukkan tubuhnya,
"Hanya Bastian dan istrinya saja yang sesekali datang menjenguknya!"
"Kalau begitu berikan perawatan yang lebih layak untuknya setelah proses pencabutan kasus ini selesai, kalau perlu berikan yang terbaik!" Ucap Farrel kemudian.
"Aku rasa itu ide bagus, dia memang membutuhkan perawatan lebih baik lagi," ucap pengacaranya Faiz.
Farrel menghampiri Faiz dan duduk disebelahnya. Faiz menoleh sekilas namun dia kembali pada posisinya, dengan satu kaki yang berselonjor, dan satu kaki yang dipakainya untuk menopang tangannya.
"Bagaimana keadaan mu?"
Faiz tidak menjawab, dia hanya menoleh dan menatap Farrel.
"Aku kesini membawa kabar untukmu, aku sudah mencabut kasus yang menjeratmu! hiduplah dengan baik setelah kamu sembuh." ucap Farrel.
Faiz masih menatapnya dengan menelisik, namun dia tidak juga memberi jawaban.
"Segeralah sembuh! Kau masih ingat apa yang aku ucapkan? Aku butuh rival bisnis yang seimbang,"
Lalu Farrel memegang bahu Faiz, kemudian beranjak dari duduknya.
"Apa kau akan berjanji padaku satu hal?"ucap Faiz tiba-tiba.
Farrel menoleh kearahnya, "Berjanjilah menjaganya untukku, kau memang pantas!"
Farrel mengangguk, aku berjanji tapi janjiku bukan untukmu, melainkan untukku sendiri, kau tenang saja!"
Faiz mengangguk dan menarik bibirnya keatas.
Farrel lalu kembali melangkahkan kakinya, dan Alan mengikutinya dari belakang.
"Kau terlalu baik hati El," gumam Alan yang masih terdengar jelas oleh Farrel.
"Aku jelas bukan dirimu, yang selalu bersembunyi dibalik keangkuhan, tapi hatimu sebenarnya lembut," Farrel terkekeh.
"Jangan sok tahu," Alan menyikut lengan Farrel.
Farrel dan Alan kemudian kembali ke kantor setelah urusannya kasusnya selesai, begitu juga dengan para pengacara dari pihak keduanya.
Alan melajukan mobilnya menuju kantor, dengan Farrel yang duduk disampingnya, dia tengah memeriksa pekerjaannya dari sebuah ipad.
"Kau terlihat menikmati Pekerjaanmu sekarang," Ucap Alan dengan tangan berada dikemudi.
__ADS_1
"Apa aku masih punya pilihan?" Farrel masih mengutak-ngatik ipad nya.
"Bagaimana dengan kuliahmu?"
Farrel menghembuskan nafasnya pelan, "Aku harus mengambil kelas malam akhir-akhir ini,"
Alan mengangguk, "Bagaimana kelas Desainmu?"
Farrel kembali menghela nafas, "Sepertinya aku harus mengambil cuti,"
"Kau terlalu keras berusaha El, padahal ayah sudah melonggarkanmu,"
"Desain grafis itu cita-citaku, Aku tidak mungkin melepaskannya begitu saja." Farrel memijat keningnya pelan.
"Kau harus memilih salah satunya, kau tidak membias menjalankan semuanya seorang diri," Alan menghentikan mobilnya tepat didepan kantor.
"Iya, aku akan melepas salah satunya."
Farrel kemudian keluar dari mobil dan masuk kedalam kantor divisi, sementara Alan melajukan kembali mobilnya hingga berhenti di kantor pusat.
Doni beranjak saat Farrel tiba, "Kau sudah kembali?Apa urusanmu sangat penting?"
"Begitulah,"
Farrel membuka jas yang melekat pada tubuhnya, dan menempelkannya dibelakang kursi, kemudian dia mendudukkan tubuhnya.
"Kau boleh pulang Don, pekerjaan mu sudah selesai!" Ucap Farrel dengan memejamkan matanya.
"Lalu kau bagaimana?"
"Aku akan disini dulu sebentar, kau pulang lah duluan,"
Doni beranjak dari duduknya, "Baiklah aku pulang, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu."
"Hem ..."
Doni keluar dari ruangannya dan berlalu pulang, meski dia heran dengan sikap Farrel.
Sesaat Farrel memejamkan matanya, banyak hal yang membuatnya lelah. Lalu dia beranjak dan berdiri di dekat jendela kantornya, melihat kearah luar yang sudah memperlihatkan semburat jingga yang menghampar jelas di awan sore itu.
Metta masuk setelah mengetuk pintu tanpa ada jawaban dari dalam. Menatap sendu Farrel yang belum menyadari kedatangannya.
Metta melangkah dengan ragu kearahnya, mendekati Farrel yang masih menatap awan dari balik jendela.
Entah keberanian dari mana Metta pun tidak tau, tiba- tiba dia melingkarkan tangannya dipinggang Farrel, memeluk pria tanggung itu dari belakang.
"Maafkan aku," lirihnya pelan.
Farrel terkesiap dengan pelukan yang tiba-tiba mengerat dipinggangnya. Namun dia masih terdiam untuk sesaat lalu menghembuskan nafasnya perlahan.
"Lepaskan tanganmu dari tubuhku Mettasha!"
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi𤣠karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.
Hayo siapa yang belum likeš¤ sana ulangi lagi.
Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..
Semoga kita saling bersinergi ⤠dalam kehaluan ini.
Happy weekend
__ADS_1
Terima kasihš