Berondong Manisku

Berondong Manisku
Jangan khawatir


__ADS_3

Metta memandangi dirinya dicermin, usia kandungannya sudah memasuki usia 5 bulan, bentuk tubuhnya tak lagi sama, terutama di area-area favorit.


Farrel yang datang ke kamar dengan membawa segelas susu ibu hamil rasa vanila itu mengernyit melihat ulah Metta yang terus memandangi dirinya sendiri di cermin besar yang terletak antara kamar dan walk in closet.


"Sayang, kenapa terus dilihatin begitu?" ujar Farrel dengan meletakkan susu rasa vanila itu.


"Sayang, lihat badan aku! Dalam sebulan ini berat badanku naik tiga kilo." ucap Metta dengan merengut.


"Tapi tidak apa - apa sayang, memangnya apa yang kamu khawatirkan?" ucap Farrel dengan memeluk pinggang, dengan dagu yang menempel di bahu nya.


"My Cherry ... bikin aku gemes tahu gak!" Ucapnya dengan mengelus perut buncitnya.


Mereka saling menatap pantulan di dalam kaca dengan penuh cinta.


"Bagaimana kalau kita bersenang-senang." bisiknya tepat di telinga Metta.


"Iih ... kau ini, hari ini kan kamu ada meeting, udah sana mandi, aku akan menyiapkan pakaianmu." mengurai pelukan.


"Biarkan aku begini sebentar saja." ucapnya dengan semakin merekatkan pelukannya.


Cup


Cup


Cup


Farrel mengecup leher belakang, kemudian memajukan pipi Metta dengan gemas,


"El ... ih! Udah sana mandi!"


Farrel terkekeh saat dirinya di dorong masuk ke kamar mandi, "Aku bilang sana mandi...."


"Minum susunya sayang!"


"Huum ...."


.


.


"El ... aku ingin bicara! Ke ruanganku sekarang," ujar Alan saat Farrel tiba di kantor.


Metta mengernyit, sedangkan dia mengerdikkan bahu.


"Aku menemui Alan dulu, kakak ke ruanganku saja."


Metta mengangguk, "Baiklah, segera kembali. Kau ada meeting sebentar lagi."


"Huum...." gumam Farrel.


Akhirnya Metta masuk ke ruangannya, sementara Farrel kembali berjalan menemui Alan di ruangannya. Terlihat Mac juga ada disana, dia berdiri saat Farrel tiba,


"Kau disini?" tanyanya.


Mac mengangguk, lalu dia membuka pintu ruangan Alan dan mempersilahkan Farrel untuk masuk.


Farrel masuk ke ruangan nya, Alan terlihat tengah duduk memangku ipad, dengan tangan yang sibuk di atasnya.


"Apa ada masalah?" tanyanya dengan menghempaskan dirinya di sofa.


"Duduklah dulu!"


"Kau tidak lihat aku sudah duduk!"

__ADS_1


Alan mendongkakkan kepalanya, "Oh...." ucapnya hanya beroh-ria.


"Kau tidak merencanakan sesuatu kan?" tanya Farrel dengan curiga.


"Kau ini, kenapa selalu mengungkit! Aku ingin berbicara hal lain, bukan hal yang itu." kilahnya.


Farrel menautkan kedua alis, dan menatap cuping telinga Alan yang masih memakai plester.


"Luka mu belum sembuh?"


"Tidak usah khawatirkan aku, ini tidak seberapa!"


"Cih, siapa juga yang khawatir, hanya saja aku kurang tepat, harusnya aku sedikit ke kiri, agar tepat mengenai isi kepalamu. Siapa tahu bisa. berfikir jernih kembali." Ucapnya dengan tersungut.


Alan tergelak, "Mana mungkin kau bisa melakukannya."


Farrel berdecak kembali, "Jangan terlalu sombong!"


"Lihat ini!" Dia lantas menyerahkan ipad pada Farrel.


Pria berumur dua puluh tahun itu mengambil ipad dari tangannya, kedua manik coklat itu membulat, "Aku hampir saja melupakannya."


Alan berdecih, "Kau terlalu sibuk membuat kecebong, sampai kau mengabaikan pekerjaan ini!"


Farrel tergelak, "Kau akan tahu bagaimana rasanya, jika kau sudah menikah! Itu juga jika ada yang mau denganmu!"


"Sialan kau!" melempar kan botol mineral ke arahnya.


Merasakan benda tajam yang menegang juga aku sudah merasa kesakitan, dan harus menuntaskannya sendirian itu lebih menyakitkan.


Farrel menatap wajah Alan dan menahan tawa, "Kau tidak sedang membayangkan sedang menindih kan!"


"Sialan jaga bicaramu Farrel, kenapa kau semakin vul gar setelah menikah, kacau!" Alan menggelengkan kepalanya.


Dengan kedua mata yang mengarah ke ipad, Farrel tertawa, "Aku sudah lebih berpengalaman dari pada mu soal yang satu itu, jadi jika kau penasaran tanyakan saja padaku."Ujarnya dengan kedua alis yang naik turun.


Alan berdecak kembali, dia memang benar, jika soal hal itu, Farrel lebih selangkah daripada dirinya,


"Sampai kapan kau akan membahas masalah yang tidak penting, lihatlah itu! Yang baru saja aku perlihatkan, itu lebih penting daripada apa yang kau katakan barusan!"


Farrel terkekeh, "Tidak usah malu- malu begitu!"


"Farrel!!" Sentaknya dengan mata yang membola.


Namun Farrel semakin tergelak, dia lantas memeriksa ipad yang sudah berada di tangannya.


"Tinggal menunggu sekitar dua minggu lagi, setelah itu kita akan mengurus peresmiannya saja."


Farrel mengangguk, "Kau yang akan mengaturnya,"


Alan mengangguk, "Siap tuan muda!"


"Sialan kau!" ujar Farrel dengan beranjak dari duduknya.


Namun kembali menoleh kebelakang, "Bagaimana urusanmu?"


"Untuk sementara belum ada hal yang mengharuskan aku bergerak, tapi aku sudah siap!"


Farrel mendengus, "Terserah kau saja! Yang pasti jangan sampai ayah dan bunda tahu."


Alan mengangguk, "Akan aku pastikan itu!"


Farrel akhirnya keluar dari ruangan Alan, dia kembali berjalan menuju ruangannya sendiri.

__ADS_1


"Mac, aku pergi!"Ucapnya dengan tetap berjalan.


Sinar mentari tengah berada di puncaknya, udara panas dengan teriknya membuat kulit terasa terbakar.


Dahi Wanita yang tengah hamil itu dipenuhi peluh, dia mengibas-ngibaskan tangannya, walau mobil itu dipasangi AC, tetap saja dia merasa gerah.


"Sayang ... panas banget yaa!" Ucap Farrel dengan mengambil tisu dan menyerahkan nya pada sang istri.


Metta mengangguk, "AC nya mati ya?"


Farrel memeriksa Ac mobilnya, enggak kok!"


"Masih kepanasan soalnya."


"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai!" ujarnya dengan dengan menginjak pedal rem, saat mereka di lampu merah.


Metta menatap ke arah luar, melihat gedung yang masih tahap penyelesaian.


Aku sudah lama tidak lewat jalan ini, semenjak menikah sepertinya, dan gedung ini udah mau jadi saja.


Metta terus menatapnya, seperti tidak asing sat melihatnya, membuat Farrel menoleh padanya, "Sayang ... kenapa?"


Hening


Metta yang tengah menerawang itu tidak mendengar pertanyaan dari suaminya.


"Sayang....?"


Metta menoleh, "Eh... maaf! Apa tadi?"


"Kenaapaa?"Ujarnya dengan mencubit lembut pipinya.


"Enggak, aku cuma lagi lihat gedung yang sedang di bangun itu, tahu-tahu udah mau selesai saja, aku kan sudah lama tidak mengendarai motor, jadi aku tidak pernah lagi melalui jalan ini." jelas Metta panjang lebar.


Farrel hanya mengangguk, "Ooh...." ucapnya dengan datar.


"Iihhh...aku cerita panjang lebar, jawabannya cuma oh doang!"


Farrel tersenyum, "Terus aku harus jawab apa?"


"Ya apa saja, jangan cuma oh doang." Sungutnya.


Farrel hanya terkekeh, tidak lama mereka sampai ditempat yang di tuju, kafe di dekat danau buatan milik pemerintah, mereka lantas keluar dari mobil.


Doni sudah menunggu mereka di dalam ruangan Vip yang sudah dia pesan. Padahal dia yang baru saja pulang dari kota A langsung menemui Farrel.


"Kau memang tidak mengijinkan ku untuk istirahat sebentar!" Ujar Doni saat Farrel masuk dan mendudukan dirinya.


"Kau itu sudah terlalu banyak cuti, jatah cutimu sudah habis!" Ucap Farrel datar.


Metta hanya menggelengkan kepalanya, "El aku ke toilet dulu.


"Aku antar ....!"


"Tidak usah, kau ini! Aku bisa sendiri."


"Baiklah hati-hati sayang!" Ucapnya mengantar Metta sampai ambang pintu.


"Aku hanya ke toilet El!"


Metta masuk ke dalam toilet, dia langsung membenahi riasan wajahnya, dan merapihkan rambutnya.


Setelah selesai dengan urusannya, Metta keluar dari toilet, dia tersentak karena hampir saja bertabrakan dengan seorang wanita yang baru saja akan masuk.

__ADS_1


"Maaf ... aku tidak sengaja!" ujarnya pada Metta.


"Tidak apa, aku juga minta maaf."


__ADS_2