Berondong Manisku

Berondong Manisku
Keraguan Doni 2


__ADS_3

Tiwi tersenyum sumringah saat Doni menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya, dia berhambur keluar dan menunggu Doni memarkirkan mobilnya dengan benar.


"Masuklah dulu, aku belum membawa tas ku,"


"Tidak usah, cepatlah!" ujar Doni tanpa ekspresi.


"Aku ingin meminta tolong, tas yang aku pakai itu tersimpan di lemari paling atas, dan aku kesusahan karena aku sedang hamil, jadi tolong ambilkan untukku yaa," ujarnya dengan mengelus perutnya yang masih terlihat rata itu.


Doni melihatnya jengah, namun dia keluar dari mobilnya dan menyusul Tiwi yang sudah masuk terlebih dahulu. Dia masuk kedalam kamarnya dan melihat barisan tas teronggok begitu sana di atas lantai.


"Itu, tas yang itu berwarna hitam itu!" ujar Tiwi dengan menunjuk tas yang berada di atas lemari.


"Kenapa tidak kau memakai tas- tas ini saja? malah ingin memakai tas yang berada di atas, merepotkan saja!" ketus Doni.


"Entahlah, aku hanya ingin memakainya, tidak ingin yang lain." ujarnya dengan suara manja yang di buat-buat.


Doni berdecak, "Kau ini menjengkelkan!"


Tiwi tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya dipinggang Doni, namun Doni yang hendak naik ke atas kursi itu menepiskan tangan Tiwi dengan kasar.


"Kau ... jangan coba - coba mencari kesempatan!"


"Kenapa?Aku menyukaimu, begitu juga dengan kau bukan?" ujar Tiwi penuh percaya diri.


"Ingat, kau boleh mengatakan itu adalah anakku, tapi kau harus tahu batasanmu. Aku bilang tidak, aku tidak menyukaimu. Kau puas!"


Doni keluar dengan membanting pintu kamar, dia kembali ke dalam mobilnya,


'Aaaghhkkk....' teriaknya dengan memukul setir kemudi.


'Benar- benar membuat mood ku hilang!'


.


.


"Kau mau membawaku kemana?" tanya Tiwi saat mereka melajukan kendaraan nya, ruas. jalanan yang ramai.


"Kau juga akan tahu nanti." ketus Doni.


"Bisa tidak sih, kau bersikap baik padaku? Aku ini sedang mengandung anakmu,"


"Kau berbeda sekali dengan Farrel yang memperlakukan istrinya dengan penuh cinta!"


"Cih, kau masih terobsesi pada Farrel?"


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatku cemburu." Ujar Tiwi dengan mengusap bahu Doni.


Doni tergelak, "Kau bilang apa? aku cemburu... jangan gila, aku tidak cemburu sama sekali."


"Kau ingat ini baik- baik, aku tidak cemburu, karena aku tidak menyukaimu sama sekali. Karena apa? kau tahu... aku muak pada wanita seperti mu!"


Jawaban Doni cukup menohok bagi Tiwi, tapi Tiwi sudah terbiasa dengan hal seperti itu, dia hanya menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinganya.


"Tidak masalah, kau muak padaku, kau tidak menyukaiku, kau juga tidak cemburu ... tidak masalah! Karena tidak akan merubah keadaan ku yang tengah mengandung anakmu. Aku tekankan sekali lagi, Anakmu!"


Doni mendengus kasar. jawaban Tiwi sungguh menohok, namun dia juga sudah malas meladeninya.


Beberapa saat kemudian.


Mobil Doni berhenti disebuah rumah sakit, Tiwi mengedarkan pandangannya.


"Kita ngapain ke sini?"


"Aku ingin kau memeriksakan kandunganmu! Apa lagi..." ujarnya dengan membuka seat belt nya.


"Turun ... " katanya lagi.


"Aku tidak mau, aku takut dengan rumah sakit, aku trauma melihat jarum suntik, Aku juga. tidak suka aroma dari rumah sakit!" ujar Tiwi dengan memegang erat seat belt yang masih terpasang di tubuhnya.


"Kau turun sendiri, atau aku akan memaksamu!"

__ADS_1


Doni keluar dari mobil dan berjalan mengelilingi arah sebaliknya, membuka pintu mobil, dan memaksa Tiwi keluar.


"Sudah aku katakan, Aku tidak mau! Kenapa kau memaksaku?" ujar Tiwi dengan nada bicara yang keras.


Memancing emosi Doni yang langsung menyeret Tiwi masuk kedalam rumah sakit,


"Aw... aw..." ringis nya saat Doni mencengkeram, memegangi tangannya dengan kuat.


"Kalau memang benar anak itu adalah anakku, kenapa kau merasa sangat takut seperti ini."


"Sudah aku bilang aku tidak suka pergi ke rumah sakit, Aku tidak tahu, dan aku juga tidak takut seperti yang kau katakan tadi." sentak Tiwi.


"Kau terlalu banyak alasan, apa aku harus mempercayai wanita seperti mu?"


Mereka lalu masuk kedalam, dengan Tiwi yang menutup hidungnya dengan kesal.


"Kita daftar dulu, setelah itu aku akan mengantarkan mu pulang," ujarnya dengan sedikit menggeram, saking kesalnya.


.


.


Tiwi kini terbaring di ranjang rumah sakit yang berada di ruangan dokter spesialis kandungan. Raut wajahnya memperlihatkan jika dia tengah khawatir, berkali-kali di menghembuskan nafasnya panjang.


"Rileks saja yaa bu! Jangan terlalu tegang," Ucap dokter spesialis kandungan itu pada Tiwi.


Dia, tidak menjawabnya, dia hanya mengangguk kecil saja. Doni bisa menangkap ekspresi khawatir dari Tiwi, dan berharap pemeriksaan dokter hasilnya membuatnya puas, berharap Tiwi tidak sedang hamil...atau berharap Tiwi hamil dari seseorang selain dirinya.


"Kita lihat yaa bu!" ujarnya dengan menjinakkan pakaian Tiwi hingga sebatas perut.


"Ini dia, jagoan bunda dan juga Ayah." Ujar dokter itu dengan menempelkan alat transducer itu tepat pada kulit perut Tiwi.


"Jadi benar, Tiwi tengah hamil?" Gumam Doni yang melihat layar hitam putih yang ditunjukan oleh dokter itu.


Tiwi tersenyum sempurna, melihat janin sebesar kacang hijau yang di lihatnya dari layar itu.


"Kau lihat Don, itu anakmu!" ujar Tiwi.


"Kandungan nya bagus, tekanan darah bagus, semua nya bagus, tinggal minum Vitamin dan juga perbanyak makanan yang bergizi tinggi ya bu."Ujar dokter itu kemudian.


"Ini resep obatnya ya bu, mas...." ujar dokter itu yang tampak ragu dengan Doni yang terlihat lebih muda, yang sebelumnya dia menganggap Doni adalah adik nya.


"Dijaga kandungannya yaa." ujar dokter yang masih terlihat muda itu.


"Kami permisi dok, terima kasih!"


Mereka akhirnya keluar, berjalan lurus ke arah apotik untuk mengambil obat,


"Berikan resepnya padaku, kau duduk lah dulu." ujar Doni mengambil resep dari tangan Tiwi.


"Terima kasih sayang,"


Doni mengangguk, dia lantas berlalu ke apotik dan menyerahkan resep obat tersebut, sesaat kemudian Doni berbalik,


"Aku pergi ke toilet sebentar, kau tunggu saja di sini!"


Tiwi pun mengangguk, Kau mulai melemah saat melihat janin ini Doni? Itu bagus sekali...


Sementara Doni berjalan kearah toilet, dia sempat berbalik melihat Tiwi yang tengah memainkan ponsel, lalu berbelok ke arah ruangan dokter spesialis kandungan.


Seorang suster tampak keluar dari sana, Doni akhirnya menghampirinya.


"Maaf sus, apa dokter masih ada pasien? Ada yang ingin saya konsultasikan dengan nya."


"Kebetulan ada, silahkan masuk."


Doni diantar perawat itu pun masuk, dia pun menarik kursi lalu menghempaskan tubuhnya,


"Maaf, Dok!" Ujar Doni menatap dokter yang tengah menatapnya dengan lekat.


Dokter itu mengangguk, "Ada yang ingin kau tanyakan padaku.?"

__ADS_1


"Aku ingin...melakukan tes DnA, apa bisa dilakukan pada janin berusia dua belas minggu?"


Dokter itu mengangguk kan kepalanya berulang kali, "Bisa saja, tes DNA bisa dilakukan dengan cara mengambil sample cairan amnion,"


Doni mengernyit, dokter pun menjelaskan nya lagi, "Kita harus melakukan Amniocentesis, untuk mengetahuinya."


Doni semakin mengernyit, apapun itu terserahlah yang penting tes DNA bisa di lakukan.


Sementara itu Tiwi yang merasa Doni terlalu lama ke toilet pun akhirnya menyusul nya, namun setelah beberapa saat menunggu di depan toilet, Doni tak juga keluar.


Doni berjalan keluar dari ruangan dokter, masih asa kesempatan yang akan dilakukannya untuk memastikan. Dan dia tidak akan menyerah sebelum jelas bahwa anak itu memang benar anaknya.


"Kau dari mana?" tanya Tiwi yang melihat Doni keluar dari arah lain.


"Ruangan dokter!"


"Kenapa kau sakit?" ujarnya dengan menempelkan punggung tangannya di dahi Doni.


Doni menepisnya, "Aku ke dokter kandungan yang tadi memeriksamu,"


Tiwi sontak kaget, "Apa, ada urusan apa kau kembali kesana?"


"Nanti sore kita kembali ke sini, kita akan melakukan tes pada janin!"


"Tes apa maksudmu?Aku tidak mau, enak saja. Kau tahu resiko apa yang terjadi jika kita melakukan Tes DNA pada janin?"


"Tidak usah berkilah, aku sudah tahu semua prosesnya!"


"Jika kau yakin itu anakku, seharusnya kau tidak sepanik ini, kecuali ada orang selain aku!" ujarnya meninggalkan Tiwi begitu saja.


.


.


Mac menyerahkan hasil pengawasan terhadap Tiwi dari orang terpercaya nya pada Farrel. Dia mengernyit saat melihat kemana saja Tiwi pergi dan orang-orang yang bersinggungan dengannya selama dua bulan kebelakang.


Namun nihil, hasil nya itu hanya pergi bersama Doni dengan bukti- bukti kuat beserta rekaman CCTV yang berhasil didapatkan.


Farrel berulang kali menggelengkan kepalanya, melihat jejak rekaman Doni di jalan malam itu dan berakhir masuk ke dalam toilet sebuah klub.


"Kurang ajar memang anak itu, dia bahkan melakukannya di toilet, astaga!"


Mac mengangguk, "Keterlaluan...."


"Aku memberikan gaji besar dan juga bonus, dia bahkan tidak mampu menyewa hotel?"


Mac mengatupkan bibirnya, Dasar konyol, aku kira dia akan marah.


Doni tiba-tiba masuk kedalam ruangan, dia langsung menghempaskan dirinya di sofa,


"Bukankah aku memberimu cuti? Kenapa malah kesini?"


"Anggap saja aku sedang main ke kantor sahabatku!" ujarnya datar.


"Aku sudah mengajaknya ke dokter hari ini, dan dia memang benar-benar hamil." lanjutnya lagi.


"Persiapkan mentalmu!" ujar Farrel menyerahkan semua bukti pada Doni.


Doni melihatnya satu persatu, kedua mata nya membulat sempurna.


Tubuhnya tiba-tiba melemah, hingga merosot ke lantai, saat dia melihat dengan kepalanya sendiri hasil yang di dapatkan oleh Mac.


"Mac katakan itu tidak benar! Katakan Mac?:


"Itu benar, anak yang dikandung itu benar-benar anakmu, dasar bodoh."


Astaga, pupus sudah harapannya jika Tiwi tidak pernah keluar dengan seorang pria, bahkan tidak ada yang datang ke rumahnya, dia hanya pergi ke kantor, lalu kembali ke rumah, hanya mampir ke swalayan, selebihnya tidak ada.


"Apa ini sudah benar semua Mac? tidak ada yang terlewat satu pun?"


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen, rate 5 juga yaa❤ terima kasih


__ADS_2