
" Iyaa, aku memang beruntung" batin Metta.
Tak habis fikir kenapa malah dia yang melakukan semua perawatan, sementara Farrel saat ini malah sedang duduk menunggu.
" Kukira dia yang akan melakukan semua perawatan ini"
Menikmatinya?tentu saja, namun Metta adalah sosok perempuan dengan gengsi yang tinggi. Jika perempuan lain akan senang diperlakukan dan mendapat kejutan seperti ini, namun tidak dengan Metta. Kemandirian nya begitu kuat hingga lupa bahwa dia juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang lain selain dari keluarganya.
Waktu terus berlalu, 3 jam sudah Metta berada didalam sana, menikmati semua pelayanan salon dari mulai pedicure, medicure, perawatan rambut dan terakhir massage spa, semua perawatan yang tidak pernah dilakukan nya.
" Kakak, sudah lama yaa tidak pergi kesalon" ucap pegawai yang sedang mengoleskan massage oil pada punggungnya.
" Hem, kenapa memangnya?"
" Tubuh kakak kaku semua, bagian sini apalagi" sarkas pegawai itu menyentuh bahu Metta.
" Aku bahkan tidak pernah melakukan hal ini sebelum nya" batin Metta.
" Kulit kakak juga sedikit kasar, mungkin kakak tidak pernah luluran juga yaa" celetuk nya lagi.
" Terasa kasar, biasanya perempuan yang biasa melakukan perawatan tidak begini kulitnya" timpal pegawai yang satunya, dan langsung mendapat senggolan teman nya.
" Sttt" pegawai itu pun terkikik.
" Kalo iya memang nya kenapa?" Metta beranjak dari ranjang Massage, menutupi bagian depan tubuhnya dengan kain.
Melihat reaksi Metta, kedua pegawai itu tersentak, terlihat panik dan langsung berusaha menenangkan Metta.
" Ah, maaf kak temanku tidak bermaksud apa apa, dia hanya bercanda" ucap nya menyenggol temannya yang barusan berbicara.
Metta yang masih kesal,membulatkan matanya mengarah pada kedua pegawai itu.
" Hanya bercanda? kalian pikir ucapan kalian lucu?" tukas Metta dengan kesal.
" Maaf kak, maafkan kami"
"Sudah, selesaikan semua aku sudah tidak berminat,
kalian pikir aku tidak mampu pergi melakukan perawatan seperti ini, aku hanya tidak ada waktu melakukan hal semacam ini" tukas Metta beringsut dari ranjang dengan tergesa menuju toilet.
Baginya pantang ada orang yang berani merendahkan harga dirinya, amarahnya memuncak kala itu juga, Metta beranjak pergi membersihkan dirinya dan memakai pakaiannya kembali, rangkaian terakhir yang belum selesai.
Kedua pegawai itu panik, mereka takut kalau Metta melaporkan hal tersebut pada atasan nya. Dan sudah pasti akan berimbas pada diri mereka sendiri, berkali kali mereka meminta maaf pada Metta yang hendak beranjak masuk toilet diruangan itu.
" Kak, maaf kan kelancangan kami, tolong jangan memperbesarkan masalah sepele ini" ucap pegawai itu
Metta berbalik," Masalah sepele? sudah salah masih saja membela diri" Metta kembali melangkah, membanting pintu toilet dengan keras.
__ADS_1
Dengan segera Metta membersihkan dirinya dan memakai kembali pakaian nya.
" Memangnya kalian siapa, seenaknya saja bicara merendahkan orang" sungut Metta.
Metta keluar dari toilet dengan memasang muka angkuhnya, melirik nametag pegawai yang mengetuk pintu.
" Siapa nama kalian,? ucapnya angkuh.
" Maaf kak, tolong maafkan kami"
Metta hanya menggertak, dia tidak ada niatan memperbesar masalah ini, tapi mereka juga wajib di beri pelajaran agar tidak seenaknya bicara.
" Lain kali jaga ucapan kalian kalo tidak ingin aku laporkan pada manager tempat kalian bekerja ini, jangan memandang rendah orang lain sekalipun orang itu memang rendahan" bentak Metta.
" Maafkan kami kak, tolong jangan laporkan kami" ucap keduanya dengan takut.
Metta berjalan keluar dengan tersungut menghampiri Farrel yang tengah tersenyum, membuat iri para gadis yang berada disana, tak sedikit juga yang menatap jengah ke arah Metta.
Sementara kedua pegawai itu harap harap cemas melihat punggung Metta yang semakin menghilang dari pandangan.
" Gimana ini, apa lebih baik kita menghampirinya lagi untuk meminta maaf sebelum dia memberitahukan masalah ini pada manager" bisik salah satu pegawai.
"Sudah ayo kita kesana saja sebelum menjadi masalah besar" timpal satunya lagi.
" Gimana sudah selesai?" tanya Farrel.
" Kalo bilang bukan surprise namanya, gimana kakak senang?" tanya Farrel dengan lembut.
Metta mengangguk, tak dapat dipungkiri kini dirinya merasa lebih segar wajah yang biasa dirawat alakadarnya itu berubah menjadi lebih berseri. Memaksakan tersenyum meski kejadian barusan membuat dirinya kesal dan tidak mungkin memberi tahukan nya pada Farrel.
"Tuh kan kakak semakin cantik saja" tukas Farrel.
" Jadi sebelum nya aku tidak cantik?" Metta membulatkan matanya menatap Farrel.
" Bukan.. bukan begitu maksudku, sebelumnya kakak sudah cantik dan semakin cantik saja sekarang" Sahut Farrel.
Tiba tiba kedua pegawai itu menghampiri dengan saling mendorong, berpikir bahwa Metta sedang mengadukannya pada Farrel.
"Kenapa kamu memberi ku surprise seperti ini,?" tanya Metta " Aku tidak suka pergi ke salon" sungut Metta.
" Inilah pacarku dengan segala keunikannya,aku hanya ingin tubuh kakak rileks sebelum besok kembali bekerja, selama ini kakak kan sudah berusaha keras sendiri, tapi sekarang ada aku" Farrel mencubit pelan hidung Metta.
" Ah, manisnya pacarku" batin Metta melupakan rasa kesalnya.
tiba tiba..
" Kakak, kami memohon maaf atas pelayanan buruk kami tadi."ucap pegawai itu dengan menundukan kepalanya.
__ADS_1
Farrel tersentak" Memangnya tadi ada masalah apa?" ucapnya menatap kedua pegawai itu dan beralih menatap Metta.
" Bukan apa apa, ayo pergi" sahut Metta menarik pergelangan tangan Farrel.
" Tunggu kak, kasih tau aku" Farrel melepaskan cekalan tangan Metta.
" Astaga, kita malah memperbesar masalah ini!, ternyata dia tidak mengadu" bisik pegawai itu pada temannya.
" Mati lah kita " tukas temannya.
" Bukan apa apa, ayo kita pergi aku lapar" Metta menarik Farrel keluar dengan cepat.
Metta perempuan dengan sejuta keanehan nya, memilih menyembunyikan perasaan yang di rasakannya, lagi lagi gengsi yang terlalu tinggi.
Setelah melakukan semua pembayaran mereka pun keluar dari salon, kembali berjalan menyusuri outlet demi outlet,
" Ada yang ingin kakak beli?" tanya Farrel ketika melihat Metta berdiri memandang sebuah tas yang menjadi incaran nya sejak lama.
" Ah, tidak ayo kita pergi" Metta menarik tangan Farrel hingga mengikutinya.
" Tadi bilang kakak lapar?"
" Kita makan di rumah saja bagaimana?"
Farrel menggelengkan kepalanya.
" Disini pasti makanannya mahal, juga tidak akan kenyang"
Namun Farrel menarik tangan nya memasuki sebuah restoran.
" Kakak ini sekarang pacar aku, jadi biarkan aku yang memikirkan masalah uang, kakak tidak usah khawatir"
" Kamu ini masih magang, pasti uangmu akan langsung habis jika kita makan disini, ayo kita pergi saja dari sini!" Metta menarik tangan Farrel dan manariknya keluar dari restoran tersebut.
" Kakak, tak mau makan disini?"
" Aku punya tempat makan favorit yang jauh lebih enak dari pada disini, ayo pergi" ucap nya.
.
.
.
Jangan lupa like, dan komen nyaa yaa😊 biar aku tetep semangat 🤗
Terima kasih😘
__ADS_1