
Rindu...
Satu kata setelah kamu,
❤ F.A
Metta kembali tersenyum seraya membaca note dari kiriman entah keberapa kalinya dari Farrel.
Selama seminggu Farrel tak juga kunjung pulang, meski raganya tak dekat, namun Metta tak begitu kehilangan, entah bagaimana cara nya Farrel selalu punya waktu untuk sekedar menanyakan kabar, sedang apa, atau pertanyaan konyol lainnya.
Namun kekonyolan itu pula lah yang akhirnya meluluh lantahkan dunia nya Metta, kerasnya dinding yang dipasang Metta lambat laun runtuh seketika.
Keegoisan tak lagi bermakna,
Tatkala ketulusan bertahta
Dan hati mampu goyah,
Oleh kamu yang tak tercegah.
.
.
"Cie yang dapet kiriman terus" ucap Nissa saat kakaknya itu membuka paper bag berisi boneka Doraemon.
"Apa karena dia pernah ngeliat gue pake baju bergambar Doraemon lantas berfikir aku menyukai segala bentuk doraemon" gumam Metta.
"Nih buat kamu aja" Metta menyerahkan boneka itu pada Nissa.
"Gak mau nanti bang Farrel marah ke Nissa" Nissa mengerdikkan bahunya.
Metta mengernyit "Memangnya kapan kamu dimarahi?"
Metta menepuk mulut embernya "Gak pernah sih"
Nissa sontak membalikkan badan dan pergi dengan tergesa. "Nissa ke kamar duluan"
Metta menggelengkan kepalanya "Dasar bocah"
"Rasanya gue udah gak pantes maen boneka begitu" Metta menggelengkan kepalanya dan menyimpan boneka doraemon tersebut ke atas meja.
Sesaat kemudian dering ponsel terdengar dari kamarnya. Dia beringsut dari duduknya dan menuju kamar, meraih ponsel yang menyala diatas Meja.
"Apa kiriman aku sudah kakak terima?"
"Waalaikumsalam"
Farrel terkekeh "Assalamualaikum"
"Apa kirimanku sudah sampai"
"Sudah,"
"Apa kakak tidak bertanya kenapa aku memberi kakak boneka doraemon?"
"Baru saja aku akan bertanya" terdengar Farrel menghela nafas sebelum bicara kembali.
"Aku akan menjadi Doraemon untuk kakak, memberi segala yang kakak mau meskipun mustahil."
Metta tercengang mendengar apa yang dikatakan Farrel.
"Astaga, itu berlebihan sekali"
"Bagiku tidak, karena kakak memang pantas mendapatkannya"
"Tapi Farrel.."
__ADS_1
"Kakak cukup diam, tak perlu melakukan apa apa, terima dan tunggu aku. Kakak mengerti"
Tanpa sadar Metta mengangguk, seolah Farrel tengah berada dihadapan nya.
.
.
Metta kembali mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya, seharian ini dia disibukkan olah file file yang membuatnya pusing kepala. Pak Bastian yang tiba tiba meminta semua laporan saat itu juga.
"Sha, seperti nya divisi kita bakal di audit ya?"
"Gak tau gue, Pak Bas gak bilang apa apa. Dia cuma minta gue siapin laporan yang harus selesai hari ini juga"
"Buset dah, bakal lembur nih kita"
"Gue yang lembur, lo mah enak"
"Yey, gue kan masih piyik disini, nah posisi lo kan diatas gue. Senior senior" Dinda menaik turunkan alis nya.
"Apaan sih lo, senior senior. Mending lo bantuin gue nih" menepuk berkas yang menumpuk di depannya.
"Ok, mesti ngapain gue? ke ruang meeting aja ya biar bisa ketemu pujaan hati gue"
"Pujaan lo c manekin Itu! udah nih bawa ke ruang fotocopy terus di susun udah ada nomornya"
"Eh, sembarang lo ngomong,"Dinda misuh misuh membawa berkas ke tempat foto copy.
1jam kemudian
"Sha..Sha Lo tau gosip hangat dan sensasional hari ini apa?" seru Dinda yang datang dengan segala kerempongannya.
Sementara Metta tak menggubris perkataan sahabatnya itu. Kedua manik hitamnya tak sedikitpun dia alihkan dari layar monitor di depannya.
"Gak tau gue, gak perduli juga"
Metta mengernyit tanpa beralih pandangan
"Apaan tuh,?"
"Cewek lempeng..hahah"
"Hahah..plate sayang plate"
"Sama aja dah gitu"
"Terserah lo deh, udah awas minggir lo gue mau ke ruangan pak Bas."
Metta mengetuk pintu ruangan Bastian, dengan berdiri membawa berkas berkas yang tadi dimintanya didepan pintu menunggu jawaban dari dalam sana.
"Masuk"
Metta akhirnya masuk, "Permisi pak, ini berkas yang.."
Tiba tiba saja Metta terkaget, melihat sosok yang paling dihindarinya tengah menatapnya.
"Hai, Sha.."
Metta meletakkan berkas diatas meja Bastian, tanpa menggubris sapaan dari Faiz.
"Pak Faiz anda mengenalnya?" Ucap Bastian.
"Tentu saja pak, malah saya sangat mengenalnya"
Bastian menyunggingkan senyumnya" Kebetulan sekali yah"
"Yah kalau jodoh gak akan lari kemana" ucap Faiz dengan menatap Metta, membuat jengah.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi pak" Metta segera membalikkan tubuhnya dan keluar dari sana.
Metta menggerutu "Menyebalkan, gak tau malu."
Bruk....
Metta menabrak Alan yang tengah berdiri didepan pintu masuk ruangan Bastian.
"Kau mengumpatku nona" ucap Alan dingin.
Sontak membuat Metta kaget. "Maaf pak, saya tidak sengaja"
Alan menyorot pada Metta yang masih berdiri di depannya dengan gelisah.
"Kenapa dia?"
Alan kemudian berlalu masuk kedalam ruangan Bastian. Namun langkahnya terhenti, sebelum membuka pintu. Samar samar mendengar pembicaraan dari Bastian dan seseorang.
"Apa yang mereka bicarakan?"
Alan kemudian berlalu pergi begitu saja, dia tidak jadi masuk kedalam ruangan Bastian. Membuat Metta yang sedari tadi mematung menatap dengan heran.
"Pantas saja orang orang dikantor ini semakin hari semakin aneh," Metta bergidik lalu melangkah kembali keruangannya.
"
.
.
Gedung Utama
Alan kembali masuk keruangannya, dia menghempaskan tubuhnya dengan kasar.
"Cintya ke ruangan saya" ucap nya menekan intercom diatas meja.
"Kau sedang bermain main dengan ku" gumam Alan mengepalkan tangannya diatas meja.
Cintya Masuk kedalam seusai mengetuk pintu.
"Ada apa pak?"
"Siapkan ruang meeting, kita akan melakukan meeting dadakan."
"Baik pak,"
Alan Alfiansyah, 27 tahun
Dingin, misterius, hanya orang terdekat saja yang pernah melihat senyumnya.
Anak blasteran indo korea😂
Menjadi tangan kanan Arya Adhinata, dan malaikat pelindung bagi bocah konyol tapi ganteng babang El.
✍ Author memang sengaja pake visual
Taecheyon, karena konsep dari awal nya memang pengen berbeda visual dengan visual novel biasanya.
So visual nya aku campur🤧🤗
.
.
Jangan lupa like, komen, dan terus dukung karya remahan dari author receh ini.
__ADS_1
Btw Bang El bucin banget sampe selebay itu yaa..