Berondong Manisku

Berondong Manisku
Salah faham


__ADS_3

Metta mengawali pagi dengan penuh teriakan kedua adiknya di ruang makan, Andra menggoda rambut Nissa yang dikunci kuda. Membuat Nissa menjadi uring-uringan. Beberapa kali Sri memberi peringatan namun mereka hanya berhenti sebentar lalu ribut lagi.


Metta dengan sengaja menghentakan sepatunya keras, membuat Andra dan Nissa menoleh seketika dan langsung terdiam.


"Kenapa berhenti, ayo teruskan!"


"Maaf kak, tapi Abang yang duluan,"sungut Nissa.


"Enggak kok kak, adek yang mulai ..." Andra menyikut lengan adiknya.


Metta menggelengkan kepalanya lalu menggeser kursi meja makan. "Sudah jangan saling menyalahkan, makan yang benar!"


Andra dan Nissa silih menatap, mereka heran akan sikap kakaknya yang tidak biasanya itu. Metta lebih banyak diam, hanya sesekali melirik kearah mereka yang tidak juga diam, namun setelah itu kembali menyuap sarapannya dengan tenang.


Sri yang duduk disampingnya pun tak kalah dibuat heran, namun Sri enggan berkomentar, dia tahu anaknya sedang memikirkan banyak hal.


"Bu aku berangkat ya ..." Metta menyalami Ibunya, kemudian disusul kedua adiknya yang menyalaminya bergantian.


"Oh iya Ndra, kakak sampai lupa uang semester akhirmu. Nih." Metta memberikan beberapa lembar uang pada Andra.


Andra menggaruk kepalanya, "Uang semesternya udah Andra bayar kok kak," lalu Andra menarik bibirnya, memperlihatkan deretan giginya.


Metta mengernyit, "Udah dibayar? kapan ...?"


Nissa terlihat kikuk, dia berkali-kali menatap sang kakak lalu tertunduk lemah.


"Wa- waktu itu," Andra gelagapan.


"Dari mana kamu dapat uang? kamu kerja part time?" Andra menggelengkan kepalanya.


"Lantas dari mana kamu punya uang Andra?"


"Dikasih bang Farrel," lirihnya pelan.


Nissa memejamkan matanya, membayangkan apa yang akan terjadi jika kakaknya sudah tahu.


"Farrel?" Andra mengangguk.


"Jangan marah kak, kami sudah menolaknya, tapi bang Farrel memaksa." jelas Andra.


"Kami?" kedua bola matanya mengarah pada Nissa yang semakin tertunduk.


Sri memperhatikan dan hanya menggelengkan kepalanya. Tidak heran Farrel memberikan mereka uang karena dia mampu, namun entah, anaknya tidak dapat menerima begitu saja dengan mudah.


"Kamu juga Nissa?" Nissa mengangguk dengan takut.


"Bang Farrel membayar lunas uang semester Nissa waktu itu." Nissa melirik Ibunya, seakan meminta pertolongan.


Metta kemudian beralih pada sang Ibu, "Ibu juga tahu?"


Sri menggeleng, dia memang tidak tahu Farrel sudah memberikan sejumlah uang pada kedua anaknya.


Metta menyorot tajam kearah kedua adiknya,


"Astaga, kalian fikir dia itu siapa? dia masih belum siapa-siapa kita. Jangan sembarangan menerima uang!" bentaknya.


"Dia kan pacar kakak," celetuk Nissa dengan polos.


"Meskipun pacar, bukan berarti kita menerima semua begitu saja. Apalagi masalah uang!" Metta menggebrak meja.


"Sha, sabar ..." ucap Sri menenangkan.


"Kalian fikir kakak sudah tidak mampu membiayai sekolah kalian? jawab!"


"Bukan begitu kak ...." Andra menggaruk belakang kepalanya. Diapun bingung harus menjawab apa, dari awal dia memang menolak pemberian Farrel. Namun dirinya juga kalah dalam mempertahankan prinsipnya.


Metta menarik nafasnya berat, " Kakak kecewa dengan sikap kalian." intonasinya menurun.

__ADS_1


"Bu aku pergi!"


Metta beranjak dan berlalu dengan perasaan yang masih kesal. Harga dirinya sebagai seorang tulang punggung keluarga terusik, dan Farrel tidak mengatakan apa-apa padanya.


Metta melajukan motornya dengan kecepatan kencang, dia berharap segera bertemu dengan Atasannya yang juga kekasihnya itu.


"Bang, bagaimana ini, kakak pasti marah sekali sama Bang Farrel." Andra mengangguk.


"Kalian juga kenapa begitu saja menerimanya," Ucap Sri.


Andra dan Nissa menoleh pada Ibunya, " Bang Farrel hanya memberi hadiah karena kami sudah membantunya."


"Kenapa kakak sebegitu marahnya?"


"Kita memang orang biasa-biasa Ndra, Nis, tapi kita punya harga diri yang harus kita jaga. Kalian mengerti? Itu sebabnya kakak kalian itu marah, dan kecewa dengan sikap kalian." Tutur Sri menjelaskan.


"Farrel itu belum menjadi keluarga kita seutuhnya, masih status pacar. Dan dia belum berhak ikut campur terlalu dalam pada keluarga kita, semua ada batasannya."


"Tapi kan bang Farrel punya niat baik bu, dia mungkin mau meringankan beban Kakak dengan membantunya," ucap Andra kemudian.


"Memang betul Nak, dia berniat baik. Tapi segala sesuatu itu harus dibicarakan dulu dengan kakak kalian, agar bisa saling mengerti dan tidak menyakiti perasaannya. Kalian paham?"


Andra dan Nissa pun mengangguk, "Maafkan kami bu!"


Sri mengangguk, "Jangan seperti itu lagi ya,"


"Ayo berangkat, nanti kalian bisa terlambat."


Andra dan Nissa pun menyalami Ibunya, lalu segera berangkat.


"Bang kira-kira kakak dan bang Farrel bagaimana ya?" tanya Nissa dengan polos.


"Entahlah, abang juga tidak tahu. Mudah-mudahan tidak menjadi masalah buat mereka,"


"Abang sekarang udh belain Bang Farrel, dulu kan abang ragu!" Nissa terkikik.


.


.


Metta sampai dikantornya, dia langsung menyimpan Tasnya di meja kerjanya, lalu dengan tergesa-gesa masuk kedalam ruangan Farrel.


Namun ternyata Farrel belum datang, ruangannya masih kosong. Dia terlalu pagi datang, dan dia kembali keluar dari ruangannya.


"Sha, ngapain pagi-pagi keluar dari ruangan Pak manager." Tanya Tiwi yang baru saja datang.


"Ah, itu aku ingin mengambil berkas laporan yang sudah ditanda tangani pak Farrel."


Tiwi hanya beroh ria saja lalu berlalu menuju mejanya.


"Syukurlah tidak ada yang menyadari aku di pesta peresmian." gumamnya pelan.


Lalu Metta kembali terduduk di meja kerjanya, merogoh ponselnya dari dalam tas, hendak menghubungi Farrel. Namun ternyata Farrel yang baru saja tiba sudah masuk kedalam ruangannya diikuti oleh Doni.


Dengan langkah cepat Metta bergegas untuk masuk kedalam ruangannya.


"El ..."


Farrel menoleh, " Pagi sayang,"


Tanpa berfikir panjang Metta menghampiri Farrel dan mendaratkan tamparan di pipi kekasihnya itu.


Doni terhenyak dengan apa yang dilakukan Metta pada sahabatnya.


Plak


"Kakak ..."

__ADS_1


"Itu karena kamu sudah lancang,"


"Apa lancang kenapa? jelaskan padaku..."


"Kamu membayarkan semua biaya sekolah adik-adikku tanpa seijinku!"


"Astaga, gara-gara hal sepele itu kakak sampai menamparku?"


"Hal sepele itu untuk kamu dan keluarga kamu, tapi tidak untuk aku!"


Metta tak lagi dapat meredam kemarahannya, dia merasa harus mempertahankan harga dirinya.


"Astaga kakak!" Raut Farrel berubah menjadi sendu.


"Aku hanya ingin membantu kakak, tidak lebih! kenapa kakak semarah ini?


Doni yang merasa dirinya tidak diperlukan disana ingin segera keluar. Namun juga dia ragu untuk keluar. Dia hanya berdiri melihat pertengkaran sepasang kekasih.


"Maaf..." ujar Doni menyela.


"Diam ...."


Metta seketika menunjuk kearah Doni, lalu kembali menyalang ke arah kekasihnya itu.


"Kau fikir aku tidak mampu? begitu ..."


"Kamu tidak berhak melakukan nya Farrel!" tatapan tajam Metta menusuk langsung kearah Farrel.


Farrel mengangguk, " Begitu ya, apa aku tidak berarti apa-apa di hidup kamu Mettasha?" lirihnya.


Metta tersentak dengan perubahan Farrel. Emosi yang merajai dirinya berbalik menyerangnya.


"Hingga aku tak berhak melakukannya!"


"Lantas kamu menganggap aku apa selama ini Mettasha?"


Sesaat Metta terdiam dengan perkataan Farrel,


kemarahan jelas terlihat dari kedua mata yang biasa meneduhkan itu, "Jawab aku Mettasha?" Farrel mencengkeram lengan Metta.


"Apa yang selama ini aku lakukan padamu tidak ada artinya bagimu, hem?"


Kata-kata Farrel berbalik menusuk hatinya, dia pun tidak menyangka reaksi Farrel juga akan sama dengannya. Netra keduanya saling beradu, namun yang terlihat hanya kemarahan.


"Egois," Farrel menghempaskan cengkramannya. Lalu mengambil berkas dari meja kerjanya dan melewati Metta yang masih terdiam di tempatnya.


"Doni, kita pergi sekarang!"


Farrel keluar dengan marah, diikuti Doni yang tidak kalah terkejut melihat kemarahan dari sahabatnya.


"Sabar bro, perempuan memang suka begitu kadang-kadang" ucap Doni sesaat mereka berjalan keluar.


"Diam lah brengsek!"


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi🤣 karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Hayo siapa yang belum like🤭 sana ulangi lagi.🤣


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..


Semoga kita saling bersinergi ā¤ dalam kehaluan ini.


Terima kasih😘

__ADS_1


__ADS_2