
Dia, yang memegang tanganku saat rapuh
Menyentuh hatiku saat melepuh,
Dia, yang mengukir namaku penuh.
Yang terus berlari kala aku menjauh,
Dan mampu menggantikan Keluh.
Namun sedetik itu pula bergemuruh
Saat raga dan hati mulai sepuh
Hingga bayangan itu mengkeruh
Mettasha Kalyna
.
.
.
"Besok aja bun, Aku masih ada urusan yang harus dikerjakan," tukas Farrel yang bangkit dari duduknya.
"Waktunya gak bakal kerasa El, belum fitting gaun, MUA, terus apa ya, tadi apa sih! kok bunda jadi lupa,"
"Catering mommy catering ekye mau sekarang juga, perawatan pengantin Full juga, mmmmpp-ph." Wedding planeer yang ternyata chef yang tempo hari datang ke rumah Metta. Mas Bara.
No Miss Bee. panggil Miss
"Masih ada waktu bun, 3 bulan lagi kan? bukan 3 hari, iyakan sayang." ucapnya pada bunda namun melirik Metta meminta dukungan.
Metta mengangguk,
"Kamu capek yah," Bunda Sri mengelus pipi nya hangat, "Ya sudah pulang dulu ya istirahat, besok pagi inget El,"
Dih bunda sekarang lebih sayang kakak dari pada aku, tadi aku yang bilang ini itu gak didengar, kakak cuma ngangguk aja langsung suruh istirahat. batin Farrel namun bibirnya melengkung tipis.
"Oh iya Mas Fairrel gimana nih undangan nya warna ini apa warna ini?" tangan kiri memegang warna gold, sementara tangan kanan nya perpaduan gold dan putih.
"Dah besok saja, ayo sayang kita pulang," mengulurkan tangan nya pada Metta, dia melirik Bunda minta persetujuan, dan bunda mengangguk.
"Iya, udah pulang dulu ya sayang. Besok lanjut lagi."
Metta beringsut dari duduknya, menyambut tangan Farrel yang terulur.
"Kakak capek yah,"
"Enggak kok, lagian aku gak sejompo itu."
Farrel terkekeh, "Tenang aja, kakak juga akan jompo bersamaku," mencium punggung tangan Metta.
"Apaan sih!"
Berlebihan sekali, gak kebayang aku jompo dia masih tangguh, huft...
Farrel membuka pintu mobil, menunggu Metta masuk kedalam baru dia masuk setelahnya.
"Sayang mikirin apa hem?" Metta menggelengkan kepala.
"Ayo cerita," menguyel-uyel pipi Metta.
Metta menarik tangan dari pipinya."Iih... udah deh!"
"Masih memikirkan usia? Perbedaan, kedewasaan, fisik nanti...hem,"
Hening
Metta terdiam, dari banyak keraguan yang menguap dan tak hentinya sosok lelaki nya itu meyakinkannya. Masih ada ketakutan didalam sana, yang tak bisa di abaikan, tidak boleh difikirkan namun terus membayang di sepanjang ingatan.
Seluruh keyakinan kemarin, terhujam keraguan hari ini, selalu begitu dan terus begitu. Entah sampai kapan, entahlah.
Farrel menarik kepala Metta bersandar dibahunya,
"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, fikirkan saja hal yang bisa membuat kita bahagia. Kemarin, hari ini, besok, bahkan nanti. Aku tidak akan berhenti meyakinkan kakak."
__ADS_1
"Kakak faham?" Metta mengangguk, sebulir demi sebulir turun tanpa diminta, membuat kemeja Farrel terasa dingin.
Farrel menggeser tubuhnya hingga menghadap wanitanya, menangkup wajahnya. Dan dengan ibu jarinya dia menyusut perlahan genangan di pipinya.
"Hei, jangan terus menangis."
"Apa kakak tidak bahagia?" Metta menggeleng.
"Jangan lagi keluarkan air mata ini, karena aku tidak akan pernah menginginkannya."
"Aku tidak ingin ada kesedihan lagi."
"Menangislah hanya untuk hal yang bahagia." Metta mengangguk.
Farrel merengkuh tubuh mungil Metta dan mendekapnya, tak peduli dengan Mac yang menatap dari balik spion.
Air mata itu jelas terjun semakin bebas, kebahagian, kebahagian hanya kebahagian. Dan sekali lagi Metta percaya kisah sakit nya kini telah berganti. Bahkan lebih dari yang dia bayangkan.
"I love you Mettasha."
Entah keseberapa kalinya kata itu dia ucapkan, mewakili ribuan rasa, menerbangkan rasa sesak, menghilangkan pilu, dan meninggalkan nada isak dalam hidupnya, yang tertinggal dalam hatinya.
"Mas, kita sampai."
"Kakak masuk ya istirahat, aku jemput besok pagi." Metta mengangguk.
Farrel mencium keningnya lama, semakin lama dan dalam.
.
.
"Mac kita ke Apartement."
Mac mengangguk lalu melajukan kembali mobilnya membelah jalanan sore itu. Sengaja membiarkan Metta menata hatinya, seolah tahu apa yang dia takutkan. Sesuatu hal yang sama sekali tak beralasan.
Farrel merogoh ponselnya dan menghubungi Doni.
"Ke Apartemenku sekarang!"
Tak lama dia sampai keapartemen, bertepatan dengan Doni yang tengah menunggu nya di depan pintu platnya.
Farrel terkekeh, namun tak peduli apa yang dikatakan sahabatnya. Dia menekan nomor password platnya, dan membuka pintu, dia masuk disusul oleh Doni dan Mac.
"Duduk,"
Doni dengan segera mendaratkan tubuhnya disofa sementara Mac masih bertahan berdiri.
"Kau juga,"
Mac terperangah namun juga perlahan mengikuti jejak Doni yang sudah lebih dulu menyandarkan tubuhnya.
Sementara Farrel naik keatas dan tak lama kemudian turun kembali dengan baju yang sudsh berganti.
"Cih... kirain apa! Cuma ganti baju doang." cibir Doni saat Farrel ikut duduk namun disofa single.
"Begini," ucapnya serius.
Hingga membuat Mac dan Doni mencondongkan sedikit tubuhnya karena Farrel menggantung ucapannya.
"Menurut kalian nih yang berpengalaman, papa yang sebenarnya menjadi keraguan seorang wanita?"
Doni menghempaskan kembali tubuhnya, "Elah kirain apa, kamu nyuruh aku jauh-jauh kesini cuma tanya itu doang!? Ditelepon juga bisa itu mah,"
Farrel melempar bantal sofa kearah Doni, "Bicara ditelepon gak bakal jelas, lebih baik bertemu begini."
"Sok-sok an sih, pengen cepet-cepwt kawin, tapi gak mengerti hal begituan,"
Mac hanya diam, dia masih belum berkomentar apalagi tidak memintanya berpendapat.
"Memang kau mengerti?"
"Iya enggak lah, kenapa tanya aku. Jomblo nih... gak punya gacoan," sungutnya.
"Nih tanya bapak-bapak ini, dia berpengalaman," gidik nya menunjuk Mac.
Farrel beralih menatap Mac, "Bagaimana Mac?"
__ADS_1
"Apanya Mas?"
"Elah, kepala gede gitu isinya apaan,"
"Diam kau, aku tak bertanya pada mu!" menatap nyalang pada Doni.
"Mac...."
"Iya Mas,"
"Bagaimana? Menurutmu bagaimana?"
"Menurutku sih Mas, dia hanya tidak percaya diri saja, umur yang terpaut cukup jauh, membuat dia selalu berfikir apa dia bisa membuat Mas bahagia, fikirannya jauh kedepan, bagaimana jika nanti ada yang berubah, belum lagi punya anak, tubuhnya akan berubah, belum lagi stamina yang pasti akan berbeda, Mas nanti akan semakin gagah sementara dia... maaf Mas," ujarnya panjang lebar.
"Elah, kau itu sedang curhat apa?" sela Doni.
Sementara Farrel menatap nya dengan fikiran yang menerawang, "Tapi aku kan gak masalah Mac, sama sekali tidak,"
"Iya mas, Mas memang tidak masalah, tapi kan masalahnya ada di dirinya."
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Seperti tadi mas, terus berusaha meyakinnya, seiring dengan waktu."
"Tapi dia juga mencintaiku kan Mac!"
"Iya Mas, tapi dia juga meragukan diri nya sendiri."
Doni terus mengarahkan pandangan nya pada orang yang berbicara bergantian.
"Cocok nih buka layanan konsultasi Pranikah." selorohnya dengan jentikkan jarinya.
Mac menatap tajam padanya.
"Istri mu begitu juga tidak?" Mac mengangguk.
"Wanita itu memang sulit dan rumit, sekeras apapun kita, mereka akan lebih keras, tapi jika kita terlalu lembut, mereka akan terbawa arus,"
"Curhat nih bohlam taman."
"Apalagi saat wanita hamil, ampun deh Mas,"
Doni kali ini melemparkan bantal yang tadi dilemparkan Farrel, " Jangan nakut-nakutin, nanti dia gak mau bikin anak! mau tanggung jawab?"
Mac menangkap bantal itu dengan satu tangannya lalu dia menggeram, dengan tatapan semakin tajam kearahnya.
"Maksudnya gimana?"
"Perubahan fisik Rel, fisik ...astaga bodoh sekali!"
"Ya terus memangnya kenapa? Bunda aja masih terlihat segar begitu kok,"
Mac dan Doni terlihat menganggukkan kepalanya,
"Berarti bikin kak Sha lebih percaya diri lah Rel, apalagi,"
Farrel melemparkan remot Tv kearah Doni, "Gak mesti bilang kakak juga,"
"Ish, terus apa?"
"Ibu... aku digampar nanti,"
"Terserah cari nama lain asal jangan kakak."
"Eh aku ada ide...."
.
.
Sementara Metta kini berada di kamar Ibu Sri, tak berhenti menangis di paha ibunya.
"Udah Sha, kenapa harus terus menangis. Harusnya kamu bersyukur, begitu diterima baik sama keluarganya, dicintai sebegitunya,"
"Justru itu bu, justru itu yang membuat aku sedih. aku takut mengecewakan mereka, aku takut karena aku banyak kurangnya."
"Mereka, memperlakukan ku sedemikian baik, bagaimana kalau nanti aku tidak bisa memberikan yang terbaik, dia masih 20 tahun bu, kalau punya anak nanti bagaimana? Dia akan jadi papa muda sementara aku?"
__ADS_1
Ibu Sri mengelus rambutnya, "Astaga... kenapa memikirkan hal yang begitu Sha? Lucu kamu itu malah jadi seperti umur 20 tahun, terbalik." Ibu terkekeh.
"Ibu...."