
"Sudah kau jangan bertanya lagi padanya, Mac menyesatkan." Alan mulai kesal.
Doni yang baru faham akhirnya tertawa terpingkal, "Kalian ternyata sangat bodoh dalam hal begitu,"
Membuat ketiganya menatap tajam padanya. "Uuppss
Sorry," imbuhnya lagi.
"Lalu kau melakukan apa? Sampai saat ini tidak ada laporan padaku, kau kan sudah diberi tugas?"
Celaka, aku bahkan malah membuat diriku sendiri dalam masalah, sementara mereka sudah tahu jawabannya. Lalu aku bagaimana?
"Aku tidak berhasil memperoleh jawaban nya," lirihnya.
"Itu karena kau bodoh!" ucap Alan sambil berlalu keluar. Melewati meja sekretaris begitu saja.
Sementara Farrel terkikik, "Lalu tugas kedua mu?"
"Mereka sedang membicarakannya, huh ... sepertinya akan gagal juga aku mengurusnya, tidak sebanding dengan kakakmu itu, tinggal telepon semua akan bergerak." Doni merengut.
"Hm ...dia sangat hebat, kau juga hebat!" ucap Farrel yang sedari tadi memperhatikan Doni lekat.
"Benarkah aku hebat?"
Mac memutar kedua mata nya dengan malas, "Hebat apanya?" gumamnya.
"Hebat diranjang...." Bisik Farrel di telinga Doni dengan mata mengarah pada lehernya.
"Astaga ...."Doni meraup wajah dengan kedua tangannya.
"Salah besar ...aku melakukan kesalahan besar Rel!" gumamnya.
Farrel mengernyit begitupula dengan Mac, " Kita pergi saja Mac," ujar Farrel yang bangkit dari sofa diikuti oleh Mac.
"Hei... lalu aku bagaimana?" teriak Doni saat Farrel diambang pintu.
"Kau bantuin Alan mengurus pekerjaannya," lalu menghilang dibalik pintu, melewati meja sekretaris dan melirik sekretaris baru itu.
Gadis itu mengangguk, Farrel dan Mac melewatinya begitu saja. Hingga dia kesal sendiri.
"Kenapa dengan semua orang-orang yang bekerja disini? Tidak ada ada satu pun yang ramah." ujarnya dengan tangan kembali mengetik.
__ADS_1
Sementara Farrel kembali keruangannya, pekerjaan yang menumpuk diakhir tahun membuat dirinya semakin tenggelam didalamnya, bahkan ditengah persiapan pernikahan yang tinggal beberapa minggu pun diserahkan pada bunda dan juga calon ibu mertuanya.
Flash back on
"Ih ... kamu itu nyebelin tahu gak! Yang pengen banget nikah itu kamu, kenapa aku sendiri yang repot, nyebelin," Metta merengut menyandarkan dirinya di pintu saat Farrel hendak pulang.
Farrel mencubit pelan pipinya, " Ooh... jadi hanya aku nih yang pengen banget nikah, kakak enggak?" Ucap nya dengan terkekeh.
Metta membuang muka, "Tau ah nyebelin, udah sana pulang!"
"Duh... yang cemburu sama pekerjaan!" Farrel terus terkekeh, sementara Metta mencebikkan bibir.
"Bukan begitu, kita kan harus mempersiapkan semuanya, dekorasi, catering, gedung, belum yang lain yang belum sempat kita lihat, masa semua sama bunda. Kasian tahu gak ...Belum aku ikut harus mengambil cuti tahunan!"
"Ya gak apa-apa, lagian selama kakak bekerja gak pernah diambil kan cuti tahunan, terlalu teladan sayangnya aku ini."
"Itu kan...ah udah lah malah membahas aku, kan kita lagi bahas kamu."
"Kan sama sama, kakak cuti dulu dan aku yang bekerja! Bukan begitu, ooh aku tahu ... kakak ingin terus berduaan sama aku ya?" ujar Farrel dengan bersilang tangan didada dan menyandar pada pintu yang sama, dengan bertumpu pada bahu.
Metta memukul keras bahunya, "Ih nyebelin banget, ini serius...."
Aku ingin kita sama -sama mengurus semua nya berdua. Gak peka banget sih, astaga kenapa aku ini. Batin Metta.
Farrel tersenyum simpul di belakangnya, Duh manisnya, aku senang kakak semakin merajuk begini. Bahkan sifat kekanak-kanakan nya keluar. Batin nya bicara.
"Karena impian aku menikah denganmu, jadi aku tidak peduli tema nya seperti apa, hiasaannya seperti apa. Yang penting orangnya adalah kakak,"
"Alasan!! Bilang saja kamu tidak mau mengurusnya." Metta menggeser tubuh ke samping hingga menjadi semakin membelakanginya.
"Iya hanya itu, aku kan gak akan menikah dengan W.O apalagi dengan orang yang memasak di catering. Atau orang yang menghias bunga, atau sama pemilik gedung, Enggak kan... yang penting aku nikahnya sama kamu,"
Iya juga sih.... tahu ah ribet banget! Ayo Sha, jangan kayak anak kecil. Batin nya.
Metta menghela nafas panjang, lalu berbalik menghadap Farrel, namun Farrel yang sedari tadi mencondongkan tubuhnya dengan sengaja menunggu seolah tahu Metta akan berbalik.
Cup
Bibir Farrel menabrak hidung Metta, hingga dia tergelak, sedangkan Metta mendengus. "Kebiasaan deh!"
"Jadi boleh yaa," ucap Farrel dengan menyelipkan sebagian rambut kebelakang telinganya.
__ADS_1
"Akhir tahun ini perusahaan sedang sibuk-sibuknya, ditambah permasalahan Alan, semoga dalam 2 minggu kedepan semua selesai, biar aku bisa nemenin kakak juga bunda mengurus persiapan." jelasnya lagi.
"Iya aku juga tahu kalau masalah perusahaan. Jangan lupakan aku sudah bekerja hampir 4 tahun disana! Tapi kan...." Metta menggantung ucapannya.
Pernikahan ini juga penting. batinnya yang meneruskan ucapan yang sengaja dia gantung.
"Hanya 2 minggu, setelah itu baru kita urus sama-sama." Metta mengangguk.
"2 minggu lagi, kata bunda gedung yang kemaren dilihat udah full sampai pertengahan tahun depan. Kita kita Waiting list, bundanya gak mau!"
"Ya udah 2 minggu lagi kita cari tempat. Oke My Cherry?"
"Tahu ah, ngeselin!" Farrel terkekeh.
"Jadi kayak anak kecil kan aku ini," lirihnya. "Gara-gara kamu! Menular kan jadinya," mendelik pada Farrel yang terus terkekeh.
"Bagus dong, jadi kakak bisa manja-manjaan sama aku!"
"Iih... gemes tahu gak!" mencubit kedua pipi Farrel.
"Jadi gimana, boleh yaa! 2 minggu kita hanya komunikasi di telepon,"
"3 bulan juga aku pernah! Bedanya apa yaa?" Ucap Metta yang bahkan tidak faham akan dirinya sendiri.
Farrel merekatkan tangan dipinggangnya, "Bedanya sekarang banyak cinta di hati kakak buat aku. iya kan hem?"
Dia tidak menjawab, hanya menatap Farrel saja. Dan mengangguk dalam diam.
Flash back Off
Meski 2 minggu tak bertemu dengan calon istrinya itu, dan hanya berkomunikasi lewat pesan maupun telepon, video call atau bahkan jika Farrel benar-benar tidak bisa mengangkat teleponnya, Metta atau bunda yang akan mengirimi puluhan foto dan video. Bunda emang selalu berlebihan, dan Farrel sudah biasa. Tapi kakak?
"Ah...aku rindu sekali! Dan masih ada satu pekerjaan yang lebih berat lagi." gumamnya dengan melingkari tanggal di kalender berlogo perusahaan yang terletak di meja kerjanya.
"Menunggu Andra ...." gumamnya lagi.
Lalu kembali berkutat dengan setumpuk laporan akhir tahun yang melelahkan. Dia menekan pangkal hidungnya karena lelahnya, hingga dia menyandarkan kepalanya disandaran kursi kebesarannya dan memejamkan mata.
Tiba-tiba pintu terbuka, Farrel yang masih terpejam hingga tak menyadari seseorang telah masuk kedalam, dan menghampirinya diam-diam.
Farrel membuka matanya dan melonjak saking kagetnya pada seseorang yang kini berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Hai...."
"Astaga...."