
"My Cherry ...masih belum pergi?" Metta membulatkan matanya.
Tangan Farrel meraih pinggang Metta, lalu merekatkan tubuhnya. Jelas sekali terlihat air muka Farrel ingin berubah, bak anak kecil yang tidak ingin berbagi mainan dengan temannya. Dan berharap pria itu tahu kalau Metta adalah miliknya.
"Wah ... wah..., kau sudah tumbuh besar ya sekarang!" ucap pria itu pada Farrel.
Farrel mengernyit, pada pria yang bicara seolah mengenalnya.
"Pasti kau lupa aku kan? usia mu kala itu masih 3 atau 4 tahun, ah akupun lupa." Pria itu mendengus.
"Memangnya kau siapa?"
Tiba-tiba Alan yang baru saja datang muncul dari belakang, ruangan nya kini berada Di lorong sebelah,
"Le ... kau sudah datang?" ucapnya datar.
Farrel mencoba mengingat, namun tetap saja dia tidak ingat siapa yang Alan panggil itu.
"Le... siapa? Lele...." gumamnya namun masih terdengar oleh Metta dan dia menyikutnya, hingga dia meringis, dan mengusapnya.
"Sayang sakit sekali," Farrel menyandarkan kepalanya dibahu Metta, dengan mata yang menatap pria yang kini berhadapan dengan Alan.
"Aku baru saja datang Al ... " Alan mengangguk,
"Kita keruanganku!" ucap Alan yang melihat tingkah Farrel dengan ujung matanya.
Dasar bocah nakal.
"Al... bukankah dia Farrel? adik kecil mu itu....?" Alan mengangguk.
"Hm... itu memang dia! Kau mengingatnya?"
"Aku tidak salah lagi." ucapnya beralih pada Farrel yang masih memainkan ujung rambut Metta.
"Kalau begitu aku kembali keruanganku!" ucap Metta sedikit menunduk pada Alan dan juga pria yang Alan panggil 'Le.'
Metta berbalik, namun tangannya dicekal oleh Farrel,
"Sayang, nanti tunggu aku ya, kita pulang bersama, sekalian aku mau ketemu ibu." Metta mengangguk lalu berlalu dari hadapan 3 pria itu.
"Ayo ke ruanganku,"
"Hey, kau benar-benar tidak mengenali ku?"
"Leon sudah lah, dia sedang bodoh saat ini, difikirannya hanya ada perempuan tadi saja, percuma kau mengingatkannya pun dia tidak akan ingat!"
Farrel terperangah, baru kali ini Alan terlihat akrab dengan seorang teman, dan sudah dipastikan mereka sedekat apa, karena biasanya dia hanya berlaku seperti itu padanya saja.
Pertanyaan berseliweran di fikiran Farrel, "Aku tidak mengingatmu, kalau pun ingat aku sudah pasti akan menegurmu, bukan seperti yang Alan bilang." deliknya pada Alan.
Mereka masuk kedalam ruangan Alan, Farrel mendaratkan tubuhnya di sofa, sementara Leon duduk disofa di depannya.
"Kau sudah bertunangan dengan wanita tadi?" Tanya Leon.
__ADS_1
"Hmm..., jadi kau jangan coba-coba!" ucap Farrel yang memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Alan menatap jengah, "Bodoh...." gumamnya.
Leon terbahak, "Al ... apa adikmu ini melangkahimu? kasian sekali kau ini...." cibirnya pada Alan.
Alan mendengus, "Sudahlah, kau mau apa kesini? Apa pekerjaan mu baik- baik saja?"
"Kau tenang saja, perusahaanmu tidak akan bangkrut, juga tentang anak-anak. Aku bisa mengurusnya dengan baik." ucap nya kemudian.
Membuat Farrel semakin penasaran dengan apa yang di katakan Leon.
"Memangnya kau yang mengurus anak-anak sekarang?"
"Dia itu teman lama ku, kau pasti sudah lupa," sela Alan ditengah kecemasannya.
Leon mengangguk, namun ke dua netra Alan menatap dengan waspada padanya, membuat Farrel semakin bertanya-tanya ada apa dengan mereka itu.
"Tentu saja, aku menjalankan perusahaan Alan dan juga semua asetnya! Bukan begitu Al?"
Alan yang terkesiap dengan pertanyaan nya itu membiarkan Leon menjawab sesuka hati nya, namun malah dia juga yang kena.
"Ah...itu...tidak penting, aku memang mengatakan aku...." Alan mulai menggantung, dia sangat hati-hati.
Leon yang merasakan ketidaak nyamanan pada Alan mulai mengalihkan pembicaraan mereka.
"Bagaimana kalau kita makan siang?"
Leon terkekeh, membuat Alan yang sedari tadi memperhatikan dengan waspada.
"Baiklah, ayo kita ke coffe shop saja?" ucap Alan tiba- tiba.
Benar-benar tidak ada pilihan, selama ada Farrel aku tidak bisa membicarakan suatu hal yang mengganggu Leon hingga dia sampai menemui ku disini, kalau tidak mana mungkin Leon datang kemari. batin Alan.
"Tapi Al ..."
Alan sudah terlebih dahulu bangkit dan keluar dari ruangannya. "Ayo Le ... cepatlah, Apa kau akan membiarkan anak-anak kelaparan karena menunggumu pulang?"
Akhirnya mereka duduk di sebuah taman disamping perusahaannya, dan memesan kopi dari pantry perusahaaan.
Farrel mendengus kasar, "Ku kira kita akan ke coffe shop beneran! Tenyata malah disini,"
Leon terkekeh, "Kakakmu menipu kita!"
Tak berselang lama Metta yang tengah membawa berkas lewat di depan mereka, Metta yang tak melihat kearah 3 pria itu tetap berjalan memasuki kantor divisi.
Leon melihatnya dari jauh, "El... apa tunanganmu di kantor divisi sebelah sana?" menunjuk kantor divisi dengan cebikkan bibirnya.
"Hmm, benar! Kenapa memangnya .... jangan coba -coba mengganggunya, dia calon istriku!" sergah Farrel.
"Heh, siapa juga yang akan menganggu wanitamu! menyebalkan."
"Dia memang menyebalkan jika sudah berurusan dengan wanitanya itu, Farrel yang jenius akan menjadi bodoh tiba- tiba." kelakar Alan.
__ADS_1
"Sialan..., lebih baik aku pergi dari pada disini bersama pria-pria tua menyedihkan," Farrel bangkit dan berlalu dari sana.
Dalam sekejap Alan berubah kembali datar, "Bukankah kubilang aku yang akan menemuimu?"
.
.
Farrel masuk kedalam kantor divisi, kedua manik cokelatnya menyapu seisi ruangan, dan tersenyum saat melihat Metta tengah berjalan menuju meja nya.
"Sayang, ayo kita pulang!" ucap Farrel yang tiba - tiba sudah berada di samping Metta.
"El... astaga! apa yang kau lakukan disini, aku sedang bekerja, "
"Udah ayo kita pulang saja, aku lapar,"
Metta mendengus, "Kau kan bisa makan dimanapun, jam kerja ku masih ada El,"
"Aku gak peduli, toh gak bakalan ada yang berani memecat kakak, ayo temani aku makan,"
Astaga, kenapa dengannya? tingkahnya seperti anak kecil.
Metta mendengus, lalu membereskan mejanya dan merapikan barang-barangnya.
"Mettasha, aku minta laporan barang dong!" Ucap seorang pria saat Metta hendak melangkah.
Pria itu mengangguk kearah Farrel yang kini menatapnya dengan tajam.
"Maaf bisakah kau ambil besok pagi? hari ini aku pulang ingin cepat,"
"Oh begitu ... ya sudah besok pagi aku ambil. Thanks ya!"
Farrel terlihat mendengus, saat pria itu menatap Metta. Dengan sedikit menarik lengan Metta, Farrel membawa nya keluar.
"Besok kakak bekerja di atas bersama ku! aku gak suka kakak bekerja dengan banyak pria tidak jelas seperti itu."
"El ..."
Farrel tidak menggubris perkataan Metta.
"El .... Tugasku kan memang membuat laporan, termasuk dari bagian gudang!"
Farrel membuka pintu mobil untuk Metta, "Masuklah,"
"El... kau dengar aku kan?" Farrel menutup pintu mobil lalu berjalan ke arah kemudi dan masuk kedalamnya.
"Pokoknya mulai besok kakak pindah bekerja, aku tidak mau mendengar alasan apapun!"
.
.
Hayo Like dan komen jangan sampe lupa...❤
__ADS_1