
Hampir satu jam mereka berada diruangan privat room, membicarakan hal ini dan itu agar semua terlaksana dengan baik, meskipun Farrel tampak risih dengan sosok Chaira yang terus melirik kearah nya dengan terang-terangan.
Membuatnya jengah dan ingin segera pergi dari sana, namun bagaimanapun juga dia harus bersikap profesional dalam bekerja, dia tidak ingin mengecewakan klien dan kerja sama yang telah terjalin lama hanya karena ada Chaira yang muncul tiba-tiba.
"Bagaimana pak Farrel? Deal....?" ucap pria yang menjadi perwakilan perusahaan klien.
Farrel mengulurkan tangannya, "Oke Pak, deal, mengenai masalah teknis nya bisa dibicarakan dengan asisten saya,"
"Baik pak terima kasih, semoga kerja sama ini berjalan lancar ya." ujarnya dengan menjabat uluran tangan dari Farrel.
Chaira ikut bangkit dari kursi, dia pun mengulurkan tangannya pada Farrel,
"Senang bisa bertemu kembali dengan mu, semoga ini bukan pertemuan terakhir kita yaa." ujarnya dengan lembut.
Farrel hanya mengangguk, sekali lagi dia membiarkan tangan Chaira menggantung tanpa ingin menjabatnya. Doni melangkah maju dan menjabat tangan milik Chaira dengan gesit.
"Semoga saja, tapi juga jangan terlalu banyak berharap!" ujarnya dengan mengedipkan satu mata ke arah Chaira.
Chaira menghempaskan begitu saja tangan Doni, dengan cepat dia membuang wajah ke arah lain.
Dengan cepat Farrel undur diri dan keluar lebih dulu, sementara Doni masih terlihat perbincangan maslah teknis dengan beberapa orang dari mereka.
Chaira keluar menyusul Farrel yang sudah lebih dulu,
"Farrel," Seru nya saat dia sampai di ambang pintu.
Farrel menoleh, namun kembali melihat ke arah lain.
"Ada apa Chaira? Aku harus segera pergi," ujarnya.
"Call me Aira please!" ucapnya dengan kembali melangkah mendekat kearah Farrel.
Farrel berdecak, "Ada apa Aira? Jika ada yang ingin kau tanyakan, tanya asisten ku saja!"
"Bisakah kita makan siang terlebih dahulu? tanyanya.
"Maaf tapi aku masih ada Meeting dengan beberapa orang lagi setelah ini." sela Farrel, tanpa sedikitpun melihat kearah nya.
"Begitu yah!" ujar Chaira yang tampak kecewa.
Farrel mengangguk, "Aku pergi dulu, selamat tinggal!"
"Kenapa dia selalu mengucapkan selamat tinggal ... sampai jumpa lagi Farrel." gumam Chaira.
__ADS_1
Setelah itu Farrel bergegas keluar dari kafe itu dan segera masuk kedalam mobil, sementara Doni masih berjalan beriringan dengan para klien dan juga Chaira.
Farrel merogoh ponsel di balik jas yang dikenakannya, dia mendial nomor kontak Doni yang dia lihat di balik kemudi.
Doni mengernyit saat ponselnya berdering, dan nama Farrel tertera disana.
'Kau mau aku tinggal? Ayo pergi!' sentaknya.
Lalu menutup sambungan teleponnya begitu saja tanpa menunggu Doni menjawabnya. Doni menoleh ke arah mobil terparkir, setelah pamit undur diri dia pun segera masuk kedalam mobil.
"Telat sedikit saja, kau akan aku tinggal." ujar Farrel kemudian.
"Duh sorry bos, aku terlalu terpesona dengan Chaira, wajahnya itu adem, bikin aku betah hanya menatapnya saja." ujarnya terkekeh.
"Awas saja, kalau kau cari masalah baru! Aku tidak segan menghajarmu Don!" Tukas Farrel dengan kesal.
Semakin galak, nih! batin Doni.
"Kita akan kemana bos?" pungkasnya mengalihkan pembicaraan.
"Kembali ke kantor saja, kau urus yang lainnya!"
"Tidak bisa, Jamuan ini sangat penting. Dari orang yang sangat penting! Kau tahu tidak," terang Doni.
"Pria ini sosok yang penting! Beliau terus menunggu kabar dari kita, hanya karena ingin bertemu dengan mu saja." ujar Doni yang mulai melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir.
"Siapa memangnya? Sampai dia harus menunggu ku!"
"Kau tidak akan percaya ini Rel, kau bahkan akan kaget saat mendengarnya, beliau ini tertarik dengan hasil rancangan gedung pencakar langit milikmu, dan sempat kecewa saat kau tidak mau melepasnya, bahkan dia menawarkan harga tinggi saat dipameran itu."
Farrel mencoba mengingat, namun entahlah, karena dulu dia bahkan pergi sebelum acara selesai, dan tidak lagi tahu apa yang terjadi setelah dia pergi, hanya desas desus yang dia dengar, yang mengatakan jika rancangannya dihargai sangat tinggi oleh salah satu orang terkaya.
"Entahlah, aku tidak ingat, dan aku tidak peduli juga! yang jelas sampai kapanpun aku tidak akan menjual rancangan itu walau dengan harga tinggi sekalipun."
Doni melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengarah pada sebuah restoran mewah yang terletak di sebuah hotel berbintang lima, yang konon pemiliknya adalah orang terkaya yang tinggal di luar negeri.
"Kita sampai," ujar Doni menepikan mobilnya.
Farrel membuka seat belt nya, lalu turun dari mobil, disusul oleh Doni. Mereka berdua masuk kedalam restoran yang tampak sepi itu.
"Kok sepi." ujar Doni yang menyapu seluruh ruangan yang tidak ada orang sama sekali.
Hiasan lengkap dengan hidangan tak kalah lengkap tersaji di tengah- tengah meja. Seorang waiters yang menyambut mereka pun langsung mengarahkan mereka ke meja itu,
__ADS_1
"Tuan besar sudah menunggu anda Mr Farrel." ujarnya.
Lalu tak lama kemudian disusul oleh seorang pria bertubuh tegap yang mengangguk ke arahnya, "Siang Mr Farrel, mari ikut saya"
Farrel saling menatap Doni yang tengah menatap nya, Lalu mereka mengikuti langkah pria bertubuh tegap itu, masuk kedalam ruangan yang tak kalah mewah dengan ruangan yang baru saja mereka lewati.
"Aku kira meja yang penuh makanan tadi tempatnya ia ternyata bukan." ujar Doni setengah berbisik kearah Farrel.
"Mr Farrel...." seru seorang pria paruh baya yang langsung berdiri dari duduknya hanya untuk menyambut.
Farrel berjalan ke arahnya, "Dia orangnya? gumamnya pada Doni.
"Heem... betul sekali." bisik Doni.
Pria itu lantas mengulurkan tangannya pada Farrel, "Selamat datang Mr Farrel, akhirnya kita bertemu! Aku sudah menantikan pertemuan ini sejak lama."
Farrel menjabat pria yang terlihat hangat itu dengan senyuman, " Terima kasih Tuan...."
"Fernandez, kau bisa panggil aku Fernand saja," ujarnya memperkenalkan diri.
Farrel mengangguk, " Baik Mr Fernand, terima kasih atas undangannya, aku merasa tersanjung. Dan mohon maaf karena baru hari ini aku memenuhi undangan anda, Mr."
"Silakan duduk, kita santai dulu dengan menikmati hidangan yang telah disiapkan! Dan tidak perlu sungkan padaku!" ujarnya kemudian.
Lagi- lagi Farrel mengangguk, dan menarik kursi kemudian mendudukkan dirinya.
"Kau tidak keberatan menunggu?" tanya nya pada Farrel.
Farrel mengernyit, dia beralih menatap Doni yang tengah memeriksa ipad nya di kursi belakang, kursi yang berjarak dua meja dari meja yang ditempati Fernand dan juga dirinya.
Melihat Farrel yang tampak mengernyit, Pria bernama Fernand itu menuangkan wine kedalam gelas sloki berukuran kecil.
"Kita akan menunggu anakku kesini, mungkin dia sedang dijalan menuju ke sini." ujarnya dengan menyerahkan gelas sloki yang sudah dia isi.
Seseorang berjalan kearah mereka dengan berseru,
"Daddy...."
.
.
Author sedih banyak yang like nya loncat-loncat, apa saking serunya baca apa gimana. ( pede banget)
__ADS_1
Jangan pada lupa ya, karena like satu aja bikin author seneng sampai guling-guling ke rumah tetangga.❤🤣