
Akhirnya Farrel pulang kembali kerumah, setelah beberapa waktu lamanya dia menghindar, menghindari perdebatan antara dirinya dan juga bunda serta ayahnya.
"Akhirnya kamu pulang juga, Nak!" Ucap Ayu saat melihat Farrel yang baru saja datang.
"Bunda," Farrel memeluk sang Bunda, setelah sekian lama Farrel hanya bisa menahannya.
"Maafkan Bunda yang sayang, Bunda dan Ayah terlalu menekanmu,"
"Maafkan aku Bun!"
Ayu terisak, dia memeluk Farrel dengan erat, "Anak kecil bunda sekarang sudah besar, Bunda sudah tidak dapat lagi melihat anak manja Bunda."
"Bunda, selalu berlebihan!" Ucap Arya yang baru keluar dari ruang kerja.
"Dia itu sekarang sudah besar, sudah dewasa!bukan anak kecil lagi,"
"Buat bunda dia tetep anak bayi bunda,"
"Bunda ...!" sergah Farrel.
"Kan, begitu tuh Bundamu El, jangan terlalu berlebihan Bun,"
"Tapi yah, bunda akan kehilangan anak-anak manja bunda, ALan sekarang sudah jarang pulang! sekarang kamu pun begitu,"
Farrel mengurai pelukannya," Bunda, aku kan gak kemana-mana."
"Kamu juga melupakan Bunda semenjak punya pacar!" Ayu memukul lengan Farrel.
"Astaga, bukan begitu Bun,"
"Bagaimana dengan pacarmu? apa dia masih marah sama Bunda?"
Farrel menggelengkan kepalanya, " Kakak itu sudah memaafkan Bunda dan Ayah yang sudah keterlaluan ini."
"Maafin Bunda ya El," Farrel mengangguk.
"Maafin El juga Bun!"
"Besok antar Bunda ketemu calon menantu Bunda ya!"
Farrel menatap sang Bunda dengan heran.
"Apa bunda ingin aku segera menikah?" Farrel menelan salivanya.
.
.
...Langit biru mengajarkanku satu hal...
...Tatkala awan mendung, langit tak marah,...
...Ketika petir datang, langit tak lagi goyah,...
...Dia akan kembali biru, dan meredam sesal....
...( Mettasha Kalyna)...
Dinda masih bersembunyi dibalik selimut, menginap di rumah Metta adalah candunya. Keluarga sederhana dan apa adanya, selalu diliputi kebahagian meski dengan hal-hal kecil. Berbeda sekali dengan keluarganya, Meski materi berlebih, namun tidak ada kenyamanan disana, tidak saling mendukung, apalagi saling memeluk.
Sudah sejak pagi Metta bangun, ranjang yang sempit menjadikan dia tidak tertidur dengan baik semalam. Sementara Dinda masih terlelap, bersembunyi didalam hangatnya selimut.
"Astaga, ini anak kayak gak pernah tidur aja!" Ucap Metta saat membuka pintu kamarnya.
"Heh, mau bangun jam berapa?" Metta menepuk pantat Dinda.
"Sha, aku masih mau tidur, jangan menggangguku!"
Dinda menutupi kepalanya lagi dengan selimut.
"Astaga, kenapa semua orang yang kesini selalu menganggap ini rumah nya sendiri!" gumam Metta.
lalu dia keluar dari kamar.
Samar-Samar terdengar suara ketukan dari luar, Metta melirik jam dinding diruang tamu. Merasa heran saat ada seseorang yang bertamu di pagi hari seperti saat ini.
"Siapa pagi-pagi begini sudah bertamu?"
Metta membuka pintu, alangkah terkejutnya saat dia melihat satu bucket besar bunga mawar dihadapannya, dan menutupi seseorang dibelakangnya.
"Pagi sayang," Farrel muncul dibalik bucket dan menyerahkan bucket bunga mawar itu pada Metta.
"El, kamu mau jualan bunga!" ejek Metta dengan terkikik
"Kakak ..." Farrel membulatkan matanya pada kekasihnya.
"Iya ... sayang!"
__ADS_1
"Kakak ini masih pagi, jangan memancingku!"
"lho memangnya siapa yang memancingmu pagi-pagi?
"Aku kan hanya ingin memberikan kejutan untuk kakak, Ayo masuk" Farrel menarik tangan Metta untuk mengikutinya masuk.
Metta melepaskan tangannya,"Sayang, kebiasaan deh!"
"Maaf ..." Farrel terkekeh.
"Aku bawa kejutan untuk kakak, apa kakak akan menerimanya?"
"Kejutan apa?"
"Jawab dulu, kakak terima atau tidak!"
"Baiklah, karena kamu memaksa, aku akan menerimanya!"
"Kenapa terpaksa hem!" mencubit pelan hidung kekasihnya.
"Karena aku juga belum tahu apa kejutannya!"
Farrel meraih pinggang Metta hingga mereka saling berhadapan.
"Sabar, kejutannya sedang dalam perjalanan," Senyum terukir indah dari wajah Farrel.
"Apa sih, kamu bawa apa?" memutar tubuhnya untuk merangkai bunga yang dibawa Farrel.
Farrel semakin mengeratkan pelukannya dari belakang, "Pokoknya kakak jangan kaget, ya..."
"El, jangan begini nanti ada ibu."
"Aku kangen kakak dari semalam, kakak juga kan!" bisiknya pelan.
"Astaga El. Ini masih pagi...jangan begitu!" sergah Metta melepaskan tangan Farrel yang melingkar.
"Berarti kalau malam boleh?"
"El ...Jangan macam-Macam!" Metta mendelik kemudian berlalu, sementara Farrel hanya terkikik.
"Bang ...?" sapa Andra yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Hei ndra, gimana lenganmu?"
"Udah mendingan bang,"
"Syukurlah,"
"Dia ngapain sih pagi-pagi udah kesini!" gumamnya.
"Memang kamu tidak tahu Sha?" Metta menggeleng.
"Emang kenapa?"
"Orang tuanya mau datang kesini?"
"Hah ... serius bu? kok aku gak tahu ... kok ibu bisa tahu?"
Sri hanya tersenyum melihat kegelisahan yang terlihat jelas dari anaknya. Dia mengelus bahu Metta dengan lembut.
"Tidak apa-apa, kamu tenang saja ya,"
"Bagaimana aku bisa tenang bu, aku saja tidak diberitahu, bagaimana aku tidak tenang. Astaga..."
"Ibunya El yang kasih tahu ibu tadi pagi-pagi sekali,"
"Astaga!"
Metta beranjak dari duduknya dan menghampiri kekasihnya,
"Aaw... Kakak kenapa menjewer telingaku!" Ucap Farrel meringis, Andra terkikik melihatnya.
"Itu hukuman karena tidak memberi tahuku!"
"Memberitahu apa?"
"Orang tua kamu akan kesini kan, kamu bilang itu kejutan? Astaga El..."
Farrel terkekeh, " Tidak usah khawatir, mereka kesini untuk meminta maaf sama kakak dan juga ibu, jadi kakak tenang saja ya!"
"Tapi ..."
"Gak ada tapi, karena kakak memang pantas menerimanya! sudah tidak usah khawatir begitu!"
Farrel meraih tangan Metta dan menggenggamnya.
"Kakak pantas mendapatkan permintaan maaf dari ayah dan bundaku."
__ADS_1
"Dan aku akan memastikannya!percaya padaku ...aku ingin mereka tahu, kalau kakak yang terbaik."
Ada yang diam-diam menjalar hangat didalam hatinya, lagi-lagi dia merasa diperlakukan bak ratu oleh pria yang bahkan dibilang masih terlalu muda ini.
"Hei kenapa menangis!" Metta tak dapat lagi menahan bulir bening yang merosot dengan cepat.
"Sayang, kenapa menangis!" Farrel menyapu buliran itu dengan ibu jarinya.
"Mereka tidak akan menyakitimu lagi, sudah jangan menangis lagi. Aku tidak tahan melihat kakak menangis." Farrel menarik tubuh mungilnya dalam dekapannya.
"Aku hanya tidak percaya El, kamu- "
"Iya aku tahu, aku memang terbaik kan!" Farrel terkekeh membuat Metta yang tengah terisak pun ikut terkekeh.
"Sudah aku bilang aku akan menjadi kunci kebahagiaan kakak!" Metta mengangguk.
Khem.. Khem...
"Kalian sedang ngapain?" Ayu dan Arya muncul dari pintu.
"Kalian ini belum muh...rim," Ayu menarik telinga Farrel hingga memerah.
"Ayah, Bunda!"
"Iya ini kami, kenapa...? kaget...? ketahuan lagi..."
Ayu berlagak pinggang menyorot Farrel. "Dasar anak nakal,"
"Sayang, apa dia selalu berbuat nakal padamu?" Ucap Ayu pada Metta yang sedari tadi hanya diam saja.
"Hah... Emm...enggak kok tante!"
"Sudah ku bilang jangan panggil tante, bunda, panggil bunda." merengkuh tubuh Metta, dan mengelus punggungnya.
"Kamu pasti kaget atas kedatangan kami pagi-pagi, maaf ya sayang," mengelus punggung Metta berkali-kali.
Pelukan hangat Ayu membuat bulir bening diujung mata itu jatuh kembali, Metta mengangguk dalam ceruk sang Bunda.
"Bunda jangan membuat pacar El menangis!"
"Bunda selalu berlebihan begitu, dia jadi menangis kan Bun!" Ucap Arya yang berdiri di belakang tubuh Istri nya.
Ayu mengurai pelukannya, menatap lekat gadis yang telah merubah anaknya itu. Lalu tersenyum hangat padanya.
"Sudah, jangan menangis lagi! nanti bunda kena marah pacar kamu itu," Ayu menunjuk Farrel dengan delikan matanya.
"Jeng sudah datang?" Ucap Sri yang baru tiba dari dalam dapur.
"Ah iya jeng Sri, maaf ya kedatangan kami mendadak begini!" Ayu memburu memeluk Sri yang juga membalas memeluknya.
Farrel dan Metta silih menatap. Sementara Arya hanya bergeleng.
"Sekali lagi maaf ya jeng!"
"Sudah jeng Ayu, tidak apa-apa yang penting anak-anak kita sudah tidak masalah kan!"
Ayu mengangguk, memperhatikan Farrel yang sibuk mengeringkan air mata kekasihnya itu.
"Sudah kak, jangan menangis lagi! kakak ini jadi cengeng sekali."
Metta menepis tangan Farrel dari wajahnya, " Hentikan El, Bunda dan Ibu memperhatikan kita,"
"Ayah juga memperhatikan kalian dari tadi!" Ucap Arya yang sedari tadi memang hanya duduk bersama Andra yang heran melihat tingkah laku mereka.
" Bang, mataku masih suci, jangan mempertontonkan hal yang macam-macam,"
Arya terkekeh," kau dengar itu? kalian ini!"
"Oh iya yah, Alan mana?"
"Banyak yang harus dia urus, nanti juga sampai,"
Sementara orang-orang berseragam sama mulai berdatangan, satu persatu membawa barang-barang .
"Maaf ya jeng, ini hadiah untuk jeng Sri dan juga Calon menantu,"
Metta menatap Farrel yang tengah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sekarang aku tahu, dari mana kamu berasal Sayang!" bisik Metta di telinga Farrel.
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran 🤣, karena itu membuat Author receh ini semangat.
Lope-lope sekebon durian tok dalang,
__ADS_1
Jangan lupe dukung, kalo kalian sayang.
( Author kembali Geje)