Berondong Manisku

Berondong Manisku
Aib berponi


__ADS_3

Bunda memanggil Mimah, menyuruhnya mengantarkan Metta ke kamar Farrel.


"Mim, antarkan ke kamar El yah! Sha bujuk El, dia pasti nurut sama kamu, ya sayang,"


"Tapi bun- aku gak enak masa ke kamarnya!Sama bunda saja ya,"


"Masih gak enakan kamu tuh Sha, gak apa-apa! lagian El gak akan berani macam-macam kalau dirumah, gak tau deh kalau diluar!" Ayu malah terkikik.


Metta sedikit menunduk, "Astaga, sumpah kikuk begini, ibu...aku malu."


"Sudah naik aja yah!" mengelus lengan Metta.


Apa bunda tidak salah? dia malah menyuruhku ke kamar Farrel, bagaimana jika El menerkamku disana? lagian kenapa juga harus marah, nyebelin! aku ditinggalin lagi, ah astaga, aku sudah seperti Dinda.


"Mari Non ...." ucap Mimah membuyarkan lamunan Metta.


Mereka berjalan menyusuri ruang tamu yang begitu besar, lalu melewati ruang makan yang tak kalah besarnya. Dengan meja makan panjang yang dapat memuat hampir 20 orang. Matanya beredar mengelilingi kilauan hiasan-hiasan rumah yang berwarna gold dan beberapa lemari kaca gang berisi berbagai macam piala.


Metta terperangah saat melihat piala-piala itu kebanyakan atas nama kekasihnya.


"Jenius juga, pantesan!" gumamnya saat melihat piala itu.


"Non, mari kearah sini," ucap Mimah mengarahkan Metta untuk naik tangga ke atas.


"Panggil Metta saja bi," ucapnya pada Mimah, Metta mulai menaiki tangga menyamai Mimah.


"Wah, jangan non! bibi yang gak enak nanti sama nyonya, walaupun nyonya juga gak bakal marah. Tapi bibi justru segan. Non saja yaa!" Mimah menganggukkan kepalanya.


Metta hanya tersenyum tipis, "Malah aku semakin gak enak begini!"


"Gak apa-apa Non, bibi seneng akhirnya nyonya ...."


"Kenapa bi?"


"Ah, enggak Non... ayo Non," ucapnya dengan terus melangkah.


"Lah bibi kenapa?"


Metta yang memang terbiasa hidup seadanya dan sederhana itu justru merasa semakin rendah diri, saat ini.


"Harusnya kamu seneng, dapet pacar orang kaya, tajir melintir hidupmu gak bakal susah amat kayak sekarang."


Ucapan Dinda terngiang kembali di telinganya, Metta bahkan berjalan menaiki tangga dengan lamunannya. "Bukan seneng aku malah merasa makin minder!"


Nih tangga gak ada ujungnya apa ya, gak nyampe-nyampe.


"Non, jangan melamun, nanti keserimpet," goda Mimah yang melihat Metta hanya diam.


"Ah, enggak bi."


"Ini Non kamar Den Farrel, Non masuk saja. Den El mah baik, kalau marah juga cuma sebentar! gak seperti itu tuh,"


Mimah menunjuk pintu yang terletak di diseberang, harus berjalan kembali dengan sedikit memutar jika harus kesana.

__ADS_1


"Memangnya kamar siapa bi?"


"Den Alan, Non kenal?" ucap Mimah.


"Ah, iya kenapa aku bisa lupa, berarti ini rumahnya juga."


"Hanya sedikit bi," ucap Metta kemudian.


Mimah mengangguk. " Kalau begitu bibi tinggal ya Non."


"Makasih yah bi ...."


Jantung Metta tiba-tiba berdetak lebih kencang, saat dia berdiri didepan pintu seorang diri. Dan ragu saat hendak mengetuknya.


Farrel yang sedari tadi merajuk hanya karena malu, berguling kesana-kemari di atas ranjang. Dia malu lantaran foto yang menurutnya memalukan itu.


"Kenapa juga aku harus marah, tapi gara- gara bunda menyebalkan! aku malu sama kakak, yang dilihatin foto yang pake celana merah lagi, mukaku mau di taro dimana!"


"Bunda malah mencoreng mukaku didepan kakak, gak ada keren-kerennya aku di depan pacarku sendiri."


Farrel terus bermonolog, hingga terdengar ketukan pelan di kamarnya,


Tok


Tok


"El ... apa aku boleh masuk?" Farrel melonjak dari ranjang, saat mendengar suara yang memanggilnya.


"Apa dia tidur?"


Metta memberanikan diri memutar handle pintu, yang ternyata tidak dikunci, perlahan dia masuk kedalam kamar bernuansa abu-abu dan hitam, pandangannya mengarah lebar pada kamar luas dengan jendela besar, di depannya terdapat layar flat berukuran besar juga, dengan lemari besar berisi buku- buku, yang terdapat disisi kanannya dengan 1 set sofa, lalu Walk in closet yang berada di sebelah kirinya.


Metta terperangah, lalu dia mengarah pada ranjang berukuran king yang langsung menghadap ke balkon. Dan Farrel tengah tertidur di tengah-tengahnya.


"Astaga, kamar ini sudah seperti lapangan futsal dirumahku." gumam Metta.


Dia mendekati ranjang,"El, apa kau tidur!"


Namun Farrel tidak memberikan jawaban.


"Ehmm, ternyata tidur, baiklah kalau begitu istirahat saja yaa, aku pulang dulu." Metta membalikkan tubuhnya.


"Kaakak...." Farrel terperanjat, beranjak turun dari ranjang.


Metta kembali berbalik, "Dasar bandel, kau berpura-pura tidur ya!"


"Aku memang tidur tapi tadi, baru saja bangun." menggaruk belakang kepalanya.


"Benarkah?" Farrel mengangguk.


"Ya sudah ayo keluar! aku gak enak sama bunda diem dikamar kamu,"


"Kenapa gak enak? kurang bumbu ...?" Farrel terkekeh.

__ADS_1


"Kamu sih nyebelin, kenapa juga harus marah, pppfftt orang cuma pake celana pendek berwarna merah apa salahnya," ejek Metta.


"Kakak, aku tidak marah, aku hanya kesal, sudah jangan dibahas, ini rahasia! hanya kakak yang tahu," ucap Farrel memelas.


Metta mengeluarkan ponselnya dari saku belakang celananya, " Hem, dan kata bunda, aku boleh menyimpannya," Metta menggerak-gerakan ponselnya.


"Kakak ... jangan nyebelin! hapus gak? itu aib...."


Metta terbahak, "Tapi kamu lucu El, poni nya itu ppfft... aib apa sih berponi.... hahaha,"


Farrel merengut, "Kakak hapus gak fotonya kalau enggak ....!"


"Kalau enggak apa? hem...." Metta malah berkacak pinggang.


"Kakak jangan mancing aku ya, aku baru saja sembuh! kakak mau aku sakit kepala lagi?" Farrel mendelik,


"Dih, memangnya kenapa?" Metta menahan diri untuk tidak tertawa.


"Aku nanti gak bisa cium-cium kakak! kepalaku pusing kayak kemarin." Farrel terkekeh.


Metta mengambil bantal disofa, "Ih baru saja keluar dari rumah sakit, isi kepala hanya hal mesum," lalu dia melemparkannya kearah Farrel.


"Ya sudah hapus fotonya, kalau gak mau aku cium!" Farrel berseringai.


"El, kamu tuh yah! Nanti bunda denger, malu...." memukul lengan Farrel.


Kini Farrel yang tertawa terbahak, " Kakak menggemaskan sekali! aku tidak tahan ...."


Farrel memeluk pinggang Metta, "El, lepas nanti ketahuan bunda!"


"Aku hanya memeluk kakak, gak ngapa-ngapain," Farrel semakin merekatkan pelukannya.


"Memang kamu tuh bandel El," Metta menyelusup diceruk Farrel.


"Aku hanya kangen...kangen...dan terus kangen kakak," ucapnya mencium pucuk kepala Metta.


"Sudah ayo kita keluar!" Metta berbalik, namun matanya menangkap sesuatu.


"El itu apa?" Metta mengurai pelukan dan mendekati dinding yang menjadi pembatas antara tempat tidur dan walk in closet dengan kaca besar. Metta terus mendekati sesuatu yang tertutup kain hitam.


"Lebih baik kakak tidak usah melihatnya," sergah Farrel.


Namun Metta semakin penasaran, lalu menyingkap kain hitam yang menjuntai.


"Ini...."


.


.


Jangan lupa like dan komen nya.


Terima kasih atas dukungannya

__ADS_1


__ADS_2