
Sri mengernyit, "Sha, kok masih panggil nama sama suami mu?!"
Farrel menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Gak apa-apa kok bu."
Metta menoleh pada Farrel, lalu kembali menatap ibunya. Sedangkan Andra dan Nissa menjadi supporter sejati Farrel.
"Iya, kenapa tidak memanggil ayah, pipih kek, beib," ujar Nissa yang membuat Andra tertawa terpingkal.
"Norak, sekarang musimnya papi, mami, my lovely," Timpal Andra dengan tertawa juga.
Pletak
Pletak
"Kalian ini bicara apa, udah sana tidur!"
"Iiihhh....kakak!" ujar Nissa menggosok keningnya.
Sementara Farrel terkekeh melihat interaksi tiga bersaudara itu. Apalagi kedua adik iparnya yang terkadang menjadi pemicu kakaknya marah.
"Iya kan bu, harusnya panggil nama kesayangan, jangan nama begitu saja! Kakak ini tidak pengertian sekali, kalah sama bang Andra yang manggil pacarnya itu ...."
Tuk
"Uueeemmm...."
Andra membekap mulut ember Nissa, yang selalu keceplosan bicara.
"Diem ... bisa gak?" ujar Andra.
Ibu Sri menggelengkan kepalanya, "Lihat kelakuan kalian ini, gak ada malu-malu nya!"
Sementara Metta melirik suaminya yang masih ikut tergelak.
Aku harus panggil apa coba padanya.
Farrel menengok melihat Metta yang terlihat kikuk sendiri akibat pertanyaan Ibu Sri.
"Tidak usah dipikirkan, memanggil sayang saja udah cukup kok. Hem" ujarnya dengan mengecup bahunya.
"Yah, sayang aja mah udah biasa. Guru Nissa disekolah saja suka bilang sayang sama murid nya."
"Apaan sih ? Garing banget!" timpal Andra.
"Abang iih, memang benar kok, guru Nissa kalau nanya suka bilang sayang, salah sayang, bukan begitu, tapi begini caranya!" ujarnya asal.
.
.
Akibat pertanyaan sang ibu, membuat Metta jadi kepikiran, dia hanya diam saat Farrel melajukan mobilnya mengarah untuk pulang.
"Sayang, kenapa? Masih memikirkan apa kata ibu?"
Metta mengangguk, namun juga menggelengkan kepalanya bersamaan.
"Aku tidak tahu! Memangnya kamu ingin aku panggil apa?"
"Apa yaa...?"
"Jodohku?"
"Aw...." pekiknya, saat terkaget karena Metta mencubit pahanya.
"Serius sedikit bisa gak?"
__ADS_1
Farrel kembali terkekeh. "Jangan difikirakan kak!"
Bagaimana tidak kepikiran!
"Iya, apa?"
Mobil sampai di pelataran parkir apartemen, Farrel keluar kemudian membuka pintu untuk Dinda. Perlakuan kecil yang tidak pernah berubah meskipun mereka sudah menikah.
Menggenggam tangannya kemudian masuk kedalam apartemen mereka.
Metta langsung ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Sayang, kenapa malah memasak! ini sudah malam, besok saja." ujar Farrel yang memeluk Metta dari belakang.
"El...aku mau membuat pasta saja, kau pasti masih lapar! Kau juga mau menyiapkan makan untuk besok pagi, agar besok tinggal memasak saja."
"Aku memang lapar...."
Hembusan nafas hangat mengenai tengkuk Metta, membuat bulu-bulu halusnya meremang,
"Tapi bukan cacing diperutku yang kelaparan. Melainkan cacing yang lain, yang akan berubah jadi naga."
Metta membulatkan manik hitam nya "Astaga, apa yang kau pikirkan, dasar mesum!"
Farrel membalikkan tubuh Istrinya, "Disini kita akan aman, tidak akan takut ketahuan, atau suara yang tertahan di kerongkongan."
"Iseng banget sih," ujarnya dengan memukul pelan bahu Farrel.
Kedua netra mereka kini beradu, saling menyelami satu sama lain. Farrel mengangkat tubuh Istrinya itu keatas meja wastafel.
"Sayang...." ujar Farrel dengan menyusupkan tangannya di sela ceruk leher sang istri.
"Hmm...."
Perlahan-lahan Farrel menarik kepala Metta yang kini sejajar dengannya, menariknya lembut hingga benda kenyal itu kini saling melu matt, saling mencecapnya satu sama lain, dan saling membelit dengan lembut.
Farrel menyusup diantara ceruk putih itu, mengecup nya dengan gigitan kecil yang membuat dada Metta semakin bergejolak.
Tak sampai situ, kepalanya kini menyusup kedalam pakaian Metta, bermain-main di kedua benda bulat yang dicecapnya. Sementara tangan yang satu mere mass lembut disebelahnya.
Membuat Metta menengadahkan kepalanya, sesaat tubuhnya ikut menggelinjang.
Euummmphhh...
Tangan Metta mere mass lembut rambut Farrel, dengan sedikit menekan nya lembut. Farrel menggeram pelan, dia kembali melu matt bibir yang kini tengah terbuka sedikit dan lebih sen sual, membuat gai rahnya semakin memuncak.
"Sa--yang aaah...."
Farrel mengangkat kembali tubuh Metta, dengan kedua kaki yang membelit pinggang, tanpa melepaskan tautan bibirnya.
Ruangan dapur itu kini penuh dengan decakan, Farrel membaringkan tubuh Metta di atas meja bar mini. Menindihnya dengan bertumpu pada satu tangan, sedangkan tangan yang lain sibuk menyingkapkan rok sepan sang istri.
Eeuuhhmmm...
"Kamu nakal El." ujar Metta dengan suara serak.
"Hanya denganmu," ujarnya yang kembali mencecap kedua benda bulat yang jadi kesukaannya.
Metta men de sah... Beberapa kali mengerang saat lagi-lagi Farrel menyentuh bagian-bagian sensitif milik nya.
Membawa Metta kembali melambung tinggi. Farrel kini turun, dengan bibir yang menyusuri setiap inci tubuhnya, dia mencecap manisnya mahkota milik Metta.
Metta kembali men de sah, tubuhnya menggelinjang saat lidah Farrel menari bebas dibawah sana, membuat Metta semakin Tak berdaya.
"Aahhh...Farrel! berhenti bermain-main!"
__ADS_1
Farrel berseringai lalu tangannya kembali mere mas benda bulat, membuat Metta tak karuan.
"Its... time!" ujar nya dengan melesakkan benda keras miliknya.
Eeuhhhhhhhggh...
Keduanya sama-sama melambung tinggi ke udara, gerakan demi gerakan diciptakan, dengan tangan yang berkait, dan tentu saja pagutann yang semakin lama dan dalam.
"Sayang...ahh, aku ma--mau ...aaaasshhhh ...."
"Ooh...my Cherry, eeughhh...."
Farrel menghentak benda keras miliknya, mengalirkan benih-benih cinta mereka ke tempat tujuannya.
Ssshhhh a a hhhh...eeegghh
Lolongann panjang dari keduanya pertanda mereka sampai di puncak nirwana, bersama, lagi-lagi memberikan sensasi yang terus ingin dirasakannya.
"El... Kau semakin tidak waras, kita bahkan melakukannya di sini." ujar Metta dengan suara serak.
"Disini, kita bebas melakukan nya dimanapun." Farrel terkekeh.
"Nakal ..."
Farrel merengkuh tubuhnya, "Ayo turun...."
Dia menggendong sang istri tercinta dan membawanya ke kamar. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang, begitu pun dengan dirinya yang ikut merapatkan tubuhnya memeluk Metta dari belakang.
"Istirahatlah." ujarnya dengan mengecup bahu sang istri berkali-kali.
"Iya aa--aabang...."ujarnya dengan terkikik.
Farrel yang menyusupkan kepalanya ceruk belakang tergelak, saat mendengar sapaan baru untuk nya.
"Tidak perlu dipaksakan, kakak boleh memanggil nama saja, jika kakak mau! Atau apa saja yang membuat kamu nyaman. Aku tidak masalah."
"Iya bawel....! Ujarnya dengan terbahak, karena Farrel kini menggelitiki nya.
"Bilang apa hem? bilang aku apa?" Ayo katakan lagi."
"Aaa---aa haha, hentikan sayang, itu geli...."
"Ayo panggil aku, aku mau dengar sekali lagi."
"Yang mana? hah...El ih...!"
"Yang tadi, ayo cepat! baru aku akan berhenti."
"Aahhhaaa...iya oke ... tapi hentikan dulu,"
Farrel menghentikan gelitikan nya, dia lantas membalikkan tubuh Metta dan mengkungkungnya, "Katakan yang benar!"
Dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan Metta menahan tawa, "Kakak ih, jangan terus tertawa."
"Enggak, aku gak tertawa!" mengatupkan bibirnya.
"Kalau gitu ayo cepat katakan!"
"Iya abang El sayangku cintaku kasihku pujaanku kekasih hati inyong ...." ujarnya terbahak.
"Kakak!!!"
...Hari senin nih, boleh dong author minta vote nya lagi. Lope-lope makasih....
...Selamat beraktifitas kembali. ...
__ADS_1
...Maaf kalau belum sempet balas komen, hanya bisa like tapi pasti di baca semua kok.. ...