Berondong Manisku

Berondong Manisku
Album Foto


__ADS_3

3 hari sudah Farrel dirawat dirumah sakit, keadaannya pin semakin membaik, setelah melakukan pemeriksaan lanjutan, akhirnya Farrel diperbolehkan untuk pulang.


"Benarkan om?aku sudah tidak apa-apa?" tanya Farrel pada Frans seusai menjalani medical check up.


Frans mengangguk. "Kau sudah baik-baik saja, jadi sudah boleh pulang hari ini."


"Nah, kan Bunda dengar sendiri apa yang Om Frans katakan, Bunda ini selalu berlebihan," sungut Farrel pada Ayu yang tetap ingin dia dirawat sampai sembuh total.


"Bunda hanya ingin memastikan, luka di kepalamu itu bukan main-main El."


"Begitulah Bundamu El!" Frans mengerdikkan bahunya.


"Ya sudah Om keluar dulu, ingat tetap istirahat jangan terlalu lelah!" Frans menunjuk kearah Farrel.


"Siap Om ... terima kasih."


"Ya sudah, mari kita berkemas, aku tidak sabar ingin tidur di kamarku!" Farrel turun dari ranjang, namun dengan cepat Ayu menghalaunya.


"Eel...jangan turun! biar Bunda yang membereskan. Kamu diam saja disitu,"


Farrel mendecak, "Bunda aku sudah tidak apa-apa, bahkan Bunda sudah melihat hasil pemeriksaannya barusan,"


"Pokoknya diem, Bunda tidak ingin mendengar bantahan!" Farrel merengut.


Farrel meraih ponselnya lalu menghubungi Doni, yang saat ini tengah di kampus. Dia mendial nomornya lalu menempelkan ponselnya ditelinga.


"Don, kalau sudah selesai segera jemput aku dan bunda dirumah sakit,"


"....."


"Ya baiklah."


lalu dia mendial nomor kekasihnya, untuk memberitahunya jika dia sudah bisa keluar dari rumah sakit yang sangat membosankan itu.


Metta yang tengah berjalan di lorong rumah sakit merogoh ponselnya dari dalam tas, melihat layar putih itu menyala dan menampilkan nama Farrel, dia mengernyit. Namun Metta enggan mengangkat panggilannya, karena diapun sudah akan sampai diruangan Farrel.


"Kakak kemana sih?"Ucap Farrel gusar, setelah panggilan telefonnya diabaikan.


"Sedang dijalan mungkin El," ucap bunda yang keluar dari kamar mandi ruangan itu.


"Sepertinya begitu bun," sahut Farrel yang kembali merebahkan dirinya dikasur.


Metta yang telah sampai didepan ruangannya itu mengernyit, mencari Doni yang biasanya akan ditemui tengah duduk didepan ruangan Vip itu.


"Doni kemana? Apa dia ke kampus?" Metta kemudian memutar handle pintu.


"Kakak, akhirnya datang juga! kenapa panggilannya tidak kakak jawab hem? Farrel bangkit dan terduduk di ranjangnya.


"Bunda ... sedang berkemas? memangnya kamu sudah boleh pulang?


"Iya Sha, hasil pemeriksaan sudah keluar, dan dia sudah boleh pulang hari ini," Bunda mendelik kearah Farrel yang terlihat cengengesan.


"Syukurlah kalau begitu, aku bantu Bun,"


Namun Ayu menolaknya, "Sudah kau duduk saja dulu, ini tidak akan lama kok." ucap ayu yang kembali menatap putranya.


"Duduklah disana," Ayu menunjuk kursi ditepi ranjang.

__ADS_1


Farrel terkekeh, "Bunda emang paling mengerti, ya kan sayang? kemarilah ..."


Metta memejamkan matanya, dia merasa risih jika Farrel memanggilnya begitu didepan Ayu.


"Hari ini kakak ngapain aja dikantor?Tidak nakal kan ..." Farrel mengambil tangan Metta.


Metta menepis tangannya, "El, jangan begitu ada bunda, malu ...." bisiknya.


"Bunda tidak akan apa-apa! percaya padaku." Dia berbisik pula pada kekasihnya itu.


"Kakak ikut aku pulang kerumah yah?" menautkan jarinya disela jari Metta.


"Lepas gak? ada bunda itu ...." Metta mencoba melepaskan tautan tangannya dengan manik hitam yang melebar.


Namun Farrel kembali terkekeh. "Kaanggeeen ...."


"El, jangan nakal didepan Bunda!!" seru Ayu yang tengah memasukkan barang.


"Kau dengar itu, sudah lepasin!" Farrel kembali terkikik.


Setelah selesai, akhirnya mereka keluar dari ruangan itu, ujang yang sudah menunggunya membukakan pintu mobil untuk mereka. Diapun melajukan mobilnya menuju rumah.


"Apa sebaiknya aku pulang saja El?" bisik Metta,


Farrel menggelengkan kepalanya, "Kakak, ikut denganku kerumah!"


Akhirnya mobil berhenti setelah memasuki gerbang rumah Adhinata, Metta sebenarnya merasa canggung, ini kali pertama dia diajak kerumah kekasihnya itu, dia tahu sekaya apa keluarga mereka namun juga tidak bisa membayangkannya.


Metta menatap rumah besar yang dilihatnya sekarang, "Berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan rumahku."


"Mas, sudah sembuh? ucap Mimah saat Farrel masuk, disusul oleh Ayu dan juga Metta yang masih terperangah.


"Iya bi ...." ucap Farrel singkat.


Dia lalu merebahkan dirinya disofa, lagi-lagi Metta terperangah, melihat rumah dan juga isinya yang baru saja dia lihat sekarang.


"Sha, duduk dulu ya, Bunda mau kekamar dulu sebentar!" ucap Ayu saat melihat Metta yang hanya mematung ditempatnya.


Metta mendudukkan tubuhnya dikursi, matanya masih terlihat terpana melihat banyaknya guci-guci besar dan juga rumah bak istana.


Mimah keluar dengan membawa nampan minuman untuk mereka, "Bi, pacarku cantik kan?" Ucap Farrel.


Mimah menatap Metta, "Gak cantik Mas itu mah tapi cantik banget," ucapnya terkikik.


"Mata bibi sangat jeli ...." tukas Farrel kemudian terkikik.


"Bibi bisa aja...." ucap Metta, namun membuat dia semakin tidak nyaman,


"Sayang, mikirin apa hem?" Farrel mengeser tubuhnya lebih dekat.


"Enggak mikirin apa-apa El,"


"Jangan memikirkan hal yang tidak penting! Nanti juga kakak akan tinggal disini,"


Dia menopang dagunya sebelah, menatap kekasihnya yang terlihat tidak nyaman. Sementara yang ditatap tampak semakin gusar.


"Iya kan Bunda?"

__ADS_1


Ayu yang baru saja keluar pun kaget dengan pertanyaan Farrel yang tiba-tiba.


"Iyalah, biar cepat!"


Farrel terkekeh, "Tuh kan kakak denger sendiri?"


"Jangan sembarangan bicara!" ucapnya menginjak kaki Farrel.


Dia meringis, lalu tertawa, Ayu yang sudah berganti pakaian pun kembali menghampiri mereka.


"Sha apa kamu mau melihat album Foto?" Ayu mengambil Album foto, lalu diberikan pada Metta.


Metta terkesiap, "Heh...boleh Bunda,"melirik Farrel yang mulai mencebikkan bibirnya.


"Pasti menyenangkan melihat dia masih kecil."


Metta membuka lembar pertama, terlihat Album foto keluarga Adhinata. lalu lembar kedua, masih dengan keluarga Adhinata, namun kali ini di tengahnya terdapat Farrel dan juga Alan.


"Apa ini kau?" Farrel mengernyit.


"Kakak, sudahlah tidak usah dilihat aku malu! lebih baik kakak ikut kekamarku."


"Jangan nakal El!" sahut Ayu yang berada disamping Metta.


"Kau lihat ini Sha?" Ayu menunjuk sebuah foto anak kecil berponi, dengan memakai celana pendek berwarna merah dan T-shirt bergambar robot."


"Lucu sekali bunda, apa dia perempuan, tapi bajunya gambar robot,"


Ayu tertawa terbahak, " Kau tidak mengenalinya?"


Metta menggelengkan kepalanya, "Tidak, memangnya siapa?"


Ayu mengerling kearah Farrel yang kini tengah mengerucutkan bibirnya.


"Dia anak bunda yang paling tampan."


"Bunda, sudahlah!kenapa malah bunda memberikan album foto itu padanya. Menyebalkan!" Farrel merengut.


"Tidak apa-apa El, biar Sha tahu," Ayu dan Metta terkikik.


"Menyebalkan!" Farrel bangkit dari duduknya, dia berlalu menuju kamarnya.


Ayu tidak perduli, dia tetap menunjukan satu persatu foto itu padanya.


"Coba lihat ini? lucu yaa... saat dia berumur 3 tahun, dan ini ...."


"Lucu banget bun," Metta memperhatikan wajah Farrel kecil yang menggemaskan itu.


Ayu terus menunjukan foto hingga di lembar terakhir, dan Farrel yang kembali merajuk karena merasa malu, tidak turun lagi. Dia berdiam diri di kamarnya.


"Kau susul dia ya keatas! dia pasti ngambek lagi." ucap Ayu.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Terima kasih ya

__ADS_1


__ADS_2