Berondong Manisku

Berondong Manisku
Penguping


__ADS_3

Setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya Farrel mengalah, dia membiarkan Ujang yang mengantarkan kekasihnya pulang. Namun dengan satu syarat, Metta tidak boleh menutup telponnya selama perjalanan, meskipun keberatan akhirnya Metta setuju daripada Farrel meracau kemana-mana.


"Aku akan membiarkan kakak diantar mang Ujang dengan satu syarat, aku akan menemani kakak!"


"El apalagi, sudahlah aku ingin pulang! kamu ini berlebihan sekali, lagi pula ini sudah malam, aku gak enak sama Bunda, sama ayah kamu!" Metta meraih tasnya dan memasukkan ponsel kedalamnya.


"Aku hanya akan menemani kakak di ponsel, jangan mematikan ponsel sebelum sampai rumah!"


"Astaga El, apa sepertinya dokter salah menjahit salah satu urat di kepalamu?" ejek Metta saking kesalnya.


"Kakak, aku serius!"


"Kalau aku tidak mau bagaimana?"


Farrel bersikeras, " Kalau begitu lebih baik kakak menginap saja!"


"Iya... sayang... iya aku gak akan matiin telponnya! Puas," ucap Metta kesal namun Farrel hanya terkekeh.


"Aku jadi ingin memberi kakak hadiah, karena kakak sudah menurut, tapi ada bunda." bisiknya pelan, dengan melirik Ayu yang tengah berjalan kearahnya, sementara Metta mendengus kasar.


Ayu duduk disampingnya, "Sha, sudah mau pulang?"


"Iya Bunda aku pulang dulu ya," ucap Metta menyalami Ayu.


"Apa sebaiknya kamu menginap saja, ini sudah malam Sha! Biar besok pagi pergi bekerja berangkat sekalian dengan Alan. hem?"


Metta melirik Farrel yang tengah tersenyum dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Maaf Bun, lebih baik aku pulang saja! Kasian ibu pasti sudah menungguku dirumah," sahut Metta,


Dilihatnya Farrel kembali mengerutkan kedua alisnya, "Bun, apa boleh aku mengantar?"


Kedua manik hitam sang Bunda membulat sempurna,


"Biar ujang yang mengantar, kamu lebih baik istirahat saja."


Farrel kalah telak, dia pasrah meski harus merengut, dengan keputusan yang Ayu utarakan.


"Maafkan anak nakal Bunda ya, kalau sakit memang begitu dia, apalagi sekarang ekhem, dia punya kamu! malah semakin menjadi-jadi seperti ini," ucap Ayu saat mengantar Metta sampai ke gerbang rumah.


Metta hanya tersenyum tipis, sementara Farrel yang telah menunggu diluar, tengah mengobrol dengan Ujang.


"Ingat pesanku mang?" Ujang mengangguk.


"Beres Den."


"Ujang hati-hati bawa mobilnya!"Seru Ayu dari belakang.


"Siap Nyah...." sahutnya dengan menggerakkan tangannya dikepala seperti memberi hormat pada saat upacara dengan satu kaki yang menghentak.


Farrel membuka pintu belakang, lalu menyuruh Metta masuk, namun dengan cepat dia ikut masuk kedalam.


"El, kenapa ikut mas--....!"


Cup

__ADS_1


Kedua tangan Farrel menyusup dileher kekasihnya, lalu dengan cepat dia mengecup sekilas bibir Metta, kemudian dengan cepat pula dia berhambur keluar dan menutup pintunya kembali, sebelum Ayu menyadarinya.


"Astaga, anak itu!" Metta membelalakkan matanya. Namun juga tak dipungkiri hatinya senang, dengan senyum tipis di bibirnya serta gelengan kepala saat Farrel melambaikan tangannya diluar.


"Angkat teleponnya nanti yaa!"


"Ayo Non ...." Ucap Ujang lalu dia melajukan mobilnya keluar dari gerbang dan menyusuri jalanan malam itu.


"Mang, kenapa pelan begini!" ujarnya pada Ujang yang melajukan mobilnya bak seekor siput.


"Itu Non, sesuai dengan pesan den Farrel tadi, katanya pelan-pelan saja bawa mobilnya. Biar Non nyaman."


"Astaga ... tapi gak pelan begini juga Mang, kapan sampainya kalau begini!" Metta memejamkan matanya.


Sementara ponselnya terus berdering, Metta dengan sengaja mengabaikan panggilan Farrel. Dia menyandarkan kepalanya disandaran kursi belakang, hingga ponselnya berhenti berdering.


Namun ternyata sekarang malah ponsel Ujang yang berdering, Ujang melirik ponselnya, lalu menoleh kebelakang melihat Metta yang tengah memejamkan matanya.


"Non, kata den Farrel angkat teleponnya, Kalau tidak aku disuruh putar balik."


Metta mendengus, "Katakan padanya, aku akan mengangkatnya!"


Benar saja Farrel menemani selama perjalanan, Metta tertawa saat Farrel berkelakar, mendengus tiba-tiba saat Farrel mengatakan hal konyol, lalu tersipu saat Farrel terus menggodanya. Membuat perjalanan bak siput itu dapat dinikmatinya. Sementara Ujang yang memperhatikannya dari kaca spion hanya menggelengkan kepalanya.


Lalu Ujang melirik pesan masuk dalam ponselnya,


Matikan Map di ponselmu Mang! Sebentar lagi sampai.


Pesan masuk dari majikan itu sangat menggelitik bagi Ujang, namun Ujangpun dapat mengerti, Ujang mengikuti perintah majikannya.


.


.


Farrel berguling-guling di atas ranjang, merasakan hal yang sama dengan kekasihnya itu, tertawa, kadang mengerutkan dahi lalu tertawa lagi.


Alan yang masuk kedalam kamarnya lalu menyalakan tv dan duduk menghadap layar yang menyala tanpa menontonnya, dia sibuk mengutak ngatik ponsel di tangannya.


Sementara indera pendengarannya menangkap percakapan dari Farrel dengan tajam, ikut menyunggingkan bibirnya saat mendengar lelucon yang Farrel ucapkan pada ponselnya. Sesekali dia melirik kearah Farrel yang tertawa kencang, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Survei membuktikan bahwa cinta memang membuat orang menjadi bodoh dalam waktu singkat, dan aku tidak akan masuk dalam barisan orang-orang bodoh itu." gumamnya.


"Ya ... bilang sama Mang Ujang jangan melihat terus ke arah spion, lihat jalan saja dengan benar."


"....."


"Hem... baiklah sayang! selamat istirahat yaa ..."


"Love you...."


"....."


"Iya.... kakak juga."


Farrel mengakhiri panggilannya yang hampir 1jam itu, rasa panas yang menjalar di telinganya tidak berarti apa-apa, dibandingkan rasa bahagia dihatinya.

__ADS_1


Farrel melempar ponselnya begitu saja diatas ranjang, lalu dia beranjak dari kasur dan melonjak saat melihat Alan yang berada disofa.


"Sialan, sejak kapan kau berada disana penguping?"


"Sejak kau pintar berkelakar tuan muda!" Alan terbahak.


Farrel melempar bantal padanya, namun Alan berhasil menghindarinya. "Ada yang ingin aku bicarakan. Duduklah!"


Farrel merengut namun dia juga menurut, dia duduk berhadapan dengan Alan.


"Katakan, apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan tempo hari?"


"Hem..."


"Sudah ku duga, apa yang kau tahu?"


"Aku sudah mengurusnya, kau tenang saja. Dia hanya menyabotase pekerjaan anak buahnya hanya karena ingin terlihat oleh mu,"


Farrel mengernyit, "Untuk apa?"


"Itu yang sedang aku cari, berhati-hatilah kedepannya. Aku tidak bisa selalu berada disisiku setiap saat,"


"Untuk itu kau mengirimkan Mac padaku?"


"Kau makin pintar, bodoh!" Alan terkekeh.


Farrel menyorotinya,"Kau ingin mengatakan aku pintar atau bodoh?"


"Orang pintar yang bodoh!" Alan terbahak.


"Sialan....!"


"Mac sudah berhenti dari club itu, dia akan sepenuhnya bekerja padaku, padamu tentunya, karena aku juga harus mengurus perusahaan peninggalan ayah."


"Cx ....walaupun kau benar-benar mencari yang mirip denganmu, itu tak bisa menggantikanmu Alan Alfiansyah!"


"Tentu saja tidak akan ada!" ucapnya penuh penekanan.


"Lalu bagaimana dengan urusan asmaramu?" Giliran Alan yang mengernyit karena perkataan Farrel.


"Aku bertemu Tasya tempo hari saat di kampus,"


"Bukan urusanku!"


Alan bangkit dari kursi dan membuka pintu balkon. Berdiri menghadap pintu dengan sebatang nikotin yang baru saja dia bakar.


"Aku tidak mau berurusan dengan wanita, mahluk bumi yang rumit." ucapnya dengan menghembuskan asap yang mengepul di udara.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.

__ADS_1


Terima kasih buat semua dukungannya.


__ADS_2