
"Nissa ... !"
Doni duduk disampingnya, dengan tangan yang menopang di pahanya. Menatap ke arah Nissa yang tengah merajuk
"Apa? Kak Doni mau jelasin apa lagi! Udah deh ah...."
"Memangnya Nissa sepenasaran itu tentang bagaimana rasanya?"
Gadis teramat polos itu mengerdikkan bahu, "Tahu ahk!"
"Jadi gini...."
Dreet
Drett
Ponsel Doni bergetar didalam saku celana, dia yang akan berbicara pun mengulum bibir, lalu merogoh ponselnya.
"Kak Doni angkat telefon dulu yaa," ujarnya dengan berlalu menjauh.
"Terserah, kenapa harus bilang Nissa."
Tak lama kemudian dia pun meninggalkan ruangan tamu itu dan memilih untuk keluar.
"Bang Andra mana sih? Aku gak lihat dia dari tadi."
"Noh abangmu mojok di sana." ucap Irfan yang
tiba-tiba datang dari arah belakang.
Nissa mengikuti gerakan tangan Irfan yang menunjuk ke arah gazebo.
Melihat Andra yang tengah berdua dengan Renita. Sementara Bening dengan pria yang baru saja dia lihat, namun sudah pasti itu adalah pacarnya.
"Kenapa mereka malah pacaran sih!"
Nissa berdecak.
"Ya udah sih, biarin aja!"
Nissa menolehkan kepalanya, "Apaan sih!"
"Nissa sama aku aja yuk," Irfan menarik lengannya masuk.
Doa berusaha melepas tangannya, "Apaa sih ih, lepas!"
"Udah ayo kita main kartu uno saja." ujar Irfan yang terus menarik lengan Nissa.
Tiba-tiba Doni datang dan melihat Irfan yang sedang menarik tangan Nissa.
"Lepasin Nissa!" ujarnya dengan menepis tangan Irfan.
"Santai dong, gue cuma mau ngajak dia bermain kartu." tukas Irfan.
Apa yang aku lakukan? Tapi aku juga tidak bisa membayangkan jika Nissa menanyakan pada Irfan seperti yang dia tanyakan padaku.
__ADS_1
"Nissa, akan ikut pulang dengan ku," Ujar Doni yang menarik pergelangan tangan Nissa, dan membawanya naik ke atas, Sementara Nissa hanya pasrah mengikuti langkah Doni.
Doni membuka pintu kamar, dan mendorong bahunya. "Masuklah, kemasi barangmu! Kita pulang sekarang."
"Memangnya ada apa kak?"
"Aku ada pekerjaan yang harus segera aku urus, Nissa lebih baik pulang, kak Doni gak bisa nemenin kamu disini!"
.
.
Setelah berpamitan, akhirnya Doni membawa Nissa pulang bersamanya, dan kali ini dia merasa harus benar-benar peduli pada gadis yang masih terlalu polos itu, Nissa sudah dia anggap adiknya sendiri, dan tidak bisa dibayangkan jika dia mencoba rasa penasaran nya dengan orang lain, ada perasaan tidak rela dalam hatinya.
"Kamu tidur saja, nanti kak Doni bangunkan jika sudah sampai." kata doni.
"Kak Doni memangnya ada masalah apa?"
Alih-alih menjawab pertanyaan yang tadi Doni tanyakan, dia malah menjawabnya dengan pertanyaan.
"Abangmu yang menyuruh kakak kembali cepat, ada sesuatu yang terjadi." ucap Doni dengan menambah kecepatan.
Malam yang semakin larut, dengan angin yang dingin menusuk kulit. Sesekali Doni menggunakan ekor matanya untuk melihat Nissa, yang tengah terlelap, wajah polos tanpa terkena make up sedikitpun itu amat damai. Membuat fikirkan Doni tentang Tiwi dan anaknya sedikit teralihkan, apalagi tingkah laku polosnya yang kadang membuat Doni kerap merasa kesal itu.
"Masa iya aku suka sama bocah cilik kayak gini! Bukan aku banget" gumamnya.
Dugdudhdug
Tiba- tiba saja Doni merasa mobilnya tidak karuan, "Eehh ... kenapa niih!"
Membuat Doni menepikan mobilnya di tepi jalan, lalu dia keluar untuk memeriksanya.
"Mana ada bengkel buka jam segini!"
Nissa mengerjapkan kedua maniknya, lalu melihat ke arah Doni yang baru saja masuk.
"Kenapa kak?"
"Ban mobilnya pecah."
Nissa membulatkan mata, "Terus gimana dong! Ini sudah malam, Nissa takut!"
"Kita tidak mungkin bisa kembali ke villa, ini sudah setengah perjalanan. Kendaraan umum juga tidak ada Nis di daerah sini. Satu-satunya ya kita tidur di hotel."
"Iiihhh ... kak Doni!" memukul bahunya.
"AW... apa sih!?"
"Kak Doni fikir Nissa perempuan apaan? Enggak-enggak ngapain tidur di hotel, Nissa gak mau!"
Doni mengernyit, "Memangnya kenapa? Memang perempuan apa yang masuk ke dalam hotel?"
"Iya kan kalau perempuan dan laki-laki menginap dihotel, mereka pasti pasangan tidak benar!"
Doni tergelak, "Pasangan tidak benar bagaimana?"
__ADS_1
"Ihh ... kak Doni masa gak tahu?"
Doni yang tengah terbahak pun mengacak rambut Nissa.
"Iihhh ... kak Doni!" merapikan rambut.
Doni masih tertawa. "Nissa ... hotel itu tempat menginap, tempat istirahat juga bisa, are you kidding . Siapa yang mengatakannya?"
"Teman-teman Nissa, katanya begitu!" sungutnya.
"Pantas saja kamu itu selalu penasaran. Orang yang kamu dengar hanya sebatas 'Katanya,'
Ya ampun.
.
.
"Kamu tuh ih ... nyebelin tahu gak!"
"Maaf sayang, aku fikir Nissa tidak masalah jika ikut liburan juga, cuma sehari juga kan!"
Metta keluar dari walk in closed, "Kamu tuh gak tahu? Nissa masih dibawah umur, astaga!"
Menepuk-nepuk bantal dengan keras.
"Sayang, jangan marah-marah lagi, ingat kamu lagi hamil? Jangan banyak fikiran." ujarnya dengan meraih bahu istrinya.
"Iya, kamu yang selalu membuat aku marah-marah terus!" sungutnya.
"Maaf sayang, tadinya aku hanya ingin mereka menikmati liburannya sebelum mereka nanti lebih sibuk lagi. Tapi aku salah yaa!"
"Tahu ah kamu selalu nyebelin." Ujarnya dengan menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut.
Farrel menghela nafas, membujuknya akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Farrel ikut naik ke ranjang, "Sayang, aku tiba-tiba pusing!"
"Udah deh, jangan jadi alasan terus."ujar Metta dari bawah selimut.
Farrel menarik-narik selimut, "Kakak mau aku ngelakuin apa Hem?"
"Tahu ahk...."
"Sayang...."
Farrel kembali mendudukkan dirinya, dengan bersandar pada sandaran ranjang.
"*Ya a*mpun tuhan. Kenapa, harusnya sih dia sudah sampai." ucapnya dengan lirih.
Dia mengambil ponselnya, menekan nomor Doni yang ada didalam kontaknya. Sementara dia tengah melihat ke arah Metta yang bersembunyi. Lama kemudian, dia kembali tersadar
"Astaga Nissa!
Membuat Metta menyembulkan kepalanya dari dalam selimut.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Apa ada?"