Berondong Manisku

Berondong Manisku
Amarah Farrel


__ADS_3

"Jangan, bisa-bisa kau jadi sasaran kemarahannya, biarkan mereka menyelesaikannya dulu Sha, kau tidak tahu. Alan bahkan punya senjata api."


Metta terperangah, "Apa?"


Dinda yang masih terisak itu memeluk Metta, "Aku tidak tahu apa aku boleh mengatakan hal ini atau tidak, yang jelas, intinya dia adalah Big boss dari sindikat penyelundupan senjata api, dan baru-baru ini...."


Metta yang masih berdiri di ambang pintu pun tersentak, dan semakin terperangah, "Baru-baru ini kenapa?"


"Baru-baru ini dia ... dia menembak seseorang!"


Metta tercengang, berjalan mendekati Dinda yang terduduk di soda single, dia memegang kedua bahu Dinda dan menatapnya, tidak ada kebohongan disana, manik coklatnya kini semakin berlinang air mata,


"Astaga, kamu serius?"


Dinda mengangguk, "Aku melihatnya sendiri,"


Metta menutup mulutnya tak percaya, namun Dinda tidak mungkin berbohong, apalagi masalah seperti ini, dia menceritakan semua hal namun tidak semenjak dekat dengan Alan,


"Bukan hanya sekali aku melihatnya menembak seseorang, dulu juga aku pernah melihatnya, tapi tidak sampai membunuhnya. Dan kau juga pasti mengenalnya."


"Menembaknya ... maksudnya membunuhnya! Dia membunuh orang?"


Dinda mengangguk, manik coklat nya mengerjap dengan diiringi isak tangis,


"Kau ... kamu tahu ini dari dulu, dan kamu tidak pernah bercerita apapun padaku! Apa karena ini alasannya?"


Dinda mengangguk, "Sorry Sha! Aku takut tidak bisa menjaga rahasia, Alan akan membunuh ku ... dia memang sempat berkata demikian padaku!"


"Namun nyatanya dia membunuhmu dengan cinta bukan!!" Metta mendengus.


"Kakak adik sama-sama aneh, mereka mencintai dengan cara yang aneh!"


"Lalu siapa yang kamu sebutkan tadi, apa aku mengenalnya?"


Dinda kembali mengangguk, "Hendra, kau ingat dia? Yang lama hilang dan tidak ada kabar apapun mengenai nya? Semenjak dia berurusan dengan Farrel? Suamimu...?"


Kedua mata Metta membulat, Hendra si mesum, yang nyaris menodaiku. Mana mungkin aku bisa lupa, aku bahkan masih ingat tatapan liarnya. haish....


"Huum ... aku ingat, jadi dia menghilang karena Alan atau Farrel yang menjadi dalangnya?"


"Entahlah aku tidak tahu persisnya seperti apa! Tapi malam itu, saat aku ketahuan mengikutinya, dia tengah mengejar Hendra, urusan apa aku juga tidak tahu, yang jelas dia menembaknya, tak lama kemudian beberapa orang berseragam serupa membawa Hendra pergi. Seragam yang aku tahu sekarang adalah seragam ARR. Corps."


"ARR. Corps?" Dinda mengangguk.


"Perusahan jasa pengamanan dan body guard itu milik Alan?"


Dinda mengangguk kembali,


"Dan baru-baru ini, dia menembak Davis, mantan pacarku saat dulu di sekolah!"

__ADS_1


Lagi-lagi Metta tercengang, " Davis? Mantan pacarmu ... apa karena dia cemburu?"


Dinda menggelengkan kepalanya, "Lebih dari itu, Davis berlaku licik, dan membuat perusahaan milik Alan mengalami kerugian besar, dia juga memprovokasi klien untuk menyerangnya, dan hampir menembakku juga, jika saja Alan tidak bergerak cepat. Mungkin aku sudah mati."


"Ini mustahil, apa aku tidak salah dengar? Dia apa? Big bos? Penyelundupan sengaja apa? Seorang mafia?"


"Kau sedang tidak berhalusinasi kan?"


Dinda menggelengkan kepalanya, "Semenjak aku berpacaran dengannya, aku tidak lagi berhalusinasi Sha, dan aku serius, kau boleh bertanya pada suamimu, kenapa dia bisa semarah itu, jika dia tidak tahu apa-apa!"


Benar juga, Farrel tidak mungkin semarah ini jika tidak tahu apa-apa, dia pasti sudah tahu. Batin Metta berbicara.


Tak puas dengan jawaban Dinda, dia mengintip ke arah pintu, mereka masih tetap ribut, Farrel masih berbicara dengan intonasi yang tinggi, sesekali dengan bunyi pukulan keras mengenai benda.


Membuat Metta khawatir mereka akan saling menyakiti, atau lebih parah Alan mengeluarkan senjatanya.


"Aku harus turun untuk melihatnya,"


"Jangan Sha, mereka bisa marah lebih baik kita tunggu saja." cegah Dinda.


Brakk


Bunyi keras terdengar dari lantai bawah, Metta membuka pintu kamar dan berlari menuruni tangga.


"Astaga ... Farrel! Apa yang kau lakukan!"


"Kenapa kau turun, siapa yang mengijinkanmu turun hah!"


"Sayang, turunkan! Jangan gegabah!"


"Naik ... tunggu di atas!" sentak Farrel.


Alan menghela nafas, dia membenarkan posisinya dengan wajah penuh luka, tidak sedikitpun dia membalasnya. Sampai Farrel merebut senjata dari balik bajunya. Dan menodongkannya pada Alan.


"Sayang ... jangan lakukan itu! Aku mohon.


Dinda terperanjat dan keluar dari kamar saat mendengar suara Metta.


"Astaga apa yang terjadi?" ujar Dinda lantas turun dan membantu Alan berdiri.


Alan menepis tangannya, "Lepaskan aku! Biarkan dia puas dengan caranya sendiri, biarkan dia meluapkan kemarahannya, kalian naiklah!"


"Tapi dia memegang senjata!"


"Dia tidak akan menembakku! Pergilah ke atas, bawa istrinya itu bersamamu! Jangan sampai kalian turun, sebelum kami selesai."


"Tapi ...!"


"Jangan menambah masalah, ini urusan pria! Naiklah. Jangan membuat aku marah padamu!"

__ADS_1


Dinda mengangguk lesu, dia menarik tangan Metta,


"Lepaskan aku, mereka tidak bisa menyelesaikan masalah seperti ini! Mereka hanya saling menyakiti."


Dinda terus menariknya, hingga kembali naik tangga.


"Mac!! Kenapa kau hanya diam saja, lakukan sesuatu!" teriak Metta dari anak tangga, dia terus meronta-ronta dan berusaha melepaskan tangan Dinda yang memeganginya.


"Mac, lakukan sesuatu!!" Ulang nya lagi.


Mac hanya menatap sekilas, dengan pandangan yang sulit di artikan.


Biarkan mereka menyelesaikan urusan ini berdua, mereka pasti bisa menyelesaikannya. Dan benar apa kata Alan, Farrel tidak mungkin menembak dirinya.


"El jangan lakukan itu! Aku mohon,"


Metta mulai menangis, dia tidak bisa membayangkan jika Farrel yang saat ini memegang senjata itu sampai menembak Alan, didepan nya,


"Sayang, lepaskan senjata itu!"


"Mettasha, turuti saja apa kataku, pergilah ke atas! Jangan membuatku semakin marah!" sentak Farrel.


Metta menyusut air mata yang mulai menitik, dengan menatap Farrel dengan sendu, begitu juga Farrel yang menatapnya,


Maafkan aku sayang, aku hanya ingin memberi orang sok jagoan ini sedikit pelajaran.


Metta dan Dinda kembali masuk, mereka menghilang dibalik pintu kamar,


Baru kali ini dia melihat Farrel seperti itu, wajahnya di penuhi kemarahan, dengan sorot mata yang tajam,


"Din, bagaimana kalau dia tidak bisa mengontrol dirinya, bagaimana kalau dia menembak nya."


Dinda tak mampu menjawab, dia juga tidak tahu harus menjawab seperti apa, dia hanya mengusap punggung Metta, sementara Dinda pun tampak kebingungan.


Setelah memastikan Kedua wanita itu menghilang dibalik pintu, Farrel kembali menodongkan senjata pada Alan yang tengah menyusut darah dari sela bibirnya.


"Ku fikir kau tidak akan berhenti setelah ini!" Ucapnya.


Alan berseringai, "Tentu saja aku akan berhenti, secepatnya! Tapi setelah aku melenyapkan mereka semua!"


Untuk sesaat mereka saling menatap, tatapan yang hanya mereka sendiri yang mengerti,


"Aku tahu kau tidak akan menembak,"


"Benarkah? Dari mana kau tahu?"


"Aku tahu!"


Dor

__ADS_1


"Farrel!!"


"Alan!!"


__ADS_2