
Metta berdiri di depan cermin toilet, memandang pantulan dirinya dengan bertumpu pada wastafel,
masalah orang tua Farrel belum selesai, harus ditambah dengan kembalinya Faiz yang sekarang berubah nekat, lalu sekarang muncul masalah baru lagi.
Metta menghembuskan nafasnya dengan kasar, mengingat kala dia tengah mengerjakan proyek managemen kebun tempo lalu, terasa aneh memang melihat Farrel ada disana.
"Aaahk..semakin lama membuatku pusing"
"Dia memang tidak bilang apa apa, gue pun gak nanya apa apa"
"Sha loe ngapain ngomong sendiri?"
Metta mengerjakan matanya "Gak apa-apa"
"Gak apa- apa, gak apa-apa tapi muka lo gak bisa bohong Shaun!"
Metta berlari keluar dengan tergesa,"Gue harus ketemu dia sekarang juga"
Meninggalkan Dinda yang masih setia dengan diamnya.
Metta pergi menuju gedung utama, tanpa fikir panjang, dia ingin menanyakan langsung kebenaran yang dia dengar dari Faiz.
Berlari melewati Lobby dan menuju resepsionis "Maaf mba, saya mau ketemu dengan..Farrel, Farrel Adhinata"
Resepsionis wanita itu mengeryit, "Maaf mba apa sudah janji?"
"Emmphh, belum mba"
"Kalau begitu belum mba belum bisa menemui pak Farrel, karena beliau sedang ada rapat penting"
"Tapi keperluan saya juga penting mba"
Resepsionis itu mengembangkan senyum, lalu mendudukkan kembali tubuhnya. "Tetep tidak bisa mba"
"Sial, susah sekali"
.
.
Ruangan Meeting kini terdengar riuh, para pemegang saham dan juga dewan direksi tengah berkumpul, memperdebatkan posisi Farrel sebagai CEO yang akan diresmikan.
"Kurasa perusahaan ini tidak akan bertahan lama jika pemimpinnya belum berpengalaman seperti ini"
Ucap salah satu dari para pemegang saham.
"Saya akan menarik saham saya, saya tidak sudi menanamkan modal pada perusahaan yang tidak kredibel"
"Betul, betul itu"
Farrel mengembangkan senyum, seperti sudah tahu hal ini akan terjadi. Menahan Alan yang sudah mengeratkan tangan dan terlihat emosi.
"Biarkan mereka selesai bicara" ucapnya mencegah Alan yang hendak berdiri.
"Bagaimana mungkin Arya membiarkan perusahaan yang dirintis tuan Adhinata puluhan tahun menjadi sarana bermain"
"Hahaha" semua pemegang saham ikut tertawa mendengarnya.
BRAKK
__ADS_1
"Kalian fikir ini lelucon" Alan tidak lagi bisa menahan diri, dia menggebrak meja.
"Wah, kenapa anda marah?"
"Bukankah kenyataannya begitu?"
"Justru Kalian lah yang yang berfikir ini lelucon, Kau lihat bahkan dia hanya diam saja" orang bertubuh tambun itu menunjuk Farrel.
"Benar, benar" ucap yang lain membenarkan.
Farrel tidak sedikitpun terpancing, meski lututnya bergetar menahan kepanikan, namun dia begitu piawai menutupinya.
Perlahan dia menyuruh Alan kembali duduk, kemudian dia sendiri beranjak dari tempat duduknya.
"Baik, sebelumnya saya pribadi mohon maaf atas kegaduhan yang saya buat hari ini, namun perlu kalian ketahui saya Farrel Adhinata tidak akan pernah membiarkan perusahaan yang kakek saya rintis ini mengalami kesulitan, apalagi menjadikan perusahaannya sebagai sarana bermain"
Semua orang termangu karena suara Farrel yang tiba tiba tegas dan menggelegar.
"Dan saya tahu kalian semua masih meragukan kinerja saya disini, dan saya fahami itu"
"Apa kalian tahu sudah berapa kali saya memenangkan tender besar?"
"Sepertinya tidak bukan, yang kalian fikirkan hanya keuntungan perusahaan saja."
Farrel berseringai, membagikan laporan hasil kerja kerasnya selama ini.
"Silahkan pahami terlebih dahulu, setelah itu saya akan menerima semua keputusan yang kalian pilih nanti"
Farrel kembali duduk, meyakinkan semua orang adalah hal sulit, namun memberikan data dan fakta akurat akan membuat mereka tidak bisa menolak.
Beberapa menit berlalu, semua orang yang berada di ruang meeting luas dengan meja panjang ditengah tengahnya terdiam, bahkan sebagian dari mereka ada yang melihat laporan itu dengan mulut menganga.
"Iya benar, ini suatu hal yang mustahil"
"Benar benar genius"
Para memegang saham maupun dewan direksi dibuat bungkam sekaligus bangga dengan pencapaian yang Farrel raih, bagaimana tidak tender ini terkenal sangat sulit, tidak ada yang mampu memenangkannya, jika ada pun sudah pasti akan berhenti ditengah tengah perjalanan.
"Bagaimana bisa kamu memenangkan tender ini?"
"Tetua suku di kalimantan sangat ketat dan tidak mudah memberikan dukungannya, sekalipun pada orang yang berkuasa di negeri ini"
"Dan anda bisa mendapatkan nya dengan waktu seminggu saja"
"Anda luar biasa"
Ucap salah satu dewan direksi dengan bangga.
Farrel berseringai, " Itu karena kerja keras dan perjuangan tidak dapat diukur oleh usia muda maupun tua saja"
GLEK
Orang yang bertubuh tambun itu merasa tersindir dengan kata kata yang Farrel ungkapkan.
"Jadi jika kalian masih ingin menarik modal kalian dari perusahaan ini, saya tidak akan menghalanginya"
"Silahkan siapa saja boleh pergi dari perusahaan ini"
Farrel begitu tegas, dan semua orang berubah jadi kagum melihatnya. Namun tidak dengan pria tambun itu, dia semakin menyorotinya Dengan tajam.
__ADS_1
"Baik saya tidak akan menarik modal saya, tapi bukti yang lebih akurat lagi, data ini bisa jadi hanya bualan saja. Kita tidak tahu keaslian dan juga kebenarannya"
Orang orang yang lainnya pun ikut mengangguk, membenarkan apa yang dikatakannya.
"Baik, jika itu mau kalian. Kasih saya waktu 3 bulan dari sekarang. Akan saya buktikan kemampuan saya"
Diantara mereka terlihat tengah berunding, menentukan keputusan terakhir.
"Saya tidak akan menarik saham saya, saya percaya darah Adhinata mengalir dalam tubuh anda"
Ucap seseorang dari dewan direksi yang menanamkan modalnya.
Dewan direksi yang sudah mengetahui langsung kinerja Farrel sudah mengambil keputusan, sementara penanam modal masih terus berunding.
"Baik, kami akan memberikan waktu 3 bulan untuk anda membuktikan diri. jika tidak kami akan mencabut semua modal kami dan hengkang meninggalkan perusahaan ini."
"Kalau begitu, saya tutup rapat hari ini. Dengan segala hormat saya meminta maaf dan terima kasih atas kepercayaan dan keputusan dari kalian semua."
Meeting pun berakhir meski dengan alot, keputusan sudah keluar, dengan begitu Farrel merasa cukup puas, meskipun dia tau waktu bersenang senangnya akan semakin berkurang.
"Aku harus segera memberitahu kakak masalah ini, jika tidak semua akan menjadi masalah besar nantinya."
Satu persatu dewan direksi maupun penanam modal perlahan meninggalkan ruangan meeting, kini diruangan meeting ini hanya tinggal Farrel dan Alan. Dia menyugar rambutnya kebelakang. lalu menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi
"Huh, akhirnya.."
"Lo hebat El" Ucap Alan dengan membereskan berkas berkas diatas meja.
"Lo juga"
"Gue hampir saja lepas kontrol, rasanya ingin kucabik cabik pria tambun itu"
"Tenang Lan, lo harus bisa menahannya"
"Bagaimanapun juga rencana kita tetap harus berjalan"
"Lo benar El"
"Gue selalu benar Lan" Farrel terkekeh.
"Gak sombong juga kali"
Mereka berdua akhirnya tertawa, melepaskan semua kekesalan yang meliputi mereka berdua.
Sementara Metta masih mondar mandir didepan ruangan yang dia yakini ruangan CEO.
.
.
✍✍
Author mau pengumuman sedikit, author membuat novel Alan yang misterius dan dingin.
... ^^ Assistant Love ^^...
kalau berkenan silahkan mampir juga yaa🤗
Jangan lupa like, komen dan terus dukung aku yaa, Terima kasih juga atas semua dukungan yang selama ini kalian berikan untuk Author receh ini.
__ADS_1
Lope lope buat kalian❤