Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kebodohan apa?


__ADS_3

"Sayang, tunggu! Kamu kenapa...." Farrel mencekal lengan Metta saat dia hendak keluar.


"Menurutmu...."


Metta melepaskan cekalan tangan Farrel di lengannya, dia berlalu kearah pintu, namun dengan cepat Farrel menahan pintu itu dengan tubuhnya.


"Kakak, kenapa? Kenapa tiba-tiba marah seperti ini?"


"Aku tidak marah, kenapa harus marah! Minggir aku mau keluar."


Metta mendorong Farrel hingga bergeser kesamping, lalu dia keluar dari ruangan Vip itu.


Kakak kenapa sih, aku berbuat apa sampai dia marah seperti itu, Dia pasti sudah melihat aku tadi tengah bicara dengan Tasya. Batin Farrel


Saat hendak menyusul Metta, ponsel Farrel berdering. Farrel merogoh ponselnya dan melihat nama kontak Mac tertera di layar pintar itu.


"Ada apa Mac?"


"...."


"Benarkah?"


" ....."


"Hem, sepertinya aku mengerti. Thanks Mac."


Farrel menutup teleponnya, dengan bergegas dia keluar untuk menyusul Metta.


Ternyata seperti itu, dasar bodoh! kenapa tidak bertanya langsung saja. Egonya masih saja besar.


Farrel keluar dari cafe itu, mengedarkan pandangan mencari sosok gadis berego tinggi yang tetap saja bungkam. Metta berdiri disamping mobil Farrel, dengan kaki yang menendang- nendang kerikil kecil di jalan.


Farrel menarik sudut bibirnya keatas, melihat Metta yang menggemaskan dari jauh, Lalu menghampirinya.


"Kakak sedang apa? ayo masuk ..."


Dia bersikap biasa saja, seolah tidak melakukan kesalahan apapun! Bodoh.


Farrel membuka pintu untuknya, namun Metta menepis tangannya, dia membuka sendiri pintunya lalu masuk dengan membanting pintunya.


Farrel memejamkan mata melihat tingkah kekasih yang menurutnya menggemaskan itu, namun sudut bibirnya terangkat, saat melihat Metta yang tersungut masuk kedalam mobil. Dia berjalan memutar kearah pintu kemudi, dan masuk kedalammya.


Farrel melajukan mobilnya tanpa mengeluarkan suara, membiarkan Metta tenggelam dengan fikirannya. Sesekali dia melirik kearah Metta yang masih terus saja menekuk wajahnya.


Farrel bahkan mendiamkan ku, kata-katanya tidak dapat dipercaya lagi, dia tidak menjelaskan apapun, Oke fiks kita lihat siapa yang kuat.


Dreet


Dreet

__ADS_1


Ponsel Farrel berdering, Farrel membaca pesan masuk pada ponselnya, sementara tangan satunya masih dikemudi.


"Menepi dulu jika mau membalas pesan, Kau ingin kecelakaaan!" Sentak Metta, membuat Farrel menoleh dan mengangguk tanda setuju.


"Astaga, kakak ini kenapa bicara sembarangan,"


"Menepi ...!"


"Iya... iya, aku akan menepi untuk membalasnya," Ucapnya dengan lembut.


Lalu Farrel menepikan mobilnya, menatap pesan dan membacanya, hingga dia tertawa lepas, lalu terlihat mengotak-ngatiknya seperti sedang membalasnya.


Ih, ngeselin ... aku ingin merebut ponsel itu lalu melemparnya keluar, dia bahkan tidak bertanya apa-apa padaku, tapi bisa tertawa membaca pesan. Siapa yang mengiriminya pesan sampai mengabaikanku. Begonya aku malah bersikap begini, dasar menyebalkan.


Metta mendekap kedua tangan di dadanya. Dengan mendelik tajam Farrel dengan ujung matanya.


Setelah selesai membalas pesan yang menurutnya sangat lucu itu, Farrel kembali melajukan mobilnya.


"Maaf sayang, aku balas pesannya lama ya, temanku mengatakan hal yang lucu, aneh banget dia tiba-tiba menghubungi, padahal kita sudah lama tidsk pernah berkomunikasi seperti ini, " Farrel mengelus rambut Metta.


"Gak masalah, lanjutin aja!" tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.


Teman? siapa temannya, laki-laki atau perempuan? Mengatakan hal lucu apa? Sampai dia tertawa begitu. Sudah lama tidak berkomunikasi, apa Tasya?


Farrel semakin menarik sudut bibirnya mendengar jawaban Metta yang sudah dapat dipastikan sangat kesal padanya.


Mereka melanjutkan perjalanannya, dengan kecepatan tidak sampai 20km/jam seolah memancing kekesalan Metta hingga mencapai ubun-ubun.


Benarkan...hahah! Kakak pasti akan marah, sangat lucu jika sedang marah-marah begini. Semakin menggemaskan.


"Sa-yang kenapa sih marah terus, aku ada salah? Hem...." Farrel mencoba memancing kembali dengan bertanya seperti itu. Meskipun jawabannya pasti akan sama.


"Coba katakan, aku salah apa?sampai kakak marah-marah terus dari tadi.


Aku tidak marah, kenapa aku harus marah?


Gumam Farrel bersamaan dengan ucapan Metta. Dia sudah hapal semua, jika wanitanya itu tengah menyembunyikan perasaannya.


"Ooh...." Farrel hanya ber oh ria. Menahan agar tidak tertawa.


Farrel menambah kecepatan kendaraannya dengan normal, Metta masih mengatupkan bibirnya. Berkali-kali Farrel mengatakan sesuatu pasti dijawabnya dengan ketus. Dan berkali-kali Metta menghela nafasnya, seolah dadanya merasa sesak.


Hingga Farrel melajukan kendaraannya, keruas jalan berbeda, mereka mengarah pada suatu tempat.


"Kita mau kemana? ini bukan jalan kembali ke kantor,"


"Nanti kakak juga akan tahu sendiri," tukas Farrel masih dengan menahan tawa.


Dia mau bawa aku kemana? Seenaknya saja, sudah tidak menjelaskan apa-apa, tidak pula bertanya apa-apa. Menyebalkan.

__ADS_1


"El ... Katakan kita mau kemana, jangan main-main. Kita harus kembali kekantor!"


Dari siang sampai sore begini kakak baru memanggil namaku, dasar! Farrel melirik jam tangannya.


"Kakak kenapa cerewet sekali, nanti juga kakak akan tahu!" Ucap Farrel terkekeh.


Metta menyorot padanya, lalu memalingkan wajahnya kearah lain.


"Dasar menyebalkan." gumam Metta.


"Kakak jangan mengumpat padaku ya, aku sudah sangat sabar, jangan memancingku!"


Deg


Metta terdiam, perkataan Farrel bak menusuk hatinya. Hei, kau yang menyebalkan, kenapa jadi aku yang terlihat salah.


"Oh, begitu yaa, jadi kamu sudah sangat sabar? aku yang terus memancingmu, begitu? mau marah... marah lah, aku gak peduli." ucap Metta membuang wajahnya ke samping.


"Kakak kenapa sih, aku sedang malas berdebat dan bertengkar dengan kakak ya, saat ini hatiku sedang bahagia." Ujar Farrel tanpa mengalihkan pandangannya pada ruas jalan.


"Bahagia, bahagia karena bertemu gadis itu." gumam Metta pelan yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.


Sesaat mereka terdiam, saling mendiamkan satu sama lain, terbenam dalam fikirannya masing- masing.


Hingga mobil berhenti tepat disebuah butik. berada dikawasan elite dengan bangunan semi eropa. sangat indah dan sudah pastikan hanya orang- orang dari kalangan atas yang biasa ke sini.


"Kita sudah sampai, ayo turun!" ucap Farrel membuka seat beltnya.


"Tunggu," Metta menahan lengan Farrel.


"Mau ngapain kita kesini?"


Farrel tersenyum, "Kita akan bertemu temanku, ayo turun,"


Mereka pun turun dari mobil, namun kali ini ada yang berbeda, jika biasanya Farrel akan menggenggam tangan Metta, kali ini tidak. Farrel berjalan 1langkah lebih cepat, sementara Metta berada dibelakangnya. Jika Farrel akan mempersilahkan Metta masuk duluan setelah pintu terbuka kali ini juga tidak, Farrel masuk terlebih dahulu.


"Farrel, kau sudah datang? Tunggu sebentar ya, aku sedang mencoba gaunku." ucap seorang gadis yang membuat darah Metta semakin mendidih.


"Tasya...?" gumamnya.


Ada apa ini, apa mereka punya janji bertemu lagi disini? sialan, aku seperti orang bodoh yang mengekor padanya. kebodohan apa ini?


Tatapan Metta semakin tajam kearah Farrel yang kini terlihat sangat bahagia, sorot matanya berbinar menatap gadis yang baru saja keluar dari kamar ganti dengan gaun yang sangat indah.


"Bagaimana? kau suka...? kalau tidak suka aku punya pilihan lain, kau lihat nanti sebagai perbandingan."


"Aku suka, ini sangat cantik, benarkan kak?" menoleh pada Metta.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa untuk terus dukung karya Author ya..Terima kasih.


__ADS_2