
"Pokoknya mulai besok kakak pindah bekerja, aku tidak mau mendengar alasan apapun!"
"Hei, kamu ini kenapa? Astaga...." ucap Metta, dan Farrel hanya diam.
"Aku sudah bekerja seperti ini hampir 5 tahun, dan tidak pernah ada kejadian apa- apa, dan sekarang tiba- tiba kau ingin aku pindah! Yang benar saja, bukan mereka yang tidak jelas ... tapi kamu!" Metta mencebikkan bibirnya.
"Terserah, keputusanku tidak bisa di rubah lagi! Kau akan dipindahkan besok."
"Menyebalkan, dia hanya menanyakan laporan! lagi pula semua orang sudah tahu aku ini tunanganmu...."
"Kau membelanya?" Farrel menatap tajam.
"Dia memang tidak bersalah!" membalas tatapan tak kalah tajamnya.
Farrel melajukan kendaraan nya lebih cepat, pria yang tengah diliputi rasa cemburu itu mencengkram kemudi dengan kuat, tatapannya lurus pada jalan didepannya, tak peduli pada Metta yang kini sudah ketakutan.
"El ...Astaga apa yang kau lakukan!" Metta berpegangan pada handle pintu mobil dan juga menarik narik kemeja yang dikenakan Farrel.
"El ...hentikan mobilnya! jangan seperti ini," teriak Metta, namun Farrel tetap tidak peduli.
"Astaga, kenapa hanya gara-gara ini kau semarah ini?"
Farrel menginjak rem, "Hanya gara- gara ini? kau bahkan tidak bisa membedakan tatapan pria yang sedang tertarik padamu! Bodoh...."
"Ya ...aku memang bodoh! lantas kenapa kau malah menyukai perempuan bodoh seperti ku? kenapa...."
Terlihat rahang Farrel mulai mengeras, giginya bergemelatuk menahan marah,
"Mereka itu pria dewasa, kau tahu! dan mereka tertarik padamu! Shitt...aku ingin menghajarnya tadi!"
Namun tak disangka, Metta malah tergelak. " Jadi kau marah karena mereka lebih dewasa?" kemudian tertawa hingga terpingkal.
"Bodoh, kau lebih bodoh dari ku ternyata! hahaha." tertawa lagi.
"Tidak lucu Mettasha!"
Metta terdiam menahan tawanya, saat Farrel memanggil namanya dengan lengkap, dia menangkup wajah Farrel yang merah menahan marah.
"Kau fikir aku akan tertarik pada pria dewasa itu?" Ucapnya menahan tawa.
"Kau lupa siapa aku?hem...."
Farrel mulai melunak, rahangnya tak lagi mengeras seperti tadi.
Metta mendengus kembali, "Kau tidak percaya padaku?"
"Kau bahkan ...."
Farrel membungkam bibir mungil yang terus mengoceh itu dengan bibirnya, memasuki rongga mulut dan menyisirnya perlahan, membuat Metta membulatkan matanya saat Farrel menggigit sedikit ujung bibirnya,
"Dia menyukaimu Mettasha! Kau tidak tahu arti tatapannya itu...."
__ADS_1
Farrel kembali menyambar bibir Metta yang merona dan terlihat bengkak karena ulahnya, kali ini dia melakukannya lebih kasar dari sebelumnya, tangannya menarik pinggang Mwtta hingga mendekat, desiran mulai terasa dikeduanya.
Lidahnya kembali mencecap saliva didalam, saling membelit. Farrel yang masih kesal itu terus menyesap semakin dalam. Hingga Metta mulai kesusahan nafas, baru dia melepaskannya.
"Aku akan bicara pada Bunda, kita akan segera mengurus pernikahan!"
Lalu Farrel menyisir bibir Metta yang basah dengan jarinya, kemudian kembali melajukan mobilnya dari sana.
Metta terkesiap, dia bahkan lupa bagaimana menghadapi tunangannya itu jika tengah marah,
" Sayang, jangan begitu! Pernikahan itu dilakukan kalau semua sudah siap, bukan karena tuan posesif ini kembali cemburu," goda Metta.
"Memangnya kakak belum siap menikah denganku?"
tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kau sendiri bagaimana? kau bahkan tidak bisa mengontrol dirimu sendiri, jika marah... Menyebalkan!" Metta mendekap kedua tangan didadanya.
"Bukan berarti aku belum siap kan? Aku siap kalaupun hari ini...."
Astaga, dia pasti akan melakukan hal aneh apalagi tengah marah seperti ini.
"Sa--yang...."
Metta menyelipkan tangannya disela lengan Farrel, lalu dia bersandar pada bahunya.
"Aku sedang menyetir!"
Astaga aku geli dengan perkataanku sendiri.
"Hem....iya apa tidak?" menghadapkan wajahnya pada Farrel.
"Kau sudah tahu jawabannya!" Farrel melirik wajah Metta yang menggemaskan.
"Apapun akan kamu lakukan untukku bukan?"
Mettasha, kau menjijikan, kau seperti seorang jalangg. huft...
"Sayang ...." Bulu kuduk Metta meremang saat mengucapkannya dengan lembut.
"Apa...?"
"My Brownies ...."
Aku mau muntah...
"Sudah katakan saja, kakak tidak pantas mengatakan hal-hal seperti itu."
Metta mencubit pinggang Farrel, "Iiihh... Menyebalkan! Kau tidak tahu aku ini sudah berusaha...."
Metta menyandarkan kepalanya di sandaran mobil, dengan tatapan yang lurus menghadap ruas jalan.
__ADS_1
"Kau tahu El, aku ingin menikah saat Andra sudah menyelesaikan kelulusan nya, agar dia bisa menjaga ibu dan juga Nissa saat aku keluar dari rumah dan ikut dengan suamiku nanti." Metta menghela nafas.
"Aku ini anak pertama, semua tanggung jawab ada di pundakku, dan aku ingin saat menikah nanti Andra sudah siap dengan semuanya, karena dia lah yang nanti akan bertanggung jawab, dan kau tahu sendiri, Andra tidak sepertimu! dia harus bekerja lebih keras," ucapnya lagi.
Farrel terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan tunangannya itu. Dan menatap nya dengan lekat.
"Aku tahu kamu pasti akan membantu semua nya, dan aku tidak khawatir karena kamu pria kaya," Metta terkekeh saat mengucapkannya.
"Tapi aku ingin Andra belajar lebih dewasa, mampu berfikir panjang dan tahu apa yang harus dilakukannya, juga berdiri diatas kakinya sendiri. Seperti kamu, hingga mampu menjadi tumpuan ibu dan Nissa." Metta membelai pipi Farrel.
Kemarahan Farrel tiba-tiba menghilang begitu saja, dia kembali menyetir dan mulai mengerti seperti apa yang diinginkan kekasihnya itu.
"Dan saat aku keluar dari rumah ibu, aku keluar dengan perasaan tenang, itu tidak gampang El buat aku yang selama ini menjadi tumpuan keluarga, menjadi tulang punggung keluarga yang bekerja keras untuk mereka! Kau mau mengerti kan?"
Farrel menghentikan mobilnya dipinggir jalan, dia menarik tubuh Metta dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, aku tidak berfikir kearah sana, aku hanya memikirkan diriku sendiri, karena aku takut mereka merebut kakak dari ku!"
Metta membalas dengan melingkarkan tangannya dipinggang Farrel, "Mana mungkin, aku saja butuh waktu yang lama hingga aku bisa jatuh cinta pada pria menyebalkan seperti mu."
"Sayang...."
Metta terkekeh, "Pria manis yang menyebalkan,"
Farrel memegang bahu Metta, dan menatap nya lekat, "Aku akan belajar menjadi kakak yang baik untuk kedua adikku terlebih dahulu, menjadi anak yang berbakti pada ibu mertuaku dulu,"
Metta terkikik, "Hmm....harus itu! Karena kamu akan menggantikan aku nantinya,"
Farrel mengernyit, "Kakak akan menjadi nyonya Farrel yang tidak harus bekerja keras lagi, aku akan menanggung semua beban hidupmu,"
"Semuanya?" Farrel mengangguk.
"Baiklah aku akan menghabiskan uang suami ku nanti," Farrel tergelak mendengarnya.
"Wow... kalau begitu aku harus bekerja lebih giat lagi!"
"Tentu saja...."
"Dengan senang hati, habiskan sesuka mu My Cherry." Farrel mencubit lembut pipi Metta.
Metta tertawa, lalu kembali memeluk pria kecilnya,
"Terima kasih karena sudah mau mengerti,"
Farrel mengecup pucuk kepala Metta, "Anything for you My Cherry."
.
.
Jangan lupa apa? yes like dan komen yang banyak... walaupun author belum sempat balas yaa..maafkan karena sedikit mengriweh ini RLš¤§
__ADS_1
lope lope kalianā¤