Berondong Manisku

Berondong Manisku
Alan Alfiansyah


__ADS_3

Sepertinya Farrel tak pernah tidur senyenyak semalam, bagaimana tidak hatinya yang tengah berbunga bunga, bahkan dipenuhi kupu kupu yang menggelitik. Hanya dengan membayangkan wajah Metta saja membuat hatinya menghangat, rasa itu menjalar hingga terpatri jelas di wajahnya.


" Ael kamu kenapa sayang?" Ayu terheran melihat anak kesayangannya itu tersenyum dengan bola mata berbinar.


" Melamun dia bun " Tukas Arya menggelengkan kepalanya.


Farrel tersentak, dan melengkungkan bibirnya penuh keatas.


" Enggak kok bunda, Ael baik baik saja malah sekarang Ael merasa sangat baik baik saja"


" Dia lagi jatuh cinta bun " Tukas Alan yang sedari tadi memperhatikan Farrel.


" Sialan loe nyamber aja tuh mulut"


Kedua bola mata Farrel membulat tajam ke arah Alan. Seakan memberi kode.


"Hah..jatuh cinta sama siapa?"


Alan tertawa melihat Farrel yang tengah panik karena pertanyaan Ayu.


"Cx gara gara elo" tukas Farrel menatap tajam kearah Alan.


"Eheeehe" Alan terkekeh.


" Ael " suara bunda melembut


" Bener yang dikatakan Alan nak!!"


Farrel gelagapan, entah apa yang akan dia katakan.


" Emmpp, pokonya Ael lagi berusaha" Farrel menampilkan deretan giginya.


Arya menyentuh lembut tangan Ayu, seakan memberi isyarat untuk berhenti bertanya pada Farrel, Ayu pun mengangguk tanda mengerti isyarat suaminya memberi waktu pada anak kesayangannya itu.


" Kalo sudah waktunya bunda juga akan tau" Sahut Farrel memeluk meyakinkan Ayu.


" Ayys..manisnya anak bunda"


Sementara Arya dan Alan sudah lebih dulu beranjak masuk ke ruang kerja Arya.


......................


" Pokoknya Ayah tenang saja, Semua pasti berjalan dengan lancar" tukas Alan setelah melaporkan semuanya pada Arya.


" Yaa tapi kamu tetap awasi dia " sahut Arya.


" Pasti yah " Alan mengangguk.


" Ayahmu dan ibumu pasti bangga padamu Lan" seru Arya


Seketika kedua bola matanya terlihat berkaca kaca. Alan pun menahan diri untuk tidak ikut larut.


" Ayahku juga pasti bangga punya sahabat seperti ayah ini" ucap nya kemudian.


" Heeh..kalian kenapa?"

__ADS_1


Ayu tiba- tiba datang, dengan membawa minuman untuk mereka.


" Gak apa apa bun, kita cuma lagi bahas laporan perusahaan"


" Yah ini hari libur lho, kenapa maaih menyuruh Alan bekerja juga" Seru Bunda sambil meletakkan cangkir minuman itu diatas meja.


" Gak apa apa koq bun, lagian aku gak ada kerjaan hari ini" sahut Alan pada Ayu yang sudah dianggap ibunya sendiri..


" Tapi ini kan hari libur lan, pergilah bersenang senang."


"Tapi bun.."


" Sudah bundamu benar, sana pergilah"


" Pakailah uang yang telah ayah berikan selama ini, ayah lihat kau tak pernah menggunakannya" Arya terkekeh.


Alan yang sudah mereka anggap anak sendiri, Arya serta Ayu menjalankan amanat kedua orangtua Alan dengn sangat baik, meski sudah mempunyai apartemen, dan kerap tinggal sendiri disana tapi Alan punya kamar khusus dirumah keluarga Arya, yang dapat ditempati kapanpun Alan datang.


Mereka berdua pun begitu menyayangi Alan, seperti mereka menyayangi Farrel.


Flashback on


" Halo Arr"


" Kenapa bro"


" Gue titip Alan yaa ama elu, gue sama istri gue mesti keluar kota"


" Lah kenapa gak dibawa?"


" Oke oke entar gue bawa Alan sehabis pulang dari kantor, gue bawa Alan kerumah aja "


" Istri loe gimana?"


" Aman, Ayu gak pernah keberatan apalagi soal anak, dia pasti seneng, ada yang nemenin dirumah, itung-itung latihan jaga anak juga" Arya terkekeh.


" Yaa sudah kalo gitu, gue titip yaa, anggep Alan anak loe sama istri loe"


" Cx loe ngmng kayak gak bakal balik lagi" tukas Arya.


" Yaa sudah gue berangkat dulu yaa"


" Oke ..safe Flight yaa bro"


Tut..sambungan telpon terputus.


......................


" Ibu Alan ikut" teriak Alan ketika sang ibu dan ayahnya hendak pergi.


" Alan dirumah saja ya, kan ada bibi" ujar ibunya


Alan kecil melepaskan diri dari gendongan bi inah, berlari mendekati kedua orang tuanya.


" Tapi Alan mau ikut, Alan gak mau ditinggal sendiri bu"

__ADS_1


Sang ibu yang sedang hamil besar pun berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Alan.


" Alan gak akan tinggal sendiri, ada bi inah yang nemenin Alan, terus nanti Alan bisa maen sam om Arya dan tante Ayu dirumahnya".


Alan mulai menghentakkan kakinya bergantian. kedua manik kecilnya mulai berkaca kaca.


"Tapi Alan maunya ditemenin ibu dan Ayah"


"Alan dengerin ibu, Alan kan sekarang sudah besar, sebentar lagi juga Alan jadi kakak. Jadi Alan harus bisa belajar Mandiri. Alan harus jadi anak yang kuat" ujar sang ibu mengangkat satu tangan kecil Alan keatas.


" Tapi kenapa Alan gak boleh ikut ibu dan ayah" ujar Alan dengan merengek.


" Ibu dan Ayah hanya pergi sebentar, nanti juga kembali Oke jagoan Ayah" ucap sang Ayah menggendong Alan kecil.


Alan kecil terisak, menangis sejadinya , menelengkupkan kepalanya diceruk sang Ayah, memeluknya begitu erat.


" Gimana nih yah" ujar sang ibu.


" Apa kita bawa saja Alan"


" jangan, biar Alan dirumah saja. Nanti juga Arya akan kesini jemput Alan.Tunggulah sebentar " sahut sang Ayah.


Isak tangis Alan mulai mereda, dengan terpaksa akhirnya dia melepaskan pelukannya.


" Alan anak laki-laki, gak boleh cengeng. Alan harus jadi anak yang kuat, cukup hari ini Alan menangis, setelah ini Alan gak boleh menangis lagi yaa nak" ujar sang ayah .


Meski Alan belum begitu mengerti namun Alan akhirnya mengangguk, menghapus sisa air matanya, memandang lekat kedua wajah orang tuanya bak sedang melukisnya dalam hati.


" Kami pergi yaa nak" Ucap Ibunya, mengelus rambut Alan kecil.


" Tunggu sebentar bu"


Alan berlari menyusul keduanya. Kemudian memegang perut besar ibunya.


" Alan ingin pegang adik Alan dulu"


Tangan kecilnya terulur mengelus perut besar sang ibu, yang diketahui nya ada adiknya didalam sana.


" Adik ini kakak, hari ini adik ikut ibu sama Ayah yaa, adik gak boleh nakal terua harus jaga ibu dan Ayah. Karena Kakak sudah besar jadi gak akan nangis lagi, kakak tunggu adik, ibu dan ayah pulang yaa" Ujar Alan, kemudian mencium perut ibunya.


Butiran bening meluncur begitu saja dari kedua bola mata sang ibu, kemudian memeluk erat Alan.


Hingga kabar buruk mengejutkan mereka, berita kecelakaan sebuah pesawat menggemparkan seluruh kota waktu itu. Pesawat yang diduga membawa orang tua Alan terbang hilang kontak akibat cuaca buruk.


Arya memeriksa deretan nama penumpang pesawat yang naas itu. Berharap nama sahabatnya tidak asa disana. Namun takdir berkata lain dua nama itu berada dideretan nama penumpang pesawat yang masih di nyatakan hilang.


Memori 19 tahun yang lalu masih terasa hangat di ingatannya. Bayangan Alan kecil yang menangis meraung ketika kedua orang tuanya tak kunjung pulang, bertanya kapan mereka pulang, hingga sempat jatuh sakit akibat kerinduan yang mendalam.


" Ayah sedang mikirin apa?"


Arya terhenyak ketika sebuah tangan menyentuh lengannya. Jarinya dengan cepat menyapu buliran bening yang hampir jatuh dipelupuk mata.


" Alan ..kenapa belum pergi juga"


🍁🍁

__ADS_1


Part ini sedih gak..sedih gak


__ADS_2