Berondong Manisku

Berondong Manisku
Welcome home my beloved wife 2


__ADS_3

"El aku belum mandi!"


"Kebetulan, aku juga!" ujarnya terkekeh.


Dengan sekali gerakan Farrel menggendong tubuh Metta yang tidak seberapa itu, membuat Metta memekik karena kaget,


"Aaaa..., Farrel turunkan aku, kau ... iihh!" pekiknya.


Farrel tidak mau peduli sama sekali, kehadiran Mac disana seperti guci pusaka yang hanya diam disudut pintu melihat tingkah majikannya.


Tiba-tiba aku merindukan istriku, apa lebih baik aku keluar dan pulang saja, dan itu artinya aku akan terkena masalah karena pergi begitu saja. Batin Mac.


Farrel membawa Metta masuk kedalam kamar, dan menutup pintu yang dia dorong dengan tumit sepatunya, sementara Metta mengalungkan tangan di leher Farrel karena takut terjatuh.


"Farrel, Mac masih diluar!"


"Kenapa kakak malah memikirkan pria lain? Apa kakak ingin aku juga menggendong Mac?"


"Astaga, bukan begitu maksudku!" ucap Metta.


"Ya sudah, tidak usah memikirkan Mac!"


Farrel membawa Metta masuk kedalam kamar mandi, menurunkan nya perlahan, Metta memukul lengan Farrel dengan keras.


"Kau menyebalkan, membuatku malu saja!" ujarnya dengan melepaskan high hill miliknya.


"Kakak mau mandi kan, ayo mandi bersama."


Farrel mengisi air di Bathtube, lalu dia menutup pintu kamar mandi, kembali memeriksa air yang semakin memenuhi bathtube, dengan meneteskan beberapa tetes aroma terapi.


Sedangkan Metta hanya mematung, matanya bergerak mengikuti pergerakan suaminya, dan terkikik di belakang punggung Farrel.


Membuat Farrel menoleh, "Kok, ketawa ... jangan bilang kakak sedang memikirkan hal itu."


"Hal apa, aku hanya tertawa melihat tingkah sibukmu, dengan pakaian masih lengkap begitu, sampai tidak melepas sepatumu begitu." ujarnya terkikik.


"Kakak, jangan menertawakanku!"


Farrel mendekat ke arahnya, dengan menghimpit tubuh Metta yang masih terkikik,


"Aku sudah merindukanmu sejak pagi,"


"Iya, iya aku tahu, tapi aku mau ganti baju dulu!"


"Tidak usah, bukankah kita akan mandi,"


Celaka, selain manis dan penuh kejutan. Dia juga hobi membuat hatiku tidak karuan begini.


Farrel meraih dagu Metta, dengan memiringkan kepalanya menyambar bibir mungil miliknya, dengan lidah yang menerobos masuk dengan leluasa, bak meneguk manisnya madu, saling bertukar saliva.


Begitu lembut membuat Metta ikut memejamkan mata, menikmati desiran demi desiran yang menyeruak di aliran darahnya.


Perlahan-lahan Farrel membuka satu persatu kancing Metta dengan tangan yang merayap pelan-pelan masuk, mere mas benda bulat Metta, membuatnya mengerang, hingga benda bulat itu semakin membusung.

__ADS_1


Metta melonggarkan ikatan dasi yang melingkar di leher Farrel, dengan jari yang semakin lincah membuka kancing kemeja, dan ciuman itu berubah semakin dalam, semakin menuntut.


Menanggalkan satu persatu pakaian, melemparkanya begitu saja, erangan dan lengguhan membuat mereka semakin merekatkan kedua tubuhnya, bibir Farrel beralih menyusuri ceruk leher sang istri, mengecupnya berkali-kali, hingga detak jantung kian bertalu-talu mengiringi perjalanan mereka berdua.


Mengabaikan bathtube yang sudah terisi penuh, mereka semakin menempel disudut kamar mandi, saling beradu nafas. Gelanyar itu semakin menyeruak hebat, suara-suara bak alunan merdu tak kalah tercekat, saat senjata milik Farrel masuk dengan susah payah.


"Ooooh...."


Kedua manik hitam Metta membulat saat senjata itu memasuki dirinya perlahan-lahan,


Metta menggigit bibir bagian bawahnya sedikit, mendesis panjang dengan erangan yang tertahan di kerongkongan.


Aaahh Farrel...


Begitu juga Farrel yang menggeram pelan, merasai hangatnya perisai dengan tangan yang semakin me remas, berubah memilin dan kembali mere mas lembut namun juga penuh penekanan, dengan tangan yang satu menahan kaki Metta, bergerak sesuai irama syahdu yang berpadu mengiringi mereka.


Mmmmppphh ...sshh


Bak ombak yang menerjang, perjalanan mereka sampai di puncaknya, terbang melambung lalu masuk kedalam dunia yang hanya ada mereka berdua, dan mencecap kebahagian, mengguncang hebat dan meloloskan benih-benih cinta didalamnya.


Eeughhh i'm coming


Aaagghh El


Hentakan terakhir yang menghantarkan sengatan kuat dan mencengkeram lalu melemah dengan sendirinya.


"I love you...." Bisik Metta dengan serak.


"I love you more Mettasha."


"Aku mau mandi," ujar Metta mendorong pelan tubuh Farrel.


Mereka terkekeh melihat bathtube yang sudah penuh air yang meluber kemana-mana,


"Ayo kita mandi," ajak Farrel dengan menarik Metta.


"Aku duluan saja...." ucap Metta yang menyambar bathrobe.


"Enggak, kita mandi, hanya mandi ... Aku janji," ucap Farrel dengan telunjuk dan jari tengah berbentuk V.


"Hanya mandi!"


Farrel mengangguk, dia terkekeh lalu mengecup kening istrinya lama dan semakin dalam.


.


.


Metta keluar lebih dulu dengan handuk yang menggunduk diatas kepala, dan baru tersadar jika dia sama sekali belum mengetahui seluk beluk keseluruhan apartemen itu.


Farrel berjalan di belakang dan mengernyitkan dahi melihat Metta hanya masih berdiri mematung.


"Kenapa sayang?" Ujarnya memeluk dari belakang.

__ADS_1


"Kau simpan dimana bajuku? Dikamar ini tidak ada lemari baju." ujarnya dengan mata menyapu seluruh ruangan dengan king size ranjang, disampingnya sofa dengan balkon ke luar. Lalu kaca besar bahkan bisa di katakan seperti kaca disebuah mall,


Meja rias yang kosong, dan layar televisi sebesar pintu disudut ruangan. Tidak ada apa-apa lagi.


Farrel terkekeh, dia lupa tatanan yang sudah disiapkan saat Metta datang, setelah selesai acara penyambutan, seharusnya meraka melakukan plat tour, makan malam dan terakhir baru melakukan apa yang baru saja dilakukan.


Farrel menggaruk kepalanya, susunan acara berakhir berantakan, dia yang tidak bisa membendung has rat yang membawa nya terbang berkali-kali lipat,


"Baju mu sudah disimpan di walk in closet," ujar Farrel yang mendorong kaca besar itu kearah samping.


Kaca besar itu terbuka, hingga perlihatkan ruangan yang tak kalah mewahnya, sampai-sampai Metta terbelalak melihatnya.


Dia masuk kedalam ruangan walk in closet, dan semakin terperangah karena melihat jajaran pakaian, sangat rapih, Meja ukuran berada ditengah-tengah berisi dasi dan dan juga jam tangan dengan deretan sebelahnya yang masih kosong.


"Bagian ini untuk mu sayang, aku ingin kau mengisinya dengan semua yang kau inginkan."


Metta menoleh "Makasih sayang!"


.


.


Metta kaget saat melihat bunda dan Ayah Farrel yang tengah duduk di meja makan, dengan boks boks penuh makanan diatas meja.


"Bunda ... Ayah," seru Metta lalu mendekati mereka.


"Nah ini dia, akhirnya keluar juga," ujar Bunda Ayu, dengan terkekeh.


Wajah Metta berubah merona menahan malu. Dia lalu menyalami mereka bergantian.


Sejak kapan ayah dan bunda ada di sini.


"Bagaimana kabar mu nak?" tanya Arya padanya.


"Baik yah, ayah dan bunda sendiri bagaimana?"


"Darah tinggi bunda naik, gara-gara kamu tidak juga pulang ke rumah utama!" ujar Bunda Ayu kesal.


"Maaf Bun, rencananya memang besok baru akan kesana, ta--"


"Bunda, Ayah...." ujar Farrel yang baru saja keluar dari kamar.


Bunda Ayu berdecak, "Nah itu dia anak nakal, bunda dan ayah harus menunggu kalian disini dari tadi, bahkan menghabiskan sekotak kue ini."


Farrel terkekeh, seraya memeluk sang ibu, "Maaf Bun,"


Sementara Arya bergeleng kepala melihatnya,


"Yah, apa bisa kita bicara sebentar?" ujar Farrel pada ayahnya.


Arya mengangguk, " Ayah juga ingin membicarakan sesuatu dengan mu."


.

__ADS_1


.


__ADS_2