
"Kakak Hamil? Anakku?"
Metta mengangguk, ujung matanya terasa perih, dia terharu.
"Tentu saja, dasar bodoh!"
Semua orang yang berada di ruangan itu merasakan bahagia, meski Farrel dan Metta masih belum percaya.
Farrel mendekati sang istri yang masih terbaring, dengan kedua tangan menangkup wajahnya, Farrel mendaratkan ciuman ke seluruh wajahnya.
Cup
Cup
Cup
Mulai dari mata, hidung, kedua pipi, kening dan juga bibir. Bahkan kedua iris coklatnya berbinar kini, menatap Metta dengan penuh cinta.
"Kita jadi mama papa? Hem?" ujarnya dengan menitik air mata.
"Hey, kenapa malah menangis, harusnya bahagia! Dasar bocah,"
"Frans kau ini, tutup saja mulutmu!"
Dokter Mariska kembali duduk, namun Metta masih terbaring untuk melakukan USG, perawat tengah menyiapkan peralatan dan mengoleskan gel pada perut yang masih rata itu.
"Dari sikap suaminya yang justru lebih sensitif, aku bisa menyimpulkan, bukan ibu hamil yang merasakan semua segala kehamilannya, namun justru semua gejala itu dirasakan oleh Farrel."
Metta mengangguk, Itukah sebabnya dia begitu sensitif,
Farrel yang terus menggenggam tangan Metta pun menoleh, "Pantas saja, aku merasa mudah terbawa perasaan, mencium bau yang menyengat walau tidak mual, dan bersikap manja! Sampai kapan Tante? Aku juga kan harus bekerja."
Metta terkekeh, "Maaf yaa, bukan aku lho yaa,"
Farrel mengusap perut rata Metta, "Ini ulahmu kan sayang? Kamu mau ngerjain papa yaa,"
Metta kembali terkekeh, mendengar Farrel menyebut dirinya papa, kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
"Demammu juga sudah turun?"
"Sepertinya karena kita semua sudah tahu ada Dia disana." timpal Ayu.
"Aku harus mengabari jeng Sri, dia pasti akan senang mendapat cucu pertamanya." Ucap Ayu merogoh ponsel dari dalam tasnya.
"Bunda keluar dulu ya, sayang! Mar jangan mulai dulu, tunggu aku kembali, ingat!"
Mariska terkekeh, " Iya Oma, aku tidak akan mulai sebelum Oma nya kembali."
"El, kau sudah baik-baik saja kan?"
Farrel mengangguk, tidak ada hari yang lebih membahagiakan selain hari ini, menjadi seorang papa justru di usia muda,
"Kalau begitu, Om harus kembali ke ruangan, pasien Om Pasti sudah menunggu,"
"Makasih Om." sahut Farrel,
Frans mengangguk, "Mar, aku pergi! Kabari aku hasilnya."
"Siap ... kau tenang saja, kakak mu pasti sudah heboh duluan sebelum aku memberitahumu."
"Kau benar juga!" ujarnya dengan tertawa.
Sementara Farrel terus mengelus perut rata Metta yang masih terbaring,
"Dok, masih lama kan! Aku duduk dulu saja."ujarnya dengan perlahan bangkit.
"Pelan-pelan sayang, nanti dia kaget!" ujar Farrel memegangi tangan dan punggung Metta.
"Apa sih, kaget apa coba! Aku itu hamil, bukan mau melahirkan!"
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya," ujar Farrel saat membantu Metta turun dari ranjang.
Tak lama kemudian, Ayu kembali masuk, dia melihat Metta yang baru saja menapakkan kakinya di lantai.
"Eeh...kenapa turun, Bunda belum lihat!"
Mariska terkekeh, "Sabar Oma, belum mulai kok, dia pegal terus terbaring, gak apa- apa, kamu boleh naik lagi ya sayang, kita akan mulai!"
Metta mengangguk, dia kembali naik dan berbaring di ranjang pemeriksaan, sementara perawat kembali mengoleskan gel diperutnya.
"Pelan-pelan Sus," ujar Farrel yang membuat Suster itu mengangguk dengan mengulum bibirnya.
"El ..." Gumam Metta yang menyuruhnya untuk diam saja.
"Kita mulai yaa, Kita lihat jagoan papa dan mama itu bersembunyi dimana," ujar Mariska dengan menempelkan transduser di perut Metta, dan dengan monitor hitam putih itu bergerak sesuai pergerakan tangan Mariska yang mengarahkan transduser tersebut.
"Tok ...tok... apa kau ada disana?" ujar Mariska.
Farrel mengernyit, begitu juga Metta yang menarik tipis bibirnya.
"Mana Mar? aku tidak melihatnya."
"Sabar Oma, dokter sedang berusaha menemukan aku!" ujar Mariska yang menirukan suara anak kecil.
"Ini dia... halo ... katakan hallo pada mama papa, juga Oma!" kelakar Mariska.
"Goodkid, baik- baik sayang didalam perut mama yaa."
Farrel mengernyit menatap monitor hitam putih itu,
"Tante jangan bercanda, aku tidak melihat apapun disana!" sungutnya.
"Apa hanya Tante yang bisa melihatnya begitu, apa- mana aku bahkan tidak melihat selain garis- garis yang bergerak itu." ujarnya lagi.
Mariska tergelak, "Nak, Papa mu belum melihatmu, ayo tunjukan dirimu dengan lebih jelas."
Mariska mengubah ukuran di dalam mesin ultrasonografi tersebut. Kini terlihat bulatan kecil sebesar kacang polong.
Farrel tetap mengernyit, bahkan dia mendekati monitor itu untuk melihatnya lebih jelas, namun dia tidak mengerti juga.
"Lingkaran ini? maksud Tante anakku lingkaran ini? Tidak ada kaki,"
Membuat semua tergelak, bahkan Metta menutup wajahnya.
"Anakmu masih belum terbentuk sempurna, usianya masih lima minggu, masih terlalu kecil untuk punya kaki, seiring dengan bertambah usianya maka nanti terbentuk sempurna, cantik seperti mamanya, atau tampan seperti papanya."
"Seperti Omanya juga yang pasti!" ujar Ayu tidak mau kalah.
"Tentu, kita bisa lihat nanti setelah lahir, dia kan mirip siapa." ujar Mariska yang tidak bisa lagi menahan tawanya.
.
.
Mereka keluar dari ruangan Dokter dengan resep yang sudah berada ditangan Farrel.
"Aku ambilkan kursi roda ya!" ujar Farrel dengan melangkah lebih cepat, namun Metta menahan tangannya.
"El... aku tidak sakit! Bukan pesakitan juga ih kamu tuh!"
"Nanti kakak kecapean, tunggu sebentar!"
"Aku gak mau!" ucap Metta dengan mencebikkan mulutnya.
Sementara masih dirumah sakit yang sama.
Doni menarik lengan Tiwi, dia ingin segera melakukan tes DNA, agar lebih cepat tahu dan memastikan langkah selanjutnya.
"Doni, pelan-pelan, tanganku sakit!" ujar Tiwi yang berusaha melepaskan cekalan Doni.
__ADS_1
"Ini semua terjadi karena kau menghindar terus dariku, kau takut hah! Aku semakin yakin, anak yang kau kandung itu bukan anakku Tiwi!"
Tiwi menepiskan tangan Doni, dia lalu mengusap tangannya sendiri, "Terserah kau saja, aku sudah lelah menjelaskan padamu! Dan aku juga sudah menyerah, jika kamu tidak mau bertanggung jawab, aku akan mengurusnya sendiri." ujar Tiwi dengan berbalik arah, meninggalkan Doni begitu saja.
Doni tampak semakin geram, dia kembali mencekal pergelangan tangannya, hingga tubuh Tiwi ikut berbalik, dan tas yang dia pegang terjatuh ke lantai.
Tiwi dengan cepat memasukkan beberapa barang yang hampir keluar dari tasnya. Doni melihat amplop kuning yang nyaris keluar, namun dia tidak begitu memperhatikan dengan teliti,
"Kalau begitu, berikan aku bukti, dengan melakukan tes DNA ini." ujarnya saat Tiwi berjongkok.
Tiwi kembali berdiri, "Oke ... aku mau melakukannya, dengan catatan, jika benar ini anakmu, kau harus menikahiku! Dan jika bukan aku akan melenyapkannya." Ujarnya dengan kbali berjalan, bahkan meninggalkan Doni yang masih termangu dengan kata- kata yang di ucapkan oleh Tiwi.
Setelah beberapa saat mereka masuk kedalam ruangan dr spesialis kandungan.
"Bagaimana? apa yang membuat kalian kembali ke sini sebelum jadwal?" ujar Mariska.
"Seperti yang pernah aku tanyakan, kitabakan melakukan tes DNA itu dok."
Mariska menghela nafas, suasana yang berbeda dari pasien sebelumnya, yang tidak lain keluarga Farrel, kini dia berhadapan dengan sepasang kekasih yang tampak meragukan kehadiran Anak diantara mereka.
" Baiklah, saya akan jelaskan prosedurnya, tes DNA memang bisa dilakukan pada usia kehamilan dua belas minggu, kami akan mengambil sampel dari air ketuban, dan hasilnya dapat kalian lihat empat belas hari kerja."
"Jika kalian siap, silakan isi formulir ini dengan jelas, setelah itu kita persiapkan semuanya."
.
.
"Kau puas?" tanya Tiwi yang sudah selesai melakukan pengambilan sample tersebut.
Doni tidak menjawabnya, "Aku antar kau pulang!"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri!"
"Jangan bersikap seolah kau adalah korban, sudah jelas disini aku lah korbannya."
Tiwi mendorong dada Doni dengan kedua tangan.
"Kau memang brengsek, dan aku menyesal karena pernah tergoda oleh mu!Kau tahu, aku lebih baik melakukan One night stand dengan orang lain tanpa perasaan. Tapi dia mengakui!" Dada Tiwi turun naik menahan marah.
"Aku memang bukan orang baik, apa aku tidak pantas mendapatkan kesempatan untuk menjadi baik? Sampai kau setidak percaya itu padaku?"
Tiwi melangkah lebih dekat lagi, dia menekan dada Doni.
"Kau memang tidak punya hati!" Ujarnya dengan berlalu pergi keluar.
Doni tersentak dengan penuturan Tiwi, sementara Tiwi sudah berlari menjauh darinya.
Doni mengejarnya, dia merasa tidak puas akan apa yang di utaran Tiwi, dirinya lah yang menjadi korban, bukan wanita licik macam Tiwi.
"Tiwi..." teriaknya saat Tiwi berlari.
Doni menyusulnya namun tiba- tiba sebuah mobil datang dari arah samping dengan kencang, hingga Doni tak sempat menghindar, Tiwi berlari kearahnya dan mendorong Doni dengan cepat, hingga mobil itu menabrak tubuh Tiwi dan tubuhnya terpelanting.
Brakk
Bugh
Kepala Tiwi membentur ruas trotoar. Darah mengucur dari kepala dan juga sela pahanya, Doni berlari kearahnya. Dalam hitungan detik saja kejadian itu terjadi, Bahkan Doni tidak percaya bahwa Tiwi mendorongnya dan justru membuat dirinya terluka parah.
"Tiwi ...Tiwi bertahanlah."
Beberapa orang membantunya, membawa Tiwi masuk kedalam ruangan UGD.
Doni terlihat mondar- mandir didepan pintu UGD, dirinya merasa bersalah, seharusnya dia tidak usah menekan Tiwi seperti itu, dan penyesalan selalu datang terakhir.
ceklek
"Keluarga saudari Tiwi?" ujar seorang perawat yang muncul saat pintu UGD terbuka.
__ADS_1
"Saya Sus, saya calon suaminya."