Berondong Manisku

Berondong Manisku
Penyesalan Faiz


__ADS_3

"Kamu.."


"Iya ini aku.."


"Kamu tidak apa apa kan?"


Metta tersadar dan menarik tangannya dengan cepat.


"Ka..kamu ngapain disini?"


"Emph..aku ada meeting disini, tapi sepertinya aku tersesat tadi salah pii..."


Metta mengangguk dan menyela."Makasih, aku tidak apa apa."


Dengan langkah cepat, Metta meleos meninggalkan Faiz yang masih bicara, berjalan dengan hentakan kaki yang baru buru, tak perduli. Metta terus berjalan hingga berbelok sampai di lorong kantor.


Dug...


"Awsss....duh sakit sakit, kakiku!"


"Mettasha gak apa apa kan"


Rekan rekan kerja Metta yang kebetulan berada disana mendekatinya.


Metta membungkuk mengusap mata kakinya,"Sepertinya kaki gue terkilir,"


"Pantesan aja, hak sepatu lo hampir patah. Ayo gue antar ke ruang kesehatan." Ucap salah satu rekannya.


"Tidak, tidak gue mau ke ruangan gue aja"


"Ya sudah gue antar kesana" memegang lengan Metta dan menggopohnya.


"Tunggu biar saya saja"


Faiz berjalan mendekati Metta dan rekannya.


"Biar saya saja yang mengantarnya"


Tanpa banyak kata Faiz menggendong Metta ala bridal style, "Hei, turunkan aku. Pak turunkan saya"


"Stop, turunkan saya disini" Metta mulai meronta, setelah melewati ruangannya.


Cekrek...Cekrek...


Seseorang sedang mengambil foto mereka dengan kamera dari jauh.


Faiz tidak menggubris perkataan Metta, dia terus membawa Metta hingga sebuah kursi di taman dekat kantornya, Faiz mendudukan Metta di kursi tersebut. Dengan cepat Metta beranjak dari duduknya, namun tubuhnya malah limbung, dengan cekatan Faiz meraih Metta agar tidak terjatuh.


"Duduklah dulu, biar kulihat kaki mu"


Metta melepaskan tangan Faiz, "Aku tidak apa apa"


"Sifatnya masih saja belum berubah" Faiz menyeringai.


"Maaf saya tidak mengenal anda, lebih tepatnya saya sudah tidak mau mengenal anda,"

__ADS_1


Metta kembali berjalan dengan tertatih.


"Keras kepala"


Metta berbalik "Oh yaa keras kepala? benar aku sangat keras kepala, lantas apa pedulimu?"melanjutkan langkah kembali.


Faiz mengejar "Maafkan kata kataku, bisakah kamu duduk dulu, aku hanya ingin membantu"


Metta menghentikan langkahnya"Tidak usah lebih baik anda pergi"


Faiz meraih tangan Metta, "Please, sekali aja kasih aku kesempatan, aku hanya ingin membantu tidak lebih"


Metta menghembuskan nafasnya, dan orang orang sudah mulai melihat ke arah nya. Akhirnya Metta kembali duduk, dia tidak ingin orang orang mengira mereka pasangan yang sedang bertengkar.


Faiz menaikan bibirnya kembali, dia berjongkok dihadapan Metta. Membuka high hills Metta.


"Maaf tapi aku harus melihatnya."


Faiz mengangkat kaki Metta yang terkilir, Melihatnya pelan dibagian kaki yang mulai kemerahan. Metta meringis namun juga ada perasaan yang sulit dia tolak didalam sana.


"Rindu..bukan tapi benci yaa benci.."


Metta mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia tidak mau jika hatinya tiba tiba lemah dan goyah.


Sosok yang dulu dia cintai, masih dengan tingkah yang sama, senyum yang sama, tutur kata yang diucapkan membuat ingatan Metta berputar kembali tanpa dia minta.


Sekaligus sosok yang memberinya luka, meninggalkan pelik bagi hidupnya.Janji janji manis yang terucap namun ingkar yang dia dapat.


"Kaki kamu terkilir karena high hills kamu hampir patah, tapi syukurnya tidak terlalu parah." Ucap Faiz menurunkan kaki Metta dari tumpuan pahanya.


"Ada yang ingin aku bicarakan."


.


.


Duduk lah mereka saling berhadapan disebuah Cafe tidak jauh dari kantor tempat Metta bekerja, Metta mengiyakan ajakan Faiz dengan terpaksa.


"Cepatlah aku tidak punya banyak waktu, apa yang ingin anda katakan" Metta mengalihkan pandangan nya ke arah luar.


Perih, saat orang yang dulu dia sayangi hari ini, orang itu tak ingin mengenal lagi.


Faiz ragu untuk bertanya,"Apa kau hidup dengan bahagia?"


Metta tersenyum sinis namun enggan merubah arah tatapannya, seolah diluar lebih menarik untuk dilihat dibandingkan sosok dihadapannya.


"Apa hal ini penting untuk anda ketahui?"


"Dengan cara apa aku harus meminta maaf, semua terjadi bukan atas kehendakku"


"Pergilah dan tak usah kembali lagi"


"Maaf tapi itu tidak bisa Sha, aku akan menebus semua kesalahan ku pada mu dan juga keluarga mu"


Metta beralih menatap Faiz, "Menebus kesalahan anda yang mana?"

__ADS_1


"Sha, tolong dengarkan aku dulu" Faiz meraih tangan Metta diatas meja. Namun secepat kilat Metta menarik tangannya.


"Tolong kasih aku waktu untuk menjelaskan semuanya."


"Sudahlah jika tidak ada lagi yang ingin anda katakan, lebih baik aku kembali ke kantor" Metta mulai berdiri.


"Ayah memintaku kembali ke surabaya, di hari itu juga, dihari seharusnya aku menikahi kamu,"


Metta terdiam, yang dia ketahui Ayah dan ibunya memang sudah lama berpisah.


"Jika tidak, dia tidak akan peduli lagi dengan pengobatan ibu. Kau tau sendiri kan, dulu bahkan aku masih belum mempunyai pekerjaan yang mapan."


Faiz menuntun tangan Metta yang berdiri mematung hingga kembali duduk.


"Aku tidak punya pilihan Sha, saat itu aku kalut, memikirkan bagaimana nasib ibuku, bahkan ayah akan menghentikan biaya perawatan ibuku, kau mengetahuinya bukan saat itu ibuku bahkan sedang dirawat."


Metta terdiam, dia memang mengetahuinya, bahkan saat acara lamaran pun hanya Faiz dan keluarga dari ibunya saja yang datang, sementara ibunya sendiri memang sakit sakitan dan menjalani perawatan intens dirumah sakit.


Metta masih terdiam, entah apa yang mesti dia katakan.


"Tapi sekarang aku kembali Sha, aku akan menebus semua kesalahan ku" Faiz kembali meraih tangan Metta.


"Tidak perlu, lupakan lah tentang masalalu, hiduplah dengan baik"


"Aku ingin kembali bersamamu Sha"


Metta menghembuskan nafas untuk menahan bulir yang hendak meluncur dari pelupuk matanya.


"Aku masih sangat mencintai kamu Sha"


"Lalu kemana kamu selama 2 tahun ini, apa kamu pernah memikirkan aku,?keluargaku,?itu yang kamu bilang cinta?" Metta tidak bisa lagi membendung air matanya dengan pertanyaan pertanyaan yang dia simpan selama ini.


"Kamu bahkan pergi tanpa satu katapun, kamu pikir aku ini egois, aku akan melarang kamu pergi jika aku tau hari itu juga,begitu?"


"Bukan..bukan seperti itu, aku sungguh menyesal Sha..."


"Sudah lah, tidak ada yang harus disesali, pilihan ada di tangan mu dan kamu yang memilih untuk pergi. Apapun alasannya"


Metta mengelap bulir bening di matanya. Dia tidak ingin larut dalam penyesalan dan alasan alasan yang diberikan Faiz.


"Hiduplah dengan baik, jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi" Metta beranjak dari duduknya dan segera keluar.


"Apa kamu tidak tahu pada siapa kamu bekerja Sha?"


"Apa maksudmu?"


.


.


.


Jangan lupa like, komen dan dukungan nya pada karya remahan yang receh ini, karena dukungan kalian berarti buat aku yang hanya author receh ini.


Makasih😘

__ADS_1


__ADS_2