
^^^Seminggu rasanya bagai sewindu^^^
^^^Tahukah engkau rasanya merindu^^^
^^^Sepanjang hari aku harus menahan ragu^^^
^^^Hati bergejolak ingin bertemu^^^
^^^Aku terbangun disetiap malam^^^
^^^Dalam sepi dan juga kelam^^^
^^^Berharap esok hari wajahku tidak lagi muram^^^
^^^Akibat rindu yang kian menghujam^^^
....
Bunyi alarm memekikkan telinga, namun seorang gadis yang semalam menghabiskan waktunya menemani pujaan hati yang kembali merajuk karena menahan rindu, masih betah bersembunyi didalam selimut.
Sudah seminggu lebih mereka terpisah jarak dan waktu, memang sedikit menyulitkan tapi adanya media sosial yang canggih mengobati sedikit kegusaran di hati mereka.
Mata lentik yang mulai mengerjap, dan tangan yang mulai menyisir, meraba-raba ponsel yang dia lempar begitu saja semalam. Setelah menemukannya manik hitam itu terbuka perlahan, membuka notifikasi yang paling ditunggu-tunggu.
"Sayang, aku baru sampai di apartement, malam ini pasti aku akan bergadang lagi, miniatur arsitekturku belum selesai, maafkan aku karena sering mengajak kakak bergadang, kakak pasti lelah. Ambillah libur sehari jika kakak mau, mereka tidak akan memecat tunangan seorang CEO bukan? hehe... Selamat bekerja sayang. I Miss you."
Metta tersenyum saat membaca sederet pesan dari Farrel, walaupun matanya masih belum terbuka sempurna, namun pesan-pesan yang terkirim itu membuat semangat harinya. Dia menguap kembali, lalu merentangkan tangannya untuk meregangkan otot-ototnya.
"Manis sekali kamu El."
Dia menatap sketsa wajah yang diberikan Farrel padanya, berukuran kecil namun cukup memenuhi ruang kamarnya yang tidak seberapa luas itu, sementara yang berukuran besar berada dikamar Farrel.
"Semangat Sha ... " ucap Metta sebagai pengawal hari. Lalu dia beranjak dari ranjang dan melingkarkan handuk di bahunya, berjalan keluar dari kamar.
"Heh, nyon matamu sudah tidak terlalu bengkak, sudah mulai terbiasa ya?" Ucap Andra meledek Metta yang baru saja keluar dari kamar.
"Jangan bikin kesel, ini masih pagi!" ucapnya dengan menoyor adik laki-lakinya.
Andra beberapa minggu lagi lulus sekolah, dan keberangkatannya ke negara M juga semakin dekat. Segala persiapan sudah selesai, dokumen-dokumen yang diperlukan juga sudah selesai, tentu saja dengan bantuan Farrel melalui Mac, Mac bahkan harus mondar mandir hanya untuk mengawasi keluarga Metta.
Metta hanya bergeleng kepala, dia merasa hidupnya sekarang berubah, banyak sorot mata yang mengenalinya kini dikantor, menyapa hanya untuk bertanya seberapa beruntungnya dia. Hingga kilatan kamera yang terlihat mengambil fotonya secara diam-diam.
Namun berita yang tersebar itu terlalu berlebihan, apalagi disekitar rumah Metta, yang kebanyakan menelan mentah-mentah berita tanpa mencari tahu kebenarannya.
__ADS_1
Desas- desus beredar, Metta kerap menjadi bahan gunjingan ibu- ibu disekitar rumahnha, membuat metta semakin malas keluar rumah, dia lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah, pulang dari kantor pun kan langsung kerumah jika tidak ada acara penting diluar.
Kinipun motor maticnya hanya menjadi penghuni teras depan, meski berkali menolak namun akhirnya dia harus mengalah, tidak lagi menggunakan motor matic kesayangannya untuk pergi kemanapun.
Metta keluar dari kamar mandi, melewati ruang makan dimana kedua adik serta ibunya tengah menunggunya.
"Cepatlah kak, atau aku tinggal!" ujar Nissa dengan bibir yang mengkerut.
"Iya sebentar Nis...."
"Bergadang terus sih, makanya kan kesiangan! aku kan jadinya kesiangan terus bu gara-gara kak Sha, besok-besok aku mau belajar motor saja. Biar bisa berangkat sendiri! ujar Nissa tersungut.
"Sabar sayang, kakakmu sedang bersiap-siap, sebentar lagi juga keluar." ucap Sri dengan mengambilkan sarapannya untuk Andra.
Akhirnya Metta keluar, "Ayo adik cerewet, kamu gak akan kesiangan. Kakak jamin."
Semenjak Andra sibuk menyiapkan kelulusannya, dia tak lagi bisa pergi bersama Nissa, akhirnya Nissa selalu pergi dengan Metta, dan kebetulan sekolahnya pun searah dengan kantor tempat Metta bekerja. Sementara Andra sudah pergi lebih pagi dari biasanya.
"Eh lihat, pantesan kan sekarang sudah jadi orang kaya, pergi dan pulang aja dijemput, pasti tuh si Metta jadi simpanan suami orang lain, kalau tidak dia pasti menjadi istri kedua orang kaya," ucap seorang ibu yang lewat didepan mereka.
"Bener tuh, gayanya aja sok alim dan terlihat baik padahal diluar sana dia perempuan seperti itu tuh." jawab seorang temannya yang lain dengan jari telunjuk dan jari tengah yang di gerakkan.
Nissa menatap tajam, "Jangan sok tahu yah!"
"Sudah Nissa, lebih baik kita! tidak usah dilayani." sela Metta dengan menarik adiknya untuk masuk.
"Memalukan sekali!" temannya ikut mengangguk.
Nissa masuk dengan berdecak, "Kakak kenapa diam saja, mereka sedang menghina kakak! Aku saja ingin menjambak ibu-ibu itu."
Metta menarik bibirnya keatas, "Gak apa-apa Nis, toh perkataan mereka tidak benar! kamu juga tahu itu."
"Iya ya kak... mereka tidak tahu saja bang Farrel seperti apa! mereka pasti kaget kalau melihatnya. Biar biji mata nya keluar saat tahu." Nissa terkikik.
Sementara Mac menatap mereka dari spion yang berada didalam.
"Mbak, kita pergi sekarang?" ujarnya menunggu perintah.
Metta menoleh, "Ah iya Mac, maaf aku lupa!"
Metta tidak perduli omongan orang-orang di sekitar rumahnya, toh mereka tidak tahu. Saat ini hanya kerinduanlah yang menyerangnya dengan bertubi, hingga dia enggan memikirkan hal yang lain.
Mac melajukan mobilnya ke sekolah Nissa, tak lama kemudian mobil berhenti tepat disekolah Nissa, dia turun setelah menyalami kakaknya. "Kak aku pergi yah,"
__ADS_1
"Hati-hati yaa... inget pulang nya langsung kerumah!"
"Iya, lagian mau kemana? pasti pulang bareng bang Andra, dan harus menunggu disekolah."
Nissa turun dari mobil dengan kesal. "Lagi pula aku tidak bisa main kemana-mana."
Mobil pun kembali bergerak, mereka segera kekantor. Jam semakin bergerak dengan cepat, ditambah jalanan yang mulai merayap. Metta hanya menatap jalanan dari kaca jendelanya.
Bangunan-bangunan yang kerap dia lihat setiap hari, tidak ada yang berubah. Hingga mobil terhenti dilampu merah, sekilas dia melihat bangunan yang tengah dalam tahap pembangunan,
"Sejak dulu gedung ini masih tahap pembangunan, tapi tidak selesai-selesai," gumamnya lalu kembali menatap ponselnya. Mengirim pesan dengan Dinda yang membuatnya terkikik.
"Dasar aneh... selalu melakukan hal-hal gila."
Hingga panggilan telepon dari Farrel, dengan tersenyum Metta mengangkat sambungan teleponnya.
"Kakak, kenapa lama sekali membalas pesanku? apa kakak sedang sibuk, atau kakak sedang membalas pesan orang lain selain aku?"
"Apa sih El, langsung marah- marah aja. Bukannya seharusnya kamu itu tidur El, bukankah disana ini sudah tengah malam."
"Kakak sedang apa?"
"Tidur El ini sudah malam!"
"Kakak selalu mengalihkan pembicaraan, aku akan mengganti menjadi panggilan video, tunggu sebentar!"
Benar saja, layar menggelap, seketika ponsel yang masih berada di genggamannya berdering kembali dengan panggilan Video.
Membuat Metta terkikik, "Dor...." ucap nya saat wajah Farrel dan wajahnya bertemu.
"Kakak sama siapa?"
"Sama orang El ...."
Farrel yang berbaring melonjak sampai terduduk, "Siapa orangnya? mana aku ingin melihat wajahnya."
Mac yang tengah menyetir pun menggelengkan kepalanya. Sementara Metta terkikik dengan menutup mulutnya.
Farrel merengut saat dia mengenali kursi penumpang dari mobil yang dikemudikan oleh Mac.
"Jangan tertawa kak, kakak malah membuat aku tidak bisa tidur!"
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen nya. Terima kasih atas semua dukungannya.❤