
"Bagaimana Lan?"Ucap Arya yang baru saja datang.
"Berhasil yah, sangat memukau. Bahkan diluar ekspetasi kita"
"Benarkah?"
"Tentu saja, apa ayah ingin lihat rekamanannya."
Arya mengangguk, mencondongkannya pada macbook yang dibawa Alan. Dia terlihat manggut manggut dan menyinggungkan senyum di bibirnya. Serta mata yang kini berkaca kaca karena terharu.
"Terima kasih nak, sudah membantu dia melalui proses demi proses."
"Tak apa Ayah, itu sudah menjadi tugasku"
"Lalu bagaimana dengan bunda?"
"Memangnya ada apa denganku Lan?"Ayu tiba tiba datang dari arah belakang mengagetkan Alan.
Alan menggaruk tengkuknya pelan "Ternyata bunda juga ikut"
"Tentu saja, ini semua karena ulah Ayah. Membuat bunda kerepotan begini"
"Bunda sudah tidak tahan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi."
"Tahan ya sayang, tidak akan lama lagi kok"
"Setelah itu bunda bebas melakukan apapun yang bunda mau dengan perempuan itu"
Alan berseringai dengan penuturan Arya" pasti sangat menyenangkan bun"
"Iya tapi kapan?" Ucap Ayu tersungut.
.
.
Metta menunggu Farrel ditempat yang Farrel katakan, dia mengotak ngatik ponsel yang dia pegang, berselancar di sosial media, menggulir tak karuan. Isi kepalanya penuh oleh pertanyaan pertanyaan yang akan dia tujukan pada Farrel saat nanti. Kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu, semua sudah tersusun rapi dalam benaknya.
Hingga sepasang tangan menutup kedua matanya dari belakang, membuat dia sontak kaget. Dengan cepat menoleh kan kepala melihat arah belakang, namun Metta kini malah terperangah, melihat penampilan yang berbeda dari orang tersebut. Terlihat lebih dewasa, tubuhnya yang tegap dibalut dengan memakai jas lengkap.
"Astaga, kau membuatku jantungan"
"Aku kangen kakak"
Farrel menarik tubuh Metta kedalam pelukannya. Sementara dia masih terperangah
"Hentikan, kamu tidak malu, orang orang melihat ke arah kita"
" Kakak kangen tidak?"
"Kau tahu, aku membenci orang yang berbohong"
Farrel terhenyak, "Siapa yang berbohong pada kakak?"
"Apa ada yang membuat kakak terluka?"
"Apa Faiz mengganggu kakak saat aku tidak ada?"
" Kalau iya akan kubuat perhitungan dengannya"
"Siapa kak?" Farrel memberondong Metta dengan pertanyaan-pertanyaannya, membuat Metta melupakan pertanyaan yang tadi sudah tersusun rapi dibenaknya.
"Kau" Metta menatap Farrel dengan tajam.
"Aku?"Menunjuk dirinya sendiri.
"Apa yang aku lakukan?"
"Kamu yang membohongiku, sama seperti kebohongan kebohongan yang kamu lakukan dari awal"
"Apa maksud kakak?"
__ADS_1
"Kau FARREL ADHINATA kan?" Farrel mengangguk.
"Pemilik tempat aku bekerja!!"
Farrel terhenyak, "Ak..kuu.." menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau membohongiku, aku sudah mengetahui semuanya" Metta beranjak dari duduknya, tapi Farrel mencekalnya.
"Dengarkan aku dulu ka, aku bisa jelaskan?"
"Aku tidak ingin mendengarkan apapun dari mulut pembohong sepertimu, lepas" Metta menghentikan tangannya.
"Tidak sebelum aku jelaskan"
"Lepas, kau tidak mendengarku"
"Inilah yang aku takutkan jika kakak mengetahuinya"
"Jadi kau memilih berbohong begitu?"
"Apa yang kau inginkan dariku hah?"
"Semua laki laki sama saja" Metta berlalu meninggalkan Farrel.
Farrel mengejar Metta yang berlari begitu saja
"Sial, kakak kenapa cepat sekali larinya"
Farrel terus mencari sepanjang jalanan yang mulai terlihat ramai, banyak orang berlalu lalang memudahkan Metta menghindar dan bersembunyi di balik sebuah tembok.
Farrel mencari Metta, merogoh ponselnya dari saku lalu mendial nomor kekasihnya itu. Sementara Metta yang tengah bersembunyi sontak gelagapan karena ponselnya berdering. " Astaga bodoh sekali"
"Ternyata kakak bersembunyi disini" ucap Farrel dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
Metta memejamkan mata lalu berdiri "Sial malah ketahuan"
"Ayo ikut denganku, kita bicarakan baik baik"
Farrel mengulurkan tangan nya pada Metta, Metta hanya memandang tangan Farrel dengan tajam dan menyorotinya lalu menghempaskannya.
Mereka akhirnya duduk disebuah kursi taman yang tidak jauh dari sana.
"Aku akan menjelaskan semua nya, tapi kakak tidak boleh lari seperti tadi"
"Tergantung"
"Memang benar aku adalah anak dari pemilik perusahaan tempat kakak bekerja, tapi itu perusahaan ayahku, bukan perusahaanku"
"Sama saja"
"Aku tidak berbohong pada kakak"
"Lalu yang kamu lakukan itu apa? bermain tebak kata?"
"Kakak jangan selalu menyela, dengarkan aku dulu"
"Terserah"
"Kakak menggemaskan sekali"
"Sudahlah tidak usah merayuku"
"Iya memang benar, aku memang tidak berbohong. Aku hanya belum mengatakannya pada kakak"
Metta yang bersidekap tangan menoleh pada Farrel yang sekarang tengah tersenyum melihatnya.
"Astaga, bagaimana aku bisa marah" Metta memejamkan matanya.
"Kakak tau bukan berbohong dengan belum mengatakannya adalah hal yang berbeda, artinya saja berbeda."
"Kakak yang selalu menarik kesimpulan sendiri atas dugaan kakak bukan"
__ADS_1
"Jadi disini aku yang salah, begitu"
"Kenapa kamu tidak langsung mengatakannya, kenapa hanya membiarkan aku dengan pradugaku?"
"Karena kakak selalu bilang tidak perduli bukan"
"Astaga, jika aku mengatakan tidak peduli, tidak lantas aku benar benar tidak peduli kan"
Metta memejamkan matanya kembali
"Kamu pintar berbicara"
"Apa kakak lupa aku selalu mengatakan pada kakak puluhan kali bahkan ribuan kalinya
"Percaya hanya padaku"
"Iya dan kamu yang membohongiku"
"Astaga, Kakak"
"Aku memang akan mengatakannya pada kakak saat tiba waktunya, saat aku sudah bisa berdiri diperusahaan itu dengan kerja kerasku, tanpa embel-embel ayah maupun nama kakek dibelakangku"
"Untuk itu aku selalu bilang padamu kak, tunggu aku, tunggu aku kak. Karena aku melakukan semua ini karena kakak, kakak yang mengubah pemikiranku, mengubah semua keraguan ku dan kakak yang membuat aku semakin yakin."
"Kakak juga yang membuat aku semakin berfikir dewasa, memikirkan banyak hal, membuat aku semakin bulat membuktikan diri pada perusahaan"
"Aku melakukan semua itu untuk kita"
Metta terdiam mendengarkan bocah itu berbicara, ada perasaan haru dalam hatinya. Merasa Farrel menganggap dirinya istimewa. Setidaknya dia sudah membuktikannya, memperjuangkannya dihadapan bunda nya saja sudah membuatnya merasa istimewa apalagi melakukan semua yang dia katakan.
Farrel menatapnya dengan intens, membuat Metta melihat kedua manik coklatnya itu dengan leluasa, seakan menyelami apa ada kebohongan disana.
"Apa yang aku katakan benar, semuanya sudah aku katakan, bahkan aku katakan semua ini hanya pada kakak"
"Kakak boleh percaya boleh tidak, terserah kakak, tapi aku bersungguh sungguh dengan semua ucapanku"
"Kakak juga boleh tanya pada Alan"
"Siapa, Alan maksud mu Pak Alan? manusia manekin itu" Farrel mengernyit.
"Pppfftt,tidak terima kasih. Aku tidak akan menanyakan padanya"
"Lalu apa kakak percaya padaku?"
"Iya aku percaya padamu, dengan satu syarat" Metta mengacungkan jari telunjuknya.
"Apapun yang kakak minta"
Farrel meraih telunjuk Metta dan menggenggam tangannya, kemudian memasukkannya disela jari jari nya.
"Katakan semuanya, dengan kejujuran"
"Tanpa ada yang ditutup tutupi lagi"
Farrel mengangkat tangan Metta lalu menciumnya "Yes, I'do"
"Jadi kita berbaikan?" Metta mengangguk.
"Kakak tidak lagi marah padaku" Metta menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Terima kasih" Farrel mendekap tubuh mungil itu.
"Setelah ini, mungkin aku tidak punya banyak waktu untuk memeluk kakak.
.
.
Sekalian Promo..wkwk
__ADS_1
Jangan lupa like, komen yaa dan dukung terus karya receh ini.
Terima kasih juga buat yang selalu dukung aku,😘