
Metta membuka pintu apartemen dengan tersungut, pasalnya, setelah kejadian tadi, dia menghabiskan semua menu seafood sendirian.
Dan alhasil dia mulai gatal-gatal karena terlalu banyak makan seafood itu.
Dan Farrel hanya cengengesan, menyebalkan.
"Maafin aku kak, aku memang tadi mau makan semuanya, tapi begitu sudah ada, dan menyuapkannya di mulut, aku sudah tidak berselera."
"Seperti orang hamil yang sedang ngidam saja kamu ini!"
Farrel membulatkan kedua bola mata, "Hah ... kakak hamil?"
Dia lantas mencondongkan tubuhnya, dengan menempelkan telinganya di perut Metta, Metta sendiri mengernyit,
"Apa yang kau lakukan? Aku belum hamil!" ujarnya dengan menyugar rambut Farrel.
Farrel kembali berdiri tegak, "Aku kira kakak hamil, kenapa bilang aku ngidam?"
"Iya aku bilang seperti, habisnya kan kamu aneh!"
"Memangnya ciri-ciri orang hamil, suaminya jadi aneh yaa?" tanya Farrel.
Metta berlalu ke kamar, dia menyimpan tas kerja milik Farrel dan juga miliknya, sedangkan Farrel menyusul nya dari belakang.
"Enggak tahu juga, cuma ada juga suaminya yang aneh, atau suaminya yang ngidam, apa yaa istilahnya, aku lupa ... tapi pokoknya ada, yang justru suaminya yang merasakan ngidam." sahut Metta dengan membuka lemari dan mengambil baju tidur untuknya dan untuk Farrel.
Farrel terlihat mengagguk-anggukan kepalanya,
"Iya juga sih, banyak juga yang begitu, tapi Doni enggak ya!"
"Hah....!"
Metta tampak tercengang, "Doni...?Kenapa?"
Farrel pun menceritakan semuanya pada Metta, membuatnya terhenyak bahkan mulut nya menganga tak percaya.
"Pantas saja aku dan Dinda sempat melihat mereka... kasian Doni,"
"Kok malah kasian, mereka berdua salah kok, tidak saling mengingatkan, tidak seperti kakak yang selalu mengingat kan aku, ujarnya dengan merengkuh bahunya, mereka saling menatap, dengan mesra.
"Aku mau mandi, badanku gatal-gatal semua!" ujar Metta dengan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku boleh ikut?" ujarnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Metta membulatkan matanya, "No ...."
Farrel terkekeh, dia memilih keluar dari kamar, menuju dapur.
__ADS_1
Tak lama kemudian dia kembali ke kamar dengan membawa obat dan juga segelas air. Lalu kembali masuk ke dalam kamar.
"Sayang minum dulu obatnya," menyerahkan obat pada sang istri yang tengah menyisir rambutnya.
Metta menerimanya, "Obat apa ini?"
Farrel mengambil sisir dari tangan Metta, "Obat alergi, bisa mengurangi rasa gatal," ujarnya dengan mulai menyisiri rambut Metta.
"Selesai!"
"Aku mandi dulu...."ujarnya kemudian.
Tak lama kemudian
Farrel keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk nya saja, membuat Metta menelan saliva dan burru-buru mengalihkan pandangannya.
Farrel terkekeh, "Kalau mau lihat, ya lihat saja ... udah sering lihat juga!"
"Farrel...iih!"
Dengan sengaja mondar-mandir di depannya, entah itu mengambil sisir, lalu menyimpannya kembali, entah itu menyemprotkan parfum, body lotion dan eehhh.
"Farrel, kamu ngapain? Mau kemana sih, centil banget."
"Cepat pake bajumu, astaga!"
Farrel tiba-tiba mencebik, dia kesal dan dia menghampiri ranjang, bukan nya naik, namun dia malah membawa bantal, dan pergi ke luar kamar.
"Sayang kenapa sih, kok mah tidur di sini?" ujar Metta yang menyusul nya.
"Gak apa-apa, aku hanya ingin di sini saja!"ujar Farrel.
"Kamu marah?"
"Enggak siapa yang marah? Tapi aku juga gak tahu, kok aku sensitif banget,"
"Ya udah ayo, tidur di kamar!" ujar Metta menarik tangannya.
"Tapi aku mau....?"
"Apa...?"
Farrel menaik turunkan kedua alisnya, dan menyusupkan tangannya.
"Farrel ih, ayoo!"
Farrel kembali ke atas dengan senyuman di bibirnya, Metta hanya bergeleng kepala.
__ADS_1
"Sayang, inget gak waktu pertama kali kita bertemu?"
"Huum... gimana mau lupa, kamu kan nyebelin!" ujar Metta dengan mulai menguap.
"Kok, nyebelin, aku malah lagi tampan-tampannya lho itu!"
"Ooohh yaa...."
Farrel menyusup kan tangan di punggung Metta, dan menyisirnya lembut, "Dari dulu kakak menggemaskan!"
"Tentu...." jawab Metta dengan sedikit melemah.
Farrel perlahan membuka pengait benda bulat, "Sayang...."
"Huummm...."
Farrel menyusupkan kepalanya di ceruk leher, membuat sentuhan-sentuhan yang memancing gelanyar-gelanyar aneh.
"Sa--sayang...."
Metta membalikkan tubuhnya menghadap Farrel, dengan leluasa Farrel mere mas kedua benda dan mencecapnya bak bayi ke hausan, dengan satu tangan yang memilin benda yang satunya lagi.
"Eeeuuhhggh..."
Metta mengerang lemah, namun kedua matanya terasa amat berat untuk terbuka.
"Sa--sayang...."
Tidak ada jawaban, hanya hembusan nafas lembut dari sang istri. Membuat Farrel mengenadahkan kepalanya, menatap sang istri yang tengah terlelap.
"Sayang astaga...."
Dia mengurungkan niatnya yang sudah mulai naik hingga mencapai ubun-ubun. Rasanya ingin kesal dan marah, namun melihat wajah menggemaskan Metta membuatnya benar-benar lupa.
"Kakak malah tidur, ini gara-gara obat alergi itu? Harusnya aku memberikannya setelah melakukan itu...." ujar nya dengan berdecak.
Akhirnya Farrel tidak bisa memejamkan kedua matanya, rasa kantuk tiba -tiba hilang begitu saja, kemudian dia menatap wajah Metta yang tengah terlelap begitu damai, mengamati setiap inci wajahnya, dia masih belum percaya jika mereka akhirnya menikah, mengingat bagaimana kerasnya dia memperjuangkan cintanya, menyakinkan padanya bahwa cinta yang dia punya lebih besar dari pada yang dia tahu.
Farrel menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Metta, kecuali kepalanya, dia mendekap nya, namun sesaat dia meletakkan kembali kepala Metta di bantal, entah kenapa aroma shampo dari rambut Metta terasa berbeda, dan itu mengganggu indera penciumannya.
Dia lantas ke kamar mandi dan melihat shampo yang sebelumnya Metta gunakan,
"Sama kok, tapi kok wangi nya beda!"
.
.
__ADS_1
Hari senin nih, jangan lupa vote, gift yaa,, hihi
Maaf kalau gak jelas. ❤