
"Sayang ayo bangun, kamu ke kantor kan hari ini?" ujar Metta yang baru masuk ke dalam kamar setelah menyiapkan sarapannya.
Namun Farrel masih bergelung dibawah selimut.
Astaga, aku kira dia sudah bangun.
"Sayang, ayo bangun!" menepuk-nepuk pelan pipinya.
"Eeeumm...."
"Hei ... El? Ayo nanti kita terlambat," Metta duduk sitepi ranjang, menangkup kedua pipinya dengan tangannya.
"Astaga El, badan kamu panas! Kamu sakit?"
"Sedikit sayang, gak apa-apa!"
"Gak apa-apa gimana, udah jelas kamu ini sakit, aku telepon dulu Mac, kita ke rumah sakit yaa,"
Farrel menarik tangan Metta yang hendak berdiri, "Gak usah ke rumah sakit, aku gak mau,"
Metta pun kembali terduduk, "Lantas kalau tidak ke dokter, kita panggil dokternya ke sini yaa?" ujar Metta kembali mengusap rambut Farrel.
"Aku gak mau, aku maunya peluk aja," Farrel melingkarkan tangannya sempurna dipinggang Metta, dengan kepala yang menyusup di perutnya.
Metta menghela nafas, dia menghubungi Mac untuk segera datang, khawatir jika terjadi sesuatu dan harus segera ke rumah sakit, namun Farrel kembali terlelap dalam posisi kepala di paha Metta.
"Sayang, Mac ada didepan! Aku mau bukain pintu."
"Eehhmmm...." gumam Farrel yang semakin merekatkan pelukannya.
Metta bahkan belum berganti baju, dia masih memakai baju untuk pergi ke kantor, semangat Mac yang sudah dihubungi pun hanya bisa menunggunya di depan pintu.
Metta menuliskan pesan dan memberikan nomor password pada Mac, agar dia bisa masuk kedalam. Sementara suhu tubuh Farrel semakin tinggi, membuat Metta ikut kegerahan, namun Farrel enggan melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggangnya.
"Sayang, aku mau mengambil minum,"
"Gak usah, kakak diam saja di sini!"
Mac masuk dan mengetuk pintu, dengan dokter Frans yang datang bersamanya.
"Om...." sapa Metta.
"Ada apa dengan suamimu? Sudah seperti keong yang menempel di tembok saja begitu!"
Metta mengatupkan bibirnya, "Gak tahu Om, sejak pagi begini terus, aku sudah pegal, kaki juga sudah kram ini!"
"Om dari rumah sakit? Kok tahu Farrel sakit?" ujarnya kemudian.
"Siapa lagi kalau bukan Alan yang memintaku kesini, marah-marah pula," ujarnya lalu mendekat ke arah Farrel.
Metta menatap Mac, dia hanya diam diambang pintu dengan mengotak-ngatik ponselnya, sudah dipastikan Mac yang mengatakan pada Alan.
"Ayo Om periksa dulu, anak manja!" ujarnya dengan menepuk bahu Farrel.
Namun Farrel tidak bergeming, dia terus menyusupkan kepalanya di perut sang istri.
"Bagaimana mau diperiksa, kau ini tidak kasian sama istrimu, lihat kakinya membengkak, bagaimana nanti jika istrimu ini sakit juga." kelakar Frans.
Benar saja, Farrel menggeser tubuhnya sedikit, memeluk guling hingga Metta dapat bernafas lega, kemudian beranjak berdiri untuk meregangkan otot kakinya yang terasa kebas.
"Sayang...sini!" ujar Farrel dengan tangan menggapai udara.
Frans berdecak, "Manja banget sih! Istrimu tidak akan kemana-mana, tidak akan mungkin juga bisa kemana-mana!"
Farrel mendelik, "Apa sih Om...."
"Aku mau buat bubur dulu untukmu ya, biar kamu diperiksa dulu sama Om Frans."
__ADS_1
"Suruh Mac yang membuatnya, kakak disini saja, temani aku!" ujarnya dengan suara serak.
Metta menatap Mac yang tengah membulatkan kedua matanya.
"Sini...." ujarnya menepuk ranjang disampingnya.
Metta menghela nafas, "Tapi aku ganti baju dulu yaa, sebentar saja."
Farrel mengangguk, Frans mulai memeriksanya, cek suhu tubuh, memeriksa lidah dan kedua matanya.
"Apa yang kau rasakan?" tanya nya.
"Pusing, tidak kuat bangun, maunya dipeluk-peluk."
"Kau ini!"
Frans menelan ulu hatinya pelan, "Ini sakit?"
Farrel menggelengkan kepalanya, Frans kemudian menekan perutnya.
"Kalau ini?"
Farrel juga menggeleng,
"Merasa mual tidak?"
"Gak ada, hanya merasa ingin selalu berdua."
ujarnya dengan suara serak dan kedua mata tertutup.
"Astaga, jawab yang benar El...."
"Kau hanya kelelahan, suhu badan mu sedikit tinggi tapi tidak usah khawatir. Kau hanya butuh istirahat saja." ujarnya lagi
Farrel mengangguk lagi, Metta yang baru kembali dari ruangan walk in closet menghampiri Frans yang tengah duduk di sofa menghadap Farrel, dia tengah menuliskan resep obat untuknya.
Metta mengangguk, walau Frans tentu saja tidak melihatnya.
"Kalau nanti malam suhu tubuhnya kembali panas, berikan obat yang ini saja!" tunjuknya pada catatan resepnya.
"Nanti Om suruh Mac menyiapkan nya, kamu tidak usah khawatir ya! Penyakitnya yang tidak seberapa, tapi manja nya yang luar biasa, kamu pasti sudah tahu,"
Metta mengangguk, dia memang tahu, tapi baru kali ini melihat sikap Farrel yang super manja jika sakit, bahkan untuk melangkah ke dapur saja, dia melarangnya.
"Om pergi dulu, kalau ada apa-apa segera hubungi Om yaa!" ujar Frans yang membereskan peralatannya kedalam tasnya.
"Terima kasih Om...."
Frans mengangguk, dia lantas keluar kamar di susul oleh Mac yang mengantarkannya sampai pintu keluar.
"Mac, kau tidak ke kantor?"
"Tidak tuan, Mas Alan melarangku meninggalkan apartemen ini, dan menjaga Mas Farrel, takutnya istrinya kewalahan jika sendirian saja!" jawab Mac datar.
"Benar juga, selama ini tidak ada yang bisa menghandle dia jika sakit! Bahkan ibu sendiri,"
"Saya sudah memberi tahu nyonya besar dan tuan besar, mungkin sebentar lagi mereka datang."
"Baguslah! biar mereka bergantian menjaganya, dia akan merepotkan semua jika sakit!"
"Aku pergi Mac, hubungi nomorku langsung jika terjadi sesuatu, jangan pada Alan, dia itu pemarah! Kau mengerti Mac?" ujarnya lagi dengan telunjuk yang mengarah pada Mac.
Mac mengulum senyum, "Maafkan saya tuan, lain kali saya akan menghubungi tuan langsung."
Frans menepuk bahunya, "Aku pergi dulu."
.
__ADS_1
.
"Bunda ngapain kesini? Aku tidak apa-apa!"ujar Farrel dengan suara yang lemah.
"Aku kesini mengkhawatirkan menantuku, tidak mungkin akan kelelahan saat kau sakit." ujar Ayu yang berdecak melihat sang putra kesayangannya bergelayut manja pada Metta.
Sedangkan Metta hanya tersenyum tipis, pasalnya Farrel terus ingin tidur berbantalkan pahanya, dengan kedua tangan yang memeluk kakinya.
Bahkan bertambah manja setelah menikah, tidak membiarkan istrinya bergeser sedikitpun, dasar anak nakal.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya nya pada Metta.
Metta mengangguk, tangannya bahkan selalu tidak boleh berhenti mengelus kepala Farrel, "Tadi Mac yang menyiapkan."
"Bunda nanti suruh mimah menemani kamu disini, Mac tidak mungkin bisa menyiapkan makan untuk mu, dia tidak bisa memasak! Iya kan Mac?"
Mac mengangguk,
"Tapi aku mau bubur masakan Mac, gak mau mimah!" ujar Farrel kembali menarik tangan Metta yang berhenti sejenak.
Astaga, aku hanya menggaruk lenganku yang gatal,
Arya yang duduk pun bergeleng kepala, "Apa sebaiknya kalian ikut pulang ke rumah utama? Agar bisa bergantian menjaganya?"
Farrel kembali merekatkan pelukannya pada kaki Metta, "Aku tidak mau, aku mau di sini!"
Metta menghela nafas, "Sayang, aku mau pipis dulu."
"Jangan-jangan kau menyuruh istrimu memakai pampers agar tidak bisa kemana-mana?" seru Alan yang baru saja masuk.
Farrel tidak menjawab, namun pelukannya mengurai hingga dia bisa turun dan ke kamar mandi.
Astaga, bisa benar saja apa yang dikatakan Om Frans, sakitnya tidak seberapa, manja nya itu yang luar biasa.
Ayu mendekati Farrel, dia mengusap rambutnya, namun Farrel menepisnya, "Bunda... apaan ah...."
"Ehhh..., kenapa sama bunda malah tidak mau! Kau ini hanya ingin manja sama istrimu yaa!"
Alan berdecak, " Bun, Ayah ... aku kembali ke kantor! Sepertinya dia hanya butuh satu orang saja."
Alan mencium pipi sang bunda lalu pergi begitu saja.
Mau tidak mau Mac memasak bubur, dibantu oleh Ayu yang mengajarinya, walau kesal karena Mac yang kaku saat membuatnya, Ayu pun tidak bisa berbuat banyak, karena lagi- lagi Farrel mengatakan hanya ingin bubur buatan Mac.
.
.
"Sayang, makan buburnya," ujar Metta.
"Aku ingin mandi, badanku rasanya lengket, dari tadi kamu terus memelukku."
"Jadi kakak tidak mau aku peluk? Lalu aku harus memeluk siapa? Mac?" ujarnya dengan mata masih terpejam.
"Ya sudah kalau gitu kamu makan ditemani bunda, aku mandi! biar wangi yaa."
Farrel akhirnya mengangguk, "Tapi jangan memakai shampo yang biasa, wangi nya beda, mungkin sudah kadaluarsa."
"Iya...." ujarnya dengan cepat,
Iya aja deh, dari pada dia berubah pikiran dan melarangku lagi.
Bunda menyimpan nampan berisi mangkuk bubur, lalu duduk ditepi ranjang.
"Ayo makan dulu, bunda suapin ya!"
Farrel menggelengkan kepalanya, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
__ADS_1
"Aku makan sendiri saja bun."