Berondong Manisku

Berondong Manisku
Aksi Tiwi 2 ( Gagal)


__ADS_3

"Oh...Shi't." lirihnya pelan.


Tangan Tiwi semakin naik ke atas bahu, menyentuhnya dengan lembut dan juga bergairah.


"Aku bisa membuat rasa nyaman jika kamu mau, dan juga membuatmu merasa rileks dan mengurangi bebanmu." Tiwi mulai mencondongkan badannya menempel dibelakang kursi, memijat pelan bahu dengan diiringi sentuhan-sentuhan sen'sual yang membuat penasaran.


Sebentar lagi sayang, kita lihat apa kamu mampu menolak?


"Bagaimana? pijatanku enak bukan?" Tiwi mulai berani karena tidak ada penolakan apapun bahkan suara apapun dari Farrel.


Bahkan dia tak mampu mengeluarkan suaranya, benar-benar membuatku semakin ingin mendapatkannya. kita lihat siapa yang akan menang.


Hingga Tiwi semakin berseringai saat tangannya menghangat, bak gayung bersambut Tiwi menautkan tangannya dengan tangan Farrel, menjalarkan rasa panas diseluruh tubuhnya. Bulu- bulu meremang seketika, dan gairah bergejolak saat itu juga.


Merasa lawan mainnya menyambutnya dengan baik, Tiwi semakin mengencangkan tangannya, menyentuh dengan sen'sual yang memancing gelanyar-gelanyar aneh baginya maupun lawannya.


Semakin lama kamu membuatku penasaran, semakin aku ingin memiliki tubuhmu, dan mencumbunya saat ini juga.


"Apa kamu tidak keberatan?" ucapnya lembut.


Tangan Tiwi mulai merambah ke kepala, memijat lembut kulit kepala dan juga mere'mas lembut rambutnya, lalu Tiwi mulai menyentuh telinga bagian belakang, turun menyusuri leher dengan lembut, membuat tubuhnya semakin meremang. Terdengar suara berat yang tercekat, Tiwi kembali berseringai.


Astaga wanita ini sungguh tidak tahu malu, terang-terangan menggoda seorang pria seperti ini, kamu salah orang nona, mau bermain-main denganku rupanya.


"Kau ingin membuatku penasaran ya?"ucapnya semakin mendekatkan tubuhnya.


Tiba-tiba kursi bergerak memutar, hingga Tiwi mundur tiba-tiba karena gerakan yang mendadak dari lawannya. Tangannya ditarik hingga dia terhuyung kedepan, tepat menabrak dadanya.


"Sedang bermain-main dengan siapa hem?" Ucap Doni dengan seringaian licik.


Tiwi terperangah, "Kau?" namun terlambat untuknya bangun, Doni menarik tengkuknya lalu melu'mat kasar bibir Tiwi. Doni yang sudah dikuasai na'fsu tidak peduli dengan Tiwi yang mulai meronta dan berusaha melepas pagutan di bibirnya.


Dengan rakus Doni melahap bibir sen'sual milik Tiwi, posisi Tiwi yang sedikit membungkuk memudahkan Doni menarik pinggangnya hingga terjatuh dipangkuannya. Sementara satu tangannya dia pakai untuk menahan tengkuk Tiwi yang semakin meronta.


Doni kehilangan akal, kedatangan Tiwi yang tiba-tiba dan memancing has'ratnya membuat dia ingin melahapnya habis. Tiwi meronta, namun tenaganya tak sebanding dengan Doni yang tengah dikuasai na'fsu. Bibir sen'sual itu dia gigit dengan gemas, membuat Tiwi semakin meronta, namun juga mende'sah


Tangan Doni menjalar kedalam, menyusup diantara celah kemeja yang Tiwi kenakan. Membuat Tiwi menahan lengguhan yang hendak keluar. Tak sampai situ, Doni mengecup leher Tiwi hingga meresapnya, meninggalkan titik-titik merah disana.


"Bukankah tadi kau ingin membuatku nyaman? hem..." Ucap Doni licik.


"Brengsek, lepaskan aku!"


Doni melepaskan kaca mata dari pangkal hidung Tiwi, "Maaf, tidak semudah itu nona!" ucapnya kemudian kembali melahap bibir seksi yang semakin sen'sual akibat ulahnya.

__ADS_1


Tangan Doni yang berada di celah kemeja kian menyusup, memintir sesuatu yang ada didalam sana, Tiwi kian meronta, namun juga menahan has'rat yang ingin dia kendalikan. Dengan kepalanya yang tiba- tiba berdenyut, Tiwipun menginginkan lebih.


Tiwi yang memang tidak aneh melakukan one night stand dengan pria kini jatuh dalam perangkapnya sendiri. Semakin dia meronta, semakin kuat tenaga Doni menahannya.


Sukses memintir sesuatu didalam sana, kini Doni menyusuri perut rata Tiwi, bermain- main sebentar disana, kemudian turun ke area paha. Meski kesulitan karena rok sepan yang ketat, dia tak hilang akal, Doni bermain-main dibalik kain penutupnya. Memainkan jari jemari yang sengaja dia gerakan dengan gemulai. Dengan keahliannya dalam mengusai kode-kode game, hal ini tentu sangatlah mudah baginya.


Membuat kepala Tiwi semakin berdenyut, namun bukan seperti ini rencana Tiwi.


Sial, ini sangat memabukkan, aku tidak tahan, pria ini pintar bermain, membuatku melambung. Tapi aku tidak bodoh. kalau aku terjerat dengannya, maka rencana ku akan berantakan.


Aaahhh


Sial.. lagi- lagi dia tahu kelemahanku, astaga aku sudah tidak kuat.


Doni ingin membuatnya menyesal, karena memancing dirinya sedemikian rupa. Sesuatu yang menegang dibawah sanapun meronta dengan satu tujuan.


Tenaga Tiwi terlihat semakin melemah, tubuhnya melandai tanpa ada pemberontakan lagi. Doni semakin berseringai, melihat Tiwi yang akhirnya menyerah. Lalu dia menghentikan gerakan jari di balik kain penutupnya.


"Kau menginginkannya bukan?"


Tiwi memejamkan matanya, lalu mengangguk.


Doni semakin berseringai licik.


"Maaf tapi aku sudah tidak ingin melanjutkan permainan ini lagi."


"Uupps, maafkan, aku tak sengaja!" Doni mengulurkan tangannya.


Namun Tiwi menepisnya dengan kasar. Lalu beranjak berdiri dan membenahi roknya yang sudah tersingkap keatas. Menyorot tajam pada Doni dengan kebencian yang amat sangat.


Doni berdiri, mendekatkan wajahnya kedepan, "Kita akan bermain-main lagi lain kali!" lalu mengedipkan satu matanya ke arah Tiwi.


"Apa kau mau aku membantumu mengancingkan baju mu?" tatapan Doni beralih pada kemeja bagian atas yang sudah berantakan.


Tiwi berlalu dengan kemarahan yang memuncak, membuka pintu lalu menutupinya dengan keras.


Bruk


Sementara Doni tertawa terpingkal. Lalu dia masuk kedalam toilet yang ada disana, menuntaskan has'ratnya seorang diri.


.


.

__ADS_1


Metta yang tidak jadi mengantarkan kopi ke ruangan Farrel berbelok menuju toilet dan merapikan rambutnya.


Drett


Drett


Dia merogoh ponselnya dari dalam saku, membaca pesan masuk.


Kakak tidak perlu keruanganku, aku baru saja keluar, aku akan ke kantor pusat menemui ayah.


"Syukurlah kalau begitu, Tiwi tidak akan bertemu dengannya." Metta terkekeh.


Lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam saku. dan kembali keruangannya bekerja.


Metta baru saja mendaratkan tubuhnya di meja kerjanya, Dinda bergegas menghampirinya,


"Sha, si Tiwi belum keluar dari tadi!"


Metta mengerdikkan bahunya, "Biarkan saja! biarkan dia melakukan apapun sekehendaknya."


Dinda menarik kursi rekannya, hingga mereka duduk berhadapan.


"Hei, Din aku mau duduk! gimana sih, maen tarik aja!" Ucap rekan mereka saat Dinda menarik kursi miliknya.


"Ambil kursi punyaku! jangan cerewet," ucap Dinda begitu saja.


Hingga rekan mereka mengalah dan tidak ingin mencari ribut dikantor, dia memilih kebelakang dan mengambil kursi milik Dinda.


Tak lama kemudian Tiwi keluar dari ruangan Farrel, dengan wajah yang dia tekuk dan rambut yang tak beraturan.


"Sha ..." Dinda menyenggol lengan sahabatnya.


Metta mengikuti arahan Dinda, menatap Tiwi yang berjalan menuju mejanya dengan wajah yang sulit diartikan.


"Kenapa dia?"


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran karena itu membuat Author receh ini tambah semangat. Tapi jangan loncat loncat dong yaa klik like nya.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.

__ADS_1


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini


Terima kasih buat semua dukungannya


__ADS_2