
Disini lah aku berdiri sekarang, menatap gedung tinggi dan besar tempat pertemuan juga perpisahan, menggantungkan harapan namun menerbangkan asa hingga nun jauh kesana. Melihat punggung orang -orang yang membawa sejuta doa serta berbagai harap di bahunya.
Melihat wajah berseri orang-orang yang datang membawa jerih dan buah kesabaran dan juga doa dari orang terkasih, serta menggenggam kemenangan.
Aku, berdiri disini mengantarkan lelakiku, meraih citanya dengan sejuta ikrar dari hatiku, kubebaskan dianya dengan segala keyakinan, melambungkan angan yang telah ku ukir sedemikian rupa, hingga memuai bersama angin yang membawanya terbang.
Wahai hati, bertahanlah sekali lagi. Yakinlah, dia adalah raga dimana engkau bersemayam nanti. Dan yakinlah, kau adalah tulang yang menggenapkan rusuknya.
Wahai lelakiku, kutitip kan seluruh hatiku, seluruh cintaku padamu. Hanya padamu. Bait yang kutulis hanya dalam hati.
^Mettasha Kalyna^
.
"Hei sayang , kenapa hanya diam saja? hem..." Ucap Farrel dengan menautkan jari nya.
"Tidak... aku hanya sedang melihat orang-orang disana!" Metta menunjuk lalu lalang orang dengan dagunya.
"Jangan bilang kakak sedih aku pergi, aku bisa membatalkannya, jika kakak mau!"
Metta menggelang, "Tidak, aku tidak seegois itu El. Pergilah ... bukankah kamu ingin membuat gedung pencakar langitmu sendiri?"
Farrel mengangkat 3 jari ke arah Metta, "3 bulan... beri aku waktu 3 bulan, aku akan pulang dengan membawa keberhasilanku. Dan saat itu akan ku berikan seluruh dunia untukmu." kelakarnya.
Metta menutup mulutnya, "Wow, seluruh dunia ya!"
Farrel mengangguk, Metta melipatkan 3 jari Farrel yang masih menggantung, "Aku tidak mau seluruh dunia, saku ku tidak akan muat!"
"Kalau gitu apa yang kakak minta jika aku pulang?"
Metta berpura-pura berfikir, "Eemmpphh... Apa yaa? kira-kira,"
Farrel mengjimpit dagunya, "Sudah ku duga ..."
"Apa? Aku bahkan belum mengatakan apapun!"
"Kalau tebakanku benar, kakak harus mencium ku disini! Deal...?
Metta mengerdikkan bahunya, "Tidak mau... kau selalu saja begitu!"
Farrel membisiki telinga Metta, dengan menarik kepalanya ke samping, "Kakak pasti akan merindukanku setengah mati, dan saat kakak pulang, kakak akan mengurung diri dan menangis,"
Metta terkekeh, "El, hentikan! ayah dan bunda ada dibelakang kita!" seru Metta, Farrel hanya terkekeh.
__ADS_1
Aku benar-benar akan merindukanmu, tinggal konyolmu yang selalu mewarnai hari ku El.
"El ... ya ampun!" sela Ayu saat melihat anak nakal ya itu berulah di depan umum.
Farrel menghadap tubuh metta, "Sayang aku belum pergi, tapi rasanya aku sudah merindukanmu,"
"Sudah sana, masuk! Nanti kau terlambat take off," ada yang menganak diujung matanya.
"Mereka sangat manis ya Yah, bunda jadi ingat masa lalu," Ucap Ayu dan Arya hanya mengangguk.
Mereka terus berjalan, sesekali Metta mengerlip-ngerlipkan matanya, menahan bulir yang kian menganak agar tidak tumpah.
Farrel berdecak, "Menangislah, kenapa harus ditahan-tahan,"
"Si-siapa yang menahan? siapa yang menangis?" Metta mendongkakkan kepalanya.
Hingga Farrel masuk ke Gate penerbangan, dia menarik tubuh Metta kedalam pelukannya. Metta pun menangis tersedu.
"Dasar kakak, sudah kubilang tidak usah menahannya!"
"Tidak, sudah sana pergi! semakin lama malah semakin terlambat."
Farrel meregangkan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Metta, "Jangan sedih, aku pasti kembali! atau, kakak bisa datang menemuiku,"
"Jaga mereka untukku," Farrel terkekeh membuat Metta ikut tertawa.
"Tidak kau suruhpun aku akan menjaganya dengan baik, mereka yang kau sebut itu wajahku, dasar!"
Membuat Ayu dan Arya menggelengkan kepalanya, sedari tadi mereka hanya mengekor dibelakang.
Akhirnya Metta hanya melihat punggung Farrel yang semakin jauh, dan menghilang.
"Kamu bisa menyusulnya kalau kamu mau Sha, nanti kamu tinggal bilang pada kami yaa," ucap Ayu yang mengusap bahu Metta.
"Terima kasih bun," ucap Metta.
Tak lama dia kembali kerumah, setelah menyalami ibunya, Metta langsung masuk kedalam kamarnya, melemparkan tubuhnya ke dalam kasur kemudian menangis sejadinya.
.
.
Gedung Utama PT Adhinata Group
__ADS_1
Brak
Tiwi meletakkan tumpukan berkas diatas meja dengan kasar, pekerjaannya semakin berat semenjak dia di promosikan dan pindah tugas, bukannya jadi lebih ringan,namun malah sebaliknya.
"Sialan, aku kira setelah aku pindah kesini pekerjaan ku akan lebih enak, ini malah semakin menumpuk saja!Sampai aku tidak sempat sekedar menatap ponsel!!"
Tiwi mendudukkan bokongnya diatas kursi kerja nya.
Dengan wajah yang ditekuknya, Tiwi mengerjakan berkas-berkas itu. Dengan tersungut-sungut dia menginput data kedalam komputernya.
"Wah, ada yang kesel nih! Kenapa? cape yaa..." ucap Doni yang melintas lalu berlalu begitu saja.
Tiwi mendelik kearah Doni, lalu kedua bola matq itu mengikuti langkah Doni yang masuk kedalam ruangan Farrel. "Sialan emang orang itu."
"Lagi pula untuk apa aku pindah kesini, sementara Farrel saja tidak ada! yang ada hanya curut itu!" gumamnya.
Doni kembali keluar dari ruangan, dia melewati Tiwi yang masih menekukkan wajahnya. Dia sengaja mendekati meja kerja Tiwi dan mengetuknya sebanyak 3 kali.
tok
tok
tok
"Kalau kerja itu senyum, bayangkan aku ada disetiap berkas yang sedang kau salin itu! dijamin akan cepat selesai."
Tiwi melihat dengan jengah, "Diamlah curut!"
"Kenapa? kau kesal karena targetmu tidak ada ya... Jangan ngarep!"
Doni melangkahkan kakinya, namun dia mundur lagi. "Jangan pernah berulah lagi, kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan!"
Tiwi mengepalkan tangannya, dengan sorot mata yang tajam menatap kearah Doni.
"Kurang ajar!"
.
.
Jangan lupa like dan komen. gift dan vote juga.
Terima kasih untuk semua dukungan kalian,
__ADS_1