Berondong Manisku

Berondong Manisku
Temani aku


__ADS_3

"Jangan pernah sesekali memakai nama orang lain atas perbuatanmu yang tidak baik itu!!"


Sontak membuat keduanya tersentak dan menundukkan kepalanya.


"Maaf bang," lirih keduanya.


"Sudah sana pulang! Dan jangan di ulangi, itu tidak baik. Sama saja kau menambah stigma pria yang sudah di kenal buruk semakin buruk saja."


"Mac antar mereka pulang, pastikan mereka pulang kerumah nya masing-masing."


Mac menarik bibirnya tipis lalu mengangguk, dia berjalan terlebih dahulu lalu disusul oleh Jaka dan Irfan yang baru bangkit dari duduknya.


"Hey ..." seru Farrel dengan menyodorkan tangannya kearah duo rusuh itu.


Mereka menoleh kearah nya, dan melihat tangan Farrel yang masih menggantung.


"Salim ...!!"


Jaka dan Irfan terkesiap dan langsung meraih tangan yang menggantung, mencium punggung tangan Farrel bergantian.


"Sudah sana pulang!"


Jaka dan juga Irfan tersenyum dan kembali berjalan menuju mobil yang sudah dinyalakan Mac, sementara Farrel masih duduk mengelap tangan nya dengan tissu.


"Gue bilang apa, rusuh sih lu," ujar Irfan sambil berlalu masuk kedalam mobil.


"Nyalahin gue sih, kan kalian juga dapat nomornya, bukan gue aja!"


"Diem gak lu, udah salah masih aja, dasar monyet!"


"Iya lu temennya monyet!" Timpal Jaka.


Mac yang bersiap dikemudi pun berdehem, membuat keduanya terdiam dengan tersungut-sungut.


Sementara Farrel masih berada di cafe tersebut,


"Susah juga jadi seorang kakak, apalagi punya adik-adik nakal semacam dua orang itu." gidik Farrel seraya mengotak-ngatik ponselnya.


Tak lama kemudian seseorang datang dengan wajah yang sulit diartikan, menyisir seisi ruangan dengan rahang yang nyaris sempurna kerasnya. Berjalan mendekati meja dimana Farrel duduk menunggu.


Brakk


"Sialan ... lagi-lagi aku harus membatalkan pertemuanku dengan klien hanya untuk menjemput anak nakal yang sok-sok an." umpat Alan menggebrak meja dengan menghempaskan dirinya disamping Farrel.


"Mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin menyuruh tunangan ku menjemputku di sini!"


"Cih ...! Merepotkan, kenapa tidak naik taxi online,"


"Terlalu lama, aku tidak mau semakin lama menunggu, lagi pula kau kan kakak ku!"


"Memangnya kenapa dengan seorang kakak, kau juga hanya bersenang-senang bukan!?"


"Seorang kakak itu harus bisa mengontrol ee moo sii, lebih tepatnya aku sedang bee laa jar," ucap Farrel dengan sengaja menekan kata terakhir.


"Cih ... kau semakin bodoh!Mana mungkin belajar pada mereka yang " umpat Alan kembali.

__ADS_1


Alan kembali bangkit, "Ayo, pergi! kita harus ke proyek."


Mereka berdua keluar dari cafe itu dan berjalan menuju mobil Alan yang terparkir, setelah kedua nya masuk, Alan melajukan mobilnya menyusuri jalan menuju proyek pembangunan yang tengah berjalan.


Sesaat kemudian mereka tiba dilokasi, Farrel turun terlebih dahulu sedangkan Alan memarkirkan kendaraannya. Farrel berjalan masuk ke gedung yang baru 70 % pembangunan itu, para pekerja terlihat menganggukkan kepala nya.


Seorang pria terlihat berjalan kearahnya, lalu menjabat tangan keduanya.


"Bagaimana?"


"Sesuai dengan apa yang pak Farrel inginkan!"


"Sesuai bagaimana? ini sudah terlalu lambat, melebihi waktu yang aku berikan."


"Maaf pak, tapi itu karena ada kendala lapangan, kami kesusahan mencari tukang,"


"Itu urusanmu! Bukankah kau mandornya? Jika semua aku yang fikirkan, untuk apa aku membayar mu mahal!" ucap Farrel dengan kesal.


"Maaf...."


"Bukan hanya meminta maaf, tapi sungguh-sungguhlah bekerja." ucap Farrel dengan geraham yang bergemelatuk.


"Berapa lama aku harus memberi mu waktu lagi?" sentaknya


"Se-setahun!"


Farrel mendengus, "Kau sudah gila! lakukan dalam waktu 6 bulan, bukan kah kemarin kita sudah sepakat!"


"Tapi...ki-ta."


Mandor itu terlihat gelagapan, dia terus menundukan kepalanya.


Alan yang sedari tadi memperhatikannya dari jauh diam-diam menarik sudut bibirnya tipis melihat kemarahan Farrel, lalu dia menghampiri nya.


"Kau pergilah, lakukan tugasmu dengan baik!" ucap Alan tak kalah kesalnya.


Aaahkk


"Rasanya aku ingin menghajarnya!"


"Sabar lah ...."


Farrel menatap jengah kearah Alan, " Kau bisa mengatakan nya dengan mudah, memangnya kau sendiri akan sabar jika menghadapi orang itu!"


Alan tergelak, "Aku sudah pasti menghabisinya, jika saja dia bukan rekomendasi ayah."


Farrel melengos pergi, "Sudah ku duga!"


"Hei, mau kemana?"


"Kantor!" teriaknya kemudian.


Farrel masuk kedalam mobil, sementara Alan menyusulnya masuk dibelakang kemudi.


"Turunkan aku di kantor divisi," ucap Farrel saat Alan baru melajukan mobilnya keluar dari pelataran cafe.

__ADS_1


Alan mendesis, " Aku baru saja maju!"


"Diamlah aku lagi kesal,"


Alan mendelik, "Dasar aneh."


"Hari ini emosi ku terkuras habis, jadi jangan menambah masalah!" Farrel menyandarkan kepalanya.


"Kau juga benar-bener membuat emosi!" Alan bergeleng kepala.


.


.


Farrel benar-benar turun di depan gedung divisi, saat ini hari nya terlampau buruk, dan obatnya ada didalam sana. Kekasih hatinya.


Alan hanya bergeleng kepala, melihat Farrel yang masih mengerutkan dahi hingga turun tanpa sepatah kata, lalu dia sendiri menatap pintu masuk dengan nanar. Antara yakin atau tidak, namun dia akhirnya ikut turun dan menyusul Farrel dari belakang.


"Kak...." ucap Farrel tiba-tiba disebelah Mwtta yang sedang fokus menjawab telepon masuk.


"Oke, sudah aku terima file nya...." ucap Metta dengan seseorang sambil mengangkat tangannya pada Farrel.


"Sayang ...."


Panggilan itu membuat Metta menatap jengah dan telunjuk yang dia tempel di bibirnya.


Farrel menarik kursi lalu duduk di pinggir Metta. Mencuri dengar apa yang Metta lakukan dengan orang di seberang telepon.


"Oke baiklah, done! kamu boleh cek email sesat lagi!" Metta menutup ponsel setelahnya, lalu kembali menatap Farrel yang tampak lelah dengan wajah yang murung.


"Kamu tuh ih, kebiasaan! Aku lagi kerja...."


"Temani aku keluar!" Farrel menarik tangan Metta agar mengikutinya.


"El... mau kemana sih, pekerjaan ku masih banyak!"


Namun Farrel tak peduli, dia menggenggam tangan Metta dan terus menariknya.


Dinda yang tak sengaja melintas didepan mereka bergeleng kepala melihatnya,


"Ya tuhan...."


"Kau, bisakah kau handle pekerjaan nya sebentar aku ada sedikit urusan," ucap Farrel saat berpapasan dengan Dinda.


"Mau ada urusan besarpun aku tak peduli, pergilah. Kalian memang tidak peduli dengan perasaan aku yang masih sendiri ini!"


"Din ... nanti aku kembali! titip file sedang load yaa!" ucap Metta yang berjalan sedikit terseret.


"El... ih, kenapa sih!!" ucap Metta yang terus dibawa keluar oleh Farrel.


"Temani sebentar saja, aku sedang kesal pada seseorang!" ucap Farrel.


"Iya...iya tapi jangan diseret juga! sakit tahu gak, mau kesel sama orang kenapa bawa-bawa aku sih!" ucap Metta dengan ketus.


Farrel membuka pintu mobil dan menyuruh Metta masuk kedalamnya, kemudian dia berlari kecil memutari mobil dan masuk ke balik kemudi.

__ADS_1


"Kita mau kemana?"


__ADS_2