Berondong Manisku

Berondong Manisku
Obat paling manjur


__ADS_3

Hening


Hening


Hanya sesekali Metta melirik Farrel yang sedari masuk kedalam mobil hanya diam saja. Dan benar-benar hanya fokus pada kemudi yang dia cengkram dengan kuat dan ruas jalan di depannya saja.


"El ... Are you ok?" Hanya anggukan kecil yang menjadi jawaban nya.


Duh kenapa sih? Udah tau aku paling gak bisa faham masalah membaca suasana hati dan fikiran orang.


Farrel yang biasanya bertingkah konyol, ngeselin dsn nyebelin itu kini hanya diam saja sekarang, membiarkan sejuta tanya beterbangan di kepala Metta,


"El... pinjem ponsel boleh?"


Tanpa kata dia merogoh saku dibalik jasnya dan mengambil ponsel yang dia berikan pada Metta dengan mulut yang masih terkunci.


"Masih kesel?" Farrel masih memberi jawaban dengan sedikit gerakan kepala dari atas ke bawah.


"Ya udah, tapi kita menepi ya! cari tempat biar kamu bisa menenangkan diri, jalan ini sudah kita lalui 3 kali, dan aku sudah merasa pusing,"


"Maaf," lirih Farrel tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kakak mau kemana?"


Astaga kenapa malah dia yang nanya, kan dia yang kesel. Kenapa jadi aku sekarang yang mulai kesel.


Metta tak mau menjawab dia mulai mengetikkan sesuatu yang ingin dilihatnya,


Kumpulan Video lucu


Video lucu 2020


Kompilasi video bikin ngakak versi tidtod


Video viral lucu


Metta memilih berselancar dengan puluhan video lucu dan tertawa sendiri. Membiarkan Farrel yang masih kesal itu hanyut dalam kekesalannya.


Hingga pria dewasa yang masih tanggung itu perlahan melirik Metta yang terpingkal saat ponselnya memutar video lucu, terkikik-kikik membuat Farrel akhirnya semakin sering melirik kearahnya.


"Kak ...."


"Hem...."


"Ih... kakak!"


"Apa?"


"Tau ah...."


"Dih... kenapa?"


"Aku tuh lagi kesel,"


"Iya tahu... makanya aku nonton aja! lagian ponselku ditinggal dikantor!"


"Kok kakak malah ngomongin ponsel!" Alisnya mengkerut.


"Terus aku mau ngomongin apa? Orang kamu dari tadi nyuekin aku, ditanya ngangguk-ngangguk doang. Malah muter-muter jalan berulang-ulang sampai kepalaku pusing."


"Aku lagi kesel, hari ini banyak orang yang bikin aku kesel,"


Metta menunjuk wajahnya sendiri, "Aku juga?"


"Enggak bukan kakak, tapi orang lain, dan ...." Farrel menggantungkan jawaban nya.


"Aku kesel karena proyek pembangunan berjalan sangat lambat,"


"Ooh ...jadi ini masalah pekerjaan!" Farrel mengangguk lagi.


"Sama ayah juga!"


"Kenapa dengan ayah kamu?"

__ADS_1


"Ayah merekomendasikan teman dari temannya untuk menjadi mandor bangunan, dan hasilnya enggak banget!"


"Harusnya proyek itu bisa selesai pada saat aku pulang dari paris!" ucap nya lirih.


Dengan memarkirkan mobilnya disatu bangunan, "Aku sudah memberinya tenggang waktu, namun belum juga selesai dari waktu yang aku berikan!"


Setelah mematikan mesin mobilnya Farrel menyandarkan kepalanya di bantalan kursi kemudi. Sementara Metta mengedarkan matanya.


"Ini dimana El,"


"Aku harus membawa rancanganku diatas, kakak mau nunggu disini atau ikut?"


"Ikut saja, Basement ini serem! Aku takut."


"Kalau gitu ayo, tapi jangan kaget nanti," ucap Farrel membuka pintu.


Metta membuka pintu, namun pintu itu ternyata lebih dulu terbuka, "Makasih El ...."


Farrel mengangguk, Lalu menggenggam tangan Metta dan berjalan beriringan menuju lift.


"Kau kesal hanya karena pekerjaan? Tidak ada yang lain....?" Farrel mengangguk.


"Dulu saat aku merasa kesal aku akan pergi sejauh mungkin dan kembali saat hatiku membaik!"


"Itu sih namanya lari dari masalah,"


"Tapi itu dulu, sekarang aku tidak bisa seperti itu lagi,"


"Ya bagus, berarti pacar ku ini semakin dewasa! Masalah itu memang harus dihadapi," Ucap Metta.


Farrel mengerling, "Masih pacar?"


"Ish, gitu aja marah! Aku salah ucap," Farrel kembali mengangguk.


Farrel terlihat menghembuskan nafasnya, "Aku belum bisa sepenuhnya bekerja dengan baik!"


"Semua orang mengalami banyak proses dalam hidupnya, kamu sudah hebat El! meskipun proses hidupmu lebih cepat dari yang lain." Metta mengusap lengan Farrel berulang kali.


"Terlepas dari privilege ( Hak istimewa)yang kamu dapatkan." Metta terkekeh.


Ting


Lift terbuka, Mereka berjalan keluar dari lift dan melewati bagian samping resepsionis. Karena mereka masuk lewat basement.


Farrel mendecak, "Itulah, makanya aku ingin berdiri diatas kakiku sendiri, karena keluar dari lingkup privilege itu tidak lah mudah,"


"Orang terus akan memandang ku seperti itu, dan aku tidak mau!"


Meskipun dia tak pandai berkata, dan tak mampu peka dalam setiap bahasa tubuh, namun Metta selalu bisa mengerti, Farrel sedang kecewa pada dirinya sendiri.


"Dan kamu berhasil kan? Rancangan gedung pencakar langit mu diakui di asia, kamu udah dikenal di dunia gaming, belum pencapaian yang kamu raih sebelum-sebelumnya, itu luar biasa lho!"


"Satu hal luar biasa yang belum aku raih,"


Metta menoleh, menatap wajah Farrel ynag kini datar, "Apa?"


Farrel mengerling ke arahnya, dengan senyum yang dia ukir tipis di bibirnya.


"Menjadi suami seorang Mettasha!" lalu kembali mengerling


"Ih ... Dasar!" namun sedetik kemudian Metta mengulumm bibirnya.


Mereka tiba disatu plat yang masih belum Metta sadari bahwa itu adalah platnya Farrel.


"Lho gak ketuk pintu dulu? seronoh Metta saat Farrel menekan beberapa nomor dengan cepat.


"Tidak perlu,"


"Kenapa?"


Pintu terbuka, Farrel menahan pintu agar Metta bisa masuk kedalamnya terlebih dahulu. Metta masuk kedalam ruangan yang tampak rapi, suasana menenangkan dengan desain yang apik bernuansa putih dan abu, sofa berukuran besar dan hiasan dinding yang menambah suasana ruangan itu kian membuatnya terpana.


"Welcome home...." ucap Farrel dari belakang yang kini melingkarkan tangan kekarnya di pinggangnya.

__ADS_1


"Maksudnya?" Metta mengurai tangan yang melingkari hingga perutnya itu.


"Ini Apartemen sementara yang aku tinggali yang nanti akan menjadi milikmu," ungkap Farrel dengan seutas senyum paling manis di suasana kesalnya.


"Gak mungkin! Ini sih bukan apartemen El, ini rumah besar,"


"Ini pencapaian dari kekesalan terakhirku," Metta menatap dengan ujung matanya.


"Saat aku kesal karena bunda dan ayah mengajak kakak bernegosiasi dengan hatiku!" ucapnya dengan memegang dada.


"Jadi kamu bersembunyi disini selama 2 minggu?" Farrel mengangguk.


"Itu yang terakhir aku menghindari masalah, karena setelah itu langkah ku semakin kuat. karena ada kamu sayang!" Farrel kembali memeluk Metta. Menghirup aroma vanila dari kulitnya yang putih.


"Tapi aku tidak akan sering mengajak kakak kesini untuk saat ini,"


"Kenapa?"


"Terlalu bahaya jika kita terus berdua ditempat ini, aku bisa khilaf. Dan tidak dapat menahannya lebih lama lagi."


Sejurus Metta langsung menarik tubuhnya dari pelukan Farrel, "Kalau begitu ayo kita pergi!"


Namun tenaganya tidak lah seimbang dengan muatan beban yang ditariknya, hingga malah Metta yang terjungkal mengenai tubuh Farrel.


Farrel tergelak saat dia dengan siaga menangkap tubuh yang terhuyung itu. Metta memukul keras dada Farrel.


"Jangan ketawa, gak lucu! ayo pulang, kamu udah gak kesel lagi kan?"


"Kesel kok kayak gitu...."


"Memang nya kakak mau aku kayak gimana?" mengerdipkan satu kelopak matanya kearah Metta.


"Ih....menjijikan! apa itu...." lalu mengu lum bibir.


Hahahah


Farrel terpingkal melihat Metta yangbmembukatkan matanya sempurna, " Aku udah punya obat ku sendiri, saat aku kesal, saat aku marah, dan saat aku rindu...."


"Kakak obatnya, paling manjur melebihi obat tong feng yang terkenal sejagat raya,"


"Ish... kau ini!Ayo ah pulang...."


"Apa kakak takut aku melakukan sesuatu disini?"


"Udah ayo cepet katanya cuma mau bawa rancangan saja, udah gitu kita kembali ke kantor. Pekerjaan ku masih ada disana!"


"Duduk lah dulu, aku akan mengambilnya dulu," Lalu Farrel berjalan kearah belakang, menaiki tangga dan menuju sebuah pintu dan menghilang di baliknya.


Sementara Metta yang tak juga duduk kini melihat-lihat hiasan-hiasan anti disebuah lemari hias, Vas -vas antik, Lalu ada sederet action figure anime resin yang super detail. Hingga Metta sendiri terperangah melihatnya.


"Bagaimana mereka bisa membuat sedetail ini?" gumamnya sambil terus melihat deretan anime-anime yang lainnya.


"Wow one Piece juga ada, monkey d luffy, bahkan ada Rahquaza evolution egg( Evolusi naga dari mulai telur yang mirip bola pokemon sampai naga dewasa)"


" Bahkan Crayon shinchan juga ada."


Metta terus berdecak dan bergeleng kepala berulang kali dengan dekorasif milik Farrel yang fantastis.


"Bagian sini sih khusus untuk barang aku, punya kakak nanti disimpan di rak hias sebelah sana," ucap Farrel disampingnya.


Dengan reaksi alami Metta mengikuti arah telunjuk Farrel yang menunjuk sebuah rak hias yang masih kosong.


"Raknya kakak yang isi nanti, apapun yang kakak suka,"


Aku bahkan tidak tahu apa yang aku suka, selain jajaran bintang, dan suasana langit yang damai.


"Ish....Sejak kapan kau turun!"


"Sejak kakak terpana hingga bibir kakak maju seperti ini," ujar Farrel mendudukan dirinya disofa dengan terkekeh.


"Ih... nyebelin!" Metta melempar bantal sofa ke arah Farrel.


Farrel kembali tergelak, dengan menarik Tangan Metta, "Gemes banget sih my cherry ku."

__ADS_1


__ADS_2