
Bandara internasional Soekarno-Hatta menjadi tempat bertemunya Doni dan Tia, mereka hendak pergi ke kota C untuk untuk pengerjaan awal proyek kerja sama antara kedua atasan mereka.
Lalu lalang orang- orang yang hendak pergi di terminal keberangkatan membuat Doni resah, pasalnya dia masih harus menunggu Tia yang masih belum juga sampai.
Dari kejauhan Tia berlari dengan susah payah, nafasnya terengah-engah dengan memegang tas ranselnya.
"Astaga lo kemana saja sih?"
"Sorry gu--"
"Lo tahu gak jam berapa ini? Ngecek jadwal pesawat kita gak? Gak bisa on time,"
"Bisa gak sekali saja lo gak bikin gue emosi?"
Suara panggilan pesawat sudah terdengar untuk yang ketiga kalinya, namun tak juga membuat mereka beranjak, Doni masih terlihat kesal, sementara Tia yang belum menjelaskan apapun itu hanya menampakkan wajah datarnya.
"Udah ayo buruan, ngomelnya nanti saja!" ujarnya dengan menarik tangan Doni dan berjalan masuk ke dalam gate pemeriksaan.
Doni yang terkesiap hanya mengikuti Tia yang yang masih menggenggam jemari tangannya, seutas senyum terbit perlahan-lahan dari wajah masamnya.
Setelah beberapa pemeriksaan akhirnya mereka masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Tia baru saja sadar jika dia masih terus menggenggam tangan Doni.
"Maaf ... gue gak sengaja!" ujarnya lalu berjalan terlebih dahulu untuk mencari nomor tempat duduknya.
"Gak sengaja gimana, setengah perjalanan lo pegangin tangan gue!"
Tiwi berbalik, "Ya terus lo juga gak berusaha lepasin tangan lo! Emang lo nya juga suka gue pegang!"
"Dih ... amit-amit!"
.
.
Mereka tiba di sebuah hotel yang sudah di reservasi atas nama mereka dari kantor pusat,
Doni langsung masuk ke dalam resto, sementara Tia mengikutinya dari belakang.
"Gue lapar, gue gak bisa tidur kalau belum makan."
Tia hanya diam, dia menarik kursi dihadapan Doni. Setelah meminum welcome drink, mereka langsung mengambil free dinner,
"Ayo lo makan juga, ini sudah di handle oleh kantor, jadi jangan sampai terlewatkan begitu saja, karena tidak bisa di uangkan."
Tia terkejut, "Lo gila apa, pelankan suara Lo! bikin malu tahu gak!"
"Memang benar kan, gak bisa di uangkan! Apa yang salah dari ucapan gue?"
"Terserah lo deh, dasar norak!"
"Gue bukan norak, tapi apa ada nya! Gue gak muluk-muluk!"
"Terserah dah lo mending makan deh, dari pada ricuh! Bikin malu."
__ADS_1
Hap
Hap
Doni menyuap makanannya,
"Tunggu...." kata Tia dengan menyisihkan brokoli dan juga potongan udang dari piring Doni, dan memindahkannya pada piringnya sendiri.
"Sudah...." ujarnya lagi.
Doni tersentak dengan apa yang dilakukan oleh Tia pada makanannya.
"Kamu tahu makanan yang tidak aku suka?"
Tia mengangguk, "Ya ... aku tahu!"
Membuat Doni mengernyit, "Kok bisa?"
"Bisalah, dari sejak lo suka nyemilin bekal makan siang gue!"
Doni semakin mengernyit, membuat Tia mengulum bibir.
"Lo itu nyemilin bekal makan siang gue hampir tiap hari, saat menu makan siang gue ada brokoli dan udang nya, lo pergi gitu aja, disitu gue tahu lo paling gak suka dua menu makanan berbau brokoli dan udang! Benarkan?"
Doni terkesiap, memang benar, dia paling tidak suka brokoli juga udang, bukan karena dia mempunyai alergi, namun karena dia tidak suka makan sayur, dan waktu kecil dia jarang sekali makan udang, dari pada coba- coba makanan yang asing di mulutnya, lebih baik dia tidak menyentuhnya. Semiskin itu gue dulu, tapi sekarang tidak, semua makanan gue sikat sampai habis, jangankan brokoli dan udang, ibarat kata makanan sisa tadi pagi, masih bisa gue makan. Jiwa miskin gue memang gak bisa hilang begitu saja, walau sekarang gue sudah punya segala sesuatu dari hasil kerja keras gue.
Namun melihat perhatian kecil yang diberikan oleh Tia padanya membuat Doni memilih untuk mengangguk, "Lo bener gue memang alergi sama brokoli dan udang."
Setelah selesai dengan makan malamnya, mereka berlalu menuju ke kamar nya masing-masing.
.
.
Keesokan pagi
"Ingat ya Don, jangan mengacau, proyek ini sangat penting untuk kita semua, jangan sampai berantakan karena hubungan kalian," cerca Farrel pada saat Doni hendak pergi meninjau proyek.
"Sialan ... semuanya malah kacau, semua menganggap gue pacaran sama Tia." gumam Doni melempar ponselnya di jok mobil, sementara Tia masih belum selesai mengurus surat-surat penting yang tertinggal di kamarnya.
"Dasar ceroboh! Ada saja yang bikin gue emosi kalau sama dia, mana bisa gue jatuh cinta.
Tin
Tin
Doni menekan klaksonnya lebih lama saat melihat Tia yang berjalan ke arahnya, agar lebih cepat berjalan.
Tia membuka pintu mobil, dan langsung masuk ke dalam tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Lambat banget sih lo, udah tahu kita akan pergi lebih pagi, masih saja bikin masalah!"
"Udah buruan, dari pada ngomel gak jelas lo, berisik!" timpal Tia.
__ADS_1
Doni pun melajukan mobil yang disediakan oleh perusahaan Fara untuk mereka gunakan dalam perjalanan dinasnya.
"Semua sudah aku bawa lo tenang saja! fokus saja nyetir, gak usah bete gitu mukanya." ujar Tia yang melirik Doni yang masih tersungut.
Doni menghela nafas, "Berisik lo, gue turunin disini lo, biar tahu rasa!"
"Fftppp... apa? lo mau turunin gue? Silahkan, gue bisa laporan sama atasan lo, kalau lo gak becus handle ini proyek." Tia tidak mau kalah.
Astaga, bisa-bisa nya gue suka sama cowok modelan kayak gini, dulu nyebelin tapi gemesin, sekarang nyebelin dan pengen gue pitess pala nya. Walaupun rasa suka gue gak berubah juga ke dia. Tapi lama-lama gue jantungan tiap hari di omelin. Batin Tia.
Tak lama mereka sampai di alamat yang mereka tuju. Masih berbentuk tanah lapang, tanpa bangunan satupun berada disana. Tanah merah yang masih basah karena hujan semalam menjadi pemandangan pertama yang mereka lihat.
"Benar ini alamatnya." ujar Tia.
Tia membuka seat belt nya dan keluar dari sana. Tak lama kemudian merentangkan tangan ke udara, untuk menghirup udara segar, bau khas tanah yang tersiram hujan begitu menyeruak masuk ke dalam lubang hidungnya.
"Segarnya ...."
Doni akhirnya juga keluar, dia mengedarkan pandangan sesekali dengan jepretan kamera yang selalu dia bawa untuk dokumentasi dan laporan pada atasannya.
Cekrek
Cekrek
Bruuk
Mereka saling bertubrukan satu sama lain, hingga tubuh mereka sama-sama terjengkang, namun Doni dengan sigap menarik pergelangan tangan Tia hingga dia tidak terjerembab ke tanah.
Bruuk
Tubuh Tia menabrak dada bidang milik Doni, hingga wajah mereka saling beradu saking kerasnya Doni menarik Tia.
Deg
Kedua netra mereka bertemu, untuk sesaat waktu seakan berhenti berdetak, membuat jantung Tia tiba-tiba bergemuruh hebat. Doni menatap Tia tanpa berkedip, seolah sedang mengarsir tiap inci wajah manis miliknya.
Sejurus kemudian mereka tersadar, dengan putaran waktu yang kembali berjalan seperti biasa.
"Hati- hati bisa gak sih lo ... ceroboh banget!" ketus Doni.
"Sorry... dan terima kasih, gue gak lihat, lagian lo mundur-mundur, padahal lo bisa saja kan maju-maju gitu!" kilah Tia dengan mendorong dada Doni hingga kembali terhuyung, beruntunglah tubuhnya tertahan oleh badan mobil.
"Lo gak tahu terima kasih, udah gue tolongin juga! Bukannya bilang terima kasih, malah dorong gue!"
"Sorry ... gue gak sengaja, lagi pula lo ngapain pegang-pegang gue, cari kesempatan banget dari kemarin, dan gue udah bilang terima kasih!"
"Heh ... wanita jadi-jadian, jangan ngarep lo! Gue gak minat pegang-pegang lo, gak ada bagus-bagusnya, apa nya yang mau dipegang?"
"Sialan lo....!"
Tia meninggalkan Doni dengan berjalan menjauhinya, dia memutuskan untuk pergi sendiri ke kantor sementara perusahaan dimana dia bekerja, dia pun membawa semua barangnya dari dalam mobil.
"Pergi lo jauh-jauh...." teriak Doni.
__ADS_1