
Metta langsung mendaratkan tubuhnya begitu dia kembali dari ruangan atasannya, Masih berusaha mengingat apa yang terjadi pada kejadian tempo lalu, namun tetap saja dia tak menemukan kecurigaan apapun.
" Jadi apa kata Pak bas?" Suara Dinda mengagetkan lamunan nya.
" Biasa, ngajak meeting di gedung utama"
" Wah, lo enak bisa ketemu Pak Alan yang cool abis itu," sahut Dinda mencebikkan bibirnya.
" Yaa udah, kalo lo mau ikut lo bilang aja sama pak Bas"
" Cari mati gue" Ujarnya dengan menarik sedikit rambut Metta.
.
.
Waktu terus bergulir, tak terasa sudah waktunya lambung diberi asupan agar kuat menjalani sisa hari. Metta dan Dinda yang kini sudah berada dikantin kantor sedang menikmati makan siangnya.
Namun terlihat Metta hanya mengaduk ngaduk makanannya saja. Fikiran nya kini tengah tak karuan, masih tentang pembicaraan nya tadi pagi dengan atasannya.
" Memangnya apa yang terjadi setelah kejadian itu yaa, gue gak inget sama sekali waktu itu, fikiran gue terlalu kacau, yang pasti Farrel yang nyelamatin gue saat itu kan, apa jangan jangan, ah mana mungkin, " Metta tengah bermonolog sendiri.
" Sha, lo kenapa diem aja, tuh muka bengong aja dari tadi"
" Emm..enggak apa apa kok din" Metta menjawab dengan asal.
" Sha, gini gini juga gue tau lo seperti apa, kalo ada apa apa tuh cerita sama gue jangan diem aja, lo pikir gue gak bisa bantu lo gitu sampe lo gak mau cerita sama gue segala" cerocos Dinda.
Metta menghela nafas," Sebenernya banyak yang gue mau ceritain, masalahnya gue bingung harus mulai dari mana Din"
" Elah, gitu doang lo bingung, ceritain runut atau gak gue ntar yang runutin sendiri deh" Dinda mengibas ngibas kan tangannya.
" Iya tapi entar aja, gak disini!"
" Lo tiap mau cerita gak jadi terus alasan nya nanti, gak disini, nanti gue cerita, tapi gak jadi terus" cibir Dinda.
.
.
Metta akhirnya menceritakan semua nya pada Dinda sahabatnya, tanpa terlewat satupun, kejadian yang menimpanya hingga bertemu Farrel yang kini menjadi kekasihnya, termasuk kegundahan hati yang dirasakannya.
" Mulai lah membuka hati lo sepenuhnya, menurut gue dari cerita lo bocah itu baik, dia perhatian, pengertian, homuris, yang pasti dia nerima lo apa ada nya Sha" ujar Dinda,
"Dan gak sama lo aja kan , tapi sama keluarga lo" Metta menyeruput Es kopi yang dibeli nya saat mereka berjalan, meeting yang di batalkan tiba tiba membuat mereka mempunyai waktu senggang dalam kesibukannya.😂
" Gue gak tau Din, gue memang jatuh cinta sama dia, tapi ketakutan gue masih besar dari sebuah rasa cinta itu, lo tau sendiri lah "
" Emm..fiks gue paham, tapi jawabannya sendiri ada didalam hati lo Sha, itu gak bisa di gugat lagi," Dinda menjentikkan jari nya di depan wajah Metta, hingga dia kaget.
" Apaan sih lo," Menepis tangan sahabatnya.
__ADS_1
" Tanya hati lo Sha, berdamailah dengan masalalu"
Dinda mengangguk dengan ucapan dirinya sendiri,
" Gila gue bisa sedewasa ini, padahal gue jomblo akut" Dinda terkikik.
" Gak usah teriak juga ngomong jomblonya," Metta menepuk keras paha Dinda.
" By the way, jadi si Hendra pengecut itu kira kira kemana yaa," gumam nya kemudian.
" Gue juga gak tau, kalo tau gue juga pasti bilang kan"
" Apa dia diculik, jangan jangan disandera mafia" seru Dinda.
Metta meraup wajah sahabatnya itu dengan kesal
" Banyak maen di dunia halu lo,"
Dinda mengerjap" Astaga, make up gue, kebangetan ya lo. Gimana nanti kalo ada cowo lewat, muka gue lo raup kayak kerupuk gado gado gitu"
" Bodo amat" Metta berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Dinda yang merapihkan riasannya melalui kaca kecil yang selalu dia simpan disaku nya
" Sha tunggu"
.
.
.
Farrel dan Alan tengah menyiapkan berkas yang harus dibawanya saat meeting nanti. " Sudah siap semua?" ucap Farrel.
" Sudah semua" sahut Alan.
Farrel dan Alan memasuki resto tempat dia akan meeting dengan orang dari PT cemerlang, resto tersebut berada di sebuah hotel mewah, dengan gaya yang cool Farrel memakai T- tsirt berwarna putih polos dipadukan dengan jas hitam, rambutnya yang kelimis dia sisir rapih, meski ribuan kali Alan memperingatkan cara berpakaian nya, namun Farrel tak pernah sekalipun menurut. Hingga Alan merasa jengah dan m bosan sendiri.
" Ku peringatkan terakhir kalinya, lo pake pake kemeja, jangan hanya seperti itu" Ucap Alan.
" Gue ingetin lagi suka suka gue " sahut Farrel tak mau kalah. " Lagian yang dilihat itu kinerja gue, bukan baju gue" Farrel mulai sewot.
" Terserah anda tuan yang terhormat" Alan berjalan memasuki resto di ikuti Farrel dibelakangnya.
Farrel mengerdikkan bahu," Ya udah terserah gue" gumamnya.
Hingga tiba lah mereka di tempat khusus ViP, yang memang sengaja dipesan pihak dari PT Cemerlang.
Alan maupun Farrel mengikuti seorang pelayan menuju ruangan nya" Silahkan pak, mohon tunggu sebentar atasan kami sedang dalam perjalanan kemari." ucap seorang pelayan itu.
Farrel mengangguk, diikuti oleh Alan disampingnya, mereka duduk berhadapan di meja yang sudah tersedia berbagai hidangan.
__ADS_1
" Kita mau makan apa mau meeting Lan" bisik Farrel .
" Entahlah, mungkin ini hanya sekedar jamuan saja,"
" Habis makan baru meeting, yang ada ngantuk " seru Farrel.
" Sudahlah kita ikuti sajalah mereka, toh kita tidak akan rugi"
" Terserah." akhirnya Farrel mengalah.
Tak lama kemudian pintu terbuka, seseorang masuk diikuti 2 orang dibelakangnya. Farrel maupun Alan menoleh bersamaan.
" Maaf membuat kalian menunggu," ucap nya.
" Tidak masalah" Alan menyalami kedua orang yang berada dihadapan nya.
"Alan Alfiansyah, Dan ini CEO kami.." menunjuk Farrel yang berada disampingnya.
"Farr..." Farrel mengangkat tangan nya menyalami, namun ucapan nya terhenti ketika melihat seseorang yang dia rasa mengenalnya.
" Ini atasan kami dari PT Cemerlang, Faiz Dinandra"Ucapnya.
Seketika netra mereka beradu, Farrel maupun Faiz sama sama tersentak, namun tak ada satupun yang mengeluarkan suara.
Faiz mendaratkan tubuhnya dikursi diikuti Farrel dan Alan, mereka saling berhadapan. Terlihat kecanggungan dari mereka berdua.
" Apa kalian saling mengenal?" ucap Alan yang melihat wajah keduanya terlihat tidak bersahabat.
" Tidak" ucap mereka bersamaan.
" Baik kalau begitu kita mulai saja" ucap salah seorang dari pihak Faiz.
.
.
Akhirnya Meeting pun selesai, dengan negosiasi yang cukup alot terjadi diantara Alan dan salah satu dari mereka akhirnya menemukan titik temu yang saling menguntungkan keduanya. Namun Farrel dan Faiz sama sekali tidak banyak mengeluarkan pendapat mereka masing masing.
" Baik kalau begitu kami permisi" ucap Alan berdiri diikuti Farrel.
" Terima kasih atas waktu nya" ucap Faiz menyalami Alan, beralih menyalami Farrel.
Namun jabatan tangan nya berubah lebih kuat saat menjabat Farrel. Dengan sorot mata bak elang Faiz menatap, saling mendekatkan tubuh mereka.
" Kupastikan aku akan merebut kekasihku kembali"
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen disetiap bab nya, aku gak akan bosen ngingetin kalian yang baca kalau like dan komen kalian itu sangat berharga buat karya remahan aku ini. Jangan lupa terus dukung aku klik Fav nya, rate 5 nya juga, vote nya, bunga nya, kopi nya🤣🤣( kebangetan lo maruk amat tor!!)
Makasih😘