
"Sh iiitt Chaira, kau membuatku menginginkannya sekarang juga!!"
Chaira menarik tipis bibirnya, "Aku juga menginginkannya sekarang,"
Chaira menyusupkan tangannya pada dada bidang milik Farrel, namun Farrel menahan tangannya dengan susah payah, ingatan nya terus tertuju pada Metta, sang istri tercinta.
Doni sialan, kau lama sekali. aku sudah tidak bisa menahannya.
"Eeuuhh... maaf ta--tapi aku ... harus ...!" Farrel bangkit dari duduknya dengan susah payah, mencoba mengalihkan pikirannya, namun juga tidak semudah yang dia bayangkan.
Doni, sialan! Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri.
Farrel terus merutuki Doni karena dia tak kunjung tiba, Chaira memeluknya dari belakang, membuat darahnya semakin mendesir.
"Inilah keinginanku!" ujar Chaira dengan melepaskan dress mini miliknya, menyisakan pakaian yang menutupi bagian-bagian yang kian membusung hebat.
Farrel memejamkan matanya, dia berjalan menuju pintu dengan godaan terbesar dalam hidupnya.
Berbalik ke belakang dan mengambil kesempatan, atau keluar dari sana dengan cepat. Sedangkan Chaira berjalan semakin dekat bak seorang model.
Bruk
Pintu terbuka, Doni berhambur kearah Farrel,
"Sorry Rel, kedatangan istrimu membuat aku terlambat datang!"
Mac maju melindungi, dan Metta masuk begitu saja, lalu menggelengkan kepalanya ke arah Farrel. Dia lantas berjalan mendekat kearah Chaira yang berseringai,
"Kau suka hadiahmu?"
Plak
Tamparan keras melayang pada pipi mulus Chaira, Metta mengepal tangannya, dengan amarah yang membuncah menguasai dirinya.
"Itu hadiah yang pantas untuk perempuan rendahan sepertimu, dasar ja langg!" ujar Metta.
"Sialan kau! Berani menamparku! Kau tidak lihat, suami mu yang datang sendiri ke kamar ini! Jangan bodoh, kau melihatnya bukan," ujar Chaira yang memegangi pipinya.
Metta berjalan lebih mendekat, tangannya mengudara hendak melayang, namun tubuhnya seketika ikut melayang,
"Aaaahhkkk turunkan aku! biar ku hajar ja lang itu, dia pikir dia siapa?"pekiknya.
"Sudah tidak ada waktu lagi."
Metta mendongkak, dia melihat Farrel yang tengah menggendongnya masuk kedalam kamar.
Sementara Doni melemparkan dress milik Chaira, "Kau menjijikan, padahal jika saja kau mau dan haus akan se ex, kau bisa mendatangi aku!"
Chaira mendekap dressnya, dengan sorot mata yang menyalang ke arah Doni,
"Sialan kau!"
Doni berseringai, "Ayolah, sebelum kamu akan pulang, bukankah kau akan segera pulang?"
"Dasar ba jingan!" Ujar Chaira dengan memukul dada Doni, namun Doni menepisnya dan mendorong Chaira ke belakang.
"Ternyata kau lebih menyedihkan dari pada seorang ja lang Chaira!"
Tak
Tak
Suara sepatu menghentak keras lantai kamar hotel, seseorang mendorong pintu dengan keras. Fernand mendekati putrinya dengan amarah membuncah,
__ADS_1
"Daddy?"
Plak
plak
Dua tamparan mendarat sempurna di pipi mulusnya, "Kau membuatku malu, Chaira!!"
"Dad ... ini ti--dak!seperti yang tengah kau pikirkan."
"Diamlah, aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi!!"
"Kirim dia pulang!!" ujarnya pada seseorang yang sedari tadi hanya melihat tanpa berkedip ke arah Chaira.
Pria itu berjalan mendekati, "Ayo Nona, jangan membuat tuan besar bertambah marah!"
Chaira memakai kembali dress miliknya dengan tersungut, linangan air mata kini berderai membasahi wajah.
Lalu pria tersebut membawanya keluar dari kamar hotel, Doni berseringai, saat Chaira melewatinya.
"Nikmati hadiahmu sayang!" ujar Doni.
Sementara di dalam kamar, Farrel yang menurunkan Metta diatas ranjang. Dengan rakus dia menyerang Metta, berkali-kali dia meronta agar Farrel berhenti, namun Farrel yang tengah di kuasai obat pe rang sang itu gelap mata.
"Mac, tolong aku!" teriak Metta,
"Mac ...!" teriaknya lagi.
Farrel mencekal pergelangan tangannya "Sayang diamlah, aku tidak akan menyakitimu,"
Metta menggigit tangan Farrel, "Sudah aku bilang, aku tak sudi! Pergi ... Mac dengar aku, Mac aku tidak akan memaafkan mu!"
"Sayang aku mohon, bantu aku! Ini sangat sakit, aku menahan nya dari tadi."
Plak
Plak
Metta harus berlarian di dalam kamar, dengan berteriak pada Mac.
Mac yang bingung membuka pintu kamar yang tidak dikunci,
"Mac bantu aku menolong anak nakal ini."
"Cepat Mac, aku tidak sudi melihatnya seperti itu! Akan aku pastikan dia menyesal setelah ini." ujarnya dengan melempar apa saja di hadapannya pada suaminya itu.
Mac memegangi Farrel, dengan susah payah. Karena tenaga Farrel tidak kalah dengannya, meskipun tubuh mereka sedikit berbeda.
"Mac, lepas kan aku! Kau mau aku pecat!!"
"Mac jangan dengarkan dia, pegangi dia, jangan dilepas. Kalau kau dipecat, bekerja lah denganku!" ucap Metta kesal.
"Bawa dia ke kamar mandi!" titahnya.
Metta mengisi bathtube dengan air hangat yang penuh, lalu menyuruh Mac membawa Farrel masuk kedalam bathtube.
"Masukkan dia Mac!" titahnya lagi.
Ternyata kalau sudah marah beneran, dia menakutkan, sudah cocok jadi bos wanita. batin Mac.
Mac benar-benar membawa Farrel masuk kedalam bathtube, tanpa melepaskan satu lembar pakaiannya pun. Tak lama kemudian Mac keluar dari kamar mandi, dia menutup pintu kamar mandi dengan perlahan.
Mac mendekati Doni yang berdiri membelakanginya. Sejurus kemudian Mac menoyor kepala Doni.
__ADS_1
"Itu buat kebodohan yang kamu lakukan."
Bugh
Mac memukul Doni, tepat di rahangnya,
Doni terkesiap, "Kenapa kau memukulku!"
"Tentu saja karena kau sangat bodoh!"
.
.
Hawa panas dalam dirinya mulai mereda, Metta mencondongkan tubuhnya, membuka seluruh pakaian yang melekat dari tubuh Farrel yang kini menggigil.
"Dasar bodoh! Kau akan menyesal seumur hidup jika saja terlambat sedikit!" gumamnya.
Farrel mulai sadar seiring hilangnya efek dari obat pe rang sang yang berikan seorang wanita yang menghampirinya di lobby tadi,
"Welcome drink." gumamnya.
Metta keluar dari kamar mandi, namun wanita itu sudah tidak ada, hanya terlihat Doni yang tengah bersandar pada tembok dengan segelas wine ditangan nya.
"Mana wanita ja lang itu?"
"Dia sudah pergi, Fernand tadi datang!"jawab Doni tanpa mengalihkan pandangan nya pada minuman dalam gelas yang dia putar-putarkan.
Bibirnya terasa sakit, akibat pukulan yang di dapat dari Mac.
"Padahal aku belum puas menghajarnya," ujar Metta yang tidak bisa menahan marah.
"Semua sudah direncanakan matang-matang! Bahkan dengan sengaja Farrel meminum minuman itu hanya untuk menjebak Chaira, namun kedatangan Kakak, memperlambat gerak langkahku!"
"Seharusnya aku datang lebih cepat!"
Bugh
"Hei, kenapa, malah memukul ku?" ujar Doni yang meringis, sebab Metta memukulnya tepat mengenai bibir nya yang sudah terluka.
"Ini semua gara-gara kau." bentak Metta lalu kembali masuk ke kamar mandi.
"Mau bermain-main denganku?" pungkas Metta lagi.
"Sayang maafkan aku, aku tidak mendengarkan mu." ucap Farrel dengan suara lemah.
Metta terdiam, Farrel menekan pelan keningnya yang masih berdenyut, walau tidak berdenyut sehebat tadi.
Metta kembali keluar tanpa mengatakan apapun. Membuat Farrel tidak karuan. Dia menyambar bathrobe dan memakainya, lalu menyusul sang istri.
"Kak, Maafkan aku!"
Metta masih terdiam, dia masih kesal pada suaminya, namun juga merasa kasihan. Entahlah yang pasti aku marah
"Kak, please maafkan aku."
Metta menghela nafas yang panjang, fikirannya tidak karuan. Namun dirinya juga masih ingin marah bahkan sangat marah.
"Sayang, kau dengar aku kan!" Ujar Farrel dengan terus mengekor pergerakan dari istrinya itu.
"Tidak!!"
"Kau marah?"
__ADS_1
"Fikir aja sendiri!!"