Berondong Manisku

Berondong Manisku
Suster cinta 2


__ADS_3

"Astaga El, siapa yang akan melihat leherku ini? lagian juga ini tertutup." tukas Metta menyibak Blazer cropnya.


Kekantor hei aku tuh, bukan kemana, orang-orang juga bakal fokus sama kerjaan, mana ada waktu ngeliatin leher yang udah pasti ketutup kerah, aneh banget, lagian tuh orang gak ada kerjaan apa satu-satu orang lewat dilihatin bagian lehernya.


"Pokoknya kakak gerai rambutnya, kalau perlu kakak pake slayer buat nutupin lehermu itu," Farrel mulai merengut. Metta menoleh dengan menyipitkan matanya.


"Sa-sayang ... jangan gitu dong!" Metta menghampiri Farrel yang mulai merajuk.


Farrel merengut, " Kalau gitu gerai rambutnya, kakak lihat ini ... terus ini... kakak mau pamer?" Farrel menunjuk leher bagian samping dan juga dibelakang telinga Metta.


"Astaga ... apa sih?" Metta meraba bagian yang Farrel tunjuk.


Farrel terkekeh, "Lihat saja sendiri!"


Metta merogoh kaca kecil dari tasnya, dengan kepala yang dia gerak- gerakan dia melihat kearah leher, "Astaga, Faarrrelll...." Teriaknya.


Metta menyorot tajam kearah Farrel, "Apa yang kau lakukan? kau sudah gila ...."


Farrel terkikik, dan mengeratkan hari telunjuk dan juga jari tengah yang mengacung berbentuk huruf V.


Pantas saja dia ingin aku menggerai rambutku, leher ... leher... dia apakan leherku semalam. Metta menggerutu.


Bibirnya mengerucut berkumpul jadi satu, "Kau ini sedang sakit, tapi kelakuanmu lebih dari orang sehat!"


Aku bahkan tidak merasakannya sedikitpun, sepertinya aku tidur sudah seperti mayat saja.


Sementara Farrel masih terkikik, melihat kekasihnya yang tengah mengamuk namun sangat menggemaskan.


"Maafin aku ya, kakak juga yang salah! kenapa begitu menggemaskan, untung saja aku sakit, kalau tidak ...." Farrel menaik turunkan kedua alis tebalnya.


"Astaga ... kau benar-benar gila El!" pekik Metta, bak singa yang siap menerkam.


"Sus--terrr, jangan galak! aku ini lagi sakit!" Metta mendelik sebal.


Saat itu, pintu terbuka, Metta menoleh seketik melihat Ayu yang datang, "Bunda sudah datang?"


Aku tersenyum hangat, " Sayang, sudah akan pergi bekerja?"


"Iya Bunda, sebentar lagi ...." dengan cepat dia membuka ikatan rambutnya, dan menyisir rambutnya menggunakan tangan.


"Menunggu kunjungan dokter," ucapnya lagi.


Lebih tepatnya aku ingin tahu, dia beneran sakit atau tidak, melihat kelakuannya yang begitu.


"Sudah pergilah, biar Bunda yang menjaganya hari ini, kau juga harus istirahat Sha, jangan sampai kelelahan karena manjaga anak nakal bunda ini!" ucap Ayu beralih menatap Farrel.


"Bunda ....!" Farrel mendelik pada ibunya.


"Kalau begitu aku pergi dulu bun, El aku pergi yah!" Metta mendongkak karena Farrel terhalang oleh Ayu.


"Sayang, ingat pesanku jangan nakal ya selama aku tidak ada." ucap Farrel yang dibalas tatapan lebar dari Metta.

__ADS_1


"Kau ini, kau sendiri yang nakal!" ucap Ayu.


Metta menjulurkan lidahnya kearah Farrel, lalu membuka pintu dan keluar dari ruangan.


"Astaga, kau masih disini?" Metta kaget saat melihat Doni yang berdiri didepan pintu, dan hampir saja bertabrakan.


"Apa kakak tadi tidak mendengarnya? aku tidak boleh kemana-mana! harus menjaga bayi besar itu," sungut Doni.


"Astaga, aku bahkan tidak boleh memanggilmu kakak!" Doni memijit pelipisnya, dengan satu tangan yang berkacak pinggang.


"Jadi aku harus memanggilmu apa?"


Sementara Metta hanya mengernyit, "Gak didalam, gak diluar!" gumamnya pelan.


"Aku pergi dulu, nanti aku kirim dead line laporan yang harus ditanda tangani El," ucap Metta dengan melambaikan tangannya pada Doni.


Metta pergi kekantor, dia menaiki bis umum untuk kesana, "Rasanya aku sudah lama tidak naik bis seperti ini! Apa El pernah naik bis?"


Haish kenapa malah mengingat dia lagi, Metta bergidik sendiri dengan fikirannya.


Tak lama kemudian bos itu berhenti di halte bis, Metta turun dan harus berjalan sekitar 1 blok untuk sampai dikantor.


" Itu kan Tiwi?" pandangan Metta mengarah pada sosok perempuan yang tengah memakai kaca matanya.


"Ti--Tiwi ...." Teriaknya.


Tiwi menoleh kearah belakang, "Cx ... kenapa harus ketemu dia sih!" ucap Tiwi yang berjalan semakin cepat.


.


.


Alan tiba dikantor, dia ditemani Mac, mereka tidak langsung kegedung utama, tapi mereka langsung menuju gudang untuk meninjau tempat kecelakaan hari kemarin dan memeriksa semuanya tanpa kecuali.


Brakk


Mac membuka pintu ruangan kepala gudang, seseorang pria paruh baya yang sempat diselamatkan oleh Farrel kemarin.


Dia melonjak dari tempat duduknya setelah Mac masuk dengan kasar dan semakin kaget setelah melihat Alan berada dibelakangnya.


"Pak ...." dia bangkit dengan tergopoh.


"Ba--gaimana keadaan pak Farrel?" Ucapnya terbata.


"Mac ...."


Mac maju menarik kursi untuk Alan duduk. Alan mendudukkan dirinya dihadapan kepala gudang itu.


"Duduklah!" titahnya.


Orang tua itu kembali duduk, dengan sapu tangan yang dia keluarkan dari balik jasnya, dia menyapu keringat yang tiba-tiba membasahi keningnya, lalu kembali memasukkannya.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja? Ku lihat kau tidak memeriksakan diri ke ruang kesehatan." Alan menautkan kedua tangannya, dan menempelkannya diperutnya, lalu menyandarkan punggungnya dikursi.


"A--aku baik-baik saja Pak, Ti--tidak mengalami cidera apapun, pak Farrel menolongku, dia tidak memikirkan dirinya sendiri," ucapnya pada Alan.


"Baguslah kalau kau mengerti, dengan begitu kau tidak akan lagi berbuat curang seperti kemarin," Alan memajukan tubuhnya lalu menatap tajam kearah kepala gudang.


"Apa maksudmu, si--siapa yang berbuat curang!"


Alan tersenyum simpul, tanpa melepaskan tatapan tajamnya,


"Bekerjalah dengan jujur, umurmu bahkan sudah tak akan lama lagi, jika kau sudah tidak mampu bersaing secara sehat, ajukanlah surat pengunduran diri!!"


"Apa maksudmu? jangan me-menuduh sembarangan tanpa bukti!" pria tua itu membela diri.


"Benarkah? Kau ingin bukti ...Apa Kau yakin?" Alan berseringai.


"Tentu saja, jangan hanya kau mempunyai kedudukan lebih tinggi, kau bisa seenaknya menuduh, kau bahkan melupakan tata krama pada orang yang lebih tua sepertiku, menuduh itu harus disertai bukti!" ucapnya panjang lebar.


Alan semakin berseringai, "Apa kau sedang meminta penghormatan dariku Tuan Adrian?"


Alan menghela nafas sejenak,


"Mac ... Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan!" Ucap Alan bicara tanpa melihat kearah Mac yang berdiri dibelakangnya.


Mac maju ke arah Adrian, " Maaf tuan, apa ini milikmu?"Mac meletakkan potongan pisau cutter diatas meja.


Adrian melebarkan kedua bola matanya saat melihat potongan cutter yang terletak di hadapannya.


"Apa bukti itu kurang?" Alan menarik sudut bibirnya sebelah.


"Aku tidak tahu ini apa? dan aku tidak mengerti apa yang anda katakan!" Adrian terlihat cemas, kedua pupilnya bergerak kesana- kemari tengah mencari alasan.


Alan mendecak, "Berhentilah main-main denganku! dan sudah kukatakan bukan, jika tak mampu bersaing, pensiunlah!"


Alan bangkit dari kursinya, dia mengangguk kearah Adrian, lalu berlalu pergi. Mac maju dan mencondongkan tubuhnya kearah Adrian, "Jika kau masih bermain-main dengan Bosku ini, akulah orang pertama yang akan menghabisimu!!"


Glek


Adrian menelan salivanya, dia kembali mengeluarkan sapu tangannya lalu menyeka keringat yang terus muncul diseluruh wajahnya.


BRakk


Mac menutup pintu dengan keras, bergegas menyamai langkah Alan yang sudah mendahuluinya.


"Mac, sepertinya kau harus berhenti dari club itu, bekerjalah sepenuhnya untukku! suatu hari kau akan menggantikanku menjaga anak nakal itu."


"Memangnya kamu mau kemana?"


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen nya yaa. Terima kasih


__ADS_2