Berondong Manisku

Berondong Manisku
Janji Bastian


__ADS_3

Andra berbalik meski dirinya merasakan keraguan, namun sikap kakaknya yang tidak biasa tapi juga meyakinkanya.


"Bersikaplah seperti tidak terjadi apa apa,"


"Anak buahku siap berlaku jahat pada Andra." bisik Faiz yang terlihat sedang mencium pucuk kepala Metta lagi.


"Lo pulang aja, gue juga tadi sudah menghubungi ibu kok pake ponselnya Mas Faiz,"


"Bilang ibu gak usah khawatir, gue pasti baik baik saja."


"Oke kalau gitu gue pulang ya kak,"


"Kabarin aku kalau kakak sudah sampai."


Metta mengangguk, namun hatinya tidak, "Ndra tolong gue,"


"Ndra, gue titip ibu sama Nissa yaa. Kalo ada apa apa hubungi gue ya."


Tidak ada sedikitpun kecurigaan dari Andra, terlebih Metta memang tidak memperlihatkan ketakutan pada dirinya.


Andra perlahan berjalan kembali, namun dia enggan untuk keluar, seolah ingin memastikan sekali lagi bahwa kakaknya memang baik-baik saja. Andra berdiri didekat eskalator. Memandang Metta yang berada didekapan Faiz dari jauh.


Bastian merogoh ponselnya lalu mengetikkan sesuatu pada seseorang sebelum dia mendekati Faiz, dia mencondongkan tubuhnya pada Faiz,


"Pesawat sudah siap, kita pergi sekarang."bisiknya.


Faiz mengangguk, "Ayo sayang, kita harus segera pergi."


Metta yang merasa tubuhnya sudah lunglai itu pun beranjak, melihat ke arah Andra yang menatapnya juga.


Andra hanya mematung saat kakaknya hendak melangkah pergi menuju pesawat yang sudah disewa Faiz.


"Gue kenapa jadi sedih gini,"


"Apa karena kakak tidak pernah pergi sejauh ini."


Baru saja melangkah beberapa langkah, terdengar tepukan tangan yang sangat keras, Andra pun sontak melihat kearah suara.


PROK


PROK


PROK


"Luar biasa"


Faiz dan Metta menoleh kearah suara tepuk tangan, betapa terkejutnya Faiz saat melihat orang yang baru saja datang, mendekatinya bahkan bertepuk tangan.


Termasuk Metta, dia bahkan tidak percaya penglihatannya sendiri, merasa semua ini hanya ilusi belaka.


"El"


"Kau,"bentak Faiz.


"Benar- benar luar biasa, kau mau pergi membawa kekasihku?"


"Membawanya berlibur?"


"Hahaha"


Dua orang yang mengawal Faiz maju tanpa komando, menghalangi Faiz dan Metta dengan tubuhnya. Namun Farrel tidak gentar, dia maju beberapa langkah, diikuti Alan dibelakangnya.


"Biar aku yang mengurusnya." Farrel merentangkan tangannya pada Alan yang hendak menerjang.


"Apa yang sebenarnya terjadi" Andra mempercepat langkahnya mendekati mereka.


Dua orang bertubuh tegap itu bahkan telah siap dengan kuda- kudanya. Faiz berseringai bagai diatas angin. Sementara Bastian mundur beberapa langkah menjauhi mereka, dia bahkan sangat ketakutan.


"Ini masalah kita berdua, apa kau terlalu pengecut hingga menyuruh banteng banteng ini melindungimu?"

__ADS_1


"Cih,"


"Rupanya aku salah menilaimu,"


"Kau ternyata cerdik juga, siapa yang ada dibelakangmu hah"


"Hahaha, aku berdiri sendiri. Tidak selemah dirimu yang memaksa seorang perempuan yang sudah jelas membencimu"


"Faiz lebih baik kau hentikan semua, sebelum terlambat," Seru Bastian dari belakang.


"Mereka tidak bisa diremehkan."


Faiz menoleh kan kepalanya, "Jadi kau bersekongkol dengan mereka Bastian?"


"Sial dan aku baru menyadarinya sekarang,"


"Kau yang memberitahu mereka?"


Bugh


Faiz menghantam Bastian dengan pukulan telak, hingga pria paruh baya itu tersungkur. Metta menjerit ketakutan.


"Habisi dia" seru Faiz pada anak buahnya.


"Tidak Faiz, hentikanlah semuanya. aku sudah bersedia ikut denganmu, Hentikan semuanya." Faiz berseringai.


"Kalian dengar itu!"


"Wanita bodoh" gumam Alan.


"Kakak" Farrel menatap nanar kekasihnya itu sementara kedua anak buahnya mulai menyerangnya.


Brak


Salah seorang anak buah Faiz melempar tong sampah pada Farrel. Dengan gesit Farrel berhasil menghindar, lalu menerjang orang berkepala plontos itu. Dia menangkis dan memukul Farrel mengenai sudut bibirnya.


Tak mau kalah Farrel membalas dengan pukulan bertubi tubi hingga orang itu terjungkal. Dia mengelap sudut bibirnya yang berdarah.


"Kau meremehkan ku?"


"Tidak tuan muda," Alan berseringai.


" Kau urus si botak," seru Farrel mendekati satu pengawal yang masih bertahan membentengi Faiz.


Andra diam diam mendekati Metta dari arah samping, dia berjalan pelan agar tidak terlihat Faiz yang masih menggenggam tangan Metta dengan erat.


Metta melihat kearah Andra dan bergumam "Pergilah cepat cari bantuan"


Namun Faiz menyadarinya, dia menoleh kearah Andra dengan tajam, membuat Andra terkejut bukan main.


"Sialan kau juga masih disini."


Andra menyerang Faiz, namun dengan cepat Faiz memintir tangan Andra kebelakang.


"Bocah ingusan"


"Andra" pekik Metta.


"Kakak,"


Farrel sekilas melihat kearah Andra yang tengah meringis.


Bugh


Pukulan mengenai sisi kepalanya hingga membuat telinganya berdengung.


"Sialan,"


Amarah semakin membuncah, dia menendang pria tegap itu tepat di dadanya, membuat nya tersungkur namun dengan cepat kembali bangun.

__ADS_1


Beberapa anak buah Alan tiba disaat yang tepat, mereka mengambil alih dengan melawan anak buah Faiz, Hingga Farrel bisa mendekati Faiz dan menyelamatkan Andra.


"Berhenti disitu atau dia kuhabisi" Faiz melingkarkan tangannya dengan kuat di leher Andra dengan tangan satunya masih memelintir dibelakang punggung Andra.


"Benar- benar pengecut"


"Sadarlah, sifat pengecutmulah yang membuat gadisku itu membencimu"


Faiz terlihat tertegun mendengar ucapan Farrel. Namun dia semakin membuat Andra kesakitan.


"Faiz hentikanlah, lepaskan adikku. Dia tidak bersalah apa-apa padamu"


"Aaahkk" Faiz mendorong Andra hingga tersungkur, Metta berhambur kearah adiknya.


"Kamu gak apa apa?" Andra mengangguk memegangi tangannya yang mungkin saja patah.


"Sha, kamu tau kan aku sangat mencintaimu" Ucap Faiz dengan lirih.


Tubuh Faiz tiba tiba merosot ke lantai, bertumpu pada kedua lututnya. Dia menangis tersedu bak seorang anak kecil.


" Aku mencintaimu Sha, apa yang aku harus lakukan untuk membuat mu kembali, aku benar benar kacau,"


"Aku minta maaf, aku benar benar minta maaf"


Faiz bersimpuh, dia benar- benar tak berdaya. Metta melihat Faiz dengan rasa iba, namun tidak lantas juga membenarkan apa yang dia lakukan.


Farrel mendekati Metta dan juga mengapit Andra yang kesakitan.


"Ayo kak kita pergi dari sini, polisi akan segera datang dan mengurusnya." Farrel merangkul bahu Metta.


"Boleh aku bicara dengannya dulu"


Farrel mengangguk, "Hati hati, aku menunggu kakak disini."


Metta berjalan mendekati Faiz,


"Mas, aku sudah memaafkanmu atas semua kesalahan dulu, hingga sekarang,"


"Kembalilah menjadi mas Faiz yang dulu mas, yang baik dan menghargai perempuan. Jangan sia siakan hidupmu dengan cara yang tidak benar seperti ini."


Faiz semakin tersedu, entah apa yang harus dia katakan pada kekasih hatinya, pujaan hatinya yang telah dia sakiti itu.


"Maafkan aku Sha,"


"Jaga dirimu mas, hiduplah dengan baik. Percayalah suatu saat nanti mas pasti menemukan cinta sejati mas"


"Terima kasih Sha," Faiz berhambur memeluk mantan calon istrinya itu dengan derai air mata.


Metta mengelus punggung Faiz dengan lembut "Sama sama mas"


Hingga polisi datang dan membawa Faiz serta Bastian dan kedua pengawalnya. Faiz tak hanya melakukan tindakan penculikan namun juga melakukan sabotase pada perusahaan.


"Terima kasih karena sudah menepati janji," ucap Farrel menjabat tangan Bastian sebelum dia dibawa oleh polisi.


Bastian mengangguk, "Saya minta maaf."


Maka dari itu Farrel dan Alan membiarkan Faiz menculik Metta, karena bukti yang menyatakan Faiz melakukan sabotase pada perusahan masih dinilai kurang.


"Kak, gue minta maaf karena lambat menyadari kalau kakak sedang dalam bahaya,"ucap Andra.


"Maaf gue gak becus jagain lo"


"Menjaga kakak sekarang menjadi tanggung jawab gue, lo tenang saja." Ucapnya menutup pintu Ambulance.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, pastikan selalu dukung karya receh dari othor remahan ini.

__ADS_1


Oiya, gimana sampai bab ini membosankan tidak?


Makasih😘


__ADS_2