Berondong Manisku

Berondong Manisku
Suddenly a bride


__ADS_3

Dinda menghentikan mobil tepat di depan rumah Metta, Metta langsung membuka seat beltnya dan berhambur keluar dari mobil. Tidak menghiraukan Dinda yang memanggilnya dari belakang.


Dia berlari masuk, melewati pagar rumahnya, tampak tenda sepanjang halaman dan kursi-kursi berjejer rapi. Bunga-bunga indah terpasang sepanjang jalan masuk.Apa ini?


Dia melambatkan langkahnya saat memasuki pekarangan rumahnya, mendapati motor berwarna hitam, motor sport milik Farrel yang dulu pernah membawa dirinya pergi ke Stasiun kereta api, motor yang membuatnya memeluk Farrel untuk pertama kali.


Dan motor itu pula lah yang membuat Metta mencium pipi Farrel pertama kali karena tingkah konyolnya. Astaga ada apa ini?


Metta berjalan masuk diteras depan rumah nya yang dimana terdapat kursi-kursi berjejer rapi.


Deg


Yang ditakutkannya hanya satu, Farrel akan bersikap konyol dan berlebihan, bukankah ini seperti sebuah acara didalam pernikahan. Please don't be silly about this (Tolong jangan bersikap konyol untuk hal ini)


"Sah"


Bagaimana saksi? Sah....


Sah


Tepat dimana Metta berada diambang pintu. Terperangah, tanpa bisa berkata apa-apa. Tubuhnya mematung, hatinya bergetar mendengar kata yang terdengar dari beberapa orang, tidak... bukan beberapa. Tapi semua keluarga berada disana, bahkan sanak saudara jauh pun ada disana.


Suara tawa menggema bercampur tepuk tangan yang riuh, membuat kinerja otak di kepala nya berhenti seketika. Bahkan pandangannya terasa mengabur. Semua tampak seperti berubah menjadi ruang dimensi lain, suara- suara memanggil namanya, orang-orang bergerak melambat. Dengan telinga seolah tidak bisa menangkap gelombang suara apapun.


Hingga tepukan dibahunya membuyarkan ruang dimensi yang tidak dikenalnya, pandangannya mengunci sosok paruh baya yang terdengar membacakan sebuah doa yang sarat petuah dan penuh makna. Berada disatu meja dengan beberapa orang yang terlihat mengelilinginya.


Dan sosok berpakaian jas rapi yang membelakanginya, namun sesaat kemudian menoleh kepadanya, dan juga adik laki-lakinya. Tepukan kedua dibahunya kembali dirasakan. Kali ini wajah semua orang tampak begitu jelas, dengan bibir yang hampir melengkung semua. Namun otaknya belum bekerja sepenuhnya, sebuah tangan hangat menjalar di tangannya dan menariknya perlahan.


Seolah masih tersesat diluar angkasa, seperti seseorang yang terkena hipnotis Metta hanya mengikuti langkah sesorang yang menariknya hingga masuk kedalam sebuah kamar. Apa ini?


Hingga dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, mencoba mengembalikan kinerja otak yang tiba-tiba berhenti. Sebuah tepukan dikedua pipinya yang terasa dingin.


"Sha ...are you oke?"


"Sha..."


Dua wanita yang kini tersenyum kearah nya. Membuat kinerja otaknya kembali, Hah.... ini sangat konyol !!


"Are you ok?" Tanya nya lagi.


Metta terkesiap, "Bunda...?" Ucapnya saat mata beradu dengan sosok cantik berkebaya tersenyum ke arah nya.


"Ibu...?"Sosok sederhana yang selalu membuatnya rindu. Yang mengusap tangannya lembut.


"Apa ini bu?"


"Selamat yaa, kamu sudah resmi menjadi istri Farrel dan menjadi menantu bunda."


Dia bertanya pada ibunya, namun yang menjawab adalah Bunda. Tunggu ... Istri? what....


Hingga seorang MUA menghampirinya dan mulai melukis wajahnya sedemikian rupa. Sementara kedua perempuan yang melahirkan dirinya dan orang yang kini menyebutnya suami itu menghilang dibalik pintu, dan yang tersisa hanya dirinya dan perempuan yang melukis indah wajahnya.


Tangan gesitnya merubah wajah Metta dengan cepat, menghias wajah dan rambutnya terlihat senatural mungkin. Dengan sentuhan terakhir dia tancapkan dibibir Metta.


"Sudah selesai, segini cukup atau mau tambah lipstik?"Metta menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Astaga... aku bahkan melewatkan bridal shower dan juga pengajian seperti waktu itu. Benar-benar konyol


"Kalau begitu sudah selesai, aku akan keluar dulu!" ucapnya dengan membereskan alat-alat tempurnya.


Dan kini dia memandangi dirinya sendiri di dalam cermin. Apa yang harus aku lakukan. Batinnya.


Tak lama dari MUA itu pergi, seseorang terdengar memanggil namanya yang disusul ketukan di pintunya. Metta menolehkan kepala, saat pintu itu terbuka. Sosok Andra yang melangkah masuk dengan wajah berseri, tersenyum lebar dan hampir tertawa. Sulit diartikan


"Kau...apa yang kau lakukan disini! Kenapa jadi seperti ini? kapan kau pulang hah...." tanyanya bertubi-tubi, sedangkan Andra hanya menggaruk kepalanya.


Rentetan pertanyaan yang berseliweran dikepala Metta belum juga terjawab, Andra terus tersenyum membuat Metta kesal. "Katakan atau kakak tidak akan keluar!" ancamnya.


"Ish...kakak bukannya senang aku pulang lebih cepat!"


"Iya kenapa? Pasti ada alasan nya kan..., katakan! Apa ini ulah Farrel."


"Bukan kak, bukan dia! Kemarin pihak penyelenggara memang memutuskan mempercepat jadwal pelatihan, karena kita semua langsung diikut sertakan dalam kejuaraan nasional, karena tim atlet inti dari mereka tidak bisa ikut."


"Kenapa?"


"Iya mana aku tahu, kakak tanya nanti sama Doni. Dia kan pemain inti club itu." ujarnya.


"Kakak belum paham...!"


Andra berdecak, "Kak Sha cantik udah ayo...."


Andra mengulurkan tangan, namun Metta masih terdiam. "Yuk... waktunya kakak keluar."


"Bagaimana mungkin itu terjadi begitu saja?"


"Nanti saja ceritanya ... yuk keluar dulu, semua sudah menunggu!" ucap nya mengapit tangan Metta.


"Kau juga...." ucap Metta pada Nissa yang takut-takut namun juga terkikik.


Hingga akhirnya dia menatap seseorang dengan jas hitam membalut tubuh tegap nya, yang kini menatap nya lekat, berdiri paling depan dengan senyum tersungging dari bibirnya.


Andra menyerahkan tangan kakaknya pada pria didepannya, yang menyambutnya dengan hangat. Kau konyol... ahhhhkkk aku ingin marah


Farrel membawanya duduk di depan pria paruh baya yang menyerahkan dokumen untuk mereka tanda tangani. Namun sebelum itu semua, mereka masuk pada sesi pemasangan Wedding ring.


Semua bersorak, saat Farrel membuka kotak beludru berwarna merah yang diletakkan di atas meja. Bersama barang lainnya yang mungkin adalah mahar.


"Ayo nak pasangkan." titah seorang pria paruh baya itu.


Lalu Farrel mengambil cincin yang membuat Metta kembali terbelalak. Cincin ini?


"Ini cincin yang kau suka, heart of eternity. Bagaimana aku akan melewatkannya begitu saja." ucapnya dengan memasukkan cincin itu.


Cincin pertama yang dia lihat di outlet tempo hari, yang diurungkannya karena harganya selangit. Namun kini cincin itu melekat di jari manisnya. Lalu dia pun mengambil cincin untuk dipakaikan nya pada Farrel.


"Kau benar-benar konyol!" ucapnya saat memasangkan cincin nya.


"Yes I'm...." gumamnya sambil tersenyum membuat Metta semakin membelalak dan mencubit pelan pinggang Farrel.


Membuat semua orang tergelak kearah mereka,

__ADS_1


Cium


Cium


Satu kata yang membuat riuh kembali dengan penuh gelak tawa bahagia, Farrel kemudian mencium kening Metta lama dan dalam.


Kurang...


Kurang...


"Ayo cium lagi, bukan begitu caranya."


Semua memandang kearah Doni karena ucapannya, lalu terdengar berakhir dengan suara tawa. Astaga.


"Untuk yang itu ... nanti saja, aku tidak mau mereka melihatnya." bisik Farrel saat mencium pipi Metta dengan lembut.


Metta kembali mendaratkan cubitan kecil dipingganggnya, dengan kedua mata yang membulat sempurna mengarah padanya.


"Kau harus menjelaskan semua nya padaku,"


"Iya istriku ... nanti malam aku akan menjelaskan semua nya. Tidak akan terlewat sedikitpun." bisik nya saat mereka menyalami semua keluarga nya.


"Iiihh...."


.


.


Metta berhambur memeluk Ibunya, dengan tangis yang bersedu sedan, begitupun dengan ibu Sri, air mata itu meluncur dengan bebas. Ada kelegaan dihatinya, kini dia dan anak pertamanya itu menangis bahagia. Menggantikan seluruh air mata saat pernikahan yang dulu gagal.


"Selamat sayang, ibu doakan semoga kaliaan selalu bahagia,"


"Terima kasih bu...." ucap Metta. Sedangkan Farrel mengusap punggung gadis yang kini menjadi istrinya.


Begitu juga dengan Ayu yang memeluk mereka bergantian dengan derai air mata dari kedua matanya. "Sudah Bun, ini hari bahagia. Bunda tidak usah menangis,"


"Ini juga menangis bahagia yah, sekarang anak bunda itu sudah menikah. Rasanya waktu begitu cepat berlalu." ujarnya dengan memeluk suaminya.


Sementara disudut ruangan sana, tampak Dinda yang juga berderai air mata, melihat sahabatnya kini telah bahagia.


"Hapus air matamu! Jelek sekali wajahmu saat menangis! ujar Alan yang menyodorkan sapu tangan didepan wajahnya.


Dinda menyambarnya, Lalu dia menyusut air mata diseluruh wajahnya, dan mengembalikan sapu tangan setengah basahnya itu pada Alan.


"Terima kasih!" ujarnya dengan berlalu.


Farrel tak hentinya tersenyum, menatap lekat Metta yang kini duduk disampingnya, Metta menoleh kearah nya, "Apa?"


Farrel menggelengkan kepalanya, "Istri ku cantik sekali." membuat Metta tersipu.


"Yes I suddenly a bride (Ya aku mendadak jadi pengantin)


.


.

__ADS_1


#Author geli sendiri wkwkwk.


Siapa yang udah dapat undangan? Komen dan like jangan lupa. Tapi maaf kalau author masih suka telat balas. kwkwkw.


__ADS_2