Berondong Manisku

Berondong Manisku
Farrel, KELUAR KAU!


__ADS_3

Benarkah? Kau beruntung sekali kalau begitu! Biasanya dia tidak sembarangan menerima hadiah,"


Hm... tentu saja aku beruntung, kau akan lihat suami mu saat bersamaku nanti malam.


Chaira tersenyum penuh arti pada Metta, Sedangkan dia menatap heran pada gadis blasteran yang selalu berusaha mencari perhatian Farrel suaminya.


"Kau akan tahu nanti." ujarlah lalu keluar dari toilet.


Metta mematikan air dari wastafel, lalu mengeringkan tangannya dan keluar juga dari toilet, 'Apa coba maksudnya?' gumamnya.


Metta yang berniat menemui Dinda terlebih dahulu, kini berbelok menuju ruangan kerja Farrel.


Dia menghela nafas sebelum mengetuk pintu, samar-samar dia mendengar jawaban menyuruhnya masuk dari dalam, dia masuk dan menatap Farrel yang tengah fokus dengan rancangan gedung pencakar langit miliknya.


"El ... kau sibuk?"


"Sayang, ada apa? Apa kau merindukanku?" ujarnya terkekeh.


Metta mendengus, "Memangnya kenapa? apa aku tidak boleh berkunjung ke kantor suamiku sendiri?"


"Tentu saja boleh, kakak bebas keluar masuk ruanganku ada atau tidak ada aku," ujarnya sambil berdiri dan merengkuh pundak istrinya.


Metta memicingkan matanya, "Begitu juga Chaira?"


"Kakak tahu Chaira datang ke sini?"


"Tuh kan benar, berarti dia dari sini? Dan iya ... tadi kita bertemu di toilet, dan kau tahu apa yang dia bilang padaku?"


"Memangnya apa yang dia bilang?"


"Dia akan memberiku hadiah sebelum dia pulang." ujar Metta yang mengalungkan kedua tangan pada leher Farrel.


Farrel tergelak. "Kakak tidak cemburu?"


Metta menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tahu suami ku tidak akan melakukan hal yang aneh- aneh di luar sana! Kalau iya, awas saja!" ancamnya kemudiian.


Farrel kembali tergelak, "Kalau aku berani?"


Metta memutar kan tubuhnya dengan melepaskan pelukan Farrel. "Aku pastikan kamu menyesal seumur hidup."


"Kakak menakutkan! Tapi tenang saja, aku tidak tertarik dengan hal-hal yang aneh, selama kakak berada disampingku!"


"Gombal!"


"Masih tidak percaya?"


Metta mengerdikkan bahu, dia lantas menghempaskan tubuhnya disofa.


"Aku percaya kamu, tapi tidak dengan wanita-wanita diluar sana!"


"Sayang, masih kurang apa coba aku ini? Udah tampan, baik hati, setia, apalagi coba? hem...?"


Metta berdecak, "Kau tidak tahu jika wanita yang tengah terobsesi dengan mu, dia akan menghalalkan segala cara agar mendapat perhatianmu,"


"Hanya kakak yang tidak begitu!" ujarnya dengan terkekeh.


Metta mendengus, "Udah deh, kenapa kamu jadi bawa-bawa aku?"


"Kau mau melakukan apa El padanya?" imbuhnya lagi.


"Aku akan memberikan hadiah terlebih dahulu, sebelum dia yang memberi kakak hadiah! Kakak mau titip pesan untuk nya?"

__ADS_1


"Memangnya kau mau melakukan apa? Jangan aneh-aneh El." tanyanya ulang.


"Kita ikuti saja permainannya terlebih dahulu."


Metta tak lagi bicara, dia tengah berfikir dengan menatap Farrel yang tengah terkekeh.


"Sayang ... please percaya sama aku?"


"Tap--"


Namun Farrel dengan cepat membungkam mulut istrinya itu, melu- matt nya dengan lembut.


Metta mendorong dadanya, "Iihh... kebiasaan deh orang aku lagi ngomong juga!"


"Habisnya kakak gemesin banget, aku jadi tidak tahan." ujar Farrel merengkuh pinggangnya dengan erat.


"Farrel kita dikantor! Jangan mengambil keuntungan sekarang." ketuanya seraya melepaskan tangan suaminya dari pinggang.


"Sebentar saja, yaa... yaa!" menaik turunkan kedua alis.


"Kita kan bisa lakukan dirumah, dasar! Udah deh, lepasin, aku kan mau nganterin berkas ini."


Metta menghentakkan kakinya, lalu keluar dari ruangan dengan kesal. Aku selalu lupa kalau dia bocah konyol, tidak mengenal tempat.


Sedangkan Farrel bergeleng kepalanya, lalu menyusul nya keluar. Fikiran kakak masih sulit ditebak.


Sepasang suami istri itu kini keluar dari ruangan, Metta yang membawa berkas yang akan dia berikan saat menemui Dinda, sedangkan Farrel hendak menemui Alan.


Namun lagi-lagi meja itu kosong. Dinda tidak ada ditempatnya. Entah kemana dia.


"Kemana lagi dia? Kebiasaan banget deh!" gumamnya.


Metta merogoh ponsel dan menghubungi nomor kontaknya. Namun dering telepon terdengar tak jauh dari sana.


"Temen kakak yang satu itu memang aneh!" ujarnya terkekeh.


Metta melongo saat Dinda keluar dari ruangan Alan dengan terkikik, lalu dia melihat ke arahnya, Metta dan Farrel hanya saling bertatapan.


"Sayang, Aku menemui Alan dulu." ujarnya dengan mengecup kilat bibir Metta lalu terkekeh.


"Iiihhh... Farrel!"


"Kenapa kau?" ujar Farrel lalu masuk kedalam ruangan.


Dinda menghembuskan nafasnya lalu berjalan ke meja kerjanya,


"Pamer terus pamer... kebiasaan! Membuat aku yang... eh," menengok pintu. " Udah gak jomblo deh!" ujar nya dengan terkekeh.


Metta memutar malas kedua matanya, lalu menyimpan berkas diatas meja Dinda.


"Kenapa suamimu?" tanyanya pada Metta.


"Dih, kamu yang kenapa? Malah nanya orang!" gidik Metta.


.


.


"Al, kau sibuk?" ujar Farrel saat masuk kedalam ruangan.


Alan gelagapan, "Kebiasaan, masuk gak ketok pintu dulu!"

__ADS_1


"Uupps... sorry! Aku lupa kalau kamu udah punya kekasih, di sini pula...." ujarnya dengan mengedipkan mata.


"Jangan bicara sembarangan, katakan ada apa?" ujar Alan ketus.


"Udah punya kekasih hati, masih saja galak! Apa kau segalak ini padanya? Aku gak bisa bayangkan, hahaha!" ujarnya tergelak.


Pluk


Alan melempar bolpoin ke arahnya, namun Farrel bisa mengelak, dia kembali tergelak.


"Bersihkan otak kotormu anak nakal!" seru Alan dengan kesal.


"Memangnya kau tahu apa yang aku pikirkan Alan bodoh!" tergelak kembali.


"Aku tidak bisa membayangkan seberapa kakunya dirimu Al, saat menginginkan itu...." kembali tergelak dan kali ini terpingkal-pingkal.


"Farrel, sialan! Hentikan ocehanmu!"


Farrel tidak berhenti tertawa, dia terus membayangkan Alan yang selama ini tidak pernah dekat dengan perempuan, tiba-tiba mempunyai seorang kekasih,


"Farrel, kalau kamu tidak berhenti tertawa, enyahlah dari sini! Kau menganggu sekali!"


"Oke...oke kali ini aku serius!" ujar Farrel namun mengulum bibirnya menahan tawa.


Alan menatapnya tajam, tapi Farrel malah kembali tergelak.


"Sumpah wajahmu Al, lucu sekali! Apa wajahmu begitu juga saat itu..." ujarnya dengan menggerakkan kedua tangan yang dikerucutkan lalu diputar-putar nya.


"Farrel Adhinata, KELUAR KAU DARI SINI!" suara bariton milik Alan terdengar hingga keluar, membuat Metta dan Dinda saling pandang.


"Suamimu, bikin ulah?" gumam Dinda.


"Mungkin suamiku sedang menggoda pacarmu yang kaku itu, si manekin hidup!" ucap Metta terkikik dan seketika menutup mulutnya.


"Hei, jangan terus memanggilnya begitu! Dia kekasihku sekarang, My sweety ice."


Metta menoyor kepala sahabatnya, "Basi, baru juga jadi pacar!"


"Shaun, jaga tanganmu! Kau harus sopan pada calon kakakmu ini."


Ucapan Dinda membuat Metta tertawa hinga nyaris terjungkal, "Gak kebayang aku punya kakak seperti mu!"


"Kau mau kita tinggal bersama? Pasti seru." ujarnya terkikik.


"Membayangkannya saja membuat bulu kuduk ku berdiri."


"Sialan kau fikir aku hantu! Memang benar-benar nih suami istri gak ada yang bener!" ujar Dinda dengan menggeleng kan kepalanya.


Pintu terbuka, Farrel yang tergelak silih dorong mendorong lalu Alan menutup pintunya dengan keras.


Farrel terus saja tertawa, membayangkan sikap Alan jika saat berdua dengan kekasihnya.


"Sayang aku baru saja di usir,"


Dinda menatapnya nyalang, "Dasar pengganggu!" gumamnya.


"Kau sih, pasti mengatakan hal yang konyol," ujar Metta dengan tangan terulur merapikan dasi Farrel.


"Apa yang kau katakan padanya, sampai dia sekesal itu?"


"Aku tidak mengatakan apa-apa sayang!"ujarnya mengulum bibir.

__ADS_1


Farrel lalu menatap Dinda, "Hei, kau! gara-gara kau, aku lupa tujuanku datang kesini!"


__ADS_2