Berondong Manisku

Berondong Manisku
Semakin manja


__ADS_3

Seharian dirumah saja membuat Metta yang terbiasa bekerja itu merasa bosan, dia hanya berguling-guling di atas ranjang king size nya,


Bahkan beberapa kali mengganti chanel televisi, namun juga tidak bisa merubah rasa bosan yang dirasakannya. Sampai dia berinisiatif untuk melakukan segala hal di apartement nya.


Menata barang, bahkan memasak.


Semua hal dilakukannya, tapi tetap saja tidak menhilangkan rasa bosan, hingga àkhirnya dia memutus kan untuk ke kantor menemui suami dan sahabatnya, Dinda.


Farrel sudah mewanti-wanti


jika dia keluar rumah harus diantar oleh Mac. Akhirnya setelah setelah bersiap-siap Metta harus menunggu Mac. Tak lupa menyiapkan bekal makan siang untuk Farrel.


Tidak lama Mac pun akhirnya datang, dia membuka pintu untuk Metta sesuai apa yang di perintahkan Farrel padanya.


"Mac kita ke kantor." ujar Metta saat Mac melaju.


Mac hanya mengangguk, dan melaju kendaraan nya. Mereka mengarah ke kantor Adhinata, Metta ingin menemui Dinda, sudah lama dia tidak bercengkrama dengannnya.


Tak lama mobil sampai di gedung utama PT Adhinata, Mac turun membukakan pintu untuknya. Dia turun lalu msngangguk ke arah Mac,


"Kita masuk Mac!" ujarnya dengan melangkah masuk kedalam lobby perusahaan.


Ting


Mac menekan tombol lift sementara Metta masuk kedalamnya.


"Mac, kau tidak perlu melakukan hal seperti itu, aku bisa melakukannya, kau bisa santai sedikit saat bersamaku." ujarnya.


"Tidak apa-apa, itu sudah pekerjaanku."ucap Mac datar.


Metta mendesis Kearah nya, Ish, kau ini memang benar-benar, persis sekali boss mu itu.


.


Ting


Lift pun terbuka, Metta berjalan menuju ruangan suaminya, di ikuti oleh Mac.


Dia mengetuk pintu lalu masuk.


"Sayang...." seru Farrel yang tengah duduk bersama Doni.


Farrel bangkit menyambut Istrinya."Kenapa ke sini? bukankah aku menyuruh kakak istirahat saja?" sambil mencium pipi kiri dan kanan.


Sementara Doni membuang wajahnya seraya mendesis. "Dasar....


"Aku bosan dirumah! Makanya aku ke sini saja, mengantarkan makan siang untuk mu, sekalian aku mau bertemu Dinda." meletakkan paper bag diatas meja.


"Hai... kak istrinya bos," Sapa Doni melambaikan tangannya.


Farrel tergelak, namun Metta mencubit pinggang suaminya, "Pasti gara-gara kamu, iya kan?"


Farrel meringis, "Aahh...kakak sakit!"


"Syukurin ...." gumam Doni.


"Ayo Don, kamu juga ikut makan!" ajaknya.

__ADS_1


Farrel berdecak, seraya mendorong tubuh Doni, "Dah kerja sana!"


"Sayang, kok gitu! Biarkan saja Doni ikut makan, Mac juga, lagi pula aku memasak banyak," ucap Metta sambil menyendok lauk ke dalam piring untuk Farrel.


"Enggak kok Kak, lagi pula dia sudah harus pergi, iya kan Don?" ujar Farrel mengedipkan sebelah mata pada Doni.


Doni yang memang tidak ingin berlama-lama didalam ruangan segera bangkit, "Iya... aku memang harus pergi sekarang, permisi ... Rel aku pergi, ada yang harus aku urus!"


Doni pun keluar dari ruangan Farrel, dari pada harus melihat pasangan suami istri. Lagi pula fikiran nya tengah kacau. Mac mengatupkan bibirnya dan ikut keluar dari sana.


"Sayang, kebiasaan deh! bikin aku tidak nyaman, liat mereka keluar seperti itu!" mendudukkan tubuhnya di sofa.


Farrel menghela nafas, "Tidak apa, lagi pula Doni memang sedang mengurus sesuatu."


"Sibuk? Kamu gak lagi nyuruh dia yang aneh-aneh kan?"


Kedua mata menyipit ke arah suaminya yang kini tengah menyuap, semenjak kejadian kemarin dengan Chaira, Metta selalu was-was jika suami nya tengah berbicara hanya dengan Doni. Takut merencanakan sesuatu yang konyol lagi.


Farrel yang merasa sang istri yang menatap nya penuh curiga itu menatapnya.


"Enggak sayang ... aku tidak merencanakan sesuatu, itu masalahnya sendiri."


Farrel meraih tangan Metta, lalu diciumnya tertubi- tubi. "Kakak sayang banget kan sama Aku?"


Menepis tangan, "Iihh... apaan sih, dah ah aku mau ketemu Dinda dulu!"


Farrel merengut, piring nya saja masih penuh. Tapi Metta sudah berdiri dan membenahi pakaiannya,


"Sayang ... " lirihnya.


"Apa...?"


"Farrel, aku cuma ke situ doang! Ketemu Dinda,"


"Gak boleh keluar sebelum aku selesai makan!" ujar Farrel mendekap kedua tangan di dadanya.


"Apaan sih, manja banget." gumam Metta.


Farrel menarik pergelangan tangannya, "Kakak duduk disini dulu!" ujarnya menepuk sofa.


"Eel... aku mau keluar!" sungutnya.


"Aku belum mengijinkan kakak! Tau kan kalau tidak ada ijin dari suami itu bagaimana?"


Kali ini Metta merengut, Terus ngapain aku kesini, kalau ujung-ujungnya malah gak bisa kemana-mana!


"Tapi aku mau ke mall, El!"


"Kakak kan tidak suka pergi ke mall! udah deh, mending kak Sha suapin aku!" ujarnya dengan alis yang naik turun.


Metta menyilangkan kedua tangan di dadanya, "Aku gak mau! Aku mau ke Mall!?"


"Iya nanti aku temenin!"


"Aku maunya sekarang! Sama Dinda, bukan sama kamu!"


"Kok jadi kamu yang marah?" ujar Farrel menjumput hidung istrinya.

__ADS_1


"Aku mau ke mall El, kalau cuma diem di sini aja, ngapain aku ke sini?" ujarnya dengan mencebikkan bibirnya.


"Baiklah, kak boleh pergi tapi cium aku dulu!"


"Farrel ... ayolah, kenapa dikit-dikit cium... dikit- dikit cium! Iihh... nyebelin banget!"


Alih-alih menjawab atau menyangkal, Farrel malah menunjuk pipinya sendiri, sampai Metta terlihat kesal sekaligus gemas melihatnya.


"Tahu gitu aku langsung saja ke Mall, tidak usah mampir ke sini dulu! Nyebelin....!"


Farrel menarik sudut bibirnya sebelah, "Kalau gak mau ya sudah, berarti kakak hanya boleh disini saja, nemenin aku kerja habis itu baru kita ke Mall. Deal?" ujarnya dengan mengulurkan tangan.


Metta menepisnya, "Aku gak mau gitu, Farrel!"


Farrel mendekat, "Jadi kakak maunya apa hem?" kesenangan mau?" ucapnya lalu tergelak.


"Farrel!!"


"Kamu tuh iihh...! Gak ngerti perasaan aku!" ucap Metta dengan kedua mata yang memerah.


"Iihh...kakak Manja banget sekarang!" ujarnya terkikik.


"Tahu ah nyebelin, aku mau pulang saja!" ujarnya bangkit dari sofa.


Namun Farrel segera ikut bangkit dan mencek lengannya.


"Oke ...oke, kakak boleh pergi sama Dinda tapi di anter Mac, Oke?"


Metta mengangguk, Farrel menarik kepalanya, "Anak baik...!"


Cup


Metta mencium kilas bibir Farrel, "Makasih sayang."


'Semakin lama, kakak semakin manja, gemesin.' gumamnya melihat punggung Metta menghilang dibalik pintu.


Dia akhirnya keluar dari ruangan Farrel, dengan senyum yang merekah di bibirnya, dan berjalan melewati koridor panjang ke tempat dimana sahabatnya berada.


Namun sudut matanya menangkap Doni yang tengah bersandar pada tembok dengan pandangan yang sulit diartikan, Metta terhenti sesaat untuk melihatnya, terlihat Doni yang menghela nafas berkali-kali.


"Aku sudah sering lihat dia berduaan sama Tiwi."


Metta tersentak dengan suara bisikan dari arah belakang. Dia menolehkan kepalanya, "Astaga, sardin... bikin aku kaget saja!"


Dinda terkekeh, "Kaget yaa! Maaf sayang!"


Metta menghentak kaki, "Ih...jijik!"


"Eh Sha, benaran... aku gak bohong Sha, aku pernah melihatnya pergi berduaan, aneh gak sih! Aku juga pernah lihat mereka berdu--."


Ucapan Dinda terhenti saat melihat Tiwi berjalan mengarah pada Doni dan menamparnya!"


"Astaga...kita pergi Sha!!"


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen, jangan bosen yaaa... By the way fav nya berkurang wkwkwk


__ADS_2