
" Kak.."Farrel berlari memeluk Metta dari belakang.
" Kak maafin aku "
Sesaat mereka mematung dengan posisinya.
Metta melangkahkan kakinya, namun juga tidak menolak saat Farrel memeluknya seperti saat ini. Ada perasaan aneh dalam hatinya saat ini, seketika merasa bahunya terasa basah, dengan suara isak terdengar dari orang yang tengah memeluknya.
" Kaa...mu kena pa menangis "
Tak ada jawaban dari Farrel namun terdengar isak pelan dari Farrel dan rembesan air membasahi baju Metta.
" Astaga, memangnya aku berbuat apa sampe dia menangis" batin Metta.
Farrel membalikkan tubuh Metta menjadi menghadapnya.
" Kak..."
Deg..
Farrel memegang bahu Metta, sesaat Manik hitam Metta beradu dengan Farrel, wajahnya yang imut kini menjadi sayu, kedua matanya sembab oleh cairan bening.
" Kakak, maafkan aku! tapi..boleh kah aku cemburu? saat melihat kakak dekat dengan Doni, bahkan kakak bisa tersenyum saat bersama nya"
" Boleh kah aku cemburu?"
Metta memandang nanar Farrel, entah apa yang mesti dia katakan. Sendirinya saja bingung, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Farrel.
" Kak..?"
" Aku..."
" Kakak bisa tertawa dengan lepas saat bersama dia,"
" Kenapa denganku tidak kak?"
" Kakak berjalan berdua dengan Doni tanpa ragu, tersenyum dengan manis, berkata dengan manis, bahkan kakak tidak melihat ke arah ku!"
" Kakak menerima ajakan Hendra untuk pergi, kenapa kakak tidak berusaha menolak "
" Asal kakak tahu, itu semua membuatku cemburu,"
" Kenapa rumit sekali,." batin Metta.
" Aku..."
" Kakak tidak usah menjawabnya,"
" Boleh atau tidak aku akan tetap cemburu!"
ucap Farrel.
" Heh..."
" Apa apaan?" Batin Metta, sementara bibirnya masih diam seribu bahasa.
" Apapun jawaban kakak aku tidak akan menyerah " Ucap Farrel dengan tegas.
" Maaf kalau aku membuat kakak bingung,"
" Tentu saja, kau juga membuatku pusing" batin Metta.
" Tapi aku tidak akan berhenti,"
Farrel mengusap sisa air mata di wajahnya.
" Maaf, aku tidak menangis ini hanya kelilipan, rambut kakak tadi menusuk bola mataku" Ujar Farrel berkilah dengan terkekeh.
Metta hanya menarik tipis bibirnya ke atas, otaknya seakan tidak berfungsi, entah harus bicara apa dan melakukan apa. Hatinya gamang.
Farrel tidak bisa menahan dirinya saat melihat Metta beriringan dengan sahabatnya, rasa cemburu menyeruak didalam dirinya.
Farrel menyusupkan rambut Metta ke belakang telinganya, menempelkan telapak tangannya pada sebelah pipinya Metta.
Metta masih diam seribu bahasa, kedua manik hitamnya terus menatap Farrel, seolah sedang menyelisik kebohongan disana, namun tak ditemukannya.
Mata itu begitu jujur, begitu menenangkan seakan hendak menghanyutkan dirinya di dalamnya. Namun Metta justru takut, rasa yang menenangkan itu yang akhirnya akan membuat dirinya semakin hancur. Pernah terjatuh di jurang paling dalam membuat Metta takut melihat ketinggian dari sebuah rasa.
__ADS_1
Tak satupun kata yang keluar dari mulut Metta, entah apa yang harus dia ucapkan, tak ingin memberi luka pada hati Farrel karena dia tahu rasanya terluka seperti apa.
Rasa cinta yang membuat sebagian orang akan bahagia, namun ada luka yang selalu menyertainya.
" Apa kakak mengerti?" tanya Farrel dengan lembut.
" Tapi.."
" Tidak ada tapi, aku bahkan mencintai kakak tanpa ada tapi " ucap Farrel.
" Kakak mengerti?"
" Apa yang harus aku jawab!"
"Apa aku harus percaya?, yang bahkan rasa percaya ku terhadap seorang pria sudah rasanya sudah lama hilang." batin Metta.
" Apalagi dia yang bisa dibilang masih muda, dengan ketampanannya, dengan karisma nya, semua yang dimilikinya."
" Sedangkan aku, jauh berada diatasnya, saat dia dewasa nanti aku pun akan menua, saat dia mapan, aku semakin tak berdaya, saat dia yang bersemangat aku yang akan menyerah, saat dia menguat justru aku yang melemah "
Suara hati Metta terus mengingatkannya tanpa henti, keraguan demi keraguan hingga membuat ketakutan yang kentara dalam dirinya.
" Aku tidak ingin terluka dan jatuh lagi," batin Metta.
" Apa yaang sedang kakak pikirkan?" tanya Farrel yang melihat Metta hanya berdiam saja.
" Tidak ada!" Metta berkilah.
" Apa kakak tidak percaya apa yang aku katakan?"
" Aku..."
" Katakanlah,"
" Tidak ada, sudahlah "
" Kak, aku bahkan pernah melihat kakak menangis, melihat kakak yang tengah sedih, apa kakak masih tidak percaya aku." tukas Farrel dengan jelas.
Metta melangkah berjalan menyusuri perkebunan, hawa dingin yang menerpa seolah tidak berasa untuk dingin nya hati Metta.
" Kamu tidak tau rasanya seperti apa!" sahut Metta.
" Sudahlah kau tidak akan mengerti Farrel "
Metta berbalik meninggalkan Farrel yang terpaku ditempatnya,
Farrel mengerjarnya, kemudian mencekal tangannya.
" Kak..!"
" Apa aku salah?
Metta menggelengkan kepalanya.
" Katakan apa yang ingin kakak katakan!" seru Farrel mengendurkan cekalannya.
Sedangkan Metta tertunduk, lagi lagi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Metta menghela nafas, memandang Farrel yang tengah menatap nya.
" Rel, kita itu berbeda jauh, tidak mungkin akan berjalan dengan lancar"
" Kakak meragukan diriku yaa,?" ucap Farrel.
Metta tidak menjawabnya, pandangannya beralih pada hamparan kebun teh yang hijau, semilir angin menerpa wajahnya.
Ketakutan, itulah yang sedang bergelut di kepalanya.
" Sudahlah kakak tidak usah memikirkannya!"
" Ayo kita kembali.." Ajak Farrel pada Metta.
Dia tidak ingin membuat semua menjadi semakin rumit, mungkin merasa waktunya tidaklah pas. Namun dirinya tidak akan pernanh menyerah sampai akhirnya Metta akan menjadi miliknya.
Keyakinan, itu lah yang di miliki Farrel.
Sesaat mereka berada dalam kebisuan, mereka tengah sibuk dengan pikirannya masing masing.
.
__ADS_1
.
Sesaat kemudian.
" Kakak, "
" Apa kakak ingat apa janji ku tempo hari?"
Metta menggelengkan kepalanya.
"Baik, akan aku ingatkan lagi janjiku pada kakak! Aku tidak akan menyerah pada kakak, jadi tolong kakak tunggu aku "
" Kakak mengerti"
Metta beralih memandang Farrel.
Kamu tidak usah berjanji apa apa padaku " ucap Metta akhirnya.
"Janji itu ibarat hutang, dan setiap hutang wajib di bayarnya, tapi aku adalah orang yang tidak akan menagih hutang, jadi tolong jangan berjanji sesuatu padaku " tukas Metta dengan pandangan yang sulit diartikan.
Farrel terhenyak, baginya Metta sungguh berbeda. Jika perempuan lain akan mudah percaya dengan kata janji namun Metta tidak.
Benar benar berbeda.
" Sedalam itukah luka yang kakak pendam,?"
Batin Farrel.
.
.
" Baik.., aku akan tarik janjiku pada kakak "
" Aku tidak akan pernah menyerah pada kakak, jadi tolong tunggu lah aku"
" Berjanjilah pada dirimu sendiri,!"
" Aku berjanji pada diriku sendiri! tidak akan menyerah pada kakak, jadi tolong tunggu lah aku" ucap Farrel dengan mengacungkan 2jarinya ke udara.
Metta tertawa akhirnya, sungguh apa yang difikiran nya begitu rumit namun menjadi mudah di pikiran Farrel.
" Begitukan kak!" Farrel melangkah mendekati Metta.
" Dasar, bahkan kau tidak tau apa apa!" tukas Metta.
" Aku..? tidak tau apa apa..? kakak salah, aku bahkan tau semuanya!" Farrel terkekeh.
" Kau tau apa?"
" Semuanya.." bisik Farrel.
" Semuanya, apa maksudmu semuanya?" tukas Metta memicingkan kedua manik hitamnya.
Farrel terkekeh,
" Rahasia.."
" Kau,..?"
" Sudah ayo kita kembali kak, aku lapar !" tukas Farrel mengusap perutnya.
" Memangnya aku tidak" sahut Metta.
" Kakak..." teriak Farrel saat Metta melangkah dengan cepat melewati dirinya.
.
.
.
🍁🍁
Jangan lupa like, komen dan jadikan Fav yaa.
Bab sebelumnya udah aku revisi sebagian,
__ADS_1
Terima kasih😘