Berondong Manisku

Berondong Manisku
Saran Bunda menyesatkan 2


__ADS_3

"Ayo kesana, cobalah saran Bunda yang sudah Bunda contohkan barusan,"


"Ta-tapi bun..."


"Kamu pasti bisa meluluhkan hatinya dengan cara mu sendiri, tidak usah terlalu mirip dengan yang kamu lihat dari bunda, "


"Bagaimana? paham kan maksud Bunda?"


Metta mengangguk, "Tapi bun, bagaimana kalau ternyata El tidak sama seperti Ayah?"


"Kamu coba dulu, El pasti luluh karena dia benar-benar menyayangi kamu sayang," Ayu mengelus lengan Metta.


"Bunda do'akan yang terbaik untuk kalian, maafkan anak nakal Bunda yaa, dia pasti sering membuat kamu kesal dengan sikapnya yang masih kekanak-kanakan,"


"Aku yang harus meminta maaf bun, aku juga masih suka bersikap seenaknya, tanpa memikirkan perasaannya." Metta menundukkan kepalanya.


"Ya sudah sana, samperin sana anak nakal itu! selesaikan masalah kalian. Jangan dibiarkan, nanti malah tambah merusak hubungan kalian,"


Metta mengangguk, "Iya Bunda, terima kasih karena Bunda sudah mengerti!"


Ayu bersikedap tangan, "Bunda tidak mengerti apa-apa, karena kamu tidak bercerita dengan lengkap pada Bunda,"


Metta terkekeh, " Maaf Bun,"


Metta dan Ayu tergelak bersama. Arya menghampiri keduanya, dengan tangan yang merangkul istrinya.


"Kita pulang sekarang Bun,?" Arya menaik turunkan kedua alisnya bersamaan.


"Ayaaaah... malu ada calon mantu!"


kemudian mereka bertiga tergelak kembali. Sementara Farrel melirik Metta dari jauh dengan pandangan yang sendu.


Ayu merangkul Metta,"Bunda dan Ayah akan pulang duluan, nanti kamu diantar El ya sayang."


"Segera selesaikan masalah kalian!"


Metta mengangguk, "Terima kasih Bunda, Ayah!"


.


.


Metta menarik nafas lalu dia hembuskan perlahan, berjalan mendekat pada Farrel yang tengah duduk sendiri. Berpura-pura sibuk dengan ponselnya.


"El ..." Metta mulai dengan memegang bahunya seperti yang dia lihat dari Ayu tadi.


"Kamu masih marah sama aku?"


Farrel masih diam saja tidak menjawab.


"Maafin aku sayang..."


"Astaga, aku merinding sendiri."


"Memangnya kenapa aku harus marah? bukankah aku tak berhak apa-apa?" Farrel menjawab dengan ketus.


"Sayang bukan begitu .... Maafin aku,"


"Ayo Sha terus, keluarkan keahlianmu!" Metta memejamkan matanya sesaat.


Metta meraih tangan Farrel, "Aku tidak bermaksud berkata begitu waktu itu ...."


Farrel hendak menarik tangannya, namun Metta menahannya, "Sayaaaang .... please!"


"Kurang Sha, kurang... Astaga!"


Tangan Farrel terhenti, " El sayang .... lihat aku!"


"Pasang yang paling indah Sha, ayo kamu bisa."


Farrel memalingkan mukanya kearah berbeda.

__ADS_1


"Aku minta maaf, baikan yaa jangan marah lagi,"


Metta mulai menggoyang-goyangkan lengan kekasihnya itu.


"Apa sih, aneh!" jawab Farrel masih dengan ketus.


"El, udah dong jangan marah lagi," Metta memasang wajah yang menurutnya menggemaskan.


"Astaga, tahan Sha ..."


"Aku gak marah!" Ucap Farrel namun masih memalingkan mukanya kearah lain.


"Kalau gak marah, sini mukanya lihat sini aku mau lihat," Masih terus menggoyang-goyang lengan Farrel.


Metta menarik kepala Farrel hingga menghadap kearahnya. "Mana coba yang udah gak marah?"


Farrel memasang wajah yang cemberut, bak seorang anak yang tengah merengek.


"Sayaaang, maafin aku yah! aku tahu aku salah, gak seharusnya aku langsung emosi seperti kemarin. Aku harusnya membicarakannya baik-baik, aku juga salah karena menampar wajahmu ini," Metta menggusel lembut kedua pipi Farrel.


"Maafin aku yang gak pernah menghargai semua yang kamu lakukan! aku juga egois. Maafin aku yaa"


Metta bergelayut manja, Farrel tertunduk, dia gak mampu melihat wajah kekasihnya itu.


"Sayaaaang, maaaafin aakuu!"


Farrel terlihat melemah, tubuhnya melandai, dengan wajah yang tertunduk.


"Aku memang tidak pandai merangkai kata-kata. Bahkan aku gak biasa mengungkapkan perasaan yang tengah aku rasakan."


"Tapi asal kamu tahu," Metta menghela nafasnya pelan.


"Your love is all i need to feel complete."


(Cintamu adalah semua yang aku butuhkan untuk merasa lengkap)


"Kehadiranmu dalam hidupku menjadi pelengkap"


"Kakak, kenapa jadi aneh begini?"


Farrel mengangguk, dia menarik tipis bibirnya.


"Aku tidak marah karena tamparan dari mu, aku hanya kecewa! Aku kecewa karena perjuanganku sepertinya tidak terlihat olehmu, sebegitu kerasnya aku meyakinkanmu selama ini,"


"Aku marah pada diriku sendiri! A-ku..."


Metta menghentikan perkataan Farrel dengan menempelkan telunjuknya tepat di bibir Farrel.


"Suut..."


"Aku minta maaf, semua salahku,"


"Aku juga salah karena gegabah, karena tidak menjaga harga diri kakak."


"Jadi kamu masih sayang aku kan?"


"Always..."


"Udah gak marah lagi kan?"


Farrel menggeleng kan kepalanya, "Aku gak pernah bisa marah sama kamu!"


"Kamu!?"


Farrel menggenggam tangan Metta, " Kamu Mettasha!"


Metta memukul lengan Farrel, "Ih ...."


"Aku gak suka dipanggil begitu!"


"Iya ...Kakak! aku tetap akan memanggilmu kakak, kecu- ali..."

__ADS_1


"Kecuali apa? kecuali ketika kamu marah seperti kemarin?"


Farrel memajukan wajahnya tepat di telinga Metta,


"Kecuali kalau kita sudah punya anak,"


Metta melebarkan matanya, dan memukul lengannya, "Sayang..."


Metta menenggelamkan kepalanya pada dada Farrel, menggusel dengan kepalanya.


"Kakak benar-benar aneh hari ini?" melingkarkan kedua tangannya pada bahu Metta.


"Kamu tidak suka aku yang manja begini? hem..." Metta kembali menggusel.


"Aku suka semua yang ada didiri kakak! tapi kakak juga sangat menggemaskan begini..."


"Jadi kamu suka aku yang bagaimana?hem," mengenadahkan kepalanya kearah wajah Farrel.


"Aku suka kakak yang begini, dan begitu," Farrel mendekap erat tubuh mungil kekasihnya itu.


"Ih, kamu ini!"


"Maafin aku yaa El,"


Farrel mengangguk, mereka saling membalas tatapan dengan saling mendekap.


"Aku kangen kamu El!"


Farrel tergelak, bibirnya melengkung mendengar Metta berkata demikian, " Kakak sudah bisa mengatakannya sekarang!"


"Ih..." memukul dada Farrel.


Farrel terkekeh, "Aku apalagi!"


"Aku telat menyadari!"


Farrel mengernyit, "Menyadari apa?"


"Menyadari kalau kamu hanya ingin dipeluk-peluk begini kan!"


Farrel kembali tergelak, "Gampang kan caranya!"


"Gampang- gampang, kamu yang enak kalau gitu!"


"Jangan marah lagi seperti kemarin ya!"


Farrel menarik dagu Metta kearahnya, "Kenapa hem?"


"Aku takut kehilangan kamu El."


Farrel kini menarik bibirnya penuh, lalu dengan lembut melu'mat bibir Metta, Metta memejamkan matanya. Saat sesuatu yang hangat memasuki rongga dalamnya, saling terbuai dengan kerinduan yang sempat tertunda. Hingga hembusan nafas berubah menjadi panas, decakan-decakan silih beradu dikeduanya.


"Terima kasih karena selalu membuatku tertawa bahkan ketika aku tidak berani tersenyum," ucap Metta saat pagutannya terlepas, dadanya turun naik menahan gairah yang lagi tak dapat ditahannya.


Farrel menarik bibirnya keatas, lalu menaik pinggang Metta hingga naik dalam pangkuannya, kemudian menarik kuat tengkuk Metta dengan nafas memburu mengiringi lum'atan di bibir tipis nya yang menggoda.


Sedangkan Metta melingkarkan kedua tangannya di leher Farrel yang perlahan naik mere'mas lembut rambutnya. Hingga lengguhan lolos sempurna dari keduanya.


Aaahhh.


.


.


Ah, segitu aja yaa wkwkwkwk


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi, karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini

__ADS_1


Selamat hari senin selamat beraktifitas, selamat menghalu. hehe


Terima kasih


__ADS_2