
Nissa gelagapan saat melihat Andra berada di ambang pintu, Dia yang berlari masuk dari pekarangan rumah ini melambatkan langkahnya,
"Abang, ngapain disini?" Ujarnya ragu-ragu.
Bang Andra lihat aku gak yaa, semoga enggak deh. Aamiin. Batinnya.
"Kamu jadi ke toko buku?"
Nissa mengangguk, "Jadi, nih bukunya udah ada!"
"Sama siapa?"
"Sama kak Doni." ujar Nissa yang masuk kedalam rumah begitu saja.
Andra ikut masuk, "Kok ... bisa bareng kak Doni?"
"Panjang bang ceritanya, nanti saja yaa. Aku mau mandi dulu." ujar Nissa yang segera menghilang di balik pintu kamar.
"Memangnya dia gak kerja gitu ya?" gumam Andra yang juga mas
Andra mengibaskan tangan kearah adiknya, yang kini mematung ditempatnya dengan tatapan kosong.
"Malah bengong, heh!"
"Bang, duo rusuh gak pernah main kesini?" tanya Nissa.
"Kita sibuk persiapan UN, enggak lah! Mau ngapain ... Dah sana mandi!" ujar Andra dengan mendorong bahu adiknya masuk. Lalu dia menutup pintu.
"Yaaah...!"
"Memangnya ada apa?" tanya Andra dengan heran.
Nissa menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku cuma mau nanya aja!"
"Ooh...."
Nissa yang sudah berada di depan pinty kamar nya, berbalik kembali. "Eh, kak...."
Andra menoleh, "Apa?"
"Gak jadi!" ujar Nissa kemudian masuk kedalam kamar.
Sementara Doni kini menyusul Farrel ketempat meeting, dia turun dari motornya lalu masuk kedalam kafe tempat Farrel melakukan Meeting. Namun ternyata Farrel terlihat tengah berjabat tangan, bertanda meeting telah usai.
Doni pun akhirnya menarik kursi dan mendudukkan dirinya tak jauh dari Farrel. Rekan kerja Farrel akhirnya berlalu pergi, dia tengah membereskan berkasnya saat Doni menghampiri nya.
"Udah?" tanya Farrel pada Doni.
"Hm... beres!
Farrel merogoh ponsel, lalu melemparkan nya diatas meja, Doni menangkapnya dengan cekatan, " Terus itu ngapain?"
__ADS_1
"Sudah ku duga!" gumamnya dengan menatap foto Nissa yang tengah berjinjit menciumnya, foto itu diambil dari arah belakang, hingga terlihat seperti saling mencium.
Doni menghembuskan nafas, "Kalau aku bilang, kamu bakal percaya?"
"Tergantung! Dan aku sudah bilang, jangan melakukan hal bodoh tanpa memikirkan resikonya." ujar Farrel dengan menghempaskan tubuhnya kembali di kursi.
"Seperti yang kau lakukan?"
Farrel mengernyit, "Maksudmu?"
"Kau tahu Nissa melihatmu sedang berciuman?" Ujar Doni dengan mengulum senyuman.
Farrel tersentak, namun sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya. " Aku tahu dia melihatnya, tapi tidak lantas kau ikut-ikutan mengambil kesempatan!"
Doni memukul bahu Farrel dengan keras, "Kau bodoh, siapa yang mengambil kesempatan?"
Aku justru sebaliknya, kalian yang berbuat, aku yang kena getahnya.
"Aku tidak mau tahu, jangan aneh-aneh dengan Nissa, kalau tidak, aku bisa habis karena istriku akan marah! dan saat itu terjadi aku akan menghabisi mu juga." ujar Farrel dengan sorot mata menajam.
Doni mengangguk, Percuma saja aku membela diri saat ini, dimatanya tetap aku yang akan disalahkan! batinnya.
"Bagus... Jangan berbuat masalah! Hidupmu sudah berat."
"Kau urus berkas berikutnya, aku ke toilet dulu." imbuhnya lagi dengan berjalan kearah toilet.
Farrel masuk kedalam toilet, mencuci tangan dan merapikan rambutnya, tak lama kemudian dia keluar dari toilet dan,
Farrel bertabrakan dengan seseorang yang kini meringis.
"Kau?"
"Farrel... kebetulan sekali, kita bertemu disini." ujarnya dengan menggosok pelan bahunya.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Farrel.
"It's ok ... Jangan khawatir! Tapi sepertinya bahumu memang semakin keras yaa! Aku sampai mental lho." ujarnya dengan menyibakkan rambutnya.
Farrel menarik tipis bibirnya, "Kalau begitu aku pergi dulu!"
"Tunggu, bisakah kita mengobrol sebentar?"
Farrel berjalan kembali menuju mejanya, "Maaf Chaira, aku sedang meeting!"
Doni mengerjapkan matanya, Perempuan ini lagi! Aku harus waspada, aku tidak akan membantunya jika aku lagi yang kena apes nanti!
"Oh, baiklah! Aku akan juga sedang menunggu rekan kerjaku!"Ujar Chaira dengan menunjuk meja kosong yang berada di sudut ruangan.
Farrel memutar kedua bola matanya malas, lalu beralih pada Doni. Mereka pun berlalu menuju privat room.
"Rel, siapa sih dia? Seperti nya dia sedang mencari-cari cara mendapat perhatianmu." ujar Doni saat berjalan melewati koridor untuk bisa sampai di privat room.
__ADS_1
"Tidak penting bagiku! Mau dia menggodaku sedemikian rupa, bahkan jika telanjang dihadapanku, aku tidak akan tertarik." ujar Farrel.
"Yakin?"
"Terserah, aku tidak minta kau percaya! Yang jelas istriku yang harus percaya, aku tidak peduli tentang pemikiranmu!"
"Dia cantik lho, wajahnya udah kayak boneka saja!"
Farrel mengherdikkan bahu, "Sikat saja kalau kau mau!"
Belum sempat menjawab, klien yang mereka tunggu juga sudah berada disana. Doni membuka pintu privat room, lantas meraka saling bertegur sapa, sebelum akhirnya semua masuk kedalam pintu berwarna coklat, bertuliskan Vvip diatas pintunya.
"Tunggu...." Seru seseorang saat Doni menutup pintu.
"Hah, maaf terlambat!" Ujarnya lembut.
Membuat Farrel terbelalak kaget, begitu juga Doni.
"Kau?"
"Oh iya ...Kenalkan ini nona Chaira, Chaira ini pak Farrel," ujarnya memperkenalkan satu sama lain.
"Kebetulan kita saling mengenal, iya kan Pak Farrel?" ucapnya dengan mengulurkan tangan pada Farrel.
"Iya, tentu saja kita saling mengenal! Jadi saya rasa tidak perlu lagi berkenalan, bukan begitu nona Chaira?"
Chaira tersenyum, dia menarik kembali tangannya, "Bukan masalah besar!"
"Maaf sebelumnya, pak Farrel kami belum mengatakan, kalau Chaira ini brand ambassador perusahaan kami, maka kami mengajaknya ikut meeting kali ini agar bisa mencocokkannya dengan tema yang akan kita bahas hari ini." ujar perwakilan perusahaan.
Farrel mengangguk, "Baik tidak masalah!"
Chaira Kemudian berjalan dan menarik kursi disamping Farrel,
"Mungkin kita berjodoh? gumam Chaira yang masih bisa dia dengar.
"Maaf tapi aku sudah menemukan jodohku!" ujarnya memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"No problem," ucapnya dengan senyum yang terukir indah di garis bibirnya.
Chaira terus diam- diam melirik ke arah Farrel yang tengah menerangkan pembahasan nya. Dia tersenyum dengan penampilan Farrel yang memukau.
Kau penuh karisma Farrel, dan kau luar biasa, bahkan saat aku pertama kali melihatmu di negara P, tidak aku sangka, aku bertemu lagi dengan mu di sini. Dan jika kau sudah menikah sekalipun, itu bukan masalah besar, I'm a freedom believer. (Aku menganut kebebasan). Aku tidak akan merebutmu sama sekali. Tapi.... Batin Chaira.
Doni yang sedari tadi memperhatikan kedua manik hazel milik Chaira hanya mengarah pada Farrel saja. Bahkan nyaris tidak berkedip, dengan senyuman di bibirnya.
ini sih sudah jelas bahaya di depan mata! Dia begitu mempesona, aku bahkan langsung tertarik padanya. Dan tentu saja semua pria normal akan begitu juga.
Farrel berdehem hanya untuk memberi Chaira peringatan, begitu juga Doni yang terus menatap gadis blasteran itu. Lalu menatap Farrel,
"Jangan menyalahkan ku nanti ya!" gumam Doni.
__ADS_1