Berondong Manisku

Berondong Manisku
Welcome home my beloved wife


__ADS_3

Mac menghampiri Metta yang tengah duduk memainkan ponselnya di ruangan milik Farrel.


"Mbak, kita pulang sekarang?"


Metta mendongkak, "Lho Farrel tidak kesini dulu?"


"Mas Farrel menyuruh Mbak langsung pulang, karena dia juga sedang perjalanan pulang." jelas Mac.


"Oh...."


Metta beroh ria, dengan segera memasukkan ponsel nya kedalam tas miliknya, dia berhambur keluar dari ruangan. Sementara Mac berjalan dibelakangnya.


Mac menekan pintu lift, Metta masuk dan disusul olehnya yang menekan tombol satu, yaitu lobby perusahan.


Ting


Pintu terbuka, Metta keluar lebih dulu. Dia berjalan mengarah ke ruang tunggu atau lobby, sementara Mac keluar untuk membawa mobilnya.


Para karyawan pun mengangguk ke arah nya, seberapa dari orang itu juga ada yang menyapa walau hanya sekedar berbasa-basi.


Metta berulang kali mengangguk, tersenyum kemudian mengangguk sambil tersenyum. Sesuatu hal yang jarang terjadi di hidupnya, lalu dia kembali mengotak-ngatik ponsel untuk menghilangkan rasa bosan karena terlalu lama menunggu.


'Beruntung banget hidupnya, bisa dinikahi oleh CEO kita'


'Iya, dan kabarnya usia mereka beda cukup jauh'


'Beruntung banget'


'Cantik sih, sayang aja dia lebih tua'


Samar-samar Metta mendengar beberapa karyawan yang membicarakannya. Namun dia tidak peduli sama sekali, hal itu sudah pernah dia alami saat dulu, dan sekarang dia sudah tidak memikirkan hal itu lagi, walaupun masih selalu terbersit dalam benaknya.


Dia lantas beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke toilet, untuk sesaat Metta masuk kedalam bilik toilet, tak berselang lama Tiwi masuk kedalam toilet, bertepatan dengan Metta yang baru saja keluar.


"Tiwi...?" sapanya dengan ramah.


Tiwi yang hanya menoleh pantulan Metta hanya dari cermin,


"Oh, kau?" Ujarnya dengan tangan yang tengah dicucinya.


Metta yang termangu melihat Tiwi pun melangkah kearah wastafel dan mencuci tangannya, sementara Tiwi bersikap seolah tidak pernah mengenalnya sama sekali.


"Apakabar mu Wi?"


"Kau bisa lihat sendiri!" ujarnya ketus.


Metta mengernyit, "Sepertinya kau sakit!"


"Benarkah? Dari mana kau tahu." Tiwi mulai memeriksa wajahnya dari pantulan cermin.


"Wajahmu pucat." jawab singkat Metta,


Lalu dia melangkah keluar dari toilet, sementara Tiwi bergegas menyusul Metta keluar.


"Mettasha....?"


Metta menghentikkan langkahnya, lalu menolehkan kepalanya ke arah suara, "Ya...?"


Tiwi berjalan mendekati Metta,


"Apa kau ada saran bagus untukku?"


Metta menautkan kedua alisnya, "Saran apa?"


"Saran untuk bisa mendekati seorang pria yang lebih muda dibandingkan kita? Seperti kau dan juga suamimu?" Ujarnya.


Metta mengerdikkan bahu, "Emmph, aku juga tidak tahu bagaimana! Karena aku tidak melakukan apa-apa!"


"Bilang saja kau tidak mau memberitahuku!" ujarnya dengan mendelik kearah Metta.


Lalu dia menghentakkan kakinya berlalu dari sana, membuat Metta terheran juga mengerdikkan bahunya.

__ADS_1


"Dih ... kenapa dia? Salah minum obat?"


.


.


Metta masuk kedalam mobil, setelah Mac membukakan pintu untuknya. Berkali-kali dia mewanti-wanti agar Mac tidak perlu membukakan pintu untuknya, namun tak pernah sekalipun digubrisnya.


"Kau hanya patuh pada El saja," ujar Metta dengan mendengus kasar.


"Maaf Mbak, tolong dipatuhi saja, daripada saya yang terkena masalah nanti." ujar Mac tanpa mengubah arah pandangnya.


Metta mendengus lagi, "Perkara pintu mobil Mac, kenapa dia juga mengaturnya."


Mac tidak menjawabnya, dia hanya fokus pada ruas jalanan yang tengah ramai itu.


"Yah, macet! gumamnya dengan melirik jam tangan.


"Bagaimana kalau Farrel yang sudah duluan sampai ke apartemen?"


Mac menatap Metta dari spion, "Mas Farrel belum sampai kok Mbak."


"Kenapa dia tidak mengabariku, tapi kau tahu? Apa dia hanya memberi tahukanmu?"


Mac menggeleng kan kepalanya, "Doni yang memberitahuku."


Baguslah kalau begitu, aku jadi bisa lebih dulu menyiapkan makan malam lebih awal.


"Mac sebaiknya kita mampir ke swalayan, aku ingin membeli bahan-bahan makanan."


"Tidak perlu Mbak, semua sudah siap di Apartemen,"


Metta mengernyit, namun juga tidak bisa berkata-kata apalagi. Sudah bisa ditebak, semua pasti sudah dipersiapkan oleh Farrel, tentu saja dengan bantuan Mac.


Mobil berhenti tepat di Apartemen milik Farrel, Mac turun dan membuka pintu mobil,


"Terima kasih Mac," ujarnya saat keluar.


Dreet


Dreet


'El...?'


'Menengoklah,'


'Hah....?'


'Menengoklah sayang, aku belakangmu.'


Metta menengok sekaligus, dan melihat Farrel sudah berada dibelakangnya.


"Hai, sayang. Aku merindukan mu." ujar Farrel mengecup pipi Metta sebanyak dua kali.


Metta mendorong wajah suaminya, "El, kau tidak lihat orang melihat kearah kita?"


"Aku tidak peduli, toh yang aku cium istriku, bukan mereka." ujarnya terkekeh.


Metta mencubit pinggangnya, "Astaga, tidak ada kapoknya."


Farrel tergelak lalu memutarkan tubuh Metta menjadi berhadapan,


"Mau aku gendong sampai atas, atau cium aku disini?" ucapnya dengan menunjuk pipi sebelah kanannya.


"Farrel ... astaga!!" pekik Metta.


"Ayo pilihanmu hanya ada dua,"


"Dua-duanya menguntungkanmu!" ketus Metta.


Farrel merangkul bahunya, "Tapi kakak kan menikmati hasil keuntunganku juga! Iya gak?"

__ADS_1


"Farrel, astaga!?"


Mereka tertawa, sambil berjalan kearah plat, Farrel terus membuat Metta membelalak mata dengan celotehannya, namun Farrel juga tidak melupakan permintaannya.


"Ayo, kalau tidak mau melakukannya, aku gendong sekarang."


"El ... jadi kebiasaan deh!" deliknya.


Farrel menarik bahunya, dengan tangan yang siap menggendong, Metta semakin gelagapan,


"Oke ... Oke, aku akan melakukannya," ujarnya dengan mendorong tubuh Farrel.


Farrel menaikkan sudut bibirnya, Metta berjinjit dan bersiap mendaratkan ciuman di pipi sesuai permintaan konyol Farrel,


Cup


Namun rasanya aneh, basah, bukan pipi yang dia cium, melainkan bibirnya, Farrel dengan sengaja menoleh kearah Metta.


"Iih ... curang kan! Nyebelin tahu gak!?" Sungut Metta. dengan memukul bahu Farrel dengan keras.


Farrel tertawa, "Enggak- enggak ayo reka ulang."


"Ihhhh... kenapa dengan otakmu itu? isinya mesum semua."Gerutunya.


"Ayo kakak yang buka,"ujarnya saat mereka sampai di depan plat.


Metta yang masih tersungut menengadahkan kepala," El udah deh, aku lelah, jangan main-main terus!"


Farrel melingkarkan tangan dipinggangnya, "Kali ini aku gak main-main, password nya tanggal ulang tahunmu."


"Serius?"


Farrel mengangguk, "Tentu...."


Metta menekan enam digit nomor password dengan tanggal ulang tahun nya sebagai kunci. Dan terbukalah pintu nya.


"Eeh beneran pakai tanggal ulang tahunku?"


Metta kini tersenyum, hatinya tersentuh oleh hal-hal kecil yang selalu diperhatikan oleh Farrel, password ponsel, password Apartemen, lemari khusus yang disediakan untuk menyimpan barang yang dia suka. Ada yang menghangat di pelupuk matanya, merasa dicintai sedalam itu.


"Sayang ayo masuk." tukas Farrel merengkuh bahunya.


Mereka masuk kedalam, dan anehnya air yang menganak itu malah menitik. Perlahan tapi pasti.


Saat kedua maniknya tertuju pada tulisan kata sambutan untuknya, balon warna warni yang menempel disudut ruangan, dan bunga mawar merah yang terletak ditengah-tengahnya.


... ^Welcome home my beloved wife^...


...❤...


"El... ya ampun kamu keterlaluan!"


"Apa?"


Kenapa kamu makin tambah manis seperti ini?


"Aku bahkan tidak menyiapkan apa-apa!"


Farrel merengkuh tubuh Metta, "Siapkan dirimu nanti malam saja sayang,"


"Farrel...!!!"


Farrel tergelak, menyusupkan kepalanya di ceruk sang istri, menciumi ceruk putih itu, dan menghirup aroma kulit Metta, hembusan hangat nafasnya membuat Metta semakin tidak karuan.


"El aku belum mandi!"


.


.


Jangan lupa like, komen dan terus dukung karya receh ini, hari senin nih, boleh dong vote nya, atau secangkir kopi buat author juga boleh, kembang sekebon juga gak apa-apa, itu membuat Author happy dan makin semangat, hihihi. Makasih buat terlope lope yang tidak berhenti dukung❤. Maaf kalau gak sempet balas komentar.

__ADS_1


__ADS_2