Berondong Manisku

Berondong Manisku
She is my wife


__ADS_3

"Lagian juga kita honeymoon sayang, tapi malah bahas hal yang berat seperti ini, biarkan yang berat jadi urusan mereka disana. Kita akan bersenang-senang disini, bukan begitu Mrs Farrel? Farrel mencubit lembut pipi istrinya.


"Dan jangan lupakan, janji mu menceritakan semuanya tanpa kecuali."


Semoga kakak melupakan hal itu nanti.


Farrel mengangguk dengan lemah, "Tentu saja, tapi sebelumnya!?" ucap nya dengan alis yang naik turun.


"Iiihh ... enggak yah sebelum kamu cerita semuanya, lengkap se-mua-nya!" Metta mendekap kedua tangannya di batas dada.


"Sudah bisa mengancam yaa ternyata?Hem...." Farrel menarik pinggang Metta hingga mereka tidak berjarak lagi.


"El ... malu, supir itu melihat kita!"


"Tidak masalah, disini kita bebas. Lagipula kita sudah menikah bukan?"


Farrel mengecup pipi Metta sebanyak tiga kali ditempat yang sama, hingga hembusan nafasnya terasa hangat mengenai wajah Metta.


Supir itu mengangguk kan kepala nya, dengan senyum yang merekah di bibirnya. Farrel menatapnya jengah, sudah jelas tatapan supir itu mengarah pada istrinya. Lalu Farrel merengkuh bahu Metta dengan sengaja.


"El ...ih lepas!!"


Metta tidak mengerti tatapan cemburu dari suaminya, dia terus menepis tangan Farrel dari bahunya, lalu kembali duduk dengan sedikit mengeser tubuhnya.


"Sayang, sini!" titah Farrel yang kembali menarik pinggangnya,


"Astaga, El...!!"


"Aku tidak mau mendengar bantahan, duduk disini!" ujarnya dengan bibirnya yang mengatup.


"Hei ... kenapa?"


"Kakak tidak lihat apa, dia terus melihat kearah kakak, aku gak suka!!" ucap Farrel kemudian.


"Dia kan punya mata! Lagian juga siapa yang mau godain aku, kalau ada kamu hem?" Metta melipat kedua tangannya.


Supir itu terlihat kembali tersenyum, tanpa berkata apa-apa dia melirik mereka berdua.


"Tetap saja, tidak boleh!! Ujar Farrel kesal


"She is my wife." imbuhnya lagi


Lalu menutup tirai yang berada di depannya, hingga supir itu berhenti melirik Metta. Sedangkan Metta hanya bergeleng kepala.

__ADS_1


.


.


Tak lama mereka sampai di hotel, hotel bintang lima dan tentunya tidak semua orang dapat menginap disana. Terletak di tengah kota yang terkenal dengan kemegahan bangunannya. Tidak hanya menjadi pusat ekonomi dan budaya di eropa, kota ini juga sebagai global utama dunia.


Pariwisata, pameran, olah raga, dan juga budaya menjadi ciri khasnya. Dan lebih hebatnya adalah kota ini adalah kota dengan ekonomi terkuat di uni eropa.


Dan kini, salah satu keinginan konyol masa kecil Metta terwujud, dia ada disini, di kota yang menjadi impiannya, ujung mata mulai menganak, tatkala mengingat kejadian 20 tahun yang lalu.


"Aku akan pergi ke kota B, suatu hari nanti!"Ucap Metta kecil pada teman-temannya.


"Hais...kau makan saja susah bagaimana kau akan kesana! " Cibir temannya.


Lalu teman-temannya yang lain tertawa hingga terbahak.


Metta kecil berkacak pinggang, "Lihat saja, akan ada pangeran yang akan membawaku kesana!"


"Pangeran apa? Pangeran kodok?" teman-temannya lagi-lagi tertawa mengejek.


Saking kesalnya, Metta menjambak rambut temen masa kecilnya itu hingga menangis, lalu dia sendiri berlari pulang dengan sama-sama menangis.


Kini dia ada sini, berada disalah satu hotel terbaik di tengah kota. Pintu mobil terbuka, pelayan hotel tampak menyambut mereka dengan mengalungkan rangkaian bunga yang indah pada leher Farrel dan Metta. Setelah itu mereka diantar ke satu kamar yang terletak di paling atas.


"Woah... ini sangat indah!Iya kan sayang?" ujar Farrel, saat pelayan itu membuka pintu hotel, dan mereka masuk kedalamnya.


Metta mengangguk lalu menyusut air di pelupuk matanya yang memanas, lagi. Perasaan yang mengharu biru karena segala macam kejutan bertubi-tubi telah dia dapatkan.


"Hei...kenapa menangis?"


Farrel ikut menyusut air matanya, "Sudah jangan menangis lagi, saatnya kakak bahagia bukan?"


Metta mengangguk lagi, Farrel merengkuh tubuh Metta kedalam pelukannya. Dengan kedua tangan yang menangkup di wajah Metta,


"Itu karena aku bahagia, aku juga tidak bisa menahannya, terlalu sentimentil." ujar Metta.


Farrel menyusut air bening itu dengan ibu jarinya, lalu mengecup kedua matanya yang kini semakin basah. Tak lama ibu jari itu menyentuh bibir Metta, Farrel langsung menyambar bibir mungil yang menjadi candu yang membuatnya ketagihan lagi dan lagi. Menyapu keseluruh rongga dengan gerakan lidah yang semakin lincah membelit, begitu juga dengan Metta yang dapat mengimbanginya dengan sempurna.


Pelayan hotel datang mengantarkan koper mereka ke dalam kamarnya. Membuat tautan kedua benda kenyal itu berhenti, lalu Farrel menarik kopernya masuk. setelah itu, pelayan itu pergi dari sana setelah Farrel memberikan tips padanya.


"Pelayan itu melihat kita," Ujar Metta dengan menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan.


Farrel kembali memeluk pinggang Metta, "Dia mungkin setiap hari melihatnya, dan itu resiko bekerja di hotel yang sering menerima tamu yang sedang honeymoon."

__ADS_1


"Benar juga!!" Metta terkikik.


"Kita istirahat dulu ya sayang! Nanti sore kita akan pergi ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Rahasia." ucapnya dengan menjumput hidung Metta.


"Ih selalu saja begitu!"


Akhirnya mereka hanya beristirahat, menghabiskan waktu hanya dengan saling berpelukan diatas sofa, saling memberikan pijatan lembut, untuk meregangkan otot yang kelelahan.


"Aku masih tidak menyangka bisa berada di sini!" ujar Metta yang merekatkan tautan tangan padanya,


Farrel tersenyum, dengan kedua alis yang turun naik, "Aku sudah bisa menyangka semuanya dari awal, saat aku menabrak motor kakak, bahkan saat itu aku yakin suatu hari nanti bisa menikahi mu, dan mendapat semuanya,"


Metta terkekeh namun juga mencubit pinggang pria yang resmi menyandang status suaminya itu, "Apa yang kau maksud semuanya?"


"Awwwss...sakit sayang! Iya maksud ku semua hadiah ini, apalagi?"


Kedua bola mata Metta memicing dengan ucapan Farrel yang selalu membuatnya tersenyum-senyum.


"Are you happy?" imbuhnya lagi.


"Tentu saja...." tukas Metta dengan menyandarkan kepalanya didada suaminya.


Farrel merengkuh tubuh Metta, dengan melingkarkan tangannya. Begitupun Metta yang melingkarkan tangannya di pinggang Farrel. Metta mendongkakkan kepalanya melihat wajah,


"Terima kasih." ujar Metta dengan pelan.


Farrel menarik dagu Metta dengan menjimpitnya, kembali melu matt bibir tipis merona itu dengan lembut, lalu membenamkan kepalanya diceruk putih sang Istri,


"Bagaimana jika seharian ini kita di kamar saja?" bisik Farrel dengan suara berat.


"Tidak mau, aku ingin melihat museum nacional yang terkenal itu," ujar Metta yang langsung bangkit dari duduknya.


Membuat Farrel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Baiklah, tapi setelah kita beristirahat sejenak."


Metta mengangguk dan kembali memeluk suami kecilnya itu, "Sayang, kok aku jadi seperti anak kecil ya yang merajuk ya"


Farrel terkekeh, " Kakak boleh menjadi siapapun saat berhadapan dengan ku! Termasuk yang galak dan nakal," bisiknya di telinga Metta.


Membuat sesuatu dalam tubuhnya kembali mendesir, Metta melepaskan diri dari Farrel yang sudah mulai terlihat tidak karuan menahan sesuatu.

__ADS_1


"Aku mau mandi!" ujar Metta dengan berlari.


__ADS_2