Berondong Manisku

Berondong Manisku
Tia vs Doni ( Kecanduan Farrel)


__ADS_3

Maaf kalau banyak typo bertebaran, maaf juga belum sempet bales komen.❤


🌷🌷


Tia menoleh, dia lantas merebut paksa ponsel miliknya dari tangan Doni. Sementara Doni masih terperangah dengan apa yang dia lihat di wallpaper ponsel nya.


"Itu...."


"Apa, jangan lancang lo! Ini privasi gue...."


"Heh ... jangan ngadi-ngadi jadi orang! Gue gak lancang ya, gue gak sengaja lihat, lagi pula ngapain lo pasang foto gue jadi wallpaper ponsel lo."


"Lo suka sama gue?"


Ckiiittt


Tia tidak menjawab satu kata pun, dia keluar dan membanting pintu mobil begitu saja. Doni yang melihatnya pun terperangah, "Hey ... Tia, lo mau kemana? lo bakal terlambat,"


"Dasar cewe be go, ngapain sih dia!" Doni lantas bergeser ke balik kemudi tanpa keluar terlebih dahulu, dia kembali melajukan mobilnya, sedangkan Tiwi berjalan dengan kedua tangan yang bertaut, dia lantas duduk di halte bis, yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempatnya turun.


Malu, cemas, takut, berkumpul menjadi satu rasa yang cukup membuat kepercayaan dirinya kembali menciut, kisah masa lalu yang tidak pernah selesai kini mencuat kembali dalam ingatannya. Pertemuan tidak sengaja nya dengan Doni saat meeting perdana mereka, membuat nya kembali percaya diri, Doni tidak akan mengenali dirinya yang dulu, namun semua gagal saat berada di reuni,


"Lebih baik aku melihatnya marah-marah tidak jelas tapi tidak tahu apa yang aku rasakan, daripada sekarang," Gumam Tia dengan mengacak rambutnya.


"Bodoh Tia ... bodoh! Sekarang mau di taro di mana muka gue!" rutuknya pada diri sendiri.


Tin


Tin


Doni berkali-kali menekan klakson dengan kencang, namun Tia terlalu sibuk dengan merutuki diri, tidak menyadari bahwa bunyi klakson itu di tujukan padanya.


"Mbak kalau marahan lihat-lihat tempat dong, jangan bikin orang tambah pusing, masih pagi lho ini!" ujar seseorang yang berada di sampingnya.


"Kenapa?"


Tia mengedarkan pandangannya, dan melihat Doni membunyikan klakson berkali-kali.


"Pantesan! Gue kira mobil yang lagi cari penumpang!"


Doni keluar dengan kesal, lalu menarik tangan Tia untuk masuk ke dalam mobil, sementara Tia hanya menurut, hati nya tidak karuan saat ini, malu, cemas, takut, suka, senang menyerangnya bersamaan.


"Masuk!" titahnya.


Setelah memastikan Tia masuk, Doni berlari kecil menuju pintu sebelahnya, dia masuk dan memasang seat beltnya.


"Kalau mau pergi, pergi yang jauh sekalian, ini malah pergi ke halte, yang jelas-jelas gue lewati."


"Lo gak ikhlas nyuruh gue masuk lagi? Ya udah gue turun lagi aja." sungut Tia.


Doni menghela nafas, dan memilih diam untuk beberapa saat.


Hening


Tidak ada lagi keributan yang mereka perdebatkan, Tia memilih untuk memalingkan wajahnya, menatap ruas jalan dari arah samping. Sementara Doni kembali fokus pada jalanan yang tengah di belahnya dengan kecepatan tinggi.


Dreet


Dreett


Ponsel Tia kembali berdering, dia hampir melupakan jika bu Fara meneleponnya sedari tadi.

__ADS_1


'Iya bu?'


'Kamu dimana Tia, tidak lupa kita ada meeting pagi ini kan?'


'Iya bu, Tia tidak lupa, tapi Tia tidak ke kantor dulu bu, mobil Tia mogok lagi, jadi agar tidak terlambat Tia naik bis saja.'


'Oh, ya sudah kalau begitu, kita bertemu di sana saja.'


'Baik bu.'


Bip


Panggilan telepon berakhir, begitu pula kendaraan yang telah berhenti. Tia merasa ada yang memperhatikannya dengan sorot mata menajam. Dia menoleh ke arah Doni.


"Apa?"


"Lo fikir mobil ini bis kota? Lo sembarangan bicara!"


"Maaf... maaf gue gak tahu mesti bilang naik apa! Gak mungkin gue bilang gue berangkat kerja bareng lo kan!"


Doni mendengus kasar, "Terserah lo deh!"


Mereka pun akhirnya keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam lobby perusahaan, Doni langsung masuk ke dalam lift, dan Tia mengekor dibelakangnya.


"Heh ... ngapain lo ngikutin gue?" ujarnya dengan menahan bahu Tia yang akan masuk lift.


"Kita kan mau meeting, gimana sih!"


"Ya lo tunggu di lobby aja, lo kan harus nunggu atasan lo yang belom sampai? Inget lo bilang ke sini naik bis, bukan bareng gue!"


Tia menepuk jidatnya sendiri, "Gue lupa, makasih yaa udah ngingetin."


Sementara Doni terpana sesaat karena baru pertama kalinya melihat Tia tersenyum.


"Dasar Be go!"


.


"Sayang, sudah siap?"


"Ini ... susah di pasang!"


Farrel menghampiri Metta yang masih sibuk memilih baju kantornya.


"Udah aku bilang, kakak ambil cuti dari sekarang saja, toh tidak akan ada yang keberatan ini." ucap Farrel yang membantu mengancingkan pakaian Metta.


"Aku kan sudah bilang, kalau masalah pekerjaan masih bisa aku handle, aku bosan kalau berada di rumah terus. Please boleh yaa!"


Farrel mengalah jika sudah melihat wajah tidak karuan dari Metta. Dia pun akhirnya mengangguk dengan berat hati, merengkuh pinggang istrinya dari belakang, dengan sesekali mengecup bahu putih miliknya.


" Sayang, aku meminta bantuan mu untuk kancingin, bukan untuk itu."


"Harum banget sih, aku gak bisa menahannya."


"Kamu ada meeting lho pagi ini, jangan sampai telat."


"Huum, sebentar saja!"


Setelah drama kecil dari Farrel akhirnya mereka keluar juga dari Flat mereka,


"Beberapa hari ini aku tidak melihat Mac? Kemana dia?"

__ADS_1


Farrel menghela nafas, "Dia tengah membantu Alan mengurus sesuatu! Untuk sementara dia di ARR.corps."


Metta hanya beroh ria,


Sebenarnya aku curiga, sesuatu yang besar tengah mereka kerjakan, semoga ini hanya asumsiku saja. Batin Farrel.


Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil, setelah membuka pintu mobil untuk Metta, di masuk ke arah sebaliknya, menyalakan mesin mobil dan segera melajukan nya.


"Oh iya bagaimana acara reuni nya semalam?"


"Gak gimana-gimana sayang,"


"Pasti banyak gadis yang mencuri perhatiamu, iya kan!"


"Aku tidak memperhatikannya, lagi pula aku hanya sebentar disana, hanya menghargai Brian yang ingin sekali aku datang."


Metta kembali beroh ria.


Membuat Farrel menoleh dan langsung mencubit pelan pipinya. " Oh ... oh doang!"


Mobil berhenti di lampu merah, tempat dimana Metta selalu melihat kontruksi bangunan yang saat ini sudah selesai.


"Wah ... lihat El, mereka menyelesaikannya! Kira-kira mereka menghabiskan dana seberapa banyak yaa?"


Farrel terkekeh, " Kepo banget kamu ih!"


Metta memukul lengannya, "Ihhh... kenapa harus nyebelin sih. Aku cuma penasaran sayang, lihat gedung ini tinggi banget, bentuknya juga keren,"


"Kalau soal itu, aku setuju, desain mereka keren!"


"Huum...."


Rambu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, mereka lalu melajukan kembali mobilnya, menuju perusahaan.


Beberapa saat kemudian


Mereka sampai di kantor, bertepatan dengan mobil Fara yang juga berhenti.


"Bu Fara?"


"Ah ... iya Bu Metta?"


Mereka berdua saling menyalami, tapi tidak dengan Farrel, semenjak tahu dia tidak pernah menyentuh tangan perempuan sekalipun hanya bersalaman, Fara tidak lagi menyodorkan tangan padanya.


"Pak Farrel, bisa kita langung meeting?"


"Huum... bisa, bu Fara bisa menunggu kami di ruang meeting di lantai tiga." ujarnya.


"Tentu... kalau begitu saya permisi, saya harus menemui asisten saya dulu." ujarnya. mengangguk lalu berjalan ke kursi dimana Tia menunggunya.


Sementara Farrel dan Metta masuk ke dalam lift khusus yang membuat meraka leluasa berada di dalam sana.


Farrel mengusap-usap perut buncit Metta, lalu menciumi kedua pipinya.


"Sayang astaga! lihat kita nanti terekam cctv, bagaiamana kalau viral?"


"Gak apa-apa, kita pasangan resmi, bukan selingkuh ataupun affair."


Metta melepaskan tangan suami yang bergerak ke sana- kemari, "Ada saja jawabannya! Heran...."


Farrel terkekeh, "Kecanduan sih sayang!"

__ADS_1


__ADS_2