
"Mau kemana?"
Metta menoleh kearah suara, dengan bibir yang mengukir senyum kecut. Dilihatnya Farrel yang tengah memindahkan papan tanda
Dilarang lewat, lantai masih basah.
Farrel mendekat, " Sayang, ada apa?"
Apa Tiwi tadi disini juga? Apa mereka sebelumnya bertemu lalu ada apa dengan mereka sampai Tiwi bisa terluka begitu? Apa ada hubungannya dengan tanda yang dia pindahkan tadi? pertanyaan demi pertanyaan berseliweran dikepala Metta.
Farrel menggerak kan tangan nya didepan wajah Metta yang terlihat melamun. "Hei, ada apa? Apa kakak kesini mencariku? ayo ke ruangan ku saja."
Farrel menarik tangan Metta dan membawanya masuk kedalam ruangannya.
Ceklek
Saat pintu tertutup itulah Farrel malah menghimpit tubuh Metta, dibelakang pintu.
"El...apa yang kamu lakukan. Mundur aku sesak!" Metta mendorong dada Farrel dengan kedua tangannya.
Farrel malah mengukir senyum, " Kamu makin cantik my lady,"
"Pppppfftt... El apa? jangan memanggil ku aneh-aneh,"
Farrel menggaruk tengkuknya, "Kakak tidak suka?"
Metta menggeleng, "Itu panggilan terkonyol, aku gak suka!"
"Bagaimana kalau my cherry, manis kan!" tukas Farrel menghimpit dagu Metta.
"Seperti wajah kakak yang memerah jika malu,"
"Tidak... itu juga sungguh konyol! Kenapa malah membahas nama panggilan?"
"Ayolah, Aku sering mendengar orang-orang memanggil nama unik-unik pada pasangannya!" Farrel mulai merengut.
"Sepenting itukah? terus nanti kamu mau pamer begitu?" Metta menahan mulut dengan tangannya,mencoba menahan tawa.
Farrel menarik tangan itu dan menggenggamnya,
"Kalau aku ingin pamer memangnya kenapa? Aku memang selalu ingin dunia tahu kalau aku punya kakak," mengecup tangan Metta.
"Tapi itu sungguh berlebihan, aku saja masih suka geli sendiri jika dipanggil 'sayang', apa lagi my lady atau my cherry." ucap Metta.
Farrel tersenyum, Apa kakak sekarang sudah mulai bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan? lucu sekali.
"Sayang, tapi aku mau memanggilmu begitu,"
"Ya terserah kamu saja," ucap Metta dengan mendorong dada Farrel kembali.
Metta lalu berjalan dan menyimpan berkas diatas meja Farrel, dan melihat foto dirinya di atas meja. Dengan cepat dia berbalik, "Kapan kamu mengambil foto ini? dan foto yang kau kirim di slide terakhir waktu layar tancap itu?"
Farrrl mengernyit, "Layar tancap?"
Dirasa Farrel tidak faham, Metta menahan tawanya kembali, " Maksudku Layar proyektor, saat kamu berlagak membuat konferensi pers dengan ibu-ibu komplek, itu benar-benar membuatku malu sampai ubun-ubun El,"
Kini Farrel yang terlihat menahan tawanya, "Mereka mengatakan aku pria tua dan jelek, Aku tidak terima begitu saja, mereka belum melihat ketampananku saja."
"Astaga... jangan sampai mereka mengetahui hal itu!"
"Kenapa? Apa kakak takut mereka menyukaiku?" ucap Farrel dengan berbinar.
Metta mencubit kedua pipi Farrel dengan gemas, dan menggelengkan kepala, "Bukan, Aku tidak mau mereka tahu kamu itu narsis sayang!"
Memang benar aku tidak mau mereka tahu kalau kamu semanis ini El, benar-benar menggemaskan!Aku tidak mau.
"Kenapa? itu artinya sama saja kakak tidak mau mereka melihat aku yang tampan ini, iya kan my Cherry?"
Farrel memeluk pinggang Metta, hingga jarak tubuh mereka dekat kembali, dan dada Metta menyentak dada Farrel.
"Iya, terserah kau saja my bronies," Farrel tergelak,
"My bronies? Apa itu... apa aku semanis bronies? Kalau gitu, makan aku sekarang juga, hayo.... " Farrel menusuk pelan pinggang Metta dengan telunjuknya.
__ADS_1
"El, hentikan itu geli! Aku gak suka...." Senyum mengembang di bibir Metta.
"Sekarang kakak banyak mengatakan tidak suka tapi senyum juga," goda Farrel.
"Ih kamu itu...."
"Mac yang menyuruh kameramen untuk mengambil foto-foto itu. Dia mirip sekali dengan Alan," Farrel terkekeh.
"Iya, dan selama kamu tidak ada. dia sudah seperti security dirumahku! menyebalkan...."
Farrel menyentuh ujung bibir Metta dengan ibu jarinya, "Aku merindukan cherry ini selama di paris, hidung ini, mata ini, semua nya! Apa kakak juga begitu?" ucap nya dengan suara berat, menyentuh apa yang dia katakan dengan jarinya.
Metta menatap lekat Farrel, hingga kedua manik mereka saling menelisik, " Aku juga merindukan mu!"
Metta mengalungkan tangannya dileher Farrel, "Aku kesini untuk mengantarkan berkas, dan aku rasa waktuku sudah terlalu lama ada disini. "
Cup
Farrel mengecup pipi Metta yang masih berbicara, "Tidak akan ada yang berani menegurmu, nyonya!"
"Aku aku tadi lihat Tiwi saat dibawah? ada apa dengannya?" Farrel mengecup pipi Metta yang sebelah lagi.
"Dia terjatuh," Menyematkan anak rambut dibelakang telinga Metta kemudian kembali mencium pipinya.
"Apa kau ada hubungannya? dia mengatakan sesuatu tentangmu," menarik kerah Kemeja Farrel,
"Aaah...shitt!" Farrel merasa terpancing karena Metta tak sengaja menyentuh lehernya yang sensitive, dan Metta hanya mengernyit.
"Memang apa yang dia katakan?" kembali menarik pinggang Metta, dan menenggelamkan kepalanya dibahu Metta, seolah menghirup dalam aroma tubuh Metta yang sudah lama tidak dia temukan.
"Dia terjatuh karena kamu?" Tanya Metta.
Farrel tergelak, " Dan kakak percaya?" memegang tengkuk Metta.
"Bisa iya...bisa tidak! Dia pasti berusaha mencari perhatianmu!"
"Kasihan! dia akan berusaha dengan keras, karena aku tidak akan mudah mengalihkan perhatianku," kembali mengendus leher Metta.
"El, ini kantor!"
"Issshh... kau ini!"
Farrel menarik kepalanya, "Dia tidak melihat papan tanda yang dipasang di lorong tadi, mungkin dia hanya melihatku saja waktu itu,"
"Baik lah tuan narsis! Dia akan terus mencari perhatianmu, ditambah dia sekarang di gedung ini, itu sangatlah mudah,"
"Apa kakak ingin aku memindahkannya lagi? Kalau perlu keluar kota sekalian?" Metta menggeleng,
"Tidak usah, selama pekerjaan nya bagus."
"Ok my cherry, aku akan melakukan apapun yang kakak katakan," Farrel terkekeh.
"Kalau begitu mundurkan dadamu, Aku kehabisan nafas."
"Aku akan memberi kakak nafas buatan kalau begitu,"
Metta terkesiap dengan mata terbelakak saat Farrel menyambar bibirnya dan menggigitnya sedikit,
"Kau semakin nakal El,"
Farrel terkekeh dan kembali menyapu bibirnya, kali ini dengan sangat lembut hingga Metta kembali terbuai. Lalu dengan lembut tangan nya menyusup ditengkuk belakang Metta, membuat darah dikedua nya mendesir, Farrel membawa Metta kearah kursi dan menjatuhkan dirinya yang kini memangku Mwtta tanpa melepaskan tautan di bibirnya.
"Kakak sangat cantik!"
Tangannya menyusuri pingang dan merekat disana, membuat sesuatu yang menegang dibawah sana.
"El ...."
"Hmmm...."
Mereka terus saling bertukar saliva, dengan tangan Metta yang kini meremas rambut Farrel, bibirnya turun menyusuri leher Metta, hingga Metta menggelinjang,
"Aaaahhhhh...."
__ADS_1
Farrel semakin turun, menyentuh kedua benda bulat milik Metta, "Aaahh... shiiitt!" erang nya kemudian.
Metta menarik kepala Farrel agar dia tidak kehilangan akalnya juga jika membiarkan Farrel terus tenggelam di dadanya. Hingga mereka kembali menautkan lidahnya, bermain-main dengan saling menyisir rongga dalam hingga saling membelit.
Dengan tangan yang menyapu punggung Metta dan melepaskan tautan penutup dua benda kenyalnya dari balik kemejanya.
"El....!!" pekik Metta, saat pengikat dua gunungnya terlepas, dan dadanya kini terasa longgar.
Farrel terkekeh, "Kakak menggemaskan!" Menyapu wajah Metta dengan tangannya.
"Aku harus ke toilet!" Farrel bangkit dan Metta tergelak dibuatnya.
Farrel segera lari ke kamar mandi yang memang tersedia didalam ruangan nya. Dan menutupinya dengan keras.
"Dia yang memancingku, dia juga yang kerepotan sendiri!"
Metta merapikan pakaiannya, dan juga pengait benda keramatnya, menyisir rambut dengan menggunakan kedua tangannya.
"Aku harus pergi El ...Sampai jumpa!" teriak Metta pada Farrel yang masih berada di toilet yang tentu saja tidak mendengarnya.
Metta kembali berjalan, dengan sesekali tersenyum sendiri, dia kembali ke kantor divisi.
Ting
Lift terbuka, seseorang memakai jas berwarna navy tersenyum kearahnya,
"Maaf ruangan Alan disebelah mana? mungkin aku tersesat!" ucapnya.
"Ooh itu sudah terlihat dari sini, tinggal lurus aja."
ucap Metta menunjuk ruangan Alan yang baru saja dia keluar dari sana.
"Terima kasih, nona ...." mengulurkan tangannya pada Metta.
Namun Metta hanya menatap tangan itu dan dibiarkan menggantung begitu saja.
"Ah... maaf seperti saya lancang! kalau begitu terima kasih sekali lagi." ucap nya lalu mengangguk.
Metta pun hanya mengangguk dan mengerdikkan bahunya kemudian,
"Bisa-bisa lecet tuh tangan, tiap bertanya langsung berkenalan. hadeeeuhh!!"
Metta kembali menunggu lift terbuka, dengan beberapa staff yang tengah menunggunya juga. Namun dia berbalik kembali.
"Tapi kan Alan tidak ada, didalam hanya ada Farrel, ah sudahlah... bukan urusanku, eh...." kembali berbalik.
"Bukankah ruangan itu yang sekarang dipakai Farrel, berarti ruangan Alan sudah pindah! Aku harus memberi tahunya, "
Metta kembali menyusul pria yang baru saja bertanya padanya, ada perasaan tidak bersalah saat informasi yang dia berikan ternyata tidak benar.
"Maaf pak...." panggil Metta pada orang itu.
Dia berbalik, dan mengukir senyum di bibirnya.
"Maaf, tapi sepertinya informasi yang aku berikan tadi salah. Ini sudah bukan ruangan pak Alan lagi," ucap nya.
"Benarkah? lalu ruangan nya sebelah mana?"
Metta menggaruk kepalanya, dia juga tidak tahu ruangannya disebelah mana sekarang.
"Mungkin bapak bisa tanyakan pada orang yang didepan sana," menunjuk seseorang di ujung lorong yang tengah membersihkan lorong.
"Baiklah terima kasih nona...."
Saat itu pintu ruangan Farrel terbuka, dia melihat Metta yang tengah berbicara dengan seseorang yang membelakanginya.
Kakak berbicara dengan siapa? bicara dengan orang asing seakrab itu.
"My Cherry ...masih belum pergi?" Metta membulatkan matanya.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen,rate 5, gift dan vote juga ya... karena bisa menaikkan imun mengetik author 😂