
"Andra ngapain bilang seperti itu sama kamu" tukas Metta saat kedua adiknya baru saja pergi.
" Bilang apa?" Farrel pura pura tidak mengerti.
" Cx itu, bilang yang tadi?"
" Yang tadi apa?"
" Farrel, udah deh jangan bikin aku kesel" Metta berdiri dan hendak pergi namun Farrel dengan cepat menahan tangan Metta.
" Kakak, jangan marah nanti cepet tua"
Metta semakin kesal, " Aku emang udah tua" menyilangkan kedua tangan nya didada.
" Ehm, maksudnya bukan begitu.." Farrel menarik tubuh Metta hingga terduduk kembali.
" Kok gue jadi kayak bocah" batin Metta.
" Gak ada apa apa kok, aku cuma bilang ke Andra kalo aku sangat menyukai kakak " ucap Farrel menatap Metta.
" Dan aku sangat serius" lanjutnya lagi dengan menggenggam tangan Metta.
" Aku tak akan nyakitin kakak, aku sudah berjanji pada diri ku sendiri" ucap nya lagi dengan tersenyum.
" Astaga, manis banget si kamu" batin Metta.
" Aku memang berharap bisa menjadi kakak ipar Andra dan Nissa, tak perduli banyaknya perbedaan diantara kita, dan aku akan membuktikan nya"
" Selesaikan dulu kuliahmu baru fikirkan hal semacam itu" Metta menepuk bahu Farrel.
" Ah, kakak selalu merusak moment romantis aku" sahut Farrel lunglai seketika.
" Biarin, biar isi kepalamu tidak dipenuhi pikiran pikiran kotor" sahut Metta melenggang menuju dapur.
" Aku harap kamu bisa pegang janjimu itu, dan teruslah yakinkan hatiku, hingga raguku benar benar hilang" batin Metta, menatap Farrel yang sedang mengotak ngatik ponselnya dari jauh.
.
.
" Kak, mungpung masih libur ayo kita pergi" tukas Farrel.
" Mau kemana?"
" Ikut saja, dijamin kakak tidak akan menyesal"
Metta memicingkan kedua manik menatap Farrel.
" Kamu memang tidak ada kerjaan, apa gitu.. kuliah ?atau bukan nya kemaren kamu sedang magang.
" Kakak tidak mau pergi dengan ku?" Farrel melipat kedua tangan nya didada.
" Bukan begitu, aku hanya bertanya?"
" Bilang saja kakak tidak mau!"
" Astaga, sabar Sha sabar" batin Metta.
" Aku mau kok,"
" Benarkah kakak tidak terpaksa" berbalik menghadap Metta.
Metta mengangguk " Tidak, ayo kita pergi"
__ADS_1
.
.
" Kakak benar tidak terpaksa kan?" tanya Farrel saat melajukan mobilnya di ruas jalan yang sudah ramai.
" Memang nya aku punya pilihan" gumam Metta.
Farrel terkekeh melihat Metta yang kesal.
" Kakak tau gak aku menyukai kakak sejak kapan?" tanya Farrel sambil mengemudi.
" Iyaa gak tau lah, memang nya sejak kapan?"
" Sejak kita pertama ketemu, aku langsung menyukai kakak. Apa kakak percaya?" Farrel menatap ke arah Metta.
" Enggak," jawab Metta seenaknya.
" Kakak kok gitu!" ucap Farrel
" Iya aku kan gak percaya cinta pada pandangan pertama,"
" Jadi sekarang kakak bisa percaya? Kalau ada yang namanya cinta pada pandangan pertama dan aku mengalaminya?"
" Enggak juga"
" Kakak, kenapa semua jawaban nya enggak" Farrel terlihat kesal.
Metta terkekeh, " Aku bercanda, mana mungkin aku tidak percaya kalau pacar ku ini bisa semanis ini" ucap Metta menguyel uyel pipi Farrel.
" Kakak sengaja yaa menggoda ku" Farrel tersenyum melihat perlakuan Metta.
" Sengaja apa?"
" Mana ada begitu, dasar mesum" sahut Metta.
Farrel pun terkekeh, kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Baiklah kita sudah sampai" Farrel menghentikan mobil nya tepat di depan sebuah mall ternama.
" Farrel, tunggu" seru Metta mencegah Farrel yang tengah membuka pintu mobilnya.
" Kamu gak salah tempat, ngapain kita ke mall?"
" Yaa kita ngemall lah kak," Farrel keluar kemudian berlari memutar membukakan pintu mobil untuk Metta.
" Ayo turun" Farrel mengulurkan tangan nya kearah Metta. Namun Metta menghempaskan tangan Farrel.
" Sudah aku bisa sendiri, malu dilihat orang" tukas Metta.
" Kakak malu bergandengan dengan ku?" sahut Farrel dengan sengaja mengedarkan pandangan ke sekitar, melihat beberapa pasangan yang dengan sengaja memperlihatkan kemesraan mereka.
" Bahkan mereka lebih parah" batin Farrel.
" Bukan begitu, ini kan tempat umum" ucap Metta sambil melangkah keluar dari mobil.
" Jadi kalau bukan tempat umum kakak mau?" Farrel mengedipkan sebelah matanya.
" Jangan mulai deh" Metta mencubit pelan perut Farrel.
" Aw..iyaa iyaa enggak" ringis Farrel dengan terkekeh juga.
" Ngapain juga sih ke mall, aku gak suka ngemall cuma buang energi dan dompet saja" tukas Metta.
__ADS_1
" Sebentar aja kak! lagian uang ku cukup kok, kakak tenang saja" Farrel terkekeh melihat Metta yang sudah mulai mengerucutkan bibirnya.
Mereka akhirnya memasuki lift, Farrel menekan nomor lantai tujuan dan pintu lift pun segera tertutup, namun seketika beberapa orang hendak ikut masuk. Membuat mereka berdua terdorong mundur beberapa langkah hingga menempel dinding lift, dan lift pun terasa sesak.
Farrel merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Metta, berusaha melindungi tubuh kecilnya agar tidak terjepit. Merengkuh tubuh kecil Metta yang menempel dengan dinding lift, dengan menahan kedua tangan nya pada dinding lift, hingga tubuh kecil itu berada dalam kungkungannya.
Deg..
Metta merasakan debaran jantungnya berpacu dengan cepat, hembusan nafas Farrel yang hangat mengenai wajahnya. Membuat dirinya kembali salah tingkah, saat kedua manik mereka bertemu bak saling menyelami satu sama lain.
Farrel menyelipkan anak rambut Metta kebelakang telinganya, tak sengaja menyentuh telinga Metta membuat aliran darah Metta mendesir hebat.
" Astaga, jantung ayolah kita bekerja sama" batin Metta.
" Kakak sangat cantik, aku jadi ingin mencium kakak" gumam Farrel yang masih bisa terdengar ditelinga Metta,
"Emmp.. Lift nya lambat banget " tukas Metta berpura pura tidak mendengar apa yang Farrel katakan.
.
Ting
.
" Akhirnya terbuka juga, lega rasanya" ucap Metta ketika lift terbuka dan orang orang keluar satu persatu.
" Aku malah berharap masih lama" Farrel terkekeh dan langsung mendapat cubitan di perutnya kembali.
" Aw..kakak masih aja galak" Farrel kembali terkekeh.
Farrel menggenggam tangan Metta dengan lembut, memastikan Metta mengikuti nya hingga sampai disebuah salon.
" Mau ngapain kita ke salon?"
" Mau nyalon lah kak" Farrel membuka pintu salon dan membiarkan Metta masuk terlebih dahulu.
" Kakak tunggu disini sebentar, aku kesana dulu" Farrel menunjuk bagian pendaftaran.
" Siang mas, mau daftar atas nama siapa?"
" Buat pacar saya," Menunjuk ke arah Metta yang tengah duduk, hingga petugas salon itu mengangguk
" Dan pilihkan semua treatment saja mba" ucapnya lagi.
" Baik mohon ditunggu yaa "
.
.
" Wah beruntung banget kakak punya pacar seperti itu" ucap salah satu pekerja yang sedang melakukan massage pada Metta.
" Iya bener, kalau aku jadi kakak, tak akan aku lepas Barang sedikitpun, memberikan perawatan terbaik, memberikan apa yang kita mau tanpa bertanya" ucap salah satu temannya.
" Iyaa aku memang beruntung".
.
.
.
Jangan lupa like dan komennya serta dukungan nya, bunga nya juga boleh, atau segelas kopi juga boleh banget😁😁
__ADS_1
Terima kasih semua😘