
"Jadi bagaimana sayang? kau mau kan...?" ucap Ayu pada Metta.
Sri yang menoleh saat Metta menatapnya pun hanya bisa mengangguk, lalu dia melihat Andra dan juga Nissa, lalu kembali melihat kearah Ayu.
"Aku ..." Metta memainkan ujung kukunya.
Farrel melihat kecemasan diwajah kekasihnya itu, dia memang tidak keberatan jika harus menikah saat ini, namun Farrel juga tidak bisa membiarkan kekasihnya itu merasa ini semua terlalu cepat.
"Ayah, Bun, Ibu, bagaimana jika aku dan kakak membicarakan hal ini terlebih dahulu. Banyak hal yang harus kita perbaiki dulu."
"Ah, anak nakal Bunda kenapa dewasa sekali sekarang!"
"Bunda..." sergah Arya.
"Ya sudah lebih baik kalian bicarakan dahulu baik-baik semuanya. Pernikahan bukan hal untuk bermain-main." Ucap Sri yang memang dapat menangkap raut kegelisahan pada putri sulungnya itu.
"Terima kasih Ibu, Ayah, Bunda ..." ucap Metta kemudian.
Seusai kepulangan keluarga Farrel, Metta duduk diteras rumah, sedangkan Farrel tengah mengamati bunga-bunga yang ditanam Ibu kekasihnya itu. Sesekali melirik Metta yang tengah termenung.
"Kakak mengkhawatirkan apa hem? pernikahan...?"
Metta hanya diam, kemudian Farrel melangkah mendekati kekasihnya itu, dan dengan sengaja mencondongkan tubuhnya menghadap Metta, mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Metta lalu meniupnya.
"Huh... ! Jangan ngelamun terus, nanti kesambet." ucapnya lalu berdiri kembali.
Metta terkesiap, "El astaga..."
"Apa yang kakak pikirkan?"
"Apa ini terlalu cepat El ..."lirihnya lalu berdiri mendekati Farrel.
"Sudah ku duga kakak akan mengatakannya," Farrel menarik sudut bibirnya.
"Kamu marah?"
"Hmm... kenapa aku harus marah pada kakak yang menggemaskan ini," Farrel menyelipkan anak rambut Metta kebelakang telinganya.
"Bukankah aku sudah bilang akan terus meyakinkan kakak?"
"Bagaimana kalau kamu bosan?"
"Tidak akan!"
""El, apa kamu yakin?"
"Aku tidak pernah seyakin ini, bahkan lebih yakin ketimbang memberi keputusan dalam rapat," meraih tangan Metta
"Aku tahu kakak masih ragu! jadi kakak tidak perlu memikirkan tentang perkataan Bunda, Okey." Farrel mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku kira kamu akan langsung menyetujuinya!"
"Aku memang menyetujuinya, apalagi kata orang menikah itu enak, bahkan enak banget." Farrel terkekeh.
Metta membulatkan kedua manik hitamnya, "El ..."
"Tapi bukankah yang menikah itu 2 orang yang saling menopang! Suami akan menuntun istrinya berjalan mengarungi... apa kak? mengarungi ... duh aku lupa," Farrel terkikik.
"Makanya jangan asal mendengar saja!" sentak Metta.
" Yang pasti, aku ingin membawa kakak dengan segala tanggung jawabku dengan penuh keyakinan. Aku masih akan terus meyakinkan kakak! kakak mengerti kan!"
"Terima kasih El,"
"Sama-sama sayang, sun nya mana?" Farrel menunjuk pipinya sendiri.
"El ....!"
__ADS_1
.
.
Setelah mengantar Farrel pulang, Metta masuk kedalam kamar, dia terduduk di tepi ranjang yang menghadap kearah jendela, termenung menatap jendela kamarnya. Bak menghitung rintik-rintik hujan yang baru saja turun.
"Sha ?"
Dinda yang baru saja masuk memegang bahu Metta, lalu mendaratkan tubuhnya disamping Metta.
"Kamu, kenapa?"
"Entahlah Din, aku juga tidak tahu!"
"Masih ragu yah?"
"Begitulah Din," Metta menghela nafas.
"Kau ini dari dulu tidak pernah berubah Sha, selalu merasa takut akan hal yang belum pasti," Dinda membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Restu sekarang sudah ada, Farrel juga baik! Lantas apa lagi yang kamu takutkan?"
Metta menghela nafas, "Semenjak Ayah tidak ada, aku mengambil alih tanggung jawabnya. aku tidak keberatan menjadi tulang punggung keluarga! aku takut setelah aku menikah nanti, Semua berubah,"
"Dulu kan kamu juga hampir menikah Shaun,"
"Justru itu, kamu tahu sendiri bukan, aku pernah gagal menikah! aku bahkan ditinggalkan dihari pernikahanku. Aku malah semakin takut Din!"
"Meskipun El sering meyakinkan ku, namun ketakutan itu masih ada Din."
Dinda menghela nafas, "Aku gak tahu bagaimana perasaan kamu saat ini Sha, dengan segala ketakutanmu itu. Tapi aku berharap semua yang terbaik,"
Metta ikut membaringkan tubuhnya disamoing Dinda, "Thanks Din, kamu emang paling ngerti aku!"
"Hem, its oke sayang!"
Dinda mengelus lembut rambut Metta, namun Metta menepisnya dengan kasar,
Mereka lalu tertawa terbahak-bahak.
"Sha? Ibu boleh masuk..."
"Iya bu, masuk aja, kenapa?"
Metta beranjak begitu juga Dinda, mereka bertiga sekarang terduduk semua di ranjang.
"Apa yang dikatakan Nak Farrel itu benar?"
"Perkataan yang mana bu,?
"Banyak hal yang harus kalian perbaiki, apa memangnya? setahu ibu dia anaknya baik, hanya saja ibu yang terlalu khawatir, jika kita membuat kecewa mereka. Maafin Ibu ya Sha."
"Perkataan Ibu sudah benar kok, memang benar bu banyak yang harus diperbaiki, El masih sering bersikap kekanak-kanakan meskipun juga kadang dewasa dalam suatu hal. Apalagi aku bu." Metta merengut.
"Tidak apa kali Sha, dia kan jadi pelengkap kamu yang serius garing ini." Dinda terkikik.
Metta memukul paha Dinda dengan keras, "Sialan ...!"
"Nak ..." Sri mengelus rambut Metta.
"Ibu tahu kecemasan kamu, kekhawatiran kamu, Ibu hanya ingin kamu fikirkan juga baik-baik ya, jangan khawatirkan Ibu dan kedua adik mu."
Metta memeluk sang Ibu, "Iya bu, terima kasih."
"Berdoalah, minta petunjuk yang terbaik dari Tuhan ya Nak," Sri mengelus punggung anaknya.
"Iya bu ..." lirih Metta.
__ADS_1
"Bu aku juga ingin dipeluk dan di doakan!" Ucap Dinda yang ikut merentangkan tangan memeluk mereka berdua.
"Iya, kamu juga ya, semoga mendapatkan yang terbaik juga."
"Aamiin," serentak Metta dan Dinda menjawabnya.
"Semoga My Sweety ice segera mencair, doakan ya bu." Dinda terkikik.
"Kamu tidak ingin menceritakan tentang hal yang Aku tidak tahu?" Ucap Metta mengurai pelukannya.
Dinda melirik Sri, kemudian menggaruk belakang kepalanya. Sri paham dan segera berlalu meninggalkan mereka berdua.
Dinda menghela nafas dengan berat, setelah memastikan Ibu sudah keluar.
"Aku berhutang banyak Sha pada tuan Alan yang dinginnya udah kayak kulkas 2 pintu. Tapi entah kenapa aku suka banget!" Dinda kemudian memeluk guling.
"Gila, cerita yang benar! aku sama sekali tidak paham,"
"Hutang apa?"
"Aku gak ngerti, tapi dia mengatakan aku berhutang banyak padanya, bahkan sudah mengetahui
nama asliku Sha!"
"Kamu tahu dari mana!"
"Tadi tak sengaja ketemu di samping rumah, dia memanggilku Akira." Dinda menepuk jidatnya sendiri.
"Jadi selama kamu mengikuti dia, dia tidak tahu itu kamu!Atau dia tidak tahu namaku. Apa aku gak mengerti sama sekali."
Dinda mengerdikkan bahu, "Mungkin dia baru menyadari atau gimana, aku juga tidak tahu!"
"Walaupun aku memang berhutang banyak padanya, aku rela menebusnya dengan seluruh cinta dan hidupku." Dinda merebahkan kembali tubuhnya.
"Gila kamu, mana ada begitu! harusnya kamu tanya hutang apa yang dia maksud, aku benar-benar gak ngerti!" Metta menggelengkan kepalanya.
"Jangankan bertanya Sha, aku udah mati berdiri saat berhadapan dengannya."
Metta memukul lengan sahabatnya itu, "Lantas kamu ngapain terus ngikutin dia, bahkan sampai pindah Apartemen segala."
"Aku memang sudah tidak betah di Apartemen itu, tapi keberuntungan berpihak padaku, Iya kan Sha!"
"Terserah, cerita kamu gak jelas begitu!"
"Apa aku harus berguru pada kekasihmu itu ya!agar bisa melelehkan My Sweety ice," Dinda mengetuk-ngetuk dahinya sendiri.
Metta menoyor kepalanya, "Hilih pake My Sweety ice hot ice pop ice. Jangan bilang yang aneh-aneh."
"Dan jangan minta saran apapun pada Farrel,"
"Dih, ketakutan amat sih."
"Aku kasian aja, dia pasti gak bakalan mau. Pasti belain saudaranya lah! ngapain belain kamu yang gak jelas dan aneh kayak gini!"
"Eh, Sha ... kamu mikir gak sih keluarga pacar kamu itu terlalu berlebihan, lebay gitu!" Dinda membalikkan badannya.
Metta memukul bahu Dinda, " Kebiasaan, kita lagi bahas si manekin hidup, bukan keluarganya."
.
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi𤣠karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.
Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..
__ADS_1
Semoga kita saling bersinergi ⤠dalam kehaluan ini.
Terima kasihš